
Pagi di Kediaman keluarga Adrean semua nampak terlihat sibuk.Persiapan keberangkatan Aurel nampaknya memang sudah di siapkan dengan matang.
Aurel sendiri nampak begitu sangat tak bersemangat.Terlihat dari matanya yang masih sembab akibat terlalu berlebihan menangis.
Andai saja ia bisa menghentikan waktu, ingin rasanya hari ini tak pernah datang.Namun sesuatu membuatnya sedikit punya harapan.
"Pih! Papi! sini Pih coba lihat ini Pih! ya ampun apa lagi ini ya Allah" seru Ny Ariana terlihat syok.
"Ada apa sih, bisa terlambat kita Mih" Balas Tn Hernand seraya mengikuti istrinya.
Sesampainya di kamar Cella Tn Hernand nampak begitu terkejut.Satu tulisan di cermin seakan sedang menamparnya dengan keras.
"Kalau Papi tetap membawa Kakak, lebih baik Cella juga pergi!"
"Apa maksudnya ini! Cella! jangan main-main kamu, Cella! Bi! coba cari anak itu!" ucap Tn Hernand mulai kalut.
Semua orang pun nampak sibuk menyusuri setiap sudut ruangan di rumah tersebut.Hingga beberapa saat tak satupun yang menemukan dimana Arcella berada.
"Sudah Pih, coba baca ini" ucap Ny Ariana yang menemukan sepucuk surat di meja kamar Cella.
✉️ "Maaf Cella pergi tanpa bilang.Selama ini Cella sudah cukup merasa kesepian di rumah ini.Cella sadar tak pernah akur dengan Kakak tapi setiap pertengkaran menjadi obat penghilang rasa sepi itu.
Papi Mami sibuk, Abang jarang di rumah, sekarang Kakak pergi.Cella rindu bersama keluarga, kapan terakhir kita pergi bersama walau itu hanya untuk beberapa jam bahkan menit.Cella jadi iri sama keluarga sederhana yang selalu punya waktu lebih banyak.
Lalu karena Papi benci Kak Raffa Papi mau usir Kakak dari sini, kenapa gak sekalian usir Cella juga!? Cella sayang Kak Raffa karena darinya Cella bisa belajar kesederhaaan, menghargai, kerja keras bahkan menyayangi tanpa melihat status.Apa Papi lebih suka Cella bergaul dengan anak orang kaya yang kesehariannya cuma malas-malasan, gaya-gayaan, foya-foya, iya!?
Ingat Papi jangan salahin Kak Al, ini isi hati Cella jauh sebelum ada Kak Al.Cella pergi karena Cella gak mau punya keluarga seperti ini"
...-Arcella-...
"Lagi-lagi gara-gara anak tak tahu diri itu!" dengus Tn Hernand.
"Pih, mungkin memang kita yang salah menilainya.Apa sebaiknya kita batalkan rencana kepergian Aurel?" ucap Ny Ariana penuh harap.
"Tidak bisa! keputusan Papi sudah bulat ini demi kebaikan Aurel dan kebaikan keluarga kita" balas Tn Hernand bersikeras.
"Tapi Pih!? lihat akibatnya, sekarang anak bungsu kita yang protes atas keputusan kita, apa Papi mau kehilangan anak kita dua sekaligus!?" ucap Ny Ariana.
"Sudah sudah Mami jangan panik, kita tunda kepergian Aurel hari ini.Kita cari Cella terlebih dahulu" balas Tn Hernand.
Sementara Aurel yang terlihat malas akhirnya keluar dari kamarnya.Tanpa rasa curiga ia menghampiri kedua orang tuanya.
"Apa lagi sih yang Papi tunggu? bukannya Papi sudah gak sabar lihat Aurel pergi!?" tanya Aurel dengan nada menyindir.
"Keberangkatan kamu Papi tunda, nih kamu baca sendiri! adikmu sama saja!"
Penuh tanya Aurel mulai membaca surat tersebut.Dapat di pastikan itu memang tulisan Cella.
"Anak itu! apa yang sebenarnya kamu pikirkan!? makasih Cell dan maaf sudah jadi Kakak yang buruk untukmu" gumam Aurel merasa haru.
"Ingat! ini bukan berarti kamu akan batal ke luar negri, hanya tertunda, kamu jangan senang dulu!" ucap Tn Hernand menekankan seraya meraih kembali surat Cella.
Sementara Tn Hernand segera menuju suatu tempat bersamaan dengan Raira yang di perintahkan menjemput Raffa.
Di parkiran kampus Raffa yang baru sampai di kejutkan seseorang yang berpakain formal nan rapi.
"Maaf apa Anda yang bernama Raffa?" tanya Raira.
"Iya benar, apa saya mengenal anda?" balas Raffa merasa asing.
__ADS_1
"Oh iya, kenalkan saya Raira asistennya Tn Hernand, beliau meminta saya menjemput Anda" ucap Raira seraya tersenyum.
"Menjemput saya!? ada keperluan apa ya Mba?" tanya Raffa tak mengerti.
"Nanti juga tahu sendiri tapi ini menyangkut putrinya Tn Hernand, Arcella" balas Raira.
"Cella!? memang ada apa dengannya!?" tanya Raffa dalam keterkejutannya.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang, Tn Hernand menunggu.Terlebih Anda pun ingin segera mengetahui masalahnyakan!?" ucap Raira yang tak bisa lagi Raffa menolaknya.
Tanpa berlama-lama mereka berangkat menggunakan mobil Raira.Di satu kafe yang memang buka dari pagi nampak Tn Hernand sudah menunggunya.
"Assalamualaikum, Pagi Tuan, maaf sebenarnya ada apa ya mengundang saya ke sini?" tanya Raffa tanpa basa basi.
"Jangan besar kepala kamu! saya heran kamu apakan sebenarnya anak anak saya!?" tanya Tn Hernand menyindir.
"Maksud Tuan!?" ucap Raffa.
"Kemarin Aurel sekarang Cella, sebenarnya apa sih mau kamu, nih kamu baca sendiri!" ucap Tn Hernand begitu sinis seraya melempar serat Cella di depan Raffa.
"Apa! ja, jadi Cella kabur maksud Tuan!? kenapa semua orang suka banget kabur!?" ucap Raffa begitu terkejut saat selesai membacanya.
"Tak usah kamu pura-pura, dimana Cella sekarang! apa kamu sembunyiin lagi di rumah Tn Harry!" seru Tn Hernand.
"Maaf Tuan untuk kali ini saya benar-benar tak tahu, dan saya juga belum bertemu Cella belakangan ini" balas Raffa.
"Sudahlah tak perlu kamu bersandiwara lagi, apa sih tujuan kamu hah! kamu mau sesuatukan? Raira buku cek!" ucap Tn Hernand yang membuat Raira segera memberikannya.
"Ini Tuan" ucap Raira.
"Sebutkan berapa yang kau mau!? 100, 200, 500juta!? nih!" ucap Tn Hernand seraya menyerahkan selembar cek pada Raffa.
"Maaf Tuan anda terlalu menganggap rendah saya, ini bukan yang saya mau" balas Raffa tanpa menyentuhnya sedikitpun.
Raut wajah Raffa nampak menegang.Jengah sudah ia setiap berbicara dengan orang yang punya kuasa juga uang.
Raffa lalu meraih cek kosong itu lalu nampak berpikir.Sementara Tn Hernand nampak tersenyum puas.
"Heh! Tuan benar-benar salah menilai saya.Tak semua orang miskin itu hina dan sepertinya tak semua orang kaya juga mulia.Maaf, berapa banyak uang Anda tak akan pernah cukup untuk membeli saya" ucap Raffa seraya merobek cek tersebut lalu beranjak pergi.
"Hei bocah sok! mau kemana kamu!? saya belum selesai bicara!" seru Tn Hernand mulai emosi.
"Maaf Tuan saya lebih baik menghabiskan energi saya untuk mencari Adik saya Cella!" balas Raffa yang seakan menjadi pukulan telak buat Tn Hernand.
"Sialan anak itu bisa-bisanya menghina saya! kamu lagi ngapain senyum-senyum!?" ucap Tn Hernand seraya menatap Raira.
"Maaf Tuan kalau boleh jujur saya terkesan dengan pemuda itu, sangat jarang pemuda seperti ini di jaman sekarang" balas Raira mencoba menjelaskan.
Tn Hernand hanya mendengus mendengar perkataan Raira.Sementara Raira sendiri segera menyusul Raffa.
Tepat di pinggir jalan tanpa di duga Raffa nampak tengah berbincang dengan seseorang.Sedikit canggung Raira mencoba menyela.
"Maaf, saya yang menjemput Anda alangkah tidak sopannya jika saya membiarkan Anda pulang sendiri.Mari saya antar" Raira menawarkan.
"Eh Mba terima kasih, kebetulan saya bertemu seseorang yang bisa mengantar saya.Ini Mas Rama" balas Raffa.
Keduanya sama-sama tertegun dan saling menatap.Membuat Raffa kebingungan.
"Saya akan merasa tak enak jika Anda pulang tanpa saya antar.Silakan" ucap Raira seraya mengalihkan pandangannya dari Rama.
__ADS_1
"Kamu sebaiknya ikuti saja apa maunya, bahaya jika tidak" ucap Rama seraya menepuk pundak Raffa.
Akhirnya Raffa pun menuruti perkataan Rama seraya mengikuti Raira yang menatap Rama begitu sinis.
Sementara di satu sudut kota yang mulai cukup ramai nampak Arcella berjalan dengan terburu-buru.Ia begitu ketakutan saat merasa ada seseorang yang mengikutinya.
"Ya ampun siapa ini yang ngikutin aku!? masa ia aku sudah ketahuan lagi!?" gumam Cella terus berjalan cepat hingga menabrak seseorang.
"Hei! hati-hati kalau jalan, di pake juga matanya dong!" ucap Seorang pemuda yang tak lain Andre.
"Ma, maaf Bang saya salah karena terburu-buru" ucap Cella lalu kembali pergi dengan setengah berlari.
Tak lama dua orang berpakaian rapi nampak mengejarnya.Membuat Andre merasa terusik lalu mengikuti mereka.
Hingga di sudut sebuah ruko kedua orang berpakaian rapi tersebut nampak memaksa perempuan muda itu untuk pergi.
"Jangan paksa orang kalau gak mau, malu maluin saja.Masih terang masih cari korban" ucap Andre meledek.
"Ini bukan urusan Anda! silakan tinggalkan tempat ini!" balas satu orang berkacamata.
"Ini jadi urusan gue karena dia gak sudi ikut kalian" ucap Andre tanpa ragu langsung menyerang ke duanya.
Tak berapa lama ke duanya tumbang di tangan Andre.Cella yang melihatnya terlihat syok terus memeluk tasnya.
"Hey lo gak apa-apa!?" tanya Andre.
Cella hanya diam dan perlahan-lahan mundur lalu berlari menjauh.Sontak Andre mengejarnya dengan cepat.
"Hey! gak perlu lari, gue bantu malah lari, terserah sih kalau lo mau pergi silahkan, paling di tangkep orang lagi lo" ucap Andre seraya meninggalkannya.
Cella yang meragu tanpa di sangka mulai mengikuti Andre.Setiap Andre menoleh Cella pun berhenti.
Andre yang sadar di ikuti sengaja berbelok lalu masuk ke sebuah toko.Benar saja tak lama di luar Cella celingukan mencarinya.
"Mencari seseorang Nona?"
"Akhhh! tol ... " belum sempat berteriak Andre membekap Cella dengan cepat.
"Dieeem! gue bukan orang jahat, apa sih masalah lo!? gue tolong gak mau, gue tinggal ngikutin!" ucap Andre lalu melepaskan bekapannya seraya pergi.
"Abang! tunggu! tolong aku!" ucap Cella mengejarnya hingga ke parkiran motor.
"Heh, lo ngapain ngikutin gue terus!? bukannya lo takut!" ucap Andre mulai kesal.
"Tolong aku Bang, aku gak tahu harus pergi kemana, aku ikut Abang aja ya?" balas Cella memohon.
"Heh! lo yakin gue bukan orang jahat!?" tanya Andre kesal.
"Kalau jahat kayanya udah dari tadi aku di apa-apain sama Abang.Pokonya aku ikut, aku mohon ya Bang" ucap Cella tanpa ragu naik ke motor Andre.
"Hei! turun gak! tar gue di anggap penculik lagi!" balas Andre makin kesal.
"Ya udah aku teriak aja kalau gak di bolehin ikut! tolooong! tol ... " seru Cella.
"Hei! hei! udah diem! terserah lo deh, kalau lo bosen jangan salahin gue!" balas Andre pasrah.
Dengan terpaksa Andre mengikuti kemauan Cella.Mereka pun menuju satu ruko yang cukup besar sekaligus bengkel motor.
"Lo boleh istirahat di kamar ini maaf kalau kurang nyaman, gue di bawah, kalau lo butuh makanan ambil saja di kulkas" ucap Andre lalu kembali ke bawah.
__ADS_1
"Syukurlah akhirnya aku punya tempat yang Papi kayanya gak akan tahu" gumam Cella seraya merebahkan badanya.
[[ Bersambung ]]