
Pagi hari di kediaman keluarga Adhitama nampak Tn Harry sudah berpakaian begitu rapi.Namun saat tak melihat Alena di meja makan ia pun menuju ke kamarnya.
"Alena apa kamu masih tidur?" ucap Tn Harry seraya membuka pintu kamar Alena.
Nampak Alena tengah termenung menatap ke luar jendela.Sepertinya kegundahan gadis itu masih belum mereda.
"Kamu baik-baik saja sayank?" sapa Tn Harry seraya memegang bahu putrinya itu.
"Eh Papah, Alena baik kok Pah hanya masih ke ingat mamah" sahut Alena beralasan.
"Emm, yang kuat ya sayank, mamah pasti akan sedih disana melihat kamu murung terus seperti ini.Sudah saatnya kamu mengikhlaskan sayank"
"Iya Pah" balas Alena singkat.
"Apa kamu sama Raffa baik-baik saja? tak seperti biasanya, belakangan ini kalian jarang terlihat bersama" tanya Tn Harry
"Ki, kita baik kok Pah, Raffa lagi sibuk aja sama kuliah juga kedainya" sahut Alena berusaha menutupi.
"Bener begitu? ya sudah kalo kamu masih mau istirahat nanti biar sarapan kamu di bawain Bi Irah ke kamar, Papah pergi dulu ya sayank" ucap Tn Harry seraya mengecup puncak kepala putrinya itu.
"Ok Pah makasih, Papah hati-hati" sahut Alena.
Lalu Alena nampak mengecek ponselnya.Begitu banyak panggilan Raffa yang tidak ia terima.
"Maafkan aku Raffa, aku tahu tak seharusnya aku bersikap seperti ini.Entahlah melihatmu bersama yang lain membuat hatiku tak tenang" guman Alena terlihat pilu.
"Salahkah aku jika aku berharap lebih atau memang harus aku akhiri saja kepura-puraan ini" Alena kembali terhanyut dalam lamunannya.
Sementara di tempat lain Raffa dan teman timnya tengah berlatih begitu keras.Latihan kali ini terfokus pada fisik dan strategi permaian.
"Gimana guys masih kuat gak?"
tanya Raffa yang melihat beberapa temannya tampak kelelahan.
"Gila Al cape gue, berasa latihan militer" sahut Adi dengan ngos-ngosan.
"Hehe harusnya lari aja minimal 30menitan baru tambah yang lain" ucap Raffa terkekeh.
"Mampus gue 20menit aja gue gak akan ada cukup tenaga buat latihan yang lain" sahut Dani seraya merebahkan tubuhnya.
"Ya udah kalian ambil nafas dulu lalu kita latihan strategi dan permainan" ucap Raffa yang lalu teralihkan oleh ponselnya yang berdering.
"Assalamualaikum" ucap Raffa tanpa melihat siapa nama penelepon tersebut.
"Waalaikumsalam, hai Al lagi dimana?" ucapnya dengan nada suara seperti di tutup sesuatu.
Raffa yang terkaget kembali menatap layar ponselnya,
"Nomor siapa ini ya, nomor baru?" guman Raffa merasa sedikit aneh.
"Hallo maaf ini dengan siapa?" tanya Raffa penasaran.
"Maaf, kami dari customer service PT.Delta Cahaya mau menginformasikan bahwa tagihan cicilan anda akan jatuh tempo hari ini.Segera lunasi untuk menghindari denda keterlambatan, terima kasih" sahutnya.
"Hah cicilan! maaf cicilan apa ya?" Raffa sedikit kaget karena merasa tak pernah belanja apapun.
"Iya cicilan, cicilan janji jalan bareng hehe" balasnya dengan nada suara sebenarnya seraya cekikikan.
"Cicilan janji jalan bareng? ini siapa sih, lagi becanda ya?" ucap Raffa mulai curiga.
"Hihi kamu beneran gak kenal sama aku?" ia balik bertanya.
"Siapa ya, Naurel?" Raffa coba menebak.
"Ih lama amat sadarnya, sebeda itu ya suaranya" Ucap Aurel ngambek.
"Eh maaf, kirain beneran suara operator pinjol jadi gak kepikiran.Lagian aku belum punya nomor kamu kan" sahut Raffa menggoda.
"Ish kamu nih nyebelin, pokoknya nanti malam jadi ya" ucap Aurel tanpa basa basi.
"Nanti malam? emang mau kemana?" sahut Raffa kebingungan.
__ADS_1
"Masa kamu lupa, kitakan ada janji ke sky rooftop, jemput jam tujuh ya" ucap Aurel sedikit memaksa.
"Eh kirain itu bohongan, cuma buat bikin kesel Leon doang" balas Raffa mencoba mengerti.
"Enggak kok aku serius, ya sudah biar kamu nyaman, kita ajak juga Luna sama Ryo, gimana setuju?" ucap Aurel meyakinkan.
"Eh, ok deh nanti malam aku kabarin lagi" sahut Raffa saat tahu mereka tidak pergi berdua.
"Hehe ya sudah nanti malam ya, biar aku yang jemput kamu aja di kedai.Bye Al" ucap Aurel dengan hati yang berbunga.
"Bye" balas Raffa seraya menyimpan kembali ponselnya,
"Kenapa Naurel malah serius sama makan malam itu? makin aneh aja sikapnya belakangan ini" guman Raffa masih sedikit heran.
Akhirnya Raffa kembali berlatih dengan begitu serius hingga hari menjelang siang.Sepulangnya dari berlatih Raffa pun mencoba menemui Alena di rumahnya.
"Assalamualaikum" ucap Raffa yang sengaja datang lewat pintu samping.
"Waalaikumsalam" sahut Bi Irah dan ART lainnya.
"Eh Den Raffa mari masuk"
"Makasih Bi, Alenanya ada?"
"Sepertinya Non Alena ada di kamarnya Den, Bibi panggilkan dulu ya"
Akhirnya Raffa menunggu Alena di taman belakang rumah.Tak lama ia menunggu Alena pun datang.
"Raffa, sudah lama?" tanya Alena terlihat canggung.
"Eh Alena, enggak kok baru juga datang.Kamu apa kabarnya? beberapa kali aku coba hubungi tapi selalu tak ada jawaban" ucap Raffa khawatir.Ia begitu berharap hubungannya dengan Alena bisa membaik.
"Maaf,aku tak bermaksud begitu. mungkin memang kebetulan aja waktunya pas aku sibuk" sahut Alena beralasan lalu duduk di salah satu kursi taman.
"Apa kamu masih marah sama aku Alena? aku minta maaf bila ada kata atau sikapku yang menyinggungmu" Ucap Raffa memohon seraya berjongkok di depan gadis itu.
"Kamu gak salah kok, aku pikir kepura-puraan ini memang sudah waktunya untuk di akhiri" balas Alena lalu memalingkan wajahnya mencoba menahan gejolak perasaannya.
Alena hanya mengangguk pelan. Baginya kejujuran ini seperti akhir dari kebersamaannya dengan Raffa.
"Apapun keputusan kamu aku akan mendukungmu.Memang kejujuran akan lebih baik, sebelum Papahmu tahu dari orang lain" ucap Raffa berusaha ikhlas.Ia akan siap menerima konsekuensinya nanti.
Ucapan Raffa membuat hati Alena semakin tak karuan.Walau benar tapi semua terasa seperti Raffa berusaha menjauhinya.
"Kita berdo'a saja semua akan berakhir dengan baik, aku harap papah kamu akan mengerti" ucap Raffa dengan penuh harap.
Alena hanya tersenyum kecil membuat Raffa tak dapat berkata-kata.Jujur bagi Raffa semakin lama ia berbohong semakin besar pula rasa bersalahnya.
"Eh Alena maaf aku ikut kebelakang dulu ya" ucap Raffa seraya berdiri dengan tanpa sadar ponselnya jatuh dari saku sweaternya.
Alena yang melihatnya lalu meraih ponsel itu,namun Raffa yang tergesa membuatnya tak sempat tuk mengembalikannya.
Tiba-tiba ponsel Raffa berdering, keterkejutan Alena begitu berlipat saat melihat foto sang penelepon,
"Ibu!" Seru Alena begitu tersentak.
Namun hingga dering ponsel itu berhenti Alena tak berusaha mengangkatnya.Hingga akhirnya Raffa kembali.
"Alena? kenapa, kok bengong?" tanya Raffa.
"Eh enggak, maaf ini ponsel kamu jatuh" sahut Alena masih terlihat memikirkan sesuatu.
"Eh makasih ya, Em maaf Alena aku pamit dulu ya, gak enak nih badan masih keringetan.Jangan terlalu banyak pikiran jaga diri baik-baik" ucap Raffa seraya mengusap lembut bahu gadis itu.
"Iya makasih juga perhatiannya" sahut Alena memaksakan senyum.
"Ya udah aku pamit ya, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Alena pun hanya bisa menatap kepergian Raffa dengan perasaan baru yang mengganggu.
__ADS_1
Tanpa terasa hari sudah berganti malam.Tak diduga Aurel benar-benar datang menjemputnya.
"Yuk Al berangkat, nih kamu yang bawa mobilnya" ucap Aurel seraya menyerahkan kuncinya.
Mobil mercedes e300 coupe yang nampak masih seperti baru, membuat Raffa menjalankan mobil tersebut dengan sangat hati-hati.
"Kaku amat sih Al, santai aja napa sih?" ucap Aurel.
"Hehe iya sorry, eh kita langsung ke tujuan apa nunggu Ryo sama Luna dulu" tanya Raffa.
"Langsung aja Al, mereka juga lagi jalan menuju kesana kok" sahut Aurel begitu antusias.
Sesampainya di tujuan, tanpa kesulitan mereka pun bertemu Ryo juga Luna.Segera mereka pun menaiki lift.
Saat mereka berempat keluar dari Lift dan melewati Lift sebelahnya, tanpa di duga Tn Harry dan Rama sekilas melihat Raffa.
"Ram bukannya itu tadi Raffa ya?" ucap Tn Harry sedikit berbisik.
"Kalau di lihat sih mungkin iya Pak" sahut Rama seraya menahan pintu Lift hingga terbuka kembali.
"Perlu saya pastikan Pak?" ucap Rama meminta persetujuan.
"Tidak perlu Ram waktu kita gak banyak, harus segera ke pertemuan lain" balas Tn Harry.
Rama pun urung melakukannya lalu kembali menekan tombol menuju lantai satu.
Sementara Raffa nampak tengah asyik berdua Aurel menikmati indahnya Ibu Kota dari ketinggian lt 25.Membuat Luna tak berhenti menatapnya,
"Yank, aku masih gak bisa percaya Aurel sedekat ini sama si Al.Kok bisa sih?" Luna masih penasaran.
"Itu karena tanpa sengaja Aurel denger omongan si Al di kampus" sahut Ryo merasa sudah tak ada gunanya lagi merahasiakannya.
Nampak seseorang yang tak jauh dari Ryo terus memperhatiakan mereka.
"Omongan soal apa?" tanya Luna tak sabar.
"Ceritanya panjang sayank, namun intinya Aurel denger saat si Al ngomong jika dia sama Alena cuma ... pacar pura-pura" sahut Ryo dengan perasaan berat hati.
"Hah pacar pura-pura! kok bisa?" Luna begitu tak percaya mendengarnya.
"Dih, jangan keras-keras juga kali yank" ucap Ryo lalu celingukan takut ada yang mendengar.
"Maaf, tapi kok bisa mereka melakukan itu?" tanya Luna kembali.
"Ini ada hubungannya sama video itu sayank, video itu acara perjodohan Alena.Al di minta melakukannya agar rencana itu batal, dan laki-laki yang mau di jodohkannya kamu tahu siapa? Leon!" sahut Ryo blak-blakan toh lambat laun Luna pasti tahu dari Aurel.
"Hah, Le, Leon!? ya ampun sempit amat ini dunia" ucap Luna.
Sementara Raffa juga Aurel masih begitu kerasan menikmati pemandangan malam Ibu Kota,
"Gimana Al, cukup baguskan pemandangannya? Aku senang banget bisa kesini sama kamu" ucap Aurel dengan terus menggandeng lengan Raffa.
"Iya cukup indah juga menenangkan, apa kamu kedinginan?" balas Raffa lalu memakaikan jaketnya pada Aurel.
Mendapat perlakuan manis Raffa membuat Aurel semakin bahagia,
"Makasih ya Al" ucap Aurel seraya memeluk lengan dan menyandar di bahunya.
"Ada yang mau aku ambilkan Naurel?" tawar Raffa sedikit gugup juga salting.
"Gak perlu Al, cukup kamu di sini aja.Sejak kita kenal gak pernah kita jalan bersama seperti inikan" balas Aurel terlihat begitu menikmati malam ini.
Raffa pun hanya tersenyum, ia begitu tak percaya Aurel punya sisi lembut menjurus manja seperti ini.
Tanpa mereka sadari seseorang terus memperhatikannya sejak awal kedatangan mereka, orang itu lalu terlihat menghubungi seseorang,
"Hallo Boss, gue dapat sesuatu yang mungkin bakal lo suka.Dugaan lo gak salah mereka benar-benar ada di sini"
"Ok boss besok gue serahin" ucap pria itu lalu segera pergi meninggalkan mereka yang tengah menikmati malam dalam suasana hangat.
[ Bersambung ]
__ADS_1