
Pagi hari di parkiran kampus.
Aurel yang baru turun dari mobilnya dikagetkan oleh seseorang yang menahan lengannya.
"Rel sorry gue mau ngomong sama lo" Ucap Leon dengan serius.
"Apa sih,gak ada yang perlu di bahas" seru Aurel menyentakan lengannya
"Tapi Rel gue mau lo gak salah paham"
"Cukup yah Kak gue gak ada urusan lagi sama lo" Balas Aurel dengan kesal lalu beranjak hendak pergi.
Leon yang tidak rela Aurel pergi tiba-tiba menarik Aurel ke dalam pelukannya.Tanpa peduli dengan tatapan orang di sekitarnya.
"Kakak lo gila ya! Lepasin gue!" Seru Aurel seraya meronta sebisanya.
"Nggak sebelum lo mau ngomong sama gue" balas Leon mempererat pelukannya.
"Lepas atau gue teriak!" ancam Aurel terus meronta berusaha
melepaskan pelukan Leon.
"Teriak aja gue gak peduli,gue cuma pengen lo tau.Gue sayang sama lo" ucap Leon berusaha meyakinkan Aurel.
"Cukup Kak! gue gak peduli,lepasin,lepasin gue!" Aurel meronta sekuatnya namun tetap tak membuatnya terlepas.
"Aurel gue sayang sama lo! Masa iya lo gak mau maafin gue!?" lanjut Leon memohon.
Kejadian itu pun semakin menarik perhatian banyak orang.Mereka saling berbisik lalu cibiran pun mulai terlontar dari beberapa orang yang menyaksikannya.
"Lepas Kak lepas!" seru Aurel setengah berteriak.Kesal yang tertahan membuat matanya berkaca-kaca.
Dari sekian banyak orang yang menyaksikan itu.Nampak seseorang yang habis kesabarannya dengan setengah berlari mendekati keduanya.
"Bisa tolong lepaskan? Lagian gak enak juga jadi tontonan." Ucapnya seraya mencengkram lengan Leon.
Saat pelukan Leon terasa melemah, Aurel dengan segera menarik tubuhnya menjauh.
"Al" lirih Aurel lalu berlindung dibalik punggung sang penolong.
Berlindung di balik punggung Raffa entah mengapa membuatnya merasa tenang.
"Cihh lo lagi,mau sok jagoan lo!" Seru Leon menepis tangan yang memegangnya.
"Bukan begitu,apa lo gak malu." Ucap Raffa.
"Maksud lo apa bocah,gak bosen-bosennya lo cari masalah sama gue! Punya hak apa lo ikut campur urusan gue sama dia heh!" Leon dengan kasar menarik kerah baju Raffa.
"Liat sekeliling lo,suka jadi tontonan semua orang? Gak bisa lo liat juga gimana perasaan Aurel?" ucap Raffa menatap dalam mata Leon.
Mendengar itu Leon lalu melirik ke arah Aurel yang terlihat terguncang dengan wajah seperti mau menangis.
"Ada baiknya biarkan dulu dia tenang.Kalo ada masalah,lo bisa bicarakan nanti dengan cara yang lebih baik," ucap Raffa meminta pengertian seraya perlahan menepis tangan Leon yang mencengkramnya.
"Ayo Non kita masuk" Ucap Raffa pada Aurel seraya menuntunnya.
Aurel hanya mengangguk pelan.
Leon terdiam memandang kepergian mereka.Ucapan Raffa memang benar adanya.Caranya bukan membuatnya semakin baik,malah mungkin ia makin terlihat buruk di mata Aurel.
"Sial tu bocah menang langkah lagi.Tapi jangan senang dulu brengsek,selama ada gue hidup lo gak bakal tenang." Guman Leon dalam hati dan seringai jahat di wajahnya.
Sementara itu sesampainya di tempat biasa mereka berkumpul.Raffa dan Aurel sudah di hujani berbagai pertanyaan.
"Aurel lo kenapa?" tanya Luna terheran melihat Aurel yang seperti akan menangis.
"Aurel kenapa Behb?" ucap Ryo begitu penasaran.
"Udah tahan dulu pertanyaannya,biar tenang dulu.Ada yang bawa minum?" balas Raffa balik bertanya.
__ADS_1
Luna yang paham maksud Raffa segera memberikan botol minumnya pada Aurel.Setelah beberapa tegukan dan menarik nafas panjang Aurel nampak sedikit lebih tenang.
"Thank ya Lun,gue baik-baik aja kok" ucap Aurel mencoba tersenyum.
"Syukurlah kalo gitu,cuma ada apa sih sebenarnya? Apa ada masalah sama Aurel Al?" tanya Luna seraya terus memeluk Aurel.
Melihat Raffa yang menghela nafas lalu menatapnya,Aurel pun lalu berusaha menjelasakannya.
"Tadi di parkiran gue di gangguin Leon Lun.Kurang ajar banget dia ....meluk gue di depan banyak orang" ucap Aurel sedikit tertahan
"Hah....serius Rel?" kaget Luna seraya menatap Aurel.
"Deuhhh biang tikus lagi" celetuk Ryo begitu kesal.
"Untungnya Al bantuin gue,kalo nggak gak tau deh" ucap Aurel tertunduk membayangkan andai saja Raffa tidak menolongnya.
"Makasih banget ya Al sekali lagi lo udah mau nolong gue" lanjut Aurel tersenyum seraya sesekali menatap Raffa.Aurel tak sanggup menatap Raffa lama-lama
"Udah gak apa-apa kok Rel gak perlu di besar-besarkan.Aku gak ngelakuin hal yang hebat kok.Yang terpenting sekarang kamu tenangin diri,lupain yang terjadi dan jangan lupa senyumnya mana?" ucap Raffa menggoda,lupa bahwa disana mereka tidak berdua
Ryo juga Luna begitu kaget oleh sikap Raffa yang manis tanpa sungkan sama sekali.Mereka sama-sama saling menatap tak percaya.
"Woy malah pada bengong" ucap Raffa tanpa dosa.
"Dihhh mau ngeles yang punya dosa.Mulai genit lo Behb," balas Ryo seraya menjewer Raffa sekilas.
"Sembarangan lo,kalo genit lo tuh Rajanya" lanjut Raffa seraya menyentil pipi Ryo.
Ryo yang tidak terima di sentil kembali membalas.Hingga Raffa dan Ryo terlibat pergumulan mulai dari saling tarik,jewer,sentil sampai saling menggelitik bagai anak kecil.
Aurel yang melihat tingkah keduanya dibuat terpingkal.Begitu juga Luna tak kuasa menahan tawanya.
Tak lama mereka pun sudah di sibukan dengan jadwal kuliah yang penuh sampai dengan sore hari.
Raffa sendiri memutuskan tidak berlatih basket sore ini.Lukanya masih agak sedikit menggangu.
Di pertengahan jalan pulang hatinya mulai risau.Suara motor sport yang lambat laun seperti mendekat membuat Raffa waspada.
Sontak Raffa kehilangan kendalinya saat roda depannya tergelincir lalu jatuh bergulingan.Sesaat setelah Raffa mampu berdiri lalu memposisikan motornya ke tepi jalan.
Raffa lalu memandang ke setiap sudut jalan.
"Hmm mereka sudah kabur.Masalah ini sepertinya makin liar.Gue harus segera membereskannya." gumannya dalam hati
Setelah ia mengelap noda oli pada motornya Raffa kembali menjalankan motornya dengan hati-hati menuju SPBU terdekat.
Saat Raffa tampak sibuk membersihakan motornya,sepasang mata terus memperhatikannya.
Di salah satu jalur pengisian mobil. Seorang gadis yang tengah mengantri begitu tertarik dengan seseorang.
Saat gadis itu memperhatikannya dengan begitu lekat.Di saat yang bersamaan Raffa berdiri sehingga wajahnya dapat dengan jelas ia lihat.
"Dia!" teriaknya begitu kaget.
Keterkejutan gadis itu berubah menjadi kepanikan.Ketika pemuda yang di perhatikannya hendak beranjak pergi.
"Mas bisa lebih cepet gak isinya" ucap Alena begitu terburu-buru.
"Maaf Mba ini belum sesuai jumlahnya" jawab petugas
"Gak apa Mas ini uangnya ambil aja semuanya" dengan terburu-buru ia segera masuk ke mobilnya lalu mencoba menyusul Raffa.
"Duhh mana ya dia" ucapnya begitu resah
Setelah beberapa saat berjalan ia mampu melihat Raffa.
"Ehh itu dia" ucapnya mulai merasa tenang.
"Apa yang harus gue lakukan sekarang ya.Apa harus berhentiin dia sekarang? Terus mau ngomong apa gue nanti?" gumannya dalam hati begitu bimbang.
__ADS_1
Tanpa terasa ia mengikuti Raffa hingga ke Coffe Shopnya.
"Aduh gimana ya,masuk apa enggak ya? Bingung mau ngomong apa.Lagian kenapa juga gue bisa sampai nekat kesini ya?" gumannya dalam hati perang batin.
Setelah lama berdiam diri akhirnya ia memberanikan masuk.
"Selamat datang di R2F Ruang Hati Coffe Shop silahkan" sambut Siska
Mendengar itu ia hanya tersenyum seraya melihat-lihat suasana Cofee Shop seraya mencari-cari.
Ferdy yang sedari tadi memperhatikannya memberanikan diri menyapanya.
"Selamat sore Mba,mungkin ada yang bisa saya bantu?" ucap Ferdy
"Ehh iya Mas,Maaf saya Alena boleh tanya sesuatu gak?" ucap Alena dalam gugupnya.
"Ohh saya Ferdy silahkan jangan sungkan" balas Ferdy dengan sopan.
"Saya cari seseorang yang beberapa saat yang lalu masuk kesini.Oh iya orangnya tinggi,putih umurnya mungkin sekitar 19-20tahun.Dia biasa pake motor matik,apa mas tau?"
"Hmmm dari tadi sih gak ada orang yang sesuai ciri-ciri itu mba" ucap Ferdy seraya berpikir keras.
"Oh gak ada ya" lirih Alena begitu kecewa.
"Cuma apa mungkin yang Mba cari itu boss saya,apa orang itu ini Mba?" lanjut Ferdy seraya memperlihatkan ponselnya
Sontak bola mata Alena membulat sempurna tatkala melihat foto pada ponsel Ferdy.
"Iya Mas ini orangnya yang saya cari"
"Yakin Mba ini orangnya? Berarti bener si boss yang Mba cari"
"Boss? terus Mas apa sekarang saya bisa ketemu?" balas Alena antusias.
"Eh iya dia itu yang punya tempat ini Mba,sebentar ya nanti saya panggilkan" ucap Ferdy lalu nampak sibuk membuat sesuatu.
"Ini Mba anggap saja promo untuk pelanggan baru" ucap Ferdy seraya menyajikan secangkir kopi pada Alena.
"Ehh terima kasih" jawab Alena
Tiba-tiba ponsel Alena berdering ia pun segera menerima panggilan tersebut.Tanpa di sadari Raffa terlihat keluar dari samping rumahnya lalu pergi.
Selang beberapa lama Ferdy kembali menemui Alena.
"Maaf Mba ternyata orang yang sedang Anda cari kayanya sedang keluar" Ucap Ferdy sedikit kikuk.
"Loh gak ada ya? tapi tadi beneran kesinikan Mas?"
"Iya Mba tadi sih memang ada kesini,sempat ngobrol sebentar juga sama saya" lanjut Ferdy sambil garuk garuk tak gatal merasa bingung.
"Apa Mas tau dia kemana?" Alena makin penasaran.
"Ehh tadi gak bilang apa-apa sih Mba" Ferdy mencoba berpikir lalu kembali buka suara.
"Apa mungkin ya ia nekat pergi ke Blackhouse Cafe?" ucap Ferdy ngomong sendiri.
"Kemana Mas? Blackhouse Cafe?"
"Ehh maaf Mba,itu cuma kemungkinan aja soalnya tadi dia tanya tempat nongkrongnya grup motor SR"
"Ohhh ya sudah Mas gak apa-apa kalo gak ada.Saya permisi dulu,terimakasih kopinya.Ini simpan aja kembaliannya" ucap Alena dengan tergesa tanpa menghiraukan Ferdy yang berusaha menolak pembayarannya.
Setelah masuk ke dalam mobilnya Alena kembali termenung.Ia nampak kecewa karena tidak berhasil bertemu dengan Raffa.
"Harus kemana ya sekarang gue? apa coba ke Blackhouse Cafe ya?" Alena terus berpikir keras.
"Kalo di pikir-pikir kenapa gue ampe segininya sih,aneh kan jadinya" guman Alena bermonolog.
Alena pun akhirnya menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu dengan perasaan gundah.
__ADS_1
[[ Bersambung ]]