Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
46.Perubahan Aurel


__ADS_3

"Ya Allah adakah jalan agar aku tidak menyakiti salah satu dari mereka" guman Raffa memohon petunjuk.


Pagi ini, Alena yang mungkin masih marah tidak ingin pergi bersamanya.Membuat Raffa merasa tak enak hati.Tanpa mengantar Alena ia langsung menuju kampusnya.


Tak memakan banyak waktu akhirnya Raffa pun sampai.Saat memarkirkan mobilnya ia bertemu Aurel yang juga baru tiba.


"Hai Al, selamat pagi" sapa Aurel lalu menghampirinya.


Belum juga Raffa menjawab sang musuh abadi datang menyela.Dengan sengaja Leon menabrakan bahunya membuat Raffa terdorong.


"Hai Rel, susah juga ketemu kamu" ucap Leon


"Eh lo, susah gimana? gue ada terus kok, lo nya aja kali yang gak pantes buat di temuin" sahut Aurel dengan senyum dibuat semanis mungkin.


Terang saja perkataan Aurel membuat Leon bingung, terlihat tidak sesuai dengan sikapnya yang manis.


"Kok gitu, kenapa sih lo gak pernah baik sama gue" ucap Leon dengan nada memaksa.


"Oh kenapa? coba lo sendiri pernah sebaik apa sama gue?" balas Aurel kembali tersenyum menggoda.


"Emm, gini aja deh buat bukti, besok gimana kalo kita makan malam di tempat romantis.Kamu maukan?" ucap Leon begitu serius seraya meraih tangan Aurel.


Raffa yang seakan tak punya kepentingan pun berusaha beranjak dari tempat itu.Ia pun berjalan melewati punggung Aurel.


Tanpa di duga Aurel menahan lengan Raffa yang berada di balik punggungnya, dengan tetap melanjutkan percakapannya dengan Leon,


"Tempat romantis seperti apa maksud lo?" tanya Aurel penasaran.


"Di Sky Rooftop, kita makan berdua sambil menikmati pemandangan kota dari atas.Aku yakin lo gak akan menyesal" sahut Leon begitu antusias, terlebih Raffa di situ mendengarkannya.


Raffa hanya bisa berpura-pura tak mendengarnya, ia terus berpikir kenapa Aurel tak membiarkannya pergi.


"Wah terdengar menyenangkan, sepertinya gue memang gak akan menyesal" sahut Aurel terlihat bersemangat.


"Gimana, lo maukan? gue janji akan menjadikan itu hari terindah buat lo" ucap Leon begitu yakin Aurel menerimanya.


"Tawaran yang gak bisa gue tolak, sepertinya gue mau pergi kesana" balas Aurel kembali tersenyum seraya menggerakan bola matanya seperti membayangkan.


"Jadi, lo mau pergi kesana bareng gue?" ucap Leon berbunga-bunga, terlebih semua terjadi di depan musuh abadinya.


Raffa sendiri hanya berguman di hatinya,


"Kenapa juga Naurel nahan gue sih, diam hanya untuk mendengar rencana romantis mereka, aneh banget" Raffa pun menarik tangannya namun pegangan Aurel semakin menguat.


"Ya, gue mau pergi kesana.Kamu bisa jemput aku pukul tujuh, kamu bisa kan Raffa?" ucap Aurel menepis lengan Leon lalu berbalik menatap Raffa.


"Deeggghhh" Raffa maupun Leon sama-sama merasa bagai tersambar petir.


Raffa yang sedari tadi bagai nyamuk sontak begitu terkesiap,


"A, aku!?" sahut Raffa tak percaya.


Begitu pula Leon sangat tak percaya, tadinya ia begitu yakin bisa membuat Raffa malu malah berbalik padanya.Aurel nampak tengah mempermainkannya,


"Rel yang ngajak ke sana gue, kenapa lo malah tanya bocah itu!" ucap Leon begitu geram.

__ADS_1


"Iya, makasih atas sarannya, berkat lo gue jadi tahu tempat bagus untuk kita berduaan" balas Aurel seraya melirik Leon lalu kembali menatap Raffa dan menggenggam kedua tangannya.


"Besok pukul tujuh malam bisa kan jemput aku Al?" tanya Aurel begitu manis.


"Eh, jam tujuh?" insyaallah" sahut Raffa begitu saja terucap, saat Aurel menekan tangannya.


"Ya sudah yuk Al" ucap Aurel lalu pergi dengan menggandeng lengan Raffa.


Leon yang tidak mau kalah begitu saja terlihat memberi kode perintah pada salah satu temannya.


"Aurel tunggu!" seru Leon lalu mengejarnya.


"kenapa lagi, mau kasih saran lain buat makan malam kita?" sahut Aurel meledek.


"Rel, lo yakin mau jalan sama pacar orang? seorang Aurel mau di jadiin yang ke dua sama ni bocah apa gak malu" ucap Leon dengan nada menyindir.


"Haha terus mesti gitu gue dengerin omongan lo, terus jalan sama lo?" sahut Aurel tersenyum pahit.


"Inget Rel dia udah punya cewek, mau emang lo di cap pelakor!" ucap Leon makin jadi.


Raffa yang sudah begitu geregetan akhirnya tak tahan.Namun saat hendak menghampiri Leon, Aurel menahannya.


"Denger ya baik-baik, gue lebih baik jadi yang kedua dari pada harus jadi Ratu bersama lo.Jadi sampai kapanpun gue gak akan pernah mau sama lo" ucap Aurel dengan nada serius.


Rasa Amarah Leon makin membludak saat mendengarnya.Penolakan Aurel begitu membuatnya frustasi.


"Dan sampai kapanpun gue gak akan pernah lepasin Lo, dan gue gak akan biarkan lo bahagia sama siapapun" guman Leon terlihat mengepalkan tangannya.


Sementara Raffa masih terheran dengan apa yang Aurel lakukan,


"Ih mulai narsis ya, siapa juga yang mau muji, cuma heran aja kok bisa-bisanya si cantik ini ngerjain Leon?" sahut Raffa


"Dih, muji juga itu tetep.kalo Leon emang pantes di gituin" ucap Aurel terlihat puas.


Kebersamaan mereka pun tak luput dari perhatian teman-temannya yang sudah datang lebih dulu,


"Si Al sama Aurel? gandengan?" ucap Ryan lalu berakting pingsan ke pangkuan Vina.


"Ihh, rese malah glendotan sama gue lagi!" seru Vina lalu bergeser.Membuat Ryan terjatuh ke lantai.


"Ya ampun Vin tega bener lo, numpang pingsan aja gak boleh" celetuk Ryan memelas


Ryo juga Luna pun saling tatap seakan tak percaya dengan apa yang mereka lihat,


"Yank gak salah ini Aurel sama Raffa deket begitu?" tanya Luna.


"Gak ngerti juga sayank, bau bau perang dunia ke tiga bakal terjadi ini sih" sahut Ryo sedikit was-was.


"Maksudnya? kamu tahu sesuatu yank?" Luna makin penasaran.


"Ya gitu, nanti aku ceritain tapi gak depan mereka juga ya sayank" sahut Ryo seraya mencubit pipi Luna.


Tak lama mereka berkumpul bersama, jam kuliah pagi pun di mulai.Menyisakan pertanyaan tentang bagaimana Raffa dan Aurel bisa sedekat itu.


Sore Hari setelah jam kelas terakhir selesai, nampak Raffa berusaha menghubungi seseorang,

__ADS_1


"Kenapa tak di angkat ya, apa masih ada kelas?" guman Raffa terlihat khawatir.


"Sebaiknya nanti gue coba lagi,sekarang mesti fokus untuk latihan" lalu Raffa pun segera menuju hall basket.


Sesampainya di sana Raffa segera berkumpul dengan teman setimnya.


"Guys sebelumnya gue minta kepercayaan lo semua, kalo ada yang keberatan bisa langsung ngomong sama gue" ucap Raffa dengan serius.


"Jadi apa rencana lo Al, kita di sini bakal ngikutin apapun kata lo" ucap Armand yang di ikuti oleh yang lainnya.


"Jadi gini, gue mau di sini kita latihan full dari dasar banget, seperti passing, dribbling, shooting.Untuk strategi permainan kita latihan di tempat lain yang tertutup kalo bisa" ucap Raffa menjelaskan.


"Yakin bakal cukup waktu Al kalo kita latihan dari dasar?" tanya Adi meragu.


"Kita harus yakin, memperkuat dasar akan sangat berpengaruh besar pada permainan kita.Kualitas permainan pun akan meningkat" jelas Raffa meyakinkan.


"Baiklah, mari kita mulai" ucap mereka dengan kompak.


Latihan mereka pun tak luput dari perhatian Leon cs.Ledekan demi ledekan pun terus terdengar,


"Haha baru belajar basket ya Dik"


"Wihh gak salah nih anak SD main disini, pake bola bekel dulu Nak biar gak cedera"


"Mau Abang ajarin gak? nanti Abang ajarin cara cepat untuk kalah hahaha"


Raffa yang menyadari itu lalu menyemangati rekan-rekannya,


"Go go go, lebih fokus! lebih cepat! lebih kuat!" teriak Raffa dengan semangat.


Tak lama Aurel, Luna juga Ryo datang lalu memilih duduk bersama.Leon yang masih begitu penasaran pun segera mendekatinya.


"Aurel gue mau ngomong sebentar" ucap Leon lalu menarik lengan Aurel sedikit menjauh dari Luna dan Ryo.


"Ada apa lagi sih, lepas deh gue bisa jalan sendiri" ucap Aurel


"Lo gak serius sama ucapan lo tadi pagikan? ingat Rel dia udah punya pacar, apa lagi yang lo harap" ucap Leon begitu serius.


"Kalo gue bahagia kenapa enggak.Kalo lo peduli sama gue lo pasti senang lihat gue bahagia, benar?" balas Aurel begitu tenang.


"Benar, tapi enggak mungkin juga lo sama dia, buka mata lo Rel" ucap Leon mencoba terus mempengaruhinya.


"Gak ada yang perlu di bahas lagi, suka atau tidak suka jawaban gue tetap sama" sahut Aurel lalu kembali duduk bersama Luna juga Ryo.


Sementara Leon yang putus asa kembali ke tempatnya.Dengan tatapan dingin ia terus menatap Raffa.Emosinya sudah makin memuncak.,


"Ini semua gara-gara lo bangsat.Bersenang-senanglah bocah selagi lo bisa karena sebentar lagi lo bakal kehilangan pelindung terbesar lo" guman Leon seraya menyeringai jahat.


[ Bersambung ]


Apa tujuan Aurel sebenarnya mendekati Raffa?


Rencana Apa lagi yang Leon punya?


Bagaimana kabar Alena?

__ADS_1


Nantikan terus ya gess 😉


__ADS_2