Hati Yang Kau Sakiti

Hati Yang Kau Sakiti
Bijaksana


__ADS_3

Fatimah terlihat menetralkan emosinya, rasa kesal marah dan kecewa bercampur aduk menjadi satu.


Dia sungguh tak menyangka, jika sang suami pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal.


Dia tak menyangka, jika sang suami tega menolak janin yang telah berkembang di dalam rahim seorang wanita hingga membuat janin itu digugurkan dengan paksa.


Bahkan karena hal itu, sekarang mengakibatkan hal yang membuat kesehatan wanita itu terganggu.


Namun, Fatimah bukan anak kecil lagi. Bukan waktunya untuk marah-marah dan mengamuk untuk menyelesaikan masalah.


Sepertinya, Fatimah harus mengajak suaminya berbicara dari hati ke hati agar semua permasalahan bisa cepat selesai.


Kriet !


Fatimah terlihat membuka pintu kamar utama, nampaklah Albert yang sedang duduk di atas sofa sambil melamun.


Raganya memang ada di sana, tapi Fatimah tidak tahu pikirannya sedang berada di mana. Fatimah lalu duduk disamping Albert dan memeluk suaminya dengan erat, dia sandarkan kepalanya di bahu suaminya.


Hal itu membuat Albert sadar dari lamunannya, Albert langsung menoleh ke arah Fatimah. Dia langsung tersenyum lalu mengecup kening istrinya.


"Cape ya?" tanya Albert.


"Cape banget, pengennya di sayang." Fatimah terlihat melerai pelukannya.


Mendengar ucapan Fatimah, Albert langsung mengangkat istrinya keatas pangkuannya. Lalu, Albert memeluk pinggang istrinya dan menyandarkan wajahnya di dada istrinya tersebut.


Albert, seperti sedang menenangkan dirinya dengan cara memeluk istrinya tersebut. Tak lama kemudian, Albert terlihat mendongakkan kepalanya.


Dia menatap wajah istrinya dengan lekat, lalu tersunggihlah m sebuah senyuman getir di bibir tebalnya.


"Mas mau jujur sama kamu, tapi kamu janji dulu. Jangan tinggalin, Mas." Albert mengusap pipi istrinya.


Fatimah langsung tersenyum, hatinya terasa senang karena mungkin Albert akan menceritakan masa lalunya kepada dirinya.


Hal itu akan terasa lebih baik menurutnya, tidak ada rahasia lagi di antara dirinya dan juga suaminya.

__ADS_1


Walau mungkin kenyataan akan terasa lebih pahit, namun Fatimah sudah merasa siap untuk mendengarnya.


Karena itu akan lebih baik, menurutnya. Dari pada dia dibohongi, atau Albert malah sengaja untuk tidak jujur padanya.


"Katakanlah, Mas!" ucap Fatimah.


Albert tersenyum hangat, lalu dia mengecup bibir mungil istrinya. Kemudian, Albert pun mulai bertanya.


"Apa kamu ingat Sayang, dengan wanita yang tadi kita temui di Rumah Sakit?" tanya Albert.


"Tentu, Sayang. Aku masih ingat, wanita cantik itu terlihat begitu kecewa kepadamu. Kenapa, Mas?" tanya Fatimah.


"Dulu aku pernah berpacaran dengannya, kami berpacaran dengan bebas. Sehingga, setelah 2 bulan berpacaran. Dia berkata jika dia sedang hamil, dia meminta pertanggungjawabannya dariku. Awalnya aku ingin bertanggung jawab, namun... saat melihat dia pergi dengan lelaki lain, aku mengurungkan Niatku."


Mata Albert terlihat menerawang jauh, ada gurat kecewa di matanya. Fatimah bisa melihat akan hal itu, namun dia tak berani menebaknya.


"Kenapa seperti itu, Mas? Kan bisa saja lelaki itu bukan siapa-siapanya wanita tersebut?" kata Fatimah bijak.


Mendengar ucapan istrinya, Albert pun langsung tersenyum kecut. Istrinya itu memang benar-benar tak pernah berpikir buruk tentang orang lain.


"Lalu?" tanya Fatimah penasaran.


"Aku menemukan sesuatu hal yang mengejutkan, aku pernah menemukan sebuah surat pemeriksaan kehamilan di dalam tasnya. Di sana dijelaskan jika dia sudah mengandung selama 3 bulan, itu artinya bayi itu bukan milikku. Karena kami baru berpacaran selama 2 bulan," ucap Albert.


"Lalu, setelah itu apa yang kamu lakukan?" tanya Fatimah.


"Wanita itu kembali untuk meminta pertanggungjawaban dari aku, aku pun menolaknya. Awalnya dia tak terima, namun setelah aku memberikan surat pemeriksaan kehamilannya, dia langsung tersenyum getir. Lalu, dia pun berkata akan menggugurkan kandungannya jika aku tidak mau bertanggung jawab."


Albert terlihat menghela napas panjang, kemudian dia menghembuskannya secara perlahan.


"Aku kira itu hanya gertakan saja, karena pada kenyataannya aku memang bukan ayah dari bayi yang dia kandung. Ternyata dia benar-benar menggugurkan kandungannya," kata Albert.


"Memangnya lelaki yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab, Mas?" tanya Fatimah.


" Ya, lelaki itu tak mau bertanggung jawab. Makanya dia mengajakku untuk tidur bersama, sepertinya dia memang sengaja ingin menjebakku," ucap Albert.

__ADS_1


"Tapi, Mas. Aku melihat jika wanita itu tulus mencintai kamu, bahkan ada gurat luka di matanya." Fatimah terlihat mengusap lembut puncak kepala suami.


"Iya, Sayang. Aku tahu kalau dia begitu mencintaiku, cintanya sangat tulus untuk aku. Namun sayangnya, aku tidak suka caranya dia mendekati aku. Dia seperti penipu," kata Albert.


"Oh," kata Fatimah.


"Kamu ngga marah kan, sama aku?" tanya Albert resah.


"Tentu saja aku marah, Mas. Wanita mana yang rela jika suaminya pernah membuat wanita lain menggugurkan kandungannya? Walaupun pada kenyataannya hal itu bukan sepenuhnya kesalahan kamu, tapi kamu juga ikut andil dalam hal tersebut, Mas."


Fatimah terlihat menatap Albert dengan tatapan tegasnya, hal itu membuat Albert sangat takut jika Fatimah akan meninggalkan dirinya.


"Mas tahu, Sayang. Mas salah, tapi Mas mohon jangan pernah kamu tinggalkan Mas. Mas bisa gila kalau hidup tanpa kamu dan calon buah hati kita, Sayang."


Albert terlihat menatap Fatimah dengan tatapan mengiba, dia benar-benar takut akan kehilangan Fatimah dan calon buah hati mereka.


Albert benar-benar takut, jika Fatimah akan mengatakan hal tersebut kepada mertuanya. Karena sudah dapat dipastikan keluarga martuanya tidak akan pernah mau memaafkan dirinya.


Apa lagi kalau mengingat Fatimah yang pernah dikecewakan oleh suami pertamanya, pasti mereka akan tambah membenci Albert.


"Selama kamu bisa memperbaiki kelakuan kamu, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu Mas. Aku hanya minta sama kamu, buktikan keseriusan kamu dalam berucap."


Albert tersenyum senang karena ternyata istrinya bisa berpikir sangat dewasa, Fatimah terlihat sangat bijak dalam menyikapi setiap masalah yang datang dalam hidupnya.


Albert pun merasa benar-benar bahagia, kala Fatimah terlihat memberikan kesempatan kedua untuk dirinya memperbaiki diri.


Albert benar-benar merasa sangat bersyukur karena bisa mempunyai istri sebaik dan setulus Fatimah.


"Terima kasih, Sayang. Kamu memang wanita yang terbaik yang Allah kirimkan untuk diriku, kamu benar-benar wanita yang Allah kirimkan untuk menyempurnakan hidupku."


Albert langsung menangkupkan kedua tangannya di pipi Fatimah, lalu dia pun mengecupi setiap inci wajah istrinya.


Rasa senang begitu menyeruak di dalam dadanya, rasa bangga sekaligus malu bercampur aduk menjadi satu yang dia rasakan kini.


"Terima kasih, ya Allah. Karena engkau telah menghadirkan wanita yang begitu sempurna di dalam hidupku, engkau benar-benar maha baik ya Allah." Kata Albert dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2