Hati Sang Penakluk

Hati Sang Penakluk
101.Keluarga ( Outro 3 )


__ADS_3

"Alisa ingin Ibu Aisyah jadi Mama kita untuk selamanya"


Semua orang nampak tertegun mendengar pernyataan Alisa.Tak satupun yang bersuara hingga Raffa yang tak percaya membuka mulutnya.


"Maksud kamu!? sebentar, setahu saya bukannya kamu tak suka dengan kehadiran Ibuku!? baru kemarin kamu mengusirnya, kenapa tiba-tiba meminta hal sebaliknya?" ucap Raffa penuh selidik.


"Raffa!? kamu tak perlu berkata seperti itu" ucap Bu Aisyah tak enak hati.


"Maaf bu Al hanya ingin memastikan Ibu akan baik-baik saja"


Alisa nampak menundukan kepalanya penuh penyesalan.Tn Harry yang melihatnya mencoba mencairkan suasana.


"Raffa atas nama Alisa Om minta maaf terutama Bu Aisyah, saya yakin Alisa tak bermaksud seperti itu"


"Alisa tahu alisa salah, Alisa mohon maaf atas semua itu tapi izinkan Alisa menjelaskannya" ucap Alisa lalu duduk bersandar seraya menarik selimutnya.


Saat semua tatapan menuju padanya seakan mengartikan untuk Alisa memulai bicara.


"Saat Alisa tak sadarkan diri di rumah sakit, entah mimpi atau bukan Alisa bertemu Mama Sofia.Mama bilang ia sedikit tenang melihat Alena tapi tidak Alisa, Mama ingin aku lebih dewasa, kuat dan jadi pelindung Alena" ucap Alisa nampak bibir sedikit bergetar.


"Benarkah begitu Kak!? lalu Mama bilang apa lagi?" tanya Alena begitu tak sabar.


"Mama ingin kita semua bahagia, Mama bilang sudah tenang karena sekarang ada seseorang yang akan menjaga juga menyayangi kita seperti Mama" ucap Alisa dengan Air mata mulai menetes.


Alena yang tak kuasa lalu memeluk Alisa dengan hangat seraya menghapus air matanya.Semua yang mendengarkankan pun menarik nafas merasa haru.


"Alisa yakin yang Mama maksud itu ... " ucapan Alisa tertahan dengan air mata yang terus bercucuran ia meraih tangan Bu Aisyah membuat semua orang nampak tegang.


"Yang Mama maksud itu, pasti Ibu Aisyah" ucap Alisa lalu memeluk Bu Aisyah dengan tangis yang tak tertahan lagi.


Begitu juga Alena tanpa ragu memeluk keduanya dengan tersedu-sedu, "Kakak!"


Raffa yang tak sanggup melihat hanya menengadahkan kepalanya menahan air matanya yang akan menetes.Tn Harry pun menunduk seraya mengusap matanya.


"Hiks! hiks! Bu, Alisa mohon Ibu mau jadi Mama kami, karena Alisa yakin Ibu yang Mama maksud.Maafkan Alisa yang terlambat menyadarinya dan Mama benar Alena malah lebih dulu merasakannya" ucap Alisa kembali.


Bu Aisyah kembali memeluk erat keduanya beberapa saat lalu mengurai pelukannya seraya berkata, "Sayang, bukankah Ibu sudah menganggap kalian anak Ibu sendiri dan kalian bisa menganggap Ibu ini sebagai Mama kamu?" Bu Aisyah mencoba meyakinkan.


"Iya Bu tapi yang Alisa minta Ibu jadi Mama kita yang sesungguhnya, selamanya bersama kita menjadi satu keluarga.Mama maukan jadi Nyonya Adhitama?" pinta Alisa begitu berharap.


"Apa! Nyo, Nyonya Adhitama!? maksud kamu ... " balas Ibu Aisyah tertahan dengan degupan jantung yang semakin berdebar.


"Alisa yang kamu minta itu apa tidak terlalu membebani Bu Aisyah" ucap Tn Harry mencoba menjaga gengsinya.


"Alisa mohon, Ibu Maukan menikah dengan Papa, jadi Nyonya Adhitama dan Ibu kami berdua" Alisa semakin meminta penuh iba.


Belum juga Bu Aisyah meredakan keterkejutannya Alena meraih tangannya seraya berucap, "Dan selama ini, itu juga keinginan Alena Mah, dengan begitu Mama bener-bener jadi Mama aku dan selamanya akan selalu ada di sini sama kami"


Sekonyong-konyong tubuh Bu Aisyah terasa lemas lalu ambruk di tempat tidur.Membuat semua orang panik.


"Ibu!" jerit Alisa.

__ADS_1


"Mama!" teriak Alena.


Begitupun Raffa dan Tn Harry yang nampak panik memanggil-manggil namanya.


"Biar Ibu saya bawa istirahat dulu di kamarnya.Biasanya cukup dengan istirahat Ibu akan sadar kembali" ucap Raffa seraya membopong Ibunya.


"Aku ikut Al" ucap Alena khawatir.


"Alena kamu di sini saja sama Alisa, Papa yakin Bu Aisyah hanya terkejut, kita beri waktu beliau istirahat dan ada yang mau Papa bicarakan" ucap Tn Harry.


Sementara di sebuah rumah sakit Adrian kedatangan seseorang yang membuatnya begitu merasa malu.


"Gimana kondisimu!?" Tanya Tn Hernand.


"Cukup baik, beruntung tidak kena bagian vital tapi mungkin akan butuh waktu bahu Adrian untuk sembuh" balas Adrian.


"Heh! anggap saja itu hukuman buat kamu, bagaimana bisa kamu melakukan hal bodoh macam itu" ucap Tn Hernand dingin.


Adrian menatap kosong langit-langit kamarnya seraya menarik nafas panjang.


"Kali ini Adrian benar-benar keterlaluan, pantas jika Aurel dan semua keluarga benci"


"Bagus jika kamu sadar, hanya karena keegoisanmu Adikmu jadi korban"


"Hmmhhh! Adrian menyesal, semoga saja kata maaf Adrian bisa sedikit mengurangi rasa marah dan benci.Pih Adrian mohon maaf atas semuanya"


Tn Hernand cukup terkejut dengan ucapan Adrian.Baru kali ini Adrian nampak tulus meminta maaf.


Tn Hernand tersenyum lalu menepuk lengan Adrean seraya berucap, "Sudah seharusnya kamu sadar, selama ini Papi keras sama kamu karena Papi berharap besar sama kamu.Sebagai anak laki-laki dan paling besar siapa lagi yang akan Papi andalkan"


"Maafkan Adrian Pih, mulai sekarang Adrian akan mengikuti apapun keinginan Papi.Tolong beri Adrian kesempatan untuk membuktikannya Pih" ucap Adrian tulus.


"Ini yang selama ini Papi tunggu dari kamu, Papi akan tunggu kamu di rumah dan ingat Papi akan tagih ucapanmu itu" ucap Tn Hernand lalu berpamitan.


"Pih!" panggil Adrian saat Tn Hernand beranjak keluar kamarnya.


"Ya, ada apa?" balas Tn Hernand.


"Adrian cuma mau bilang Aurel sudah berada di tangan yang tepat, beri Raffa kesempatan Pih.Adrian lihat sendiri bagaimana Raffa rela melakukan apapun untuk Aurel" ucap Adrian nampak serius.


"Heh! tak perlu kamu coba mempengaruhi Papimu ini, kita lihat saja nanti seperti apa calon adik iparmu itu!" balas Tn Hernand seraya tersenyum kecil.


"Hehe dasar si Papi selalu saja gengsi buat berkata jujur" gumam Adrian seraya tersenyum puas.


Kembali ke kediaman keluarga Adhitama Bu Aisyah mulai siuman membuat Raffa sedik lega.


"Bu, Alhamdulillah Ibu sudah siuman, ini di minum dulu" ucap Raffa seraya memberikan segelas air putih.


Setelah meneguk air secukupnya Ibu Aisyah lalu duduk menyandar seraya termenung.


"Sudah Bu jangan terlalu banyak berpikir sebaiknya tenangkan diri dahulu" bujuk Raffa tak tega.

__ADS_1


"Al, menurut kamu apa yang seharusnya Ibu lakukan sekarang?" balas Bu Aisyah bertanya.


"Jujur Al juga tak tahu tapi apapun keputusan Ibu akan Al dukung sepenuhnya apalagi jika itu membuat Ibu bahagia" ucap Raffa seraya tersenyum.


"Ibu juga tak tahu harus mengatakan apa, ini hal yang sangat serius Ibu gak bisa sembarangan memutuskan" ucap Bu Aisyah seraya menyandarkan kepalanya, "Ibu tak pernah terpikir untuk menikah lagi"


"Ya sudah Bu, minta petunjuk sama Allah sepertinya itu jalan terbaik" sahut Raffa.


Ibu Aisyah pun tersenyum seraya mengangguk hingga satu ketukan mengalihkan pembicaraan mereka.


"Maaf Bu, di tunggu di meja makan untuk makan malam" ucap Bi Irah.


"Oh iya, kami segera kesana, makasih ya Bi" balas Bu Aisyah.


Bagai satu keluarga utuh semua berkumpul di meja makan.Namun suasana nampak begitu dingin tanpa ada seorangpun yang berbicara.


"Ehm, maaf sebelumnya jika mengganggu, ada sesuatu yang mau Ibu sampaikan" ucap Bu Aisyah memecah keheningan.


Semua nampak berhenti tatkala mendengar ucapan Bu Aisyah.Wajah tegang menghias semua orang yang menunggu dalam cemas.


"Besok Ibu izin untuk pulang, ada sesuatu yang perlu Ibu lakukan di rumah sana.Maaf jika mendadak semoga bisa di mengerti"


Mendengar itu nampak Alisa yang paling kecewa dengan ucapan Bu Aisyah.Tanpa menatap ia menghentikan makannya lalu beranjak pergi ke kamarnya.


Alena yang melihat Kakaknya pergi pun menyusul dengan sesaat menatap Bu Aisyah.


"Tuan Harry saya mohon maaf sudah membuat suasana yang tidak enak.Saya akan coba berbicara dengan mereka" ucap Bu Aisyah merasa tak enak hati.


"Silakan Bu, mohon di maklumi ya atas sikap kedua putri saya" balas Tn Harry merasa serba salah.


Raffa sendiri hanya bisa terdiam karena ia pun tak tahu harus melakukan apa.


Sementara Bu Aisyah segera mengetuk kamar Alisa yang bersama Alena.


"Sayang, boleh Ibu masuk? Ibu mohon kalian jangan salah paham ya, maaf jika Ibu belum bisa mengabulkan keinginan kalian tapi tak berarti Ibu gank sayang sama kalian" ucap Bu Aisyah mencoba menjelaskan.


Namun tak ada sedikitpun jawaban dari dalam membuat Bu Aisyah semakin merasa bersalah.


"Sayang tolong jangan diamkan Ibu, Ibu tak mau kehilangan kalian, Ibu sayang kalian" ucap Bu Aisyah terdengar memohon.


"Bohong! kalau memang sayang mana mungkin Ibu pergi ninggalin kita!" teriak Alisa tak dapat menahannya lagi.


"Tapi sayang, Ibu harus pergi mohon mengerti" balas Bu Aisyah penuh harap.


"Silakan kalau mau pergi dan bila perlu jangan pernah kembali!" teriak Alisa emosi.


Sontak Bu Aisyah meneteskan air matanya, ia tak menyangka kehangatan diantara mereka sangat cepat berakhir.Dengan wajah sedih Bu Aisyah pun kembali ke kamarnya.


Raffa juga Tn Harry hanya saling menatap tak percaya dengan apa yang di lihatnya.Mereka hanya berharap semoga semua berakhir baik.


[[ End ]]

__ADS_1


__ADS_2