Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
96.Kepercayaan


__ADS_3

Di ruang perawatan, sekeras apapun Alisa berusaha namun sulit untuknya memejamkan mata.Saat ia memiringkan posisi tidurnya Alisa tertegun melihat bagaimana Bu Aisyah bersama Alena.


Begitu terlihat nyaman Alena tidur dalam pangkuan Bu Aisyah.Seakan putrinya sendiri Bu Aisyah membelai lembut kepala Alena seraya menepuk-nepuk lengannya.


"Loh sayang, kamu belum tidur!?" tanya Bu Aisyah saat menoleh untuk mengecek Alisa.


"Eh! tidak! saya hanya belum terlalu ngantuk saja" balas Alisa gelagapan lalu membenarkan posisi tidurnya.


Bu Aisyah tersenyum lalu dengan hati-hati membaringkan Alena.


"Apa kamu mau Ibu temani!?" tanya Bu Aisyah seraya menghampirinya.


"Tidak, tidak perlu, Ibu temani Alena saja" balas Alisa segan.


"Tak apa, Alena sepertinya sudah tidur, biar Ibu temani kamu, apa ada yang mau Ibu Ambilkan sayang?" tanya Bu Aisyah.


"Tidak terima kasih" balas Alisa tanpa mau menatapnya.


"Ya sudah kalau begitu" ucap Bu Aisyah lalu naik keranjang Alisa, "Sayang apa ada yang mengganggumu!?"


Alisa yang salah tingkah hanya menggeser tubuhnya seakan tak ingin berdekatan.Namun Bu Aisyah tak kecewa, ia pun membelai kepala Alena dengan lembut.


"Apa kamu masih kepikiran Mamamu? apa yang paling kamu ingat tentang Mamamu?" tanya Bu Aisyah mencoba membuka hatinya namun Alisa tetap diam.


"Ya sudah kalau kamu tak mau cerita biar Ibu saja, sini sayang tiduranlah di pangkuan Ibu" ucap Bu Aisyah seraya membenarkan posisi duduknya.


Alisa yang meragu tanpa bisa menolak merebahkan kepalanya di pangkuan Bu Aisyah.Rasa nyaman kehangatan seorang ibu pun langsung Alisa rasakan.


"Apa ini yang selama ini kamu rasakan Alena!?" gumam Alisa seraya menatap Alena yang tengah tidur tak jauh darinya.


"Ibu disini tidak berusaha menggantikan ibumu karena ibumu tak akan tergantikan sampai kapanpun dan oleh siapapun" ucap Bu Aisyah seraya mengusap lembut kepala Alisa.


Alisa tak berkata apa-apa ia hanya merasakan hatinya sedikit menghangat bercampur dengan perasaan lain yang tak bisa di lukiskan.


"Ibu hanya mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling penting di sisi kita, bagaimana anak yang kehilangan orangtuanya" ucap Bu Aisyah terdengar sendu, "Ibu dan putra Ibu yang masih kelas 4 SD harus kehilangan sosok suami dan ayah, berat memang tapi bagaimanapun kita yang di tinggal sudah seharusnya ikhlas dan menjalani semuanya" tak terasa mata Bu Aisyah mulai berkaca-kaca.


Alisa yang menangkap gelagat itu bisa merasakan kepedihannya, seakan sama dengan apa yang di alaminya.


"Kamu tahu Raffa putra ibu, walau saat itu ia masih kecil tapi sanggup melewatinya.Untuk itu Ibu juga yakin kamu bisa, apalagi kamu sebagai anak pertama yang harusnya menjadi pelindung buat Alena" ucap Bu Aisyah berharap Alisa belajar dari pengalamannya.


"Tapi Bu, Alisa tak bisa melakukannya, Alisa merasa kesepian dan sendirian tanpa Mama di sini" balas Alisa mulai berani terbuka.


"Ibu paham sayang, tapi kamu mesti tahu di sini masih ada Papamu,Alena yang menyayangi kamu, kalau kamu masih butuh seseorang Ibu akan selalu di sini di samping kamu" ucap Bu Aisyah dengan tulus.


"Kenapa ibu begitu baik sama kita di sini!?" tanya Alisa begitu penasaran seraya menatapnya.


"Ibu hanya tak bisa membiarkan orang di dekat ibu bersedih, apalagi ibu merasa bisa membuatnya kembali tersenyum" balas Bu Aisyah seraya terus membelai rambut panjang Alisa.


Alisa yang semakin merasa nyaman pun merangkul pinggang Bu Aisyah.Dengan tersenyum Bu Aisyah kembali buka suara,


"Sebaiknya kamu istirahat sayang, besok kita cerita lagi, yuk Ibu temani" ucap Bu Aisyah seraya membaringkan tubuhnya.


Alisa pun berusaha memejamkan matanya seraya memeluk Bu Aisyah.Belum juga mereka tertidur suara seseorang membuat mereka kembali membuka matanya.

__ADS_1


"Mah? emmmmh" panggil Alena saat terjaga dari tidurnya.


"Mamah disini sayang"


"Mama kok ninggalin Alena?" ucap Alena seraya menghampirinya lalu merebahkan dirinya di samping Bu Aisyah.


"Ya ampun sayang, kasihan Kakak kamu jadi berdesakan nantinya!?"


"Abisnya Alena juga mau tidur deket Mama"


"Ya sudah biar kita bertiga saja di sini, Alisa gak masalah kok" ucap Alisa sedikit bergeser.


"Ya ampun anak Mama yang satu ini masih saja manja" ucap Bu Aisyah seraya mencubit Pipi Alena.


Alena hanya tersenyum lalu memeluk Bu Aisyah.Alisa hanya menatap keduanya yang begitu nampak sangat dekat.


"Ibu sama Alena bisa sedekat ini, apa Ibu ini yang Mama maksud!? tapi memang di dekatnya terasa nyaman walau tak terasa sama" gumam Alisa dalam hati.


Alena tersenyum saat ia dan Alisa saling menatap.Seakan tak mau jauh keduanya memeluk Bu Aisyah dengan erat dari sisi kiri dan kanannya.


"Kak, Alena tak pernah lupa sama Mama tapi di dekat Mama Aisyah Alena merasa Mama Sofia selalu ada di dekat Alena"


"Kakak mengerti kok" balas Alisa seraya menggenggam tangan Alena.


Sementara di tempat lain Raffa sendiri tengah jadi sandera.Dengan tatapan dingin Adrian menatap Raffa yang terikat dengan tangan tergantung.


"Lo kira gue main-main bocah!" seru Adrian lalu menghantam Raffa bagai sansak.


"Uhukkk! heehh! heeeh! lo salah paham bodoh, heehh! ehhh! gue gak pernah manfaatin dan minta apapun sama siapapun!" ucap Raffa emosi.


"Lo kira gue buta bangsat! bagaimana mungkin lo dapat semua itu dengan mudah, pasti lo minta dan manfatin Aurel sebagai kedok! dasa brengsek!"


Adrian yang kalap lalu menghajar Raffa di akhiri satu hujaman kaki ke dadanya.


"Ahhhhhk! heekhh! hehhh! heehh!" pekik Raffa lalu mengatur nafasnya.


"Gue sendiri gak minta semua itu bodoh, sebaiknya lo tanya Papi lo sendiri apa alasannya! yang harus lo tahu Papi lo ngasih semua itu dengan ancaman gue harus ninggalin Aurel kalau menolaknya!" ucap Raffa gemas.


"Omong kosong lo bangsat! jangan pikir gue bisa lo begoin" balas Adrian kembali menghajar Raffa bertubi tubi.


"Hekhh! ekhhh! ughhh!"


Adrian lalu menjambak Raffa, "Sebaiknya lo gue habisin, lo hanya benalu gak tahu diri!" seru Adrian kembali melayangkan pukulan ke wajah Raffa.


Raffa nampak begitu geram, rasa sakit masih bisa ia tahan tapi emosinya mulai tak tertahan.


"Hehe! gue tahu kenapa Papi lo gak perduli sama lo! orang bodoh macam lo yang mengorbankan adiknya sendiri mana bisa di anggap penting!" ucap Raffa begitu dingin.


"Diam lo sialan!" bentak Adrian seraya melayangkan pukulan juga tendangan.


"Haha! lo boleh siksa gue tapi lo ingat bodoh! jika terjadi apa-apa sama Aurel! lo harus membayarnya, bila perlu nyawa lo gantinya!" ancam Raffa.


Adrian sedikit tercekat mendengar ancaman Raffa namun kebenciannya sudah terlalu memuncak.

__ADS_1


"Jangan cari alasan biar gue kasihan sama lo bocah! lo harus bayar sakit hati gue!" bentak Andrian seraya menjambak rambut Raffa.


"Heh! bener-bener lo gak pantas di sebut Kakak.Apa pernah lo mikirin perasaan adik-adik lo bodoh! Cella yang selalu rindu perhatian kakaknya, sekarang Aurel malah lo percayakan sama rubah bernama Leon.Sebodoh inikah lo sebagai keturunan Adrean!" ucap Raffa benar-benar emosi.


"Apa maksud omongan lo bocah, apa pukulan gue terlalu keras hingga membuat otak lo miring!" seru Adrian gusar.


"Apa lo pikir Aurel aman di tangan Leon!? lo yang teman sepermainan seharusnya lebih tahu, lo bisa lihat apa yang rubah itu lakukan pada gue! lo harus tahu Leon suka sama Adik lo, apa lo yakin dia gak akan nekad, senekad dia mau nyingkirin gue karena dekat dengan Aurel!" ucap Raffa penuh penekanan.


Adrian nampak terkejut, perkataan Raffa begitu ada benarnya.Rasa khawatir sedikit timbul di hati Adrian.


"Haha itu hanya siasat lo bocah, gue gak akan kemakan bualan lo!" balas Adrian datar.


"Gue harap begitu bodoh! kalau benar terjadi, bukan hanya gue yang akan ngabisin lo tapi mungkin Aurel, Papi Mami lo sampai Cella juga!"


Adrian mulai merasa cemas mendengar setiap perkataan Raffa hingga ia menggumam dalam hatinya.


"Sialan ucapannya Benar adanya, Leon orang yang akan melakukan apapun jika dia sudah menginginkan sesuatu!"


"Omongan lo bikin gue ingin kecing! lo diamlah di sini sebentar lagi kita lanjutkan pestanya!"


Selesai berucap Adrian menuju lantai dua di mana Aurel berada.Sedikit tergesa ia menuju ruangan dimana mereka menyekap Aurel.


"Lo mau kemana Bro!" tanya seorang penjaga yang mencegatnya.


"Pake tanya lagi lo, gue mau pastiin keselamatan Adik gue!"


"Dia aman Bro, Boss sedang menjaganya dengan baik" balas salah seorang yang lain.


"Gue harus lihat dengan mata kepala sendiri sialan!" ucap Adrian penuh penekanan pada orang kepercayaan Leon tersebut.


"Sudah Bro gak usah lo tenang saja, percayakan sama si Boss.Mereka paling lagi ngobrol"


Adrian yang makin merasa aneh pun jadi curiga.Tanpa perduli mereka berdua Adrian bergegas pergi.


"Sorry Bro lo gak boleh kesana!" ucap seorang penjaga seraya menahan bahu Adrian.


"Iya Bro, ini sudah perintah Boss!" balas yang lain.


Tiba- tiba terdengar jeritan seorang gadis yang nampak panik.


"Aaaaaaaaaaa! jangan! lepasin gue!"


"Aurel! bangsat apa yang dia lakukan disana hah!" ucap Adrian lalu merangsek kedua orang kepercayaann Leon tersebut.


Adrian yang kalah kuat karena di keroyok pun hanya bertahan beberapa saat saja.


"Akhhhhh! brugggh!" saat beberapa pukulan dan tendangan membuatnya roboh.


Sambil menyeka wajahnya yang terkena pukulan Adrian lalu berusaha bangun namun kedua orang itu kembali menghajarnya.


Saat Adrian tak berdaya mereka menyeret lalu menghempaskannya ke tangga hingga jatuh bergulingan.


"Sialan! Leon memang gak bisa di percaya! apa yang harus gue lakukan!? maafkan Abang Aurel!" gumam Adrian menyesal dalam ke tak berdayaannya.

__ADS_1


__ADS_2