
alin mendongak kan wajah nya, dan menatap ke arah sang papah.
" mereka sedang kemana pah. "( alpin) ia kembali bertanya ke arah, sang papah, dan menatap nya, penuh dengan harap.
" ngapain kamu masih menanya kan nya, mereka mau pergi kemana pun, bukan urusan kamu. "( papah alpin) dengan nada sinis nya, ia pun beranjak dari sofa dan ingin meninggal kan, alpin.
tapi sayang, tangan nya di cekal, oleh alpin, papah alpin pun menoleh ke arah alpin.
" lepas. "( papah alpin) dengn nada tegas.
" engga pah, aku mohon sama papah, kasih tau dimana anak aku, sma mamah, aku benar benar merindukan anak aku pah.. ?? "( alpin) dengan tatapan memohon.
" lepas pin, cari tau saja sendiri, buat apa kamu punya anak buah, tapi tidak kamu guna kan. "( papah alpin) ia pun melepas kan cekalan nya, dan meninggal kan sang anak, yg sedang melamun.
alpin tersadar dari lamun nan nya, dan menatap punggung sang papah, yg masuk ke ke kamar nya, ia menghela napas nya, dan merebah kan punggung nya ke sofa.
" eh, aden.. ?? "( bibi)
" sudah lama, aden di sini, mau di buat kan minum. "( bibi) kini sudah berada di samping alpin.
" engga usah bi.. ?? "( alpin) ucap nya lirih.
" aden kenapa, ke lihat tan nya lesu gitu. "( bibi)
" aku ingin ketemu sama sisi bi, aku sangat merindu kan nya, tapi sayang di saat aku ke sini, sisi nya engga ada. "( alpin) dengan tatapan lurus nya.
bibi merasa tidak tega, melihat anak majikan nya , yg terlihat kurus dan banyak pikiran.
semenjak di tinggal oleh alea, tubuh alpin sangat tidak ke urus, bahkan sekarang badan nya, kurus.
berbeda di saat dengan alea, tubuh nya berisi dan selalu rapih.
__ADS_1
" bibi tau engga, sisi dan mamah kemana. "( alpin) dengan tatapan memohon, ke arah bibi.
" bibi engga tau den. "( bibi) ia memaling kan wajah nya, karena ia gugup, sejujur nya ia tahu sang majikan dengan cucu nya, pergi kemana.
cuman ia engga berani bilang, karena majikan nya menanti wanti untuk tidak memberitahu diri nya sedang kemana, karena yg mengetahui nya hanya bibi dan majikan lelaki nya.
" bi, bener bibi engga tahu, dimana mamah sama sisi. "( alpin) ia mengerut kan kening nya
" ia bibi engga tau, dimana nyonya, dan nona muda, cuman bilang nya mau liburan, dan engga bilang mau kemana mana nya. "( bibi) ia berusaha meyakin kan alpin.
alpin mengangguk dan ia pun menuju ke atas, ke kamar sang anak,tanpa berpamitan ke pada bibi.
bibi hanya menghela napas nya, dan menatap punggung alpin.
" semoga, aden selalu bahagia. "( bibi) ucap nya lirih, dan kini ia menuju ke dapur, untuk menerus kan pekerjaan nya, yg sempat tertunda.
cklek.
ia pun merebah kan tubuh nya, di atas kasur sang anak, ia memeluk guling yg biasa di peluk oleh sang putri, ia menganggap guling itu, seperti putri nya.
" sayang, papah sangat merindu kan kamu nak, kamu gimana kabar nya nak, apa kamu engga merasa kan kengen sama papah, maaf kan papah nak, karena papah lebih mementingkan egois papah, ke timbang perasaan kamu nak, papah benar benar menyesal sayang, tolong balik lagi ke papah nak, papah mohon, papah merindu kan rengek kan kamu nak, manja kamu nak, tau engga nak, kalau papah sekarang, sangat merindu kan mamah alea, gimana kabar mamah alea sekarang sayang.. ?? "( alpin) ia berucap sambil terisak, air mata nya, kini tidak terbendung lagi, saking sangat merindu kan sang anak.
" papah mohon nak.. ?? "( alpin)
setelah menangis, mungkin ia lelah, dan terlelap sambil memeluk guling.
sedang kan di tempat berbeda sisi merasa kan rindu ke pada sang papah, sebenci apa pun, ia kepada sang papah, tetap saja ia sayang ke pada papah nya, setiap ia berdoa, ia selip kan nama sang papah, ia selalu berdoa semoga, sang papah sehat.
bukan hanya sisi yg merindu kan sang papah, tapi alea pun merasa kan nya, ia begitu rindu dengan alpin, ia pun mengmbil foto alpin, yg ia simpan di nakas.
" mas, aku sangat merindu kan kamu, apa kamu juga merasa kan rindu, sama seperti aku, jujur aku benci dengan perasaan ini, aku berusaha membenci kamu mas, tapi tetap engga bisa mas, entah kenapa mas, malah makin hati rasa rindu dan cinta aku makin bertambah mas. "( alea) ia mengusap foto alpin, air mata nya pun mengalir di pipi nya begitu deras.
__ADS_1
" nak, apa kamu juga merindu kan papah kamu. "( alea) ia mengusap perut nya, ia seolah olah bertanya ke pada sang anak.
" kamu pasti rindu kan nak, sama papah kamu, nanti kalau sudah waktu nya tiba, pasti kita akan bertemu sama papah ya nak, kalau sekarang mungkin kita, hanya menatap papah di foto saja. "( alea) ia mendekap foto alpin, seolah olah, ia sedang memeluk alpin, setelah lelah menangis ia pun terlelap.
" kenapa alea, engga ke luar luar ya, padahal ini sudah waktu nya makan malam. "( mamah alpin) dengan nada khawatir.
" mungkin mamah ke tiduran omah. "( sisi) ia baru saja datang, dan duduk di depan sang omah.
" mungkin saja sayang, omah ke kamar mamah alea ya, mau melihat mamah alea, kamu makan aja duluan, mau omah alasin sayang. "( mamah alpin) ia mengusap rambut sang cucu, sambil menampil kan senyuman nya.
" engga usah omah, omah ke kamar mamah alea aja, biar aku ambil sendiri nasi nya. "( sisi) ia menampil kan senyum manis nya, ke arah sang omah.
" iya, udah omah ke atas dulu ya sayang. "( mamah alpin).
sisi hanya mengangguk kan kepala nya sebagai jawab ban.
mamah alpin menuju ke kamar alea, yg kebetulan tidak jauh dari ruang makan.
tok.. tok..tok..
hampir 5 menit, mamah alpin mengetuk pintu, tapi alea, tidak ke luar juga, membuat hati mamah alpin merasa khawatir.
ia pun memberani kam diri untuk masuk, dan kebetulan, pintu nya tidak terkunci.
cklek.
mamah alpin pun langsung melihat ke arah kasur, terlihat alea yg sedang memejam kan mata nya, ia mengkerut kan kening nya, karena melihat alea mendekap sebuah bingkai foto.
ia pun mengambil foto tersebut, secara perlahan, supaya tidak membangun kan alea, terlihat sisa air mata alea, yg masih membasahi pipi nya , membuat hati nya terenyuh.
ia pun membalik kam foto tersebut, ia membulat kan mata nya, karena kaget, melihat foto tersebut.
__ADS_1