
"Bu gak apa-apakan jika tinggal di sini dulu? kalau ibu tetap mau pulang besok Al antar" tanya Raffa.
"Ini rumah siapa Al!? apa gak masalah jika Ibu disini? balas Bu Aisyah balik bertanya.
"Ini rumahnya Mas Rama kok Mah, dia pasti gak keberatan Mama di sini" sambung Alena.
Setelah membereskan beberapa barang bawaan Raffa kembali buka suara,
"Bu, ada masalah apa sih sebenarnya? kenapa Ibu tiba-tiba minta pulang!?" tanya Raffa masih tak mengerti.
"Gak ada masalah apa-apa kok Al, Ibu cuma takut Nita kesepian aja di rumah" balas Bu Aisyah beralasan.
"Ibu gak perlu sungkan sama anak sendiri masih saja gak mau terbuka" ucap Raffa seraya menghela nafas.
"Ini semua karena Kak Alisa, entah kenapa Kak Alisa sepertinya tak suka sama Mama" ucap Alena nampak kecewa.
"Alisa!? jadi yang tadi itu Alisa kakakmu, apa Ibu bermasalah dengannya!?" tanya Raffa serius.
"Sudahlah ini bukan hal yang perlu di besar-besarkan, ini hanya salah paham saja, Alisa tak salah ia hanya begitu menyayangi Mamanya"
"Kalau seperti itu apa Alena tak menyayangi Mama Sofia? apa rasa sayang Alena tak sebesar Kak Alisa!?" ucap Alena nampak sedih.
"Tentu saja tidak sayang, saat pertama kita bertemu, Mama juga kamu sama-sama tahu alasan kamu selalu mencari Mama" ucap Ibu Aisyah seraya mendekati Alena lalu membelai kepalanya dengan lembut, "Kamu mencari Mama karena kamu melihat Mama sebagai Mama Sofia, bukan begitu?"
"Maafkan Alena ya Mah, semoga Mama tidak merasa kecewa karena alasan itu, tapi Alena sadar Mama tetaplah Mama Aisyah.Alena tidak berusaha menghapus Mama Sofia, justru dengan adanya Mama Alena merasa Mama Sofia tak pernah meninggalkan Alena" ucap Alena seraya memeluk Bu Aisyah dengan erat.
"Mama tak akan pernah kecewa sama kamu sayang, apapun alasanmu, kamu tetap anak Mama"
"Makasih ya Mah, semoga Kak Alisa juga bisa menerima Mama seperti halnya Alena"
Ibu Aisyah hanya tersenyum mendengar harapan Alena, "Akan sangat menyenangkan jika itu terjadi sayang, cuma kamu harus siap berbagi Mama dong nanti" ucapnya menggoda Alena.
"Ih, Kak Alisa biar sama Papa aja, Alena pokoknya anak Mama nomor satu jadi harus di duluin"
Raffa tersenyum kecil mendengar itu semua.Setelah diam cukup lama ia pun tergelitik untuk membuka suaranya,
"Idih! terus aku anak siapa dong!? Ibu satu-satunya di ambil orang lagi" ucap Raffa merajuk.
Sontak ucapan Raffa membuat Ibu Aisyah juga Alena tersenyum menahan tawa.
"Kamu jadi anak angkat Mas Rama saja Al, hehe" ucap Alena terkekeh.
"Adeuh, jadi anak robot dong!?" ucap Raffa geleng-geleng, "Ya sudah Al tinggal dulu Ibu sama anak nomor satunya istirahat" ucap Raffa.
"Ish, ada yang ngambek nih ceritanya hehe, kasihan gak ada yang ngaku" ledek Alena terus memeluk Bu Aisyah.
"Berani ngeledek ya" ucap Raffa lalu tanpa ragu mendekat dan mencubit hidung Alena.
Sontak Alena meringis seraya memukul lengan Raffa, "Sakit ih! lepasin!"
__ADS_1
"Sudah, sudah malah pada bercanda" ucap Ibu Aisyah seraya menepuk pundak Raffa, "Al ada yang Ibu mau tanya dulu sama kamu"
"Iya, boleh Bu"
"Mobil siapa yang kamu pakai tadi? apa ada yang Ibu tak tahu? lagi-lagi itu terlalu mewah Al" ucap Bu Aisyah.
"Hmmh" Raffa menarik nafas lalu duduk di sebelah Bu Aisyah, "Mobil itu dari Papinya Aurel Bu, bukan cuma itu beliau pun memberikan satu kartu debit untuk keperluan apapun"
"Ya ampun, apa yang membuatnya memberikan itu semua Al? tidakkah kamu mencoba menolaknya?" tanya Bu Aisyah.
"Al sudah menolaknya Bu, namun Papi Aurel tak memberi pilihan, terima atau meninggalkan Aurel.Papi Aurel tak ingin citranya buruk saat orang tahu keluarganya dekat dengan orang seperti kita Bu"
"Ya ampun, itu artinya keluarga Aurel tidak menerima kamu Al" ucap Bu Aisyah sedikit terkejut.
Raffa hanya terdiam dan nampak berpikir.Sementara Alena yang merasa tahu sesuatu segera bersuara,
"Maaf Mah, tapi menurut Alena sepertinya Papi Aurel sedang menguji Raffa"
"Maksud kamu sayang!?" tanya Ibu Aisyah.
"Saat di rumah sakit Papa dan Alena sengaja berbicara dengan Papi Aurel untuk mengizinkan hubungan Raffa.Papah sendiri mencoba meyakinkan dengan menceritakan pengalamannya"
"Maksud kamu, Papi Aurel ingin membuktikan ucapan Papah kamu, begitukah!?" tanya Raffa.
"Bisa di katakan seperti itu Al" balas Alena.
"Alisa kamu tak seharusnya berkata buruk pada Bu Aisyah, kamu belum mengenalnya, tak pantas kamu langsung menghakiminya begitu" ucap Tn Harry mencoba menasihati.
"Sudah Alisa duga Papah akan membelanya, karena Papah sendiri sukakan sama dia!?" balas Alisa.
"Ini bukan soal suka Alisa, ini soal sikap kamu yang salah, sudah sewajarnya Papah nasihatin kamu"
"Papah gak usah ngelak deh, Papah berniat menggantikan Mamah dengan diakan!?" tanya Alisa penuh penekanan.
"Kalau pun ia Alisa bukankah itu baik? akan ada seseorang yang menjaga kalian di saat Papah tak ada bersama kalian"
"Heh! Papah benar-benar mengecewakan! belum lama Mamah tiada, Papah sudah mencari penggantinya! secepat itu Papah melupakan Mamah sofia, Papah kejam!" ucap Alisa tak tertahan lagi.
"Banyak hal yang terjadi selama kamu memilih tinggal di luar negri, bagaimana pedihnya Papah atas kematian Mamah kamu, belum lagi Alena yang tampak kuat di luar tapi rapuh di dalam, selalu menyendiri, melamun, tidur tak nyeyak, jiwanya bagai kosong Alisa, kamu tak melihat itu!"
Alisa sedikit terkejut dengan ucapan Papahnya.Bagi dirinya Adiknya itu orang kuat yang bisa menghadapi semuanya.
"Kamu tinggal di luar negri selama ini apa kamu mampu menghadapi kenyataan ini? bayangkan Alena yang setiap hari selalu melihat semua kenangan tentang Mamah Sofia"
"Tapi Pah! apa harus dengan mengganti Mamah dengan orang lain!?"
"Satu yang harus kamu tahu Alisa, Adikmu kembali menemukan semangat hidupnya setelah bertemu Raffa dan Ibunya, Ibu Aisyah! Papah tak tega harus kembali melihat Alena terluka"
"Jangan jadikan Alena sebagai alasan! jujur saja kalau Papah sudah tak menyayangi Mamah sofia!" ucap Alisa bersikukuh.
__ADS_1
"Ikut Papah Alisa" balas Tn Harry seraya beranjak menuju satu kamar khusus.
Alisa yang nampak malas akhirnya mengikutinya.Alisa begitu terkejut setelah melihat satu kamar penuh dengan barang juga kenangan akan Mamah Sofia.
"Mamah!" lirih Alisa terasa sendu, matanya terus melihat sekeliling ruangan kamar tersebut dengan tanpa terasa mulai berkaca-kaca.
"Papah tak pernah melupakan Mamahmu Alisa, ia akan terus hidup dekat kita semua, terutama di hati kita" ucap Tn Harry seraya memegang bahu Alisa dari belakang.
"Tapi Alisa tak ingin ada orang lain di sini Pah, Alisa takut membuat Mamah sedih"
"Papah ngerti perasaan kamu sayang tapi apa Mamah di sana bisa tenang melihat anak-anaknya terus tenggelam dalam kesedihan? Papah yakin Mamah ingin kalian bahagia dan terus melanjutkan hidup kalian dengan lebih baik"
"Alisa pengen sendirian disini Pah, bisa tinggalin Alisa"
"Baiklah sayang" ucap Tn Harry lalu beranjak keluar kamar namun kembali berucap, "Kadang kepedihan tidak bisa kita tanggung sendiri, di situlah kita membutuhkan seseorang yang bisa di percaya untuk berbagi" Tn Harry pun lalu membiarkan Alisa sendiri.
Hari pun berlalu tanpa terasa hingga pagi menjelang.Tn Harry yang nampak telah rapi nampak tengah siap di meja makan.
"Bi, Alisa belum bangun? kok belum kelihatan?"
"Maaf Tuan, tapi Non Alisa tidak ada di kamarnya, apa Non Alisa pergi ke luar?" balas Bi Irah nampak bingung.
"Apa benar begitu!?" balas Tn Harry nampak gusar, "Apa Alisa masih di Kamar itu!?" gumamnya lalu dengan segera memeriksanya.
"Alisa!" teriak Tn Harry terkejut melihat putrinya tak sadarkan diri.
Dengan cepat Tn Harry membopong Alisa lalu membawanya ke depan.
"Ram! Rama! siapkan Mobil, kita kerumah sakit" perintah Tn Harry begitu cemas.
"Baik Pak mobil sudah standby di depan, biar saya yang bawa Non Alisa" balas Rama lalu meraih Alisa.
Dengan segera mereka membawa Alisa menuju rumah sakit terdekat.Dokter pun segera melakukan pemeriksaan setibanya Alisa di rumah sakit.
Dalam rasa cemasnya Tn Harry meraih ponselnya lalu menghubungi Alena.
"Hallo Alena! Papah ada kabar kurang baik, Alisa masuk rumah sakit"
"Apa! Kakak masuk rumah sakit!? sekarang Papah dimana Alena segera kesana"
"Papah ada di rumah sakit Mitra Medika" balas Tn Harry lalu duduk penuh rasa cemas.
"Bapak tenang dan percaya Non Alisa akan baik-baik saja" ucap Rama mencoba menenangkan.
"Semoga saja seperti itu, terima kasih Ram"
Hal itu pun membuat Tn Harry menghabiskan waktunya di rumah sakit.Penuh rasa cemas ia makin tak sabar untuk melihat kondisi putrinya itu.
[[ Bersambung ]]
__ADS_1