
Di ruang perawatan yang hanya tinggal Raffa dan Aurel.Raffa di buat bingung oleh sikap Aurel yang tiba-tiba berubah.
"Mukanya kok jadi judes gitu? jangan-jangan balik jadi Nona lagi nih?" tanya Raffa.
"Apaan sih gak jelas, biasa aja" balas Aurel terlihat malas.
"Emmh, kalau biasa kok duduknya jauhan? dingin nih" goda Raffa.
"Selimutkan ada, pake aja sih" balas Aurel kesal.
"Maunya selimut hidup yang ini kalau di peluk gak bales" ucap Raffa.
"Idih manja banget!" balas Aurel seraya memutar bola matanya malas.
"Ya udah deh telepon Ibu sama Alena biar ke sini lagi" ucap Raffa lalu menempelkan ponsel di kupingnya.
"Alibi telepon ibu! padahal mau deket-deketan, rangkul-rangkulan sama gadis muda rambut panjang!" balas Aurel ketus.
"Assalamualaikum Bu maaf, apa bisa ke sini lagi? soalnya Raffa sendirian mau ngapa-ngapain susah"
"Dih, dah gede masih merengek!" ucap Aurel.
"Iya Bu soalnya yang janji mau nemenin udah pulang, katanya sih dah gak mau jagain, capek"
"Eh! eh! apaan sih ngadu-ngadu kaya anak kecil banget sih" ucap Aurel terlihat gusar.
"Gimana Bu? Ibu gak bisa, tapi Alena bisa? gimana ya? soalnya ini Aurel dah malas, kayanya dah gak peduli" ucap Raffa sendu.
"Ish nyebelin malah di bilang begitu! siniin gak ponselnya, bohong semua itu Tante, Aurel gak gitu kok.Siniin ponselnya!" ucap Aurel panik lalu berusaha merebut ponsel Raffa.
"Siapa aja boleh deh Bu, asal ada yang ... " belum selesai bicara ponselnya berhasil di rebut Aurel.
"Hallo Tante jangan percaya omongan Raffa ya dia bohong.Eh hallo, Tante!?" ucap Aurel merasa aneh saat melihat Raffa cekikikan menahan tawa lalu menatap ponsel tersebut.
"Ih bener-bener ngeseliiiinnn! teganya ngerjain aku, bodo!" seru Aurel lalu melempar ponsel Raffa ke ranjang lalu memalingkan wajahnya kesal.
"Aduhhh! aakkkhhhh" pekik Raffa seraya memegang perutnya.
"Sayang! kamu kenapa!? apa yang sakit! apa perlu aku panggil perawat!?" seru Aurel begitu khawatir.
"Aku gak apa-apa, perut aku tolong usapin saja" balas Raffa terus meringis.
"Yang mana? yang ini?"
"Iya itu sayang, nah seperti itu" ucap Raffa seraya senyum-senyum lalu merangkulnya.
Aurel tiba-tiba terkejut saat sebuah tangan merangkul pinggangnya.Aurel kembali di buat kesal melihat wajah Raffa yang tersenyum.
"Ihh maunya apa sih! ngeselin banget hobi kok ngerjain! seebbbeeelll!" ucap Aurel seraya mencubit Raffa lalu beranjak menjauh namun Raffa segera menahan lengannya.
"Mau kemana sih sayang" ucap Raffa seraya menarik Aurel hingga tubuhnya terjatuh di atas ranjang hampir menimpanya.
"Ihh kamu apaan sih gak lucu tahu!" ketus Aurel cemberut seraya menahan tubuhnya dengan kedua tangan.
"Jangan jauh-jauh aku gak sanggup kalau harus rindu" ucap Raffa menggoda seraya merangkul pinggang dan membelai lembut pipinya.
"Lebay, lepasin! aku mau jauh-jauh dari kamu" balas Aurel sedikit meronta walau merona.
"Kalau gak sama kamu terus aku harus sama siapa? Alena!?" ucap Raffa memancing.
Sontak saja wajah Aurel semakin tegang saat mendengarnya.Ia begitu ingin marah namun tertahan.
"Tuhkan kamu tuh pasti mikirin dia! lepasin jangan pegang-pegang, peluk aja tuh Alena! lagian ibumu juga lebih suka diakan!?" ucap Aurel tak kuat lagi.
Raffa menarik pinggang Aurel lebih dekat namun Aurel terus menahan tubuhnya agar wajahnya tak berdekatan.
"Jadi kamu itu lagi cemburu? ya ampun kenapa gak bilang aja sih"
"Ihhh masih tanya lagi! peka dong, masa gitu aja gak ngerti!"
__ADS_1
"Aku senang kamu cemburu, itu tandanya kamu serius tak mau kehilangan" balas Raffa seraya mencolek ujung hidung Aurel.
"Ihh lepas, gak lucu!" balas Aurel meronta.
"Gak perlu cemburu, isi hati aku sudah kamu ambil, tak ada sisa sedikitpun untuk yang lain" ucap Raffa.
"Gombal! gak usah ngerayu segala, gak mempan" balas Aurel tak puas.
"Aku gak ngerayu aku sedang jujur, apalagi sih yang kurang? aku punya kamu yang cantik, lucu, rela berkorban, sampai judes, galak, marahnya juga aku suka, ngegemesin" ucap Raffa seraya meraih kepala Aurel seraya mendekatkan wajahnya.
Seakan lumpuh Aurel hanya terdiam dengan jantung yang makin berdegup kencang.Saat wajah Raffa makin dekat reflek ia memejamkan matanya.
"Aku gak berusaha cium kamu, aku cuma mau bilang hati ini sudah memilihmu.Aku sayang kamu Aurel" bisik Raffa tepat di telinganya.
"Deeggh!"
Jantung Aurel terasa copot senang juga malu bercampur menjadi satu.Matanya membulat sempurna dengan Pipi memerah dan tak bisa di sembunyikan lagi.
Tanpa permisi Raffa menarik Aurel hingga merebah di tubuhnya.Aurel pun semakin tak karuan saat Raffa dengan cepat mencium bibirnya dengan hangat.
"Emmhhhh! Hmmphhh!" desis Aurel menahan sensasi kecupan Raffa yang penuh perasaan.
Seakan menikmati Aurel memejamkan matanya lalu mulai membalas ciuman Raffa dengan lebih agresif.
Semakin panas Raffa mulai menghisap lebih dalam bibirnya membuat Aurel menangkup wajah Raffa seakan tak ingin lepas.
Tangan Raffa bergerak mengusap punggung Aurel seirama dengan manis bibir Aurel yang terus ia hisap.
Sesaat Raffa melepas ciumannya untuk mengatur nafas namun Aurel yang tak rela kembali membenamkan wajahnya.
Kembali mereka larut dalam nikmatnya saling menghisap hingga mellumat setiap bagian bibir tanpa ada yang terlewat.
"Mmmmhhhhhh! ahhhhhhh! say, yang hmmmppp!" desis Aurel tak karuan.
"Non Aurel, apa Non mau pesan mak! ... ya ampun maaf, maafkan saya yang langsung masuk!" seru Raira tak enak hati saat melihat mereka bermesraan.
"Ehhhh!"
"Maaf Non saya tunggu di luar saja" ucap Raira seraya beranjak tanpa menunggu jawaban Aurel yang tengah malu bukan kepalang.
"Kamu sih genit, malu jadinya ketahuan!" ucap Aurel sesaat setelah Raira keluar.
"Hehe maaf habis gak tahu ada orang lain, kepalang basah lagi dong sayang" goda Raffa seraya tersenyum.
"Ish kamu jadi mesum, kenapa jadi nakal sih sekarang"
"Cuma nakal sama kamu kok" ucap Raffa kembali menarik lengan Aurel tuk mendekat.
"Ihh kamu mau apa lagi sih?" tanya Aurel senyum-senyum malu.
"Muach! muach! muach!" Raffa mencium semua bagian wajah Aurel tak tersisa.
"Ihh geli!" ucap Aurel dengan senyum terus mengembang.
"Mmm apa lagi ya!?" ucap Raffa lalu nampak berpikir.
Saat Raffa berpikir seraya menatapnya sontak Aurel menyilangkan tangan di dadanya,
"Kamu mau apa!?" balas Aurel malu sekaligus was-was.
"Ambilin minum dong sayang aku yang paling cantik, aku haus hehe" ucap Raffa polos.
"Ihh sebel, sebel sebel sebel! Raffa gila" balas Aurel seraya memukulkan bantal berkali-kali padanya lalu beranjak keluar.
Saat keluar ruangan Aurel berpapasan dengan Rama yang segera masuk ke dalam.Tanpa menghiraukannya ia segera menghampiri Raira.
"Mba tadi mau bilang apa!?" tanya Aurel dengan wajah merah menahan malu.
"Maaf Non saya cuma mau menawarkan makan siang, maaf sekali lagi seharusnya saya mengetuk pintu dulu" balas Raira merasa tak enak.
__ADS_1
"Sudah sudah lupakan saja, ingat lupakan! jangan pernah bahas ini pada siapapun" ucap Aurel menekankan.
"Baik Nona saya mengerti" balas Raira seraya mengangguk
Tak lama ponsel Aurel berdering, ia pun segera menerima panggilan masuk tersebut.
"Hallo Pih ini Aurel, ada apa Pih?" tanya Aurel yang nampak langsung terlibat pembicaraan serius dengan Papinya.
Sementara di dalam Raffa sendiri terlihat sedikit terkejut dengan seseorang yang datang.
"Mas Rama!"
"Apa kabar Al, sepertinya sih sudah lebih baik, apalagi sudah di doping pacar" goda Rama terus mesem.
"Aduh! Mas Rama juga lihat!? jangan bilang siapa-siapa ya hehe.Btw Mas bisa bantu supaya bisa pulang hari ini gak? bosan juga disini" balas Raffa berusaha mengalihkan.
"Hmm! isu pengalihan nih ceritanya!? hehe kalau kamu yakin mau pulang itu bisa Mas urus" balas Rama terlihat masih mesem-mesem
"Apaan sih Mas!? Serius Mas bisa pulang gak? saya sangat berterima kasih kalau bisa" balas Raffa salah tingkah.
Selang beberapa saat Aurel kembali masuk di temani Raira.Dengan wajah serius Aurel menghampiri Raffa.
"Sayang, aku ada kabar dari Papi, katanya Papi ingin ketemu kamu kalau sudah merasa baikan" ucap Aurel.
"Apa benar begitu? ada perlu apa ya kira-kira?"
Aurel tak menjawabnya hanya berjalan mondar-mandir seraya menggigit jarinya.
"Wah sepertinya ada yang akan cepat-cepat di nikahin nih" celetuk Rama.
"Hah nikah!" seru Raffa juga Aurel berbarengan.
"Haha benar-benar pada kebelet nih kayanya, ampe kompak jawabnya.Ya kan cantik?" ucap Rama seraya merangkul bahu Raira.
Sikap Rama sontak membuat Raffa juga Aurel bertanya-tanya.Mereka terus menatap kedua asisten tersebut.
"Lepas! bisa lepas tangannya gak!" bisik Raira dengan terus menggoyangkan bahunya.
"Ehh maaf reflek, maaf dong cantik, gitu aja ngambek" ucap Rama seraya membenarkan posisinya.
"Sepertinya mereka saling suka!?" ucap Raffa.
"Iya kayanya mereka cocok nikah duluan" balas Aurel dengan suara agak di keraskan.
"Hah! nikah!" ucap Raira juga Rama berbarengan.
"Nah barengan jawabnya haha jodoh" balas Raffa tertawa puas di ikuti Aurel.
"Apa! jodoh, sama dia!? ihhhhhh di kehidupan lain pun tidak akan!" ucap Raira lalu beranjak duduk dengan pipi mulai memerah.
"Kakak Ipar, jujur baru kali ini loh saya lihat Mas Rama mesra gitu sama perempuan, yang saya tahu dia itu kaku, lempeng aja kaya robot" goda Raffa pada Raira.
"Eh! saya gak tanya ya, itu bukan jadi urusan saya" balas Raira nampak kesal.
Tak menghiraukan semua orang Rama nampak meninggalkan ruangan dengan segera.
"Eh Mas Rama mau kemana!?" ucap Raffa.
"Mengurus kepulangan kamu Al! biar cepat kamu ketemu sama calon mertua hehe" balas Rama terkekeh.
"Haha ngebalikin permasalahan lagi dia, sepertinya beneran ada perasaan sama Kakak Ipar" ucap Raffa kembali menggoda Raira.
"Iya Mba cocok loh, satu profesi juga, 'Cinta Diantara Dua Asisten' bagus juga di bikin cerita ya sayang?" balas Aurel.
"Haha super sekali judulnya, bagus tuh" ucap Raffa.
"Kalian malah sama saja, lebih baik saya keluar kalau begitu, permisi Non" ucap Raira.
"Nyusul calonnya ya Mba Ra!?" ledek Aurel.
__ADS_1
Raffa juga Aurel lalu hanya tertawa melihat Raira yang nampak kesal.Raira duduk di luar dengan rasa gusar yang tak tertahan.
[[ Bersambung ]]