
Pagi-pagi sekali Fatimah sudah terlihat rapi dan juga cantik, dia melangkahkan kakinya menuju dapur dan langsung membantu Aliana yang sedang membuat sarapan pagi.
Hari ini Aliana tida memasak makanan berat, karena hari ini dia sedang ingin sarapan sandwich dengan segelas susu.
Begitulah kegiatan ibu hamil itu, selalu saja menyempatkan diri untuk membuat sarapannya sendiri. Walaupun ada asisten rumah tangga.
Namun, menu makanannya selalu terserah padanya. Beruntung Aby selalu menyukai setiap masakan apa pun yang dibuat oleh Alina.
Fatimah terlihat begitu cekatan dalam mempersiapkan bahan-bahannya, sedangkan Aliana terlihat memasak daging untuk isian sandwichnya.
Setelah semuanya siap, Aliana pun langsung meninggalkan Fatimah untuk memanggil Aby, suaminya. Sedangkan Fatimah terlihat membuatkan segelas susu hamil untuk Aliana, kopi untuk Abi dan juga segelas susu hangat untuk dirinya.
Sebenarnya dia juga menyukai kopi, tapi... karena kondisi tubuhnya sedang terasa tidak fit dia pun memutuskan untuk meminum susu hangat saja.
Tak lama kemudian Aby dan Aliana pun datang dengan setelan kerjanya, dia langsung ikut bergabung dengan Fatimah.
"Selamat pagi, Kak," sapa Aby.
"Selamat pagi adikku, Sayang," balas sapa Fatimah.
Saat melihat penampilan Fatimah, Aby terlihat mengernyit heran.
"Kakak mau ke mana? Kenapa terlihat rapi sekali?" tanya Aby.
Fatimah memandang Aby dengan lekat, lalu dia tersenyum dengan sangat manis sekali.
"Aku ingin ikut ke Caffe kamu, bisa? Kakak pengen kerja di sana," jawab Fatimah.
Aby benar-benar sangat kaget saat mendengar ucapan Fatimah, apa dia tidak salah dengar?
"Ya ampun, Kakak. Kakak itu disini mau bersenang-senang, bukan untuk bekerja," kata Aby.
Aby berbicara dengan nada penuh protes, rasanya dia sangat tak enak hati jika Kakaknya datang kesana malah untuk bekerja.
"Tapi, By. Kalau Kakak bekerja di Caffe kamu, Kakak yakin pasti Kakak akan merasa lebih bahagia. Karena Kakak bisa bertemu dengan banyak orang di sana," ucap Fatimah dengan nada protes.
Aby dan Aliana saling pandang, kemudian Aliana terlihat menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Kak. Apa pun yang membuatmu senang, akan aku kabulkan," ucap Aby.
Wajah Fatimah terlihat sangat bahagia, karena keinginannya dikabulkan oleh Adik tercintanya.
"Terima kasih, By," kata Fatimah tulus.
__ADS_1
Aby langsung menggelengkan kepalanya, dia merasa tak habis pikir dengan pemikiran Kakaknya tersebut.
"Tapi, Kak. Aku tidak bisa menggajimu dengan uang yang besar," kata Aby.
"Ya Allah, Aby. Kakak cuma ingin menghibur diri dengan menyibukan diri, bukan ingin mencari gaji. Uang Kakak banyak," jawab Fatimah.
Dia terlihat membusungkan dadanya lalu memeluknya dengan perlahan, Fatimah terlihat Jumawa.
"Iya, tahu-tahu. Kakak nggak kerja juga duitnya udah numpuk, ngalir terus," kata Aby.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Aby, Fatimah dan Aliana langsung tertawa.
"Sudah-sudah, sekarang kita sarapan dulu. Nanti setelah itu baru boleh mengobrol lagi," kata Aliana.
"Siap Nyonya Bos," jawab Aby.
Akhirnya mereka bertiga pun melakukan ritual sarapan pagi, tentunya tanpa adanya Delina. Karena putri kecil Aby itu selalu bangun pukul sembilan pagi.
Anak itu memang doyan sekali tidur, namun tak apa menurut Aliana. Karena memang Delina masih balita, masih butuh waktu lama untuk tidur.
Bahkan untuk Aliana, justru itu mempermudah dirinya yang sedang hamil muda. Dia merasa sangat beruntung, apa lagi putrinya itu tak pernah rewel sama sekali.
Jadi, dia bisa terus melakukan aktivitasnya dengan sangat baik. Karena walaupun dia di rumah, namun dia tetap mengerjakan pekerjaannya sebagai pengelola Resto miliknya.
Hari-harinya selalu sibuk dengan email masuk yang harus dia periksa dan banyak lagi yang lainnya.
"Ya, aku juga sudah selesai. Sebaiknya kita segera berangkat," ucap Aby.
"Siap," jawab Fatimah.
Tentunya sebelum berangkat Aby pun berpamitan terlebih dahulu kepada Aliana, seperti biasanya... dia akan mengecup dan mengelus perut Aliana. Kemudian, barulah dia mengecup bibir istrinya dengan mesra.
"Daddy berangkat kerja dulu, Dede hati-hati di rumah sama Mommy. Jangan nakal!" ucap Aby sebelum pergi ke Caffe.
"Yes, Daddy," jawab Aliana.
Melihat kemesraan antara Aby dan Aliana, Fatimah langsung tersenyum kecut. Dia pun jadi teringat akan Rudi, ya... walau bagaimanapun juga, Rudi tak pernah bersikap kasar padanya.
Terkecuali saat pemanasan di malam kelam itu, itu semua juga terjadi bukan karena murni keinginannya Rudi.
Namun, karena pengaruh buruk dari video yang dia dapatkan dan juga pengaruh dari minuman beralkohol yang dia minum.
"Kakak juga pergi dulu, maaf tidak bisa menemani kamu di rumah," ucap Fatimah seraya mengelus lembut tangan Aliana.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Kak," jawab Aliana.
Setelah berpamitan, Aby dan Fatimah pun langsung pergi menuju Caffe. Sampai di sana ternyata sudah banyak pengunjung, tanpa basa-basi Fatimah pun langsung melangkahkan kakinya menuju meja kasir, dia mengambil buku dan juga bolpoint.
"Mau apa?" tanya Aby.
"Mau melayani pengunjung dong, mau bantu pelayan yang ada di sini," jawab Fatimah semangat.
Aby langsung tersenyum hangat mendengar ucapan kakaknya, apa pagi saat melihat semangat Fatimah.
"Terserah Kakak saja, apa pun yang ingin Kakak lakukan, maka lakukanlah. Aku tidak akan melarangnya, yang penting kakak senang," ucap Aby.
"Terima kasih," ucap Fatimah.
"Sama-sama, Kak. Aku mau ke ruanganku dulu," pamit Aby.
Tentu saja sebelum dia pergi, dia pun mengenalkan kakaknya terlebih dahulu kepada para pelayan yang bekerja di sana.
"Ya, pergilah," ucap Fatimah.
Setelah Aby pergi ke dalam ruangannya, Fatimah pun langsung menghampiri pengunjung yang baru saja datang.
Menurut Fatimah penampilan orang tersebut terlihat sangat aneh, dia memakai masker, topi dan juga kacamata hitam.
Penampilannya benar-benar sangat tertutup, bahkan terkesan aneh menurut Fatimah.
Fatimah merasa curiga, namun buru-buru dia menepis perasaan curiga tersebut. Mungkin saja orang tersebut sedang terkena flu, pikirnya.
Jadi, harus memakai masker agar tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain.
Mungkin juga matanya terlihat memerah karena iritasi, jadi dia memakai kacamata itulah pikir Fatimah.
"Mau pesan apa, Tuan?" tanya Fatimah.
"Mau pesen kamu aja, boleh?" tanya lelaki tersebut.
Fatimah seakan mengenali suara lelaki tersebut, namun dia begitu sulit untuk melihat wajah lelaki tersebut. Karena dia terus saja menunduk.
"Maaf, anda mau memesan apa. Tolong jangan bercanda," ucap Fatimah seakan mungkin.
Terdengar suara tawa dari bibir kelaki tersebut, lalu lelaki itu pun nampak mendongakkan kepalanya. Dia membuka kacamatanya, masker dan juga topinya.
Mata Fatimah langsung membulat dengan sempurna, saat melihat lelaki yang kini tengah duduk tepat berada di hadapannya.
__ADS_1
"Al! Kamu ngapain di sini? Kamu ngikutin aku sampai ke sini?" tanya Fatimah.
"Ge-er, ini tanah kelahiranku, Ra. Jangan ngaco!" kilah Albert.