
"Mama! Mama dimana!? Alisa mohon jangan tinggalkan Alisa sendiri" Alisa terus memanggil seraya terus berlari mencari.
Taman bunga yang begitu luas membuatnya begitu sulit menemukan seseorang yang begitu sangat ingin ia temui.
"Mama! tolong Mah Alisa gak mau sendirian!" seru Alisa tanpa merasa lelah.
Alisa semakin panik tatkala tersadar kemanapun ia berlari ia kembali ke tempat yang sama.
"Mama dimana mah!?" lirih Alisa mulai putus asa, "Kenapa bisa aku selalu kembali ke sini!?"
"Mamaaaaa!" teriaknya seraya mempercepat larinya dalam tangis yang mulai pecah.
Alisa berlari sekuat tenaga hingga sesuatu membuatnya terjatuh.
"Akkkhhhh! brugghhh!" semangatnya yang sudah patah membuatnya tak berusaha berdiri hanya terus menangis seraya memanggil.
"Mama, mengapa Mama biarkan Alisa sendiri!? apa Mama sudah tak sayang sama Alisa! hiks hiks" Alisa terus menangis hingga ia teralihkan oleh satu cahaya terang dekat satu pohon besar.
Sekuat tenaga Alisa bangun lalu berusaha mendekat.Hatinya makin tak menentu saat melihat sosok wanita berdiri di balik pohon tersebut.
"Mama apakah itu kau!?" ucap Alisa seraya berusaha melindungi wajahnya dari cahaya yang menyilaukannya.
Tiba-tiba wanita itu membalikan badannya seraya tersenyum.Jelas saja tubuh Alisa bergetar melihat sosok di depannya.
"Mama!" begitu haru Alisa menghambur ke dalam pelukannya, "Jangan pergi lagi Mah, Alisa tak bisa hidup tanpa Mama"
"Sayang, Mama minta maaf sudah membuatmu bersedih tapi kamu harus kuat ya sayang, kamu harus jadi pelindung buat Alena"
"Alisa masih butuh Mama, tetap di sini bersama kita ya Mah"
"Sayang semua ada waktunya, Mama sudah harus pergi.Mama sedikit tenang melihat Alena, tinggal kamu" ucapnya begitu lembut, "Seharusnya kamu bisa lebih dewasa dari Alena, Mama yakin kamu bisa karena anak Mama tak ada yang lemah"
"Tapi tanpa Mama semuanya tak sama lagi, Alisa tak tahu harus apa, Alisa kehilangan arah Mah" ucap Alisa terus sesegukan.
Mendengar itu ia pun tersenyum lalu mengurai pelukannya.Dengan membelai lembut wajah Alisa ia kembali berucap,
"Mama mengerti, justru ini saat yang tepat karena di samping kamu sudah ada seseorang akan menyayangi kamu seperti Mama.Cobalah buka mata hati kamu dan kamu pasti akan mengerti" ucapnya dengan senyum yang begitu meneduhkan.
"Alisa tak bisa Mah, Alisa tak mau menggantikan Mama dengan yang lain, Alisa maunya Mama"
"Mama tak merasa di gantikan sayang, Mama lebih tenang jika ada seseorang yang menjaga kalian"
Tiba- tiba cahaya putih terasa semakin terang membuat pandangan Alisa semakin tak jelas.
"Sudah saatnya Mama pergi, ingat pesan Mama jadilah anak yang kuat hiduplah dengan bahagia.Suatu saat nanti kita pasti bertemu kembali, Mama akan selalu bersama kalian" ucapnya lalu sekonyong-konyong cahaya itu seperti membawanya.
"Mama! tolong jangan pergiii" teriak Alisa sekuatnya namun cahaya yang semakin terang mengaburkannya. "Maammaaaaaa!" seiring teriakan panjangnya Alisa pun terjaga.
Dengan tatapan kosong juga nafas tak beraturan di tambah peluh yang bercucuran ia mencoba mencerna apa yang telah terjadi.
"Sayang!? kamu bangun juga, kamu kenapa!? apa ada yang sakit!?"
__ADS_1
Alisa menoleh lalu menatap sekelilingnya, "Mama mana!? katakan dimana Mama sofia!" serunya nampak histeris.
"Sayang apa kamu bermimpi? sudah lama sekali kamu tak sadarkan diri"
"Iya, Kakak sekarang di rumah sakit, Kakak baik-baik sajakan!?"
"Kenapa kalian tak menjawabku!? dimana Mama Sofia, tadi dia disinikan!? iya kan!?" ucap Alisa tak percaya.
"Sayang dengarkan Ibu" ucap Bu Aisyah seraya meraih tangan Alisa, "Disini hanya ada kita bertiga, kamu jangan khawatir Ibu dan Alena akan merawat juga menjagamu.Kamu gak sendirian sayang"
"Bohong Ibu pasti bohong! Mama sofia pasti ada di sini, barusan saya sendiri melihatnya!"
"Kak, Mama sudah tak ada, Alena tahu Kakak sedih tapi jangan menyiksa diri seperti ini Kak"
Mendengar itu Alisa tertunduk lalu membenamkan wajahnya di kedua lututnya.Ibu Aisyah yang tak tega segera merangkul seraya membelai lembut kepala Alisa.
"Sayang, Alena benar, tidak baik menyiksa diri sendiri.Mama kamu akan sangat sedih di sana melihat kamu seperti ini, cobalah untuk ikhlas itu akan membuatmu lebih kuat" ucap Bu Aisyah penuh kelembutan.
"Berdoalah sayang, minta yang terbaik untuk Mamamu, Papamu, kamu dan Alena.Wujudkanlah apa yang menjadi harapannya, itu akan menghidupkan kenangan indah tentangnya" ucapnya lagi seraya menarik Alisa ke dalam pelukan lalu mengecup hangat puncak kepalanya.
Alisa sedikit tertegun dalam isak tangisnya.Ia tak membalas juga tak berusaha menolak perlakuan Bu Aisyah.
Alena yang merasa haru tak mampu menahan perasaannya.Ia pun segera menghambur dan memeluk keduanya.
Sementara Raffa sendiri nampak sedang gelisah.Sudah beberapa kali mencoba menghubungi Aurel hingga semua temannya, tak ada balasan dan yang tahu dimana Aurel berada.
"Tak biasanya Aurel tanpa kabar seperti ini? semoga tidak terjadi apa-apa sama kamu" gumam Raffa penuh harap seraya kembali menghubungi seseorang.
"Waalaikumsalam, hai Kak Al"
"Hai juga Cella, maaf apa Kak Aurel ada di rumah!?" ucap Raffa begitu berharap.
"Justru itu Kak orang rumah pun sedang menunggunya pulang, emang Kak Aurel gak sama Kakak!?" balas Cella balik bertanya.
"Itu dia De, hari ini Kakak belum bertemu dengannya" ucap Raffa.
"Apa! serius!? lalu kemana ya kalau begitu?" ucap Cella merasa aneh, "Tunggu Kak ini Mami mau bicara" ucap Cella.
"Hallo Nak Raffa, apa kamu sama Aurel, soalnya tumben Aurel belum pulang?" tanya Ny Ariana terdengar cemas.
"Hallo Tante, Raffa juga sedang mencari Aurel, soalnya hari ini Raffa tak kuliah jadi belum bertemu dengannya sampai saat ini" balas Raffa makin tak enak hati.
"Oh begitu, kemana Aurel ya mana ponselnya tak aktif juga, bikin Tante makin khawatir saja, tolong bantu cari Aurel ya Nak Raffa" pinta Ny Ariana.
"Itu pasti Tante, Raffa tak akan berhenti mencari sampai Aurel di temukan, Raffa janji Tante" balas Raffa mencoba menenangkan.
Setelah mengakhiri panggilan Raffa segera menuju mobilnya.Baginya lebih baik bertindak dari pada diam menunggu kabar walaupun ia tak tahu harus kemana.
Lama sudah ia berputar-putar seraya terus mencari ke tempat yang biasa mereka kunjungi namun hasilnya nihil.
"Kamu di mana sih!? aku harap kamu baik-baik saja" gumam Raffa makin gundah hingga nada panggilan di ponselnya mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
Sedikit ragu Raffa menatap ponselnya. "Nomor tak di kenal!? siapa ini!?" gumamnya, "Assalamualaikum, siapa ini!?"
"Haha tak perlu basa-basi, gue tau lo lagi nyari seseorangkan!?"
"Hei! siapa lo!? apa mau lo sebenarnya!?"
"Datanglah ke sebuah showroom di jalan pramuka dua no 42, lo bakal tahu semuanya"
"Hei! sialan di tutup!" seru Raffa makin tak enak hati, "Sebaiknya gue ikutin apa maunya, setidaknya gue ada titik awal, siapa tahu ini ada hubungannya dengan Aurel!"
Secepatnya Raffa menuju alamat tersebut.setelah beberapa lamanya ia pun sampai di tempat yang ia tuju.
"Akhirnya datang juga! lo membuat kita semua menunggu bocah!" ucap satu orang paling depan.
"Siapa lo! dan apa mau lo!?" balas Raffa balik bertanya.
"Sebaiknya lo diam dan ikuti gue!"
Tanpa berkata-kata lagi Raffa mengikuti orang itu dengan di iring oleh tiga orang lainnya.Di ruang kosong yang luas tempat service kendaraan nampak Leon duduk dengan santai di atas meja.
"Takdir memang kejam! bukan begitu bocah!" ucap Leon lalu berdiri dan membalikan badannya.
"Bangsat! mau apa lagi lo sialan! belum cukup lo gue hajar!" seru Raffa seraya menghampirinya.
"Hei! santai bocah! lo sentuh gue sedikitpun cewek lo hanya tinggal kenangan!"
"Lo kira gue percaya sama semua ocehan lo! lagian gue yakin lo gak akan berani berbuat apapun pada Aurel"
"Hahaha! ok gue mungkin tidak, tapi orang lain itu mungkin gak keberatan"
"Bajingan! sepertinya gue harus benar benar menghabisi lo!" seru Raffa lalu bersiap menerjang Leon.
Dua orang di kiri dan kanan Raffa tak tinggal diam.Saat Raffa bersiap menyerang dua orang itu melayangkan tendangan, dengan cepat Raffa melangkah mundur lalu pasang kuda-kuda.
"Simpan tenaga lo bocah! lo salah besar kalau ngincar gue, karena yang ingin lo hancur bukan cuma gue!" ucap Leon seraya melipat tangan di dadanya.
Raffa benar-benar di buat syok saat seseorang datang dari arah belakang Leon.
"A! Adrian!" pekik Raffa tak percaya.
"Gue serahin urusan ni bocah sama lo Bro, selamat bersenang-senang" ucap Leon lalu berlalu pergi.
"Sudah gue bilang, lo akan membalas semuanya bocah sialan!"
Tanpa Raffa duga Adrian menyerangnya dengan satu pukulan dan tendangan.Saat ia terdorong kebelakang orang di belakang Raffa memukul tengkuknya menggunakan pemukul baseball.
"Akhhhhh!" pekik Raffa merasa begitu pusing tak lama ia pun pingsan.
"Bawa dia! saatnya dia membayar sakit hati gue!" perintah Adrian.
[[ Bersambung ]]
__ADS_1