
Fatimah terlihat belum sadarkan diri, Albert terlihat begitu resah. Dia takut terjadi apa-apa dengan istrinya tersebut, karena sudah hampir satu jam dia menunggu istrinya namun tak jua Fatimah membuka matanya.
Albert sempat bertanya kepada dokter, katanya itu hal yang lumrah. Karena kondisi Fatimah sangat stabil, dia hanya merasa lelah. Hal itu membuat dirinya belum ingin membuka matanya.
Namun semua kondisi kesehatannya sangatlah normal, bahkan pada akhirnya dokter kandungan pun memeriksakan kondisi kehamilan Fatimah saat Fatimah tidak sadarkan diri.
Itu semua Albert lakukan, karena Albert merasa tidak sabar ingin segera mengetahui kondisi janin yang ada di perut istrinya.
Dokter pun berkata jika ke kondisi Fatimah sangatlah sehat, begitu pun dengan bayi yang dikandung di dalam rahim Fatimah.
Usia kehamilan Fatimah sudah masuk 6 minggu, Albert senang karena akhirnya dia akan segera dikaruniai keturunan.
Namun dia juga merasa sedih, karena Fatimah seakan begitu enggan untuk membuka matanya.
Aksa dan Najma sudah pulang ke rumahnya, awalnya mereka ingin menunggui Fatimah. Tapi Albert meyakinkan jika dialah yang akan menungguinya, lagi pula kedua mertuanya tersebut membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Sudah dapat dipastikan jika tubuh mereka sangatlah lelah, setelah berlibur di Bali. Karena yang Albert tahu, baik Najma atau pun Aksa, mereka tak pernah ada di Villa.
Namun, mereka selalu saja berkeliling untuk mencari tempat yang asyik untuk berlibur. Hanya pada malam hari saja mereka berada di dalam Villa.
Itu juga karena mereka kelelahan setelah seharian menghabiskan waktu untuk berlibur, kedua mertuanya itu benar-benar luar biasa menurut Albert.
Umurnya boleh sudah setengah abad, namun staminanya benar-benar seperti anak remaja. Selalu kuat dan tanpa keluhan.
Albert terlihat menggenggam tangan Fatimah, lalu dia mengecup punggung tangan Fatimah dengan sangat lembut.
"Sayang, bangun. Ini sudah terlalu lama kamu memejamkan mata, apa kamu tidak ingin mengetahui jika kamu sekarang sedang mengandung?" tanya Albert lirih.
Dia tatap wajah istrinya yang terlihat memucat, dia usap puncak kepala istrinya. Lalu dia kecup kening istrinya dengan sangat lembut.
Tatapan mata Albert lalu beralih pada perut istrinya, dia usap dengan lembut dan dia kecup beberapa kali perut istrinya tersebut.
"Baik-baik di dalam perut Bunda, ya, Sayang. Jangan nakal, jangan bikin Bunda sedih dan nangis. Apa lagi sampai bikin Bunda sakit kayak gini," ucap Albert.
Entah calon bayi mereka mengerti atau tidak dengan apa yang diucapkan oleh Albert, yang penting menurut Albert dia sudah memberikan rangsangan terhadap calon bayi mereka.
Tak lama kemudian, Fatimah nampak tersadar. Dia terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali, tak lama matanya mulai terbuka dengan sempurna.
__ADS_1
Lalu, dia menatap wajah suaminya dengan lekat. Dia tersenyum lalu mengusap wajah suaminya dengan lembut.
"Aku pingsan ya, Mas? Maaf karena sudah membuat kamu khawatir," ucapan Fatimah penuh sesal.
"Tak apa, Sayang. Yang penting sekarang kamu sudah sadar, apa ada yang sakit?" tanya Albert.
Fatimah terlihat tersenyum dengan sangat manis ke arah suaminya, dia begitu senang karena Albert sangat perhatian kepada dirinya.
Berbeda dengan saat dia menikah dengan Rudi, Rudi selalu berkata jika dirinya menyayangi dan mencintai Fatimah.
Namun pada kenyataannya, dia selalu saja lebih memperhatikan Audy dari pada dirinya. Walaupun pada saat pertemuan terakhirnya dengan Rudi, dia bisa melihat ketulusan di mata Rudi.
Saat terakhir dia bertemu dengan Rudi, dia bisa melihat ada cinta di mata Rudi yang sangat besar untuk dirinya.
Entahlah, Fatimah tidak paham dengan isi dari pikiran Rudi. Fatimah tidak paham dengan bagaimana cara berpikir mantan suaminya tersebut.
"Tidak ada, tidak ada yang sakit sama sekali," jawab Fatimah.
"Kamu tahu, Sayang? Dokter berkata jika di rahim kamu sekarang sedang berkembang satu nyawa, apa kamu senang?" tanya Albert.
Mendengar ucapan dari suaminya, mata Fatimah terlihat membulat dengan sempurna. Dia tidak menyangka jika di hari ini akan mendapatkan kejutan yang sangat menyenangkan, hal yang benar-benar dia inginkan sejak lama.
Albert terlihat tersenyum, lalu dia menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Ya, Sayang. Kamh hamil," jawab Albert.
"Aku sangat senang," kata Fatimah.
Fatimah terlihat berusaha untuk bangun, Albert pun langsung membantu istrinya tersebut. Fatimah lalu menubrukkan tubuhnya ke tubuh suaminya.
Albert langsung terkekeh mendapat perlakuan tersebut dari istrinya, Fatimah terlihat seperti anak kecil yang mendapatkan mainan yang sangat diinginkan.
Wajah Fatimah terlihat berseri, dia terlihat sangat bahagia. Albert pun menjadi ikut bahagia dibuatnya.
*/*
Sore hari pun telah menjelang, keadaan Fatimah memang sudah lebih baik. Oleh karena itu Fatimah pun meminta untuk pulang, karena keadaan Fatimah yang sudah stabil, dokter pun mengizinkan.
__ADS_1
Fatimah terlihat sangat senang sekali, bahkan selama perjalanan pulang bibirnya tak hentinya menyunggingkan senyuman.
Albert pun turut senang, karena ternyata keanehan yang terjadi pada istrinya bukan tanpa sebab. Tapi, itu semua terjadi karena Baby yang sedang dikandung oleh istrinya tersebut.
Tiba di rumah, Fatimah terlihat sangat bahagia sekali. Dia seperti sudah lama meninggalkan rumahnya tersebut, dia langsung masuk kedalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur kesayangannya.
"Oh, leganya bisa mencium wangi rumah." Fatimah terlihat menggoyang-goyangkan kaki dan tangannya.
Melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil, Albert hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
Albert kemudian menghampiri istrinya dan mengecupi setiap inci wajahnya.
"Terima kasih, Sayang. Karena kamu sudah memberikan kebahagiaan yang sangat besar untukku," ucap Albert.
"Sama-sama, Sayang." Fatimah langsung menarik tengkuk leher suaminya dan menautkan bibirnya.
Albert pun dengan senang hati membalas tautan bibir istrinya, setelah beberapa hari tak mendapatkan sentuhan dari istrinya. Akhirnya dia pun bisa kembali merasakan manisnya madu dari bibir istrinya tersebut.
"Nakal!" ucap Albert setelah tautan bibir mereka terlepas.
Fatimah terlihat tersenyum, lalu dia memukul pundak suaminya dengan perlahan.
"Tapi kamu menyukainya, bahkan kamu sangat menikmatinya," ucap Fatimah.
"Ya, bahkan Mas jadi pengen itu." Albert menunjuk milik istrinya dengan ekor matanya.
Fatimah terlihat tertawa, lalu dia pun mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat di telinga suaminya.
"Badanku sudah terasa sangat segar, sekarang Mas boleh melakukannya." Albert langsung menjauhkan wajahnya saat mendengar pernyataan dari istrinya.
Dia tatap wajah istrinya dengan sangat lekat, lalu dia pun bertanya kepada istrinya.
"Jadi, Mas boleh ngelakuin itu?" tanya Albert dengan binar bahagianya.
"Boleh, Mas. Aku juga pengen, Mas. Aku rindu dimanjain sama kamu," ucap Fatimah malu-malu.
"Ya ampun!"
__ADS_1
Albert langsung bangun dan melucuti pakaiannya, dia sudah merasa tak sabar untuk melakukan penyatuan dengan tubuh istrinya.