
Di sebuah rumah sakit nampak Raffa di temani Rama tengah memeriksakan kondisi kesehatannya.Setelah semua proses Raffa lewati, hasil yang sesuai harapan membuat Dokter Albert pun merasa puas.
"Sepertinya hari ini akan jadi hari terakhir kita bertemu ya" ucap Dokter Albert seraya tersenyum.
"Hemh, itu artinya kondisinya sudah pulihkan Bert!?" tanya Rama terlihat senang.
"Begitulah Ram, wajar jika masih terasa sedikit kaku tapi jangan khawatir itu hanya sementara.Kamu sudah bisa mulai melatih menggerakan bahumu Al" ucap Dokter Albert.
"Baik, terima kasih Dok" balas Raffa datar.
Rama juga Dokter Albert hanya saling pandang melihat reaksi Raffa yang nampak tidak senang.Seperti ada sesuatu yang begitu menganggunya.
"Baik Bert terima kasih atas semua bantuannya.Kita berdua pamit dulu, semoga kita tak bertemu lagi" ucap Rama menggoda.
"Haha baik Ram sama-sama, jaga diri kalian baik-baik biar gue gak bosen harus ngobatin lo terus, apalagi lo Ram" balas Dokter Albert tak mau kalah.
Tak beberapa lama mereka pun nampak meninggalkan rumah sakit.Dalam perjalanan pulang Rama yang penasaran mulai membuka suaranya.
"Kamu kenapa Al? sepertinya ada yang kamu pikirkan?" tanya Rama.
"Eh maaf Mas, saya kepikiran soal perkataan Tn Harry, apa Mas Rama tahu bagaimana hubungan Tn Harry dengan Ibu saya?" ucap Raffa balik bertanya.
"Setahu saya mereka berhubungan baik, seperti yang Mas bilang Alena begitu dekat, itu menjadikan Ibumu dan Tn Harry juga sering bertemu sebagai orang tua.Apa memang ada masalah Al?" balas Rama sedikit terkejut.
"Tn Harry berencana menikahi Ibu Mas" ucap Raffa terlihat tak percaya.
"Apa!?" seru Rama terkejut lalu menepikan mobilnya.
"Kamu serius Al!?" lanjut Rama.
"Iya Mas Tn Harry berbicara langsung pada saya"
"Hemh, tanggapan kamu sendiri gimana Al?"
"Saya juga tak tahu Mas, Tn Harry pun tidak berencana secepat itu, ia hanya meminta pendapat saya terlebih dahulu"
"Ohh, jujur sebenarnya Mas sudah menduganya tapi tidak tahu akan secepat itu juga Tn Harry memintanya"
"Maksud Mas?" Tanya Raffa.
"Baru kali ini Tn Harry memperhatikan seorang wanita, semua karena melihat Alena yang memang butuh sosok seorang ibu" balas Rama.
"Ya, saya juga tahu tapi tak pernah terpikir untuk sejauh itu" ucap Raffa.
"Mas tidak berusaha mempengaruhimu Al, jika Tn Harry sama Ibumu, itu akan jadi berita baik buat Alena juga buat kamu, selain kamu punya sosok Ayah Tn Harry sangat bermimpi memiliki seorang putra" jelas Rama berpendapat seraya menjalankan kembali mobilnya.
Raffa hanya tercenung mendengar perkataan Rama.Namun hatinya berusaha terus menyangkal, kejadian lama masih begitu membekas di hatinya.
Beberapa lamanya mereka menempuh perjalanan mereka pun sampai di tempat yang biasa di gunakan sebagai tempat pertemuan rahasia mereka.
"Hei little bro apa kabar lo?" ucap Andre terlihat semringah saat melihat Raffa.
"Baik Bang, Abang sendiri sama yang lain gimana kabarnya?" balas Raffa.
"Baik semua kok Al, gue sudah gak sabar jalan bareng lagi sama lo juga anak-anak" ucap Andre penuh harap.
"Eh iya Bang saya berhutang maaf, saya gak bisa jaga amanat, motor dari Abang ikut di rusak sama mereka" ucap Raffa terlihat menyesal.
"Sudahlah ngelihat lo selamat saja bagi gue itu yang terpenting, soal motor gue bisa dapetin yang lain dari balapan" balas Andre mencoba menghibur.
"Sudah kangen-kangenannya, ada hal penting yang harus kita urus terlebih dulu" ucap Rama membuyarkan ke duanya.
Mereka pun akhirnya menuju satu ruangan yang begitu tersembunyi.Violet yang telah menunggu mereka segera menyambutnya.
"Siang Lead, semuanya sudah saya persiapkan.Sedikit ada masalah, demons sepertinya makin aktif mencari orang ini" ucap Violet.
"Tak apa Vi, kita tak akan terus menahannya.Setelah pertemuan ini kita akan melepaskan orang ini" balas Rama.
Raffa sendiri langsung naik pintam saat melihat orang dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Sialan! orang ini harus membalas semuanya" ucap Raffa geram.
"Tahan Al! dia hanya pion, yang kita incar otak di balik ini semua" ucap Rama.
"Kita berangkat sekarang Lead? lebih baik kita sampai lebih dulu"
Tanpa berlama-lama mereka segera berangkat dengan menggunakan dua mobil.Sesampainya di sebuah kafe Andre segera memarkirkan mobilnya.
"Lo temui orang itu! ingat jangan macam-macam apalagi membuatnya curiga.Gerakan bahkan suara nafas lo gue bisa dengar.Lo coba kabur, tak ada satupun tempat aman buat lo sembunyi, ingat itu!" ucap Rama Via ponsel yang bodyguard loudspeaker.
Penuh keraguan Boil pun turun menemui Blake yang sudah sampai lebih dulu.
"Brader, sorry buat lo menunggu" ucap Boil lalu duduk di sampingnya.
"Sudah gue bilang lo jangan hubungi gue Bro, Boss minta kita untuk sembunyi sementara ini" balas Blake beralasan.
"Si Boss sendiri dimana sekarang?" tanya Boil.
"Boss? Serius lo tanya gue!? harusnya lo yang lebih tahu, aneh bener" balas Blake merasa aneh.
"Yah belakangan ini gue emang gak tahu dia dimana, setelah pekerjaan di gudang itu.Apa gak ada perintah lain darinya?" tanya Boil dengan wajah mulai berkeringat.
"Tidak ada, semua kacau setelah lo menabraknya.Untung saja dia gak mati.Sebaik lo gak perlu bahas ini lagi.Lo mau informasi ini sampai bocor!?" ucap Blake terlihat kesal.
"Oh itu, yah memang seharusnya seperti itu, kapan lo akan roll out lagi sama si Boss?" ucap Boil memberi kode seraya menggerakan alisnya.
"Apa, roll out!?" ucap Blake tak mengerti.Saat ia mencoba menatap sekeliling Boil menepuk pundaknya.
"Ya sebaiknya lo segera roll out! atur saja dengannya untuk bisa roll out sesegera mungkin!" ucap Boil menekankan seraya menggerakan matanya ke arah belakang kafe.
"Ok kalau itu mau lo, akan gue atur untuk roll out dengannya! sorry gue ke belakang dulu" balas Blake yang mulai curiga.
"Sialan sepertinya gue dalam masalah besar, si Boil kasih kode buat cabut.Sebaiknya gue kabur sekarang juga" guman Blake lalu menuju pintu belakang.
Sementara Boil sendiri pergi keluar lalu menarik paksa alat perekam di tubuhnya seraya berkata.
"Gue udah lakukan yang lo minta, sekarang gue gak ada urusan lagi sama kalian semua!" tanpa menunggu jawaban Boil membuang semuanya lalu pergi.
"Izinkan saya memeriksa dan mencari informasi lain Lead" ucap Violet yang ingin memastikan seseorang yang di lihatnya di perjalanan.
"Ok Vi saya mengandalkan kamu" balas Rama.
Setelah di tinggal Violet, Raffa yang habis kesabarannya pun keluar dari mobil lalu menuju kafe di mana blake berada.
Benar saja belum juga sampai Raffa melihat seseorang berlari dari arah belakang kafe.
Tanpa pikir panjang Raffa segera mengejarnya.Dengan mengambil jalan pintas ia berusaha menyusulnya.
Blake terus berlari secepat mungkin untuk menghindari Andre yang ia curigai sedang mengincarnya di parkiran.
"Sialan, siapa sebenarnya yang mengincar gue!" guman Blake.
"Heemmmppp! bruggghhhh!" pekik Blake saat seseorang menyergapnya dari samping.
Blake lalu berdiri seraya merapikan pakaiannya.Nampak seseorang berdiri tegak dengan tangan terkepal.
"Siapa lo bangsat! berani cari masalah sama gue!" bentak Blake emosi.
"Gue orang yang lo habisin tempo hari, sayangnya gue di beri kesempatan untuk membalasnya!" balas Raffa lalu membalikan posisi topinya juga membuka kancing jaketnya dan menyisakan yang paling atas.
"Lo! jadi bener lo selamat! haha apa yang bisa orang cacat lakukan hah!" balas blake terkejut sekaligus meledek Raffa.
"Lo bisa cari tahu sendiri sialan!" selesai berucap Raffa melayangkan tendangan ke arahnya.
Blake segera menangkisnya namun dengan cepat Raffa menyusul menendang dengan kaki lainnya.
"Sialan! jangan remehin gue bangsat!" teriak Blake lalu mengelak mundur.
Tak mau terus di serang Blake kembali maju lalu menyerang bagian tubuh kiri Raffa yang tanpa tangan.Namun hingga beberapa gerakan tak terlihat Raffa terdesak.
__ADS_1
"Habis lo sialan!" seru Blake makin naik darah.
Setelah mengirim tendangan ke arah perut Raffa yang berhasil di tepisnya dengan cepat blake melayangkan pukulan ke wajah kiri Raffa.
"Kena lo bajingan!" Blake bersemangat.
"Geepph"
Tanpa di duga gerakan Blake terhenti tepat beberapa senti di wajah Raffa.Blake begitu terkejut saat satu tangan lain menahan gerakannya.
"Ahhkkkkh!" jerit Blake saat Raffa memelintir tangannya lalu di susul dua tendangan ke arah perut juga dadanya.
"Brughhhhh!" Blake jatuh terjengkang merasakan sesak juga sakit di tangannya.
"Saatnya lo bayar hutang nyawa lo bajingan!" ucap Raffa seraya menginjak kuat leher Blake.
"Heekhhhh! sialan! lo gak tahu sudah berurusan dengan siapa.Lo gak akan selamat!" ucap Blake masih berlaga sok.
"Lo kira lo bakal selamat dari gue!?" balas Raffa semakin menekan kakinya.
"Hueekkkhhh! uhhuukk! uhhuuk! seharusnya lo habisin si Boil bukan gue, karena dia yang nabrak lo" ucap Blake beralasan.
"Tapi lo yang bertanggung jawab penuh, karena lo pemimpinnya bedebah!" seru Raffa tanpa ampun menendang rusuknya.
"Akhhhhh! lo sal, salah, gue hanya orang bayaran, ta, tapi boil dia anggotanya langsung" lirih Blake seraya meringis menahan sakit.
"Al! tunggu! sebaiknya kita segera pergi dari sini dan bawa orang itu" ucap Andre yang baru tiba segera menahan Raffa.
Sementara di tempat lain Violet tanpa di duga mengikuti kemana perginya Boil.Hingga tiba di satu bengkel modifikasi mobil yang cukup besar.
"Gue harus tahu apa lo jujur sepenuhnya apa lo mempermainkan kita semua" guman Violet seraya masuk lalu mendekat ke arah Boil.
"Hei Brader si Boss mana?" tanya Boil pada satu pekerja di situ.
"Itu lagi ngecek mesin mobilnya sekalian tune up" balasnya.
Boil pun segera menuju ke satu mobil yang tengah di kelilingi mekanik.Nampak seseorang yang ia kenal tengah asik berbincang tentang mobilnya.
"Boss! sorry gue ganggu ada yang mau gue bicarain sama lo" ucap Boil.
"Heh elo! masih idup ternyata, sebaiknya lo ceritain apa yang terjadi sama lo" balas Leon.
"Degh!" jantung Violet berdegup kencang saat mendengar suara Leon.
"Leon! jadi Boss dia Leon!? bukannya Andre pun bilang kalau speed demons yang pegang Wolf!?" guman Violet begitu tak percaya.
Tak mau kehilangan momen Violet lalu meraih ponselnya dan merekam kejadian itu dengan sembunyi-sembunyi.
"Mba! apa yang sedang Anda cari!? apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang perempuan.
"Eh iya Mbak saya berencana mau modif mobil saya, tapi hari ini saya hanya ingin melihat lihat hasil kerjanya saja.Mari Mbak terima kasih" balas Violet ngeles lalu beranjak pergi.
Leon yang melihat itu lalu bertanya pada pegawai perempuan tersebut.
"Siapa dia!?" tanya Leon begitu terlihat curiga.
"Saya kurang tahu Mas, dia hanya melihat-lihat" balasnya singkat lalu pegawai itu pun kembali bekerja.
"Bro bawa beberapa orang dan pastikan dia bukan siapa-siapa.Kalau mencurigakan, lo tahu harus berbuat apa" ucap Leon dengan tatapan dinginnya.
Tanpa menunggu lama tiga orang itu pun mengikuti perintah Leon lalu mengikuti Violet.
[[ Bersambung ]]
See you next episode gess 😁
Jangan bosen ya hehe.
Simak juga perjalanan Arqian di cerita baru "Mengejar Sang Putri"
__ADS_1
Terima Kasih