
Dengan terburu-buru Alena menuju ruang perawatan Alisa.Ibu Aisyah juga Raffa pun nampak menemaninya.
Sesampainya di ruang perawatan terlihat Tn Harry terus menangis seraya menggenggam tangan Alisa.
"Pah!? apa semuanya baik-baik saja?" tanya Alena begitu was-was.
Tn Harry yang sedikit terkejut lalu nampak menghapus air mata sebisanya.
"Alena!? ini semua salah Papah, seharusnya tak membiarkannya tinggal di luar negri" ucap Tn Harry seraya berjalan lalu duduk di sofa tamu.
"Maaf Tn Harry sebenarnya Alisa kenapa?" tanya Ibu Aisyah ikut khawatir.
Tn Harry nampak mengatur nafasnya coba menenangkan diri.Setelah cukup tenang ia pun mulai bersuara.
"Alisa semalaman menyendiri di kamar kenangan Mamah Sofia, sepertinya itu malah membuatnya kembali tertekan hingga terus menangis sampai lupa makan dan hal lainnya" ucap Tn Harry nampak menyesal, "Seharusnya Papah tak sibuk di ruang kerja hingga ketiduran dan melupakannya"
"Jadi Kakak sebenarnya sakit apa Pah!?" tanya Alena khawatir.
"Alisa selain belum bisa merelakan kehilangan Mamah, ia terindikasi suka menkonsumsi obat penenang" balas Tn Harry nampak terluka.
"Apa! obat penenang!? ya ampun apa Kakak akan baik-baik saja!?" tanya Alena mulai panik.
"Ya semoga saja begitu Alena, kita harus bisa bantu Alisa melupakan kesedihannya, menurut dokter itu akan sangat membantu" balas Tn Harry penuh harap.
"Tn Harry jika di izinkan, boleh saya ikut menjaga Alisa? setidaknya mungkin saya bisa sedikit membantu" tanya Bu Aisyah tak tega.
"Serius Bu!? tentu saja saya mengizinkan, itu membuat saya lebih tenang.Terima kasih banyak ya Bu Aisyah" balas Tn Harry begitu bersyukur.
"Pah, kalau Papah mau ke kantor Papah berangkat saja, Alena sama Mamah akan jagain Kak Alisa" ucap Alena.
"Baiklah, Papah titip Alisa, sesegera mungkin Papah akan kembali" ucap Tn Harry, "Bu Aisyah saya tinggal sebentar" pamit Tn Harry.
"Silakan Tn Harry Alisa akan saya rawat dengan baik" balas Bu Aisyah.
"Terima kasih sebelumnya" ucap Tn Harry lalu beranjak keluar.
"Tn Harry bagaimana kondisi Alisa!?" tanya Raffa saat melihat Tn Harry keluar.
"Raffa!? eh Alisa butuh istirahat, doa'kan saja yang terbaik.Saya pamit pergi dulu Al, mari" balas Tn Harry terburu-buru.
"Biar saya antar, lagian Mas Rama juga tak adakan? sekalian ada sesuatu yang mau saya tanyakan" ucap Raffa sedikit memaksa.
Tak lama mereka pergi menggunakan mobil pemberian Tn Hernand.Membuat Tn Harry tergelitik untuk bertanya lebih dulu.
"Mobil bagus, apa ini hadiah dari seseorang!?" tanya Tn Harry seraya tersenyum.
"Itu juga yang mau saya tanyakan Tuan, apa benar Anda berbicara dengan Tn Hernand hingga ia memberikan mobil juga kartu debit?" ucap Raffa balik bertanya.
"Jadi ini darinya!?" ucap Tn Harry, "Saya memang berbicara, untuk meyakinkannya kamu itu tidak seperti dugaannya, siapa sangka Tn Hernand malah mengikuti cara saya"
Raffa hanya melirik Tn Harry lalu kembali fokus ke jalan.
__ADS_1
"Maaf jika itu malah membuat mu kesusahan Al, selain ingin membantu hubungan kamu dengan Aurel saya tidak mau Tn Hernand melakukan kesalahan yang sama dengan saya" ucap Tn Harry merasa tak enak.
"Tak perlu minta maaf Tuan, seharusnya saya yang berterima kasih, setidaknya sekarang Tn Hernand tidak terlalu menolak saya"
"Yah, mungkin dengan begitu saya bisa sedikit membayar kesalahan saya.Semoga kamu bisa memafkan kesalahan saya waktu itu Al" ucap Tn Harry seraya menepuk pundak Raffa.
Raffa hanya terdiam dengan sesekali melirik Tn Harry.Ada rasa berat di hatinya yang selama ini menjadi beban.
"Masih pantaskah saya menyimpan amarah ini padanya!? sepertinya Tn Harry pun menyadari kesalahannya" gumam Raffa dalam hati.
Tak lama setelah sampai Tn Harry segera membuka suaranya,
"Turunkan saya di depan saja Al"
"Baik Tuan" balas Raffa.
"Terima kasih sudah mengantar, saya masuk dulu" ucap Tn Harry lalu beranjak pergi.
"Tuan Harry!" panggil Raffa setengah ragu lalu keluar dari mobilnya lalu menghampirinya, "Soal masalah yang telah lalu biarlah berlalu, saya sudah memaafkan Tuan, maafkan saya juga yang sudah membuat Anda kecewa"
Sedikit terkejut Tn Harry nampak tersenyum lalu kembali berucap,
"Saya senang mendengarnya, saya harap hubungan kita kembali membaik seperti sebelumnya"
"Saya harap begitu, terima kasih atas semuanya, Om Harry" ucap Raffa seraya mengulurkan tangannya.
Dalam rasa senangnya Tn Harry menjabat tangan Raffa lalu menarik ke dalam pelukannya.
"Sekali lagi terima kasih sudah mengantar, saya ke dalam dulu" ucap Tn Harry seraya melepas pelukannya.
Sementara di kampus hingga sore hari Aurel nampak gelisah.Bagaimana tidak sang kekasih hatinya tak menampakan dirinya.
"Kenapa gak ngajak sih, kalau berhubungan sama keluarga Alena pasti aja maunya sendiri" ucap Aurel bermonolog.
Baru saja Aurel meninggalkan kampusnya seseorang menghubungi via ponselnya.
"Hallo, siapa ini!?" tanya Aurel.
"Ini Kakak, ada sesuatu yang mau di bicarakan sama kamu, Kakak tunggu di apartemen, penting!" balas Adrian.
"Gak bisa nanti saja Kak, kenapa juga di apartemen sih!? jauh dari kampus Kak" tanya Aurel sedikit malas.
"Sudah jangan membantah, ini soal pribadi keluarga kita, tak bisa di sembarangan tempat" balas Adrian penuh penekanan.
"Ya sudah baiklah Aurel kesana sekarang!" balasnya nampak terpaksa.
"Ihhh ngeselin! apa-apaan sih nyuruh datang makasa banget, kalau bukan Kakak males banget!" keluh Aurel bermonolog.
Sesampainya di parkiran Apartemen Aurel segera menghubungi Adrian.
"Akhirnya datang juga lo" ucap Adrian saat melihat Aurel.
__ADS_1
"Sebaiknya cepat, gue gak punya banyak waktu Kak!" balas Aurel ketus.
"Tenang saja ini tak akan lama" ucap Adrian lalu menuntun Aurel menuju lift.
Saat memasuki lift empat orang lain pun naik bersama mereka.Aurel yang tak curiga hanya diam tanpa menatap mereka.Belum juga lift bergerak,
"Grepph!" tiba-tiba salah satu dari mereka membekap Adrian.
"Hei! kalian mau apakan Kakak gue!" ucap Aurel begitu terkejut.
"Sebaiknya lo diam atau lo gak akan pernah bertemu lagi dengan Kakakmu ini"
"Apa mau lo semua!" tanya Aurel mulai ketakutan saat Adrian mulai terkulai tak sadarkan diri.
"Lo ikuti perintah kita, maka semuanya akan baik-baik saja!" ancam salah satu di sebelah Aurel.
"Ya! sekarang lo ikut kita atau Kakak lo ini kita habisi!" ancamnya makin serius.
"Jangan! baik apa yang harus gue lakukan!?" balas Aurel pasrah.
"Lo cukup ikuti mereka bertiga dan lo bakal tahu tujuan kita semua!" ucap orang yang menyandera Adrian.
Tanpa bisa melawan Aurel dengan sangat terpaksa menunggalkan Adrian sendiri dan mengikuti mereka bertiga.
Setelah Aurel keluar Lift orang itu kembali menekan tombol naik.Dengan segera ia melepas dekapannya pada Adrian.
"Cukup sandiwaranya lo sudah bisa bangun" ucapnya pada Adrian.
"Sialan! gue tetap gak suka harus melibatnya, lo pastikan dia baik-baik saja!" ucap Adrian sedikit tak enak hati.
"Tenang saja Bro, mereka tahu siapa gadis itu.Sebaiknya kita bersiap untuk langkah berikutnya" ucapnya begitu serius.
Sementara Aurel sendiri nampak panik saat tahu dirinya di sekap dalam sebuah kamar.Sudah beberapa lamanya ia disana tanpa seorang pun memberinya info.
"Ya tuhan sebenarnya Ada apa ini, mengapa mereka membawaku ketempat ini.Sebenarnya apa yang sudah Kak Adrian lakukan!" ucap Aurel bermonolog tanpa bisa diam dan terus mondar mandir.
"Cekreek! krekkhh! tiba-tiba pintu terbuka dan masuk dua orang yang nampak membawa makanan.
"Sebaiknya kau makan dulu, kami tidak ingin terjadi apa-apa padamu!"
"Tidak! jelaskan ke gue ada apa ini sebenarnya! gue gak mau di sini lebih lama, gue mau pulang!" ucap Aurel penuh harap.
Tanpa di duga seseorang yang begitu ia kenal suaranya berkata,
"Tenanglah cantik sebaiknya kamu makanlah, kamu tak ingin kekurangan tenaga saat bertemu kekasihmu nantikan!?" selesai berucap ia pun berjalan menghampiri Aurel.
"Leon!" seru Aurel tak percaya.
"Heh! sebaiknya kau makanlah dulu aku akan segera kembali, hehehe" Leon pun berlalu dengan tawa jahatnya di ikuti beberapa orang yang lalu kembali mengunci Aurel dalam kamar tersebut.
"Leon! lepasin gue! apa mau lo sebenarnya! lepasin gue, kembali lo orang gila!" teriak Aurel sejadinya.
__ADS_1
Namun Leon terus berlalu tanpa memperdulikannya.
[[ Bersambung ]]