Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
Bonus Episode


__ADS_3

Pagi setelah sahalat Subuh Raffa segera menuju dapur.Nampak di sana Bi Irah sedang sibuk sendiri.


"Pagi Bi" ucap Raffa seraya merangkul bahu lalu mengecup pipi sebagai tanda hormat.


"Eh Den Raffa kirain siapa, mau Bibi buatkan sesuatu?" sahut Bi Irah terlihat haru oleh sikap Raffa yang hangat.


"Biasa Bi susu saja satu gelas, biar Al bikin sendiri rotinya" balas Raffa seraya duduk.


Tak lama Tn Harry keluar dari kamarnya lalu mengambil minum.


"Pagi Pah, kusut amat? emang gak tidur semalam!?" tanya Raffa sedikit heran.


"Hemmmhhh, gimana bisa tidur" ucap Tn Harry lalu meneguk m'numannya seraya mengambil posisi duduk di dekat Raffa, "Duo macan gangguin terus" ucapnya lagi lesu.


"Hehe maksud Papa Ali sama Ale? sabar ya Pah mau gimana lagi duo macan masih anak anak, badannya aja yang gede" sahut Raffa terkekeh.


"Ini sih namanya kudeta, masa Papa gak di kasih kesempatan berduaan sama istri sendiri" keluh Tn Harry kembali tak malu malu.


"Haha Papa kaya abg lagi kangen pacarnya saja terus cemburu sama anak sendiri" ucap Raffa seraya memakan rotinya, "Sudah Pah ikut Raffa aja yuk olahraga dari pada murung gitu.Eh Pah makan siang aja di rumah kan aman? ucap Raffa seraya menaik-naikan alisnya.


"Ide kamu bener juga, tapi masa siang-siang sih?"


"Ya kan buat berduaan aja kan!?" ucap Raffa seraya cengengesan.


"Ah kamu bisa saja" balas Tn Harry tersenyum tipis.


Tak lama Bu Aisyah yang sudah menjadi Ny Adhitama nampak keluar kamar di ikuti Alisa juga Alena yang seaakan tak mau berjauhan.


"Tuh kamu lihat sendiri, sudah kaya Ibu Negara di ikutin paspampres" ucap Tn Harry seakan mendapatkan bukti.


"Hehe iya nanti Al bantuin ngomong Pah" balas Raffa tak tega.


"Pagi Mas, mukanya kok gak semangat gitu?" sapa Bu Aisyah seraya mengusap bahu suaminya.


Sontak saja mood Tn Harry sedikit membaik mendapat perhatian dari istrinya itu.


"Enggak, ini hanya mengambil minum sekalian ngobrol sama Raffa"


"Duduk Bu" ucap Raffa yang sengaja memilihkan di sebelah Tn Harry.


Semua anggota keluarga pun berkumpul dengan Alisa dan Alena duduk bersebelahan di depan kedua orang tuanya.Raffa sendiri berdiri di belakang Tn Harry.


"Ali, Ale, kamu nih udah besar, masa iya nempelin Ibu terus.Kasian Papa nih keganggu" ucap Raffa seraya tersenyum.


"Ihh kamu ngomong apa sih Al" sahut Bu Aisyah seraya menepuk lengannya.


"Perasaan kemarin masih enak dengernya ada Kakaknya, sekarang Ula Ali Ula Ali, di kira Alibaba"


"Emang Papa ke ganggu ya?"


"Ya ampun Ale, ganggu lah.Al mewakili Papa nih, pertama mau tidur nyenyak gimana berdesakan terus.Kedua kasih waktu dong Papa berduaan sama Mama.Ingat Papa udah ada Haknya" ucap Raffa lalu cengengesan.

__ADS_1


"Kamu ya malah makin centil" ucap Bu Aisyah seraya mencubit Raffa.


Alisa dan Alena saling melirik seakan mengerti maksud ucapan Raffa lalu keduanya tertawa cekikikan.


"Maaf ya Pah kita gak ada niat ganggu tapi deket Mama rasanya nyaman sih" ucap Alena merasa malu.


"Hehe gini aja Pah, gimana kalau Papa sama Mama itu bulan madu, setuju gak?" ucap Alisa seraya menatap keduanya.


Wajah Bu Aisyah yang putih sontak memerah ia tak menyangka anak-anaknya membahas semua itu.


"Pas banget Pah itu ide bagus sekalian Papa libur dari pekerjaan yang cukup menyiksa bukan!?" lanjut Raffa seraya memijat pelan bahu Tn Harry.


"Euh kalian semua malah kompak ngebahas urusan orang tua, itu biar jadi urusan kami, emang Papa gak mau" ucap Tn Harry tak bisa menahan gelinya.


"Ihhh Mas kamu malah sama aja.Gak usah pergi jauh di rumah sajalah ya, sama kok" sahut Bu Aisyah seraya menggenggam lengan Tn Harry.


"Cieeeeee, Mama mulai pegang-pegang" goda Alena menahan tawanya.


"Cieeee, cieeee Mama ketahuan" lanjut Alisa tak mau kalah.


"Ini Apa sih malah ciee cieean segala, Mama jadi malu" sahut bu Aisyah.


"Ya sudah Papa Mama atur bulan madunya deh secepatnya, tapi..." ucap Alena lagi.


"Tapi!? kok ada tapinya!? tapi Apaan sih!?" balas Tn Harry.


"Tapii ... " ucap Alena sengaja diam sesaat, "Tapi ... kita semua di ajak, hahaha" ucap Alena lagi seraya tertawa begitu lepas.


"Ya ampun itu mah sama aja Ale-ale, euhhhh dasar ya" ucap Raffa sengaja menghampirinya lalu mencubit kedua pipinya.


"Hehe kesel abisnya" sahut Raffa lalu beranjak pergi.


"Mau kabur kemana kamu Aladin" ledek Alena lalu mengikutinya.


"Mau main basket, we!" sahut Raffa seraya menjulurkan lidahnya.


Alisa sendiri lalu berpamitan pada keduanya, "Alisa ikut mereka olahraga ya Pah Mah"


"Iya sayang tapi jangan sampai kecapean ya" balas Bu Aisyah.


"Hehe dasar anak-anak kita tuh Mah, makin hari ada aja tingkahnya" ucap Tn Harry seraya geleng-geleng.


Bu Aisyah tersenyum lalu kembali buka suara, "Mas, aku minta maaf ya kalau belum bisa jadi istri yang baik, sampai waktu buat kamu pun kurang"


Tn Harry lalu meraih kedua tangan Bu Aisyah dengan tersenyum, "Tak apa-apa Mah, kamu sudah sempurna di mataku, soal omongan mereka jangan terlalu di pikirin, aku memang rindu bisa berduaan dengan kamu tapi aku bisa mengerti anak-anak yang juga butus kasih sayang darimu.Jadi jangan pernah merasa bersalah ya sayang" ucap Tn Harry begitu romantis lalu mencium kedua tangan istrinya bergantian.


"Makasih ya Mas sudah mau mengerti" sahut Bu Aisyah lalu menyandar di bahu suaminya itu dengan perasaan malu sekaligus bahagia.


Tn Harry pun mendekap Bu Aisyah seraya membelai lembut pipinya seraya berkata, "Kita lihat anak-anak di lapang yuk" ucap Tn Harry nampak memeohon.


"Boleh Mas" sahut Bu Aisyah.

__ADS_1


Dengan merangkul Bahu istrinya Tn Harry nampak begitu semringah melihat ke akraban ketiga anaknya itu.


"Aku sendiri kalian berdua ya, aku bagian jaga dulu kalian boleh nyerang" ucap Raffa.


"Ayo Alena, kita kalahin dia" ucap Alisa begitu bersemangat.


"Oper Kak!" sahut Alena yang ternyata cukup bisa juga bermain basket.


Raffa pun menjaga Alena dengan tidak begitu serius hanya membayanginya saja.


"Ini Kak! ayo masukan" teriak Alena seraya mengoper bolanya.


Sedikit kaku Alisa melakukan layup tapi tanpa di duga tembakannya masuk.


"Yeeeee! Horeeee kita menang!" teriak Alena seraya mengangkat tangannya.


"Hehe, yang kalah cuci piring hayo sana" ucap Alisa pada Raffa.


"Idih mana ada baru satu poin dah menang lagi tapi kalian bagus juga mainnya" ucap Raffa seraya membawa bola.


"Gak mau tahu we! yang penting kita menang hehe" balas Alena tak mau kalah.


"Iya deh kamu menang" ucap Raffa lalu melakukan shoot dari area 3point


"Shreeekkhhh" bola pun masuk dengan mulus.


"Ihhh curang masuk lagi" protes Alena kesal.


"Jauh gitu bisa masuk, gimana caranya Al?" tanya Alisa.


"Gak susah kok, coba nih pegang bolanya dari deket dulu saja" ucap Raffa seraya menuntun Alisa, "Tangan yang kanan tekuk dan siku lurus, tangan yang kiri hanya mengarahkan dan mengikuti"


"Gini Al?" tanya Alisa terus bersiap menembak.


"Ya seperti itu, ayo coba dorong dengan tangan kanan sementara tangan kiri mengarahkan"


Alisa pun menembak.Arah bola sudah sangat tepat namun karena tenaganya yang kuat membuat bola mengenai papan namun masuk.


"Yeeee, aku bisa Al, hebatkan!" seru Alisa reflek menggenggam lengan Raffa seraya loncat-loncat.


"Wah Kakak mulai jago" ucap Alisa bertepuk tangan.


"Kamu hebat sayang!" teriak Bu Aisyah dari luar lapangan.


"Mama! sini mah ikut main" ucap Alisa seraya melambaikan tangan.


"Yuk sayang, sekali kali kita main sama anak-anak" ucap Tn Harry seraya menarik tangan istrinya.


"Tapi aku gak bisa main basket Mas, tar malah di ketawaain" sahut Bu Aisyah meragu.


"Gak apa, aku juga gak bisa.Tak ada salahnya di coba, yuk!?" ucap Tn Harry kembali.

__ADS_1


Akhirnya pagi itu pun mereka habiskan bersama bermain basket dengan penuh canda dan tawa.Semakin hari kehangatan keluarga ini semakin kian bertambah, seakan tak ada lagi kata ibu tiri, papa tiri, saudara tiri, semua merasa satu, utuh sebagai keluarga yang tak terpisahkan.


[[ End ]]


__ADS_2