
Dengan hati yang masih di selimuti rasa kecewa Raffa terus menyusuri jalanan tanpa tahu arah.Hanya ingin pergi sejauh mungkin tuk lupakan semuanya.
Saat emosinya masih belum mereda sepasang tangan melingkar di pinggangnya.Membuat Raffa terkesiap,
"Degh" jantung Raffa tiba-tiba berdegup kencang.
Tak berhenti di situ Aurel lalu menyandarkan kepalanya di punggung Raffa.
"Naurel? ya ampun gue sampai berlaku tak adil padanya" guman Raffa merasa tak enak hati.
Tak beberapa lama nampak Raffa memasuki sebuah taman dengan danau yang cukup indah.
Setelah memarkirkan motornya, Raffa pun berjalan menuju salah satu tempat duduk di tepi danau.
Ryo yang mengikutinya pun segera turun dari mobilnya di ikuti Luna.Karena khawatir, Luna segera beranjak menuju Raffa juga Aurel.
"Udah sayank kita di sini saja" ucap Ryo lalu meraih tangannya mencoba menahan.
"Tapi yank aku khawatir sama mereka" sahut Luna terlihat cemas.
"Kita kasih waktu buat mereka sayank, sangat jarang sekali Raffa marah seperti itu, biasanya hanya ibunya yang mampu bikin dia tenang" ucap Ryo mencoba memberi pengertian.
"Ya udah telepon ibunya aja kalo gitu, kamu punya nomornya kan?" balas Luna.
"Hadeuh katanya cewek lebih peka, masa iya sih kamu gak ngerti yank?" ucap Ryo seraya menepuk jidatnya.
"Ihh malah ngeledek" balas Luna sedikit kesal.
"Walaupun mungkin aku lebih percaya Alena tapi mudah-mudahan aja Aurel bisa membuatnya lebih tenang" ucap Ryo seraya menyandar pada mobilnya.
Luna yang mulai mengerti maksud Ryo lalu merangkul lengan Ryo seraya menyandarkan tubuhnya di mobil.Memandang dua orang yang tengah berbicara.
Sementara di tepi danau Raffa yang begitu merasa tak enak hati mulai berkata penuh sesal,
"Maaf aku sampai melupakanmu dan maaf pula untuk kejadian tadi ya" ucap Raffa lirih.
"Gak apa-apa, aku bisa mengerti perasaan kamu" balas Aurel ikut larut dalam kesedihannya.
"Aku bener-bener gak paham mengapa Om Harry terus saja menyalahkan dan menyudutkanku" Ucap Raffa seraya berdiri lalu mendekat ke tepian.
"Aku sadar aku sudah berbuat salah dan aku menyesal untuk itu, tapi mengapa ia tak pernah mau sedikitpun mengerti" Raffa menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Padahal aku melakukannya semata-mata hanya untuk membantu putrinya" Raffa menumpahkan isi hatinya yang tak tersampaikan pada Tn Harry.
"Semenjijikan itukah aku hingga orang sangat sulit percaya pada kata-kataku dan tak mau memaafkanku?" keluh Raffa seraya menutup wajah dengan sebelah tangannya.
Aurel begitu teriris hatinya melihat orang yang telah mencuri separuh jiwanya begitu terlihat pilu.
Ia sudah tak peduli lagi dengan janjinya.Karena takluk tak lagi menjadi kata yang menakutkan.Semua karena sosok dihadapannya.
Dengan sedikit malu Aurel memeluk erat Raffa dari belakang,
"Kamu gak seperti itu.Kamu itu orang paling baik yang pernah aku kenal" ucap Aurel begitu tulus.
__ADS_1
"Kamu tenang ya, aku tak sanggup melihat kamu seperti ini" ucap Aurel mulai terisak.
Raffa terdiam mematung dengan gejolak hati yang semakin tak menentu.
"Kamu tahu, kadang seseorang melakukan hal buruk hanya untuk menutupi perasaan yang sebenarnya" ucap Aurel dengan berurai air mata.
Mata Raffa membulat sempurna mendengar ucapan itu namun ia masih belum sanggup tuk berkata apapun.
"Pertama kita kenal banyak yang aku lakukan padamu, pada akhirnya semua itu hanya untuk ... untuk membuatmu memperhatikanku"
Sontak Raffa merasa di bawa ke dimensi lain dimana potongan momen pahitnya dengan Aurel bagai film serial yang berputar tanpa henti.
"Ingat waktu kita di taman? kamu dengan rela menerima hukuman karena kesalahan yang bukan kamu lakukan"
Raffa kembali terbayang semuanya.Taman kota menjadi saksi malam penuh makna bagi mereka.
"Dan aku akan melakukan hal yang sama untukmu.Berbagilah apapun denganku, Aku hanya ingin kamu tahu, ada aku di sampingmu" ucap Aurel lalu membenamkan wajahnya di punggung Raffa.
Raffa benar-benar di buat terpana.Semua ucapan Aurel benar benar mendinginkan hatinya.
"Naurel? benarkah semua itu, inikah dirimu yang sebenarnya" guman Raffa dalam hatinya yang mulai menenang.
Raffa berbalik lalu menatap Aurel yang tertunduk seraya mengusap sisa air matanya.
Ia mengangkat dagu Aurel hingga wajah keduanya bertemu.Namun rasa gugup Aurel membuatnya tak sanggup menatapnya.
Dengan menangkup wajah Aurel ia akhirnya mampu tuk berkata kata,
"Maafkan aku yang tak cepat menyadarinya, beruntungnya aku ada kamu di sisiku hingga aku bisa menghadapi semua ini.Kamu selalu mengejutkanku, terima kasih Naurel" ucap Raffa seraya tersenyum lalu kembali menarik Aurel kedalam pelukannya seperti tak ingin melepaskannya.
Semua itu pun tak lepas dari pandangan Ryo juga Luna yang sedari tadi harap harap cemas.
"Yank, itu si Al sama Aurel!" ucap Luna seraya menggoyang goyangkan lengan Ryo.
"Dihh kenapa sih, iri bilang Yank biar aku kasih juga" sahut Ryo seraya merentangkan tangannya.
"Ish males, kamu tuh malah modus.Gak ada sweet sweetnya" ucap Luna lalu membalikan badannya.
Namun kekesalan Luna tak bertahan lama saat Ryo merangkulnya dari belakang seraya berbisik,
"I love you my moon"
Sontak Luna begitu terkesiap mendengarnya.Degupan jantungnya terasa semakin cepat, namun rasa bahagia membuatnya dengan cepat berucap,
"I love you too my moon knight" balas Luna seraya menangkup tangan Ryo yang merangkulnya.
Taman itu pun menjadi saksi dua pasangan yang tengah saling berbagi perasaannya.Waktu seakan berhenti tuk mereka, memberi ruang lebih lama tuk bersama.
Sementara di tempat lain Alena tampak asyik mendengarkan musik seraya merebahkan diri di sofa ruang tamu.Tak terlihat sedikitpun kesedihan, sebaliknya ia nampak menikmati harinya bersama keluarga barunya ini.
"Sayang, kamu gak bosan tiduran terus seperti itu?" ucap Ibu Aisyah sedikit khawatir.
"Eh nggak kok, Mamah dari mana?" sahut Alena penasaran.
__ADS_1
"Ini, Mamah baru antar pesanan ke RT sebelah.Kamu udah Ashar sayang?" tanya Ibu Aisyah.
"Udah dong hehe.Mamah duduk ya Alena bikinin minum" ucap Alena lalu beranjak menuju dapur.
Tak begitu lama Alena datang dengan secangkir teh hangat untuk Ibu Aisyah,
"Nih Mah Alena bikinin teh hangat, Mamah kenapa gak bilang sih Alena pasti bantuin Mamah"
"Makasih ya sayang, sini duduk dekat mamah ada yang mau mamah omongin sama kamu" ucap Ibu Aisyah.
"Soal apa Mah?" sahut Alena seraya duduk disebelah Ibu Aisyah.
"Sebelumnya mamah minta maaf, apa benar kamu tak merasa bosan di sini?" tanya Ibu Aisyah masih tak yakin.
"Beneran Mah, Alena betah kok di sini, betah banget malah" balas Alena begitu yakin.
"Jujur, Mamah senang kamu di sini tapi Mamah gak mau egois, apa kamu gak kasihan sama papah kamu yang pasti merasa kehilangan kamu sayang" ucap Ibu menjelaskan.
"Belum lagi soal pendidikan kamu, mamah gak mau kamu melupakan tugas kamu sama cita-cita kamu sayang"
"Ya Alena tinggal lanjutin di sini aja Mah" sahut Alena pendek.
"Gak semudah itu sayang, kamu tetap harus izin sama papahmu juga.Apa kamu rela nanti mamah di salahkan oleh papahmu?" Ibu Aisyah mencoba memberi pengertian.
"Tapi mah seperti yang sudah Alena ceritakan, papah sudah gak sayang lagi sama Alena.Papah jahat, Alena gak mau pulang pokoknya" selesai berucap Alena lalu beranjak menuju kamarnya.
Ibu Aisyah tak menyerah begitu saja, ia pun menyusul Alena ke kamarnya.
"Sayang kamu dengerin mamah dulu ya, Mamah gak bermaksud mengusir kamu.Mamah hanya ingin yang terbaik untuk kamu" ucap Ibu seraya duduk di samping Alena yang tidur dengan menyembunyikan wajahnya.
"Lihat mamah nak, gak ada satu pun orang tua yang gak sayang sama anaknya, begitu juga papah kamu sayang" ucap Ibu membuka hati Alena.
"Tapi mah, Alena gak mau berpisah sama Mamah.Alena gak mau kehilangan untuk kedua kalinya" sahut Alena terlihat sendu.
"Mamah mengerti sayang, ini juga berat buat mamah.Tapi mamah gak mau terus mengurung kamu disini.Karena papahmu masih lebih berhak atas dirimu sayang" lanjut Ibu.
"Apa kamu gak kangen suasana disana? ketemu teman kamu, ketemu orang-orang yang menyayangi kamu.Sayang walaupun kamu nanti kembali rumah ini akan selalu terbuka untuk kamu dan mamah akan selalu jadi mamah kamu yang menyayangimu" ucap Ibu mencoba meyakinkan.
"Ta, tapi Mah ... " Alena masih meragu.
"Kalo kamu masih takut sama papahmu, Mamah akan pulang bersamamu" ucap Ibu Aisyah.
"Apa Mah!? Mamah serius?" Alena begitu terkejut sekaligus senang.Lalu menatap Ibu Aisyah dengan lekat.
"Iya Mamah yang akan temui papah kamu dan bicara padanya" ucap Ibu Aisyah bersungguh-sungguh.
Ucapan Ibu Aisyah membuat Alena begitu terlihat bahagia, ia pun segera memeluk Ibu Aisyah dengan erat.
[ Bersambung ]
Apakah dengan kedatangan ibunda Raffa semuanya akan membaik atau malah melahirkan konflik baru?
Nantikan di episode selanjutnya.
__ADS_1