Hati Yang Kau Sakiti

Hati Yang Kau Sakiti
Hanya Diam


__ADS_3

Albert terus aja mengucapkan kata maafnya, namun Fatimah seakan enggan untuk menjawab.


Dia malah memeluk Albert dengan sangat erat, Albert benar-benar takut dengan respon dari Fatimah.


Dia terus aja menangis sambil mengecupi puncak kepala istrinya, Fatimah memang merasa kecewa saat mendengar pengakuan dari Albert.


Karena dia kira jika Albert benar lelaki baik yang Tuhan kirimkan untuk dirinya, namun kembali Fatimah berpikir jika yang Albert katakan hanyalah masa lalunya.


Albert datang di kehidupannya setelah dia menjadi pria yang lebih baik, Fatimah tidak sepantasnya merasa kecewa.


Justru seharusnya dia merasa senang karena mendapatkan lelaki seperti Albert, Fatimah seharusnya merasa bangga karena mendapatkan suami yang benar-benar mencintai dan menyayanginya dengan tulus.


Fatimah juga berpikir, jika ini memanglah jalan yang sudah Tuhan siapkan untuk dirinya. Di pernikahannya yang pertama dia mendapatkan suami yang awalnya mau menikah dengannya karena harta, lalu menceraikan dirinya ketika dia sudah melihat kebaikan di dalam diri Rudi.


Lalu, sekarang dia menikah dengan lelaki yang terlihat baik dan sempurna. Namun, mempunyai masa lalu yang kelam.


Fatimah ingin sekali marah, namun dia juga sadar jika dirinya juga bukan wanita yang sempurna. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh pepatah, 'sempurnakanlah dirimu jika ingin mendapatkan jodoh yang sempurna'.


Pada kenyataannya Fatimah pun tak pernah berusaha untuk memperbaiki dirinya, tak pernah menyempurnakan akhlaknya dan tak pernah memantapkan dirinya dalam masalah menjemput jodohnya.


Namun ada kalimat yang membuat hati Fatimah terenyuh, Albert berkata jika dia bisa lebih baik karena setelah mengenal dirinya, tanpa terasa air mata Fatimah pun langsung turun dari tempat peraduannya.


Albert yang merasa jika dadanya basah sangat tahu jika Fatimah sedang menangis, dia pun berusaha untuk melerai pelukannya.


Namun, Fatimah malah tambah mengencangkan pelukannya. Dia seolah enggan untuk berjauhan dari suaminya tersebut.


"Sayang, jangan diemin aku. Ucapkan kata apa pun yang ada di dalam hatimu, jangan membuat aku bingung seperti ini." Kembali Albert berusaha melerai pelukannya.


Sayangnya Fatimah masih enggan melepaskan pelukannya, dia malah makin mengeratkan pelukannya pada lelaki yang kini telah menjadi suaminya itu.


"Sayang!" ucap Albert mengiba.


"Jangan katakan apa pun, Mas. Aku hanya ingin memelukmu dengan erat," ucap Fatimah lirih.


Albert menurut, dia hanya diam sambil mengecupi puncak kepala istrinya. Menurutnya, Fatimah mungkin butuh waktu untuk berdamai dengan hatinya.


Hati Albert sebenarnya merasa sedikit lega, karena respon Fatimah tak seperti yang dia bayangkan.

__ADS_1


Dia kira Fatimah akan mengamuk sambil memukuli dirinya dan melemparkan semua barang-barang yang ada di kamarnya seperti di dalam adegan sebuah sinetron.


Namun ternyata, Fatimah bisa menyikapinya dengan baik. Fatimah bisa bersikap dengan dewasa, membuat Albert makin mencintai dirinya.


Cukup lama Albert memeluk Fatimah, hingga dia merasa jika napas Fatimah terdengar lebih teratur. Pegangan tangannya pun terasa mengendur.


Albert berusaha untuk melerai pelukannya, lalu dia menatap wajah cantik istrinya. Seulas senyum terbit dari bibirnya.


"Kamu malah tidur, cape ya? Maafin Mas ya, Sayang. Maaf karena aku tidak jujur dari awal, aku takut kamu bakalan tinggalin aku," kata Albert.


Albert mengecup bibir istrinya, lalu membenahi selimutnya dan segera turun dari ranjang.


Albert langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dia lalu membersihkan tubuhnya sebelum dia pergi ke dapur.


Ya, Albert ingin memasak untuk makan siang bersama dengan istrinya. Istrinya pasti sangat lelah, pikirnya.


Setelah menghabiskan waktu selama lima belas menit, Albert nampak sudah berada di dapur. Dia sudah mulai bergulat dengan peralatan dapur dan juga beberapa bahan makanan yang sudah dia siapkan.


Para pelayan nampak menghampiri Albert dengan perasaan tak enak hati, karena tuan mereka nampak sibuk sendiri di dapur.


"Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pelayan.


Setelah mendapatkan jawaban dari Albert, beberapa pelayan tersebut pun nampak berpamitan kepada Albert.


Walaupun mereka nampak tak enak hati, tapi mereka tak bisa mencegah keinginan Albert untuk memasak.


Albert memang pandai memasak, karena semenjak kuliah dia memutuskan untuk tinggal di rumah yang dia beli dari hasil keringatnya sendiri.


Satu jam bergulat di dapur, Albert sudah memasak makanan yang disukai oleh istrinya. Dia pun sudah menata setiap masakan yang dia masak di atas meja makan.


Senyum di bibirnya nampak mengembang dengan sempurna kala melihat hasil masakannya yang terlihat memuaskan.


"Arra pasti suka," ucap Albert.


Setelah melihat makanan yang dia masak terhidang dengan sempurna, Albert lalu mencuci tangannya. Setelah itu, dia pun langsung melangkahkan kakinya menuju kamar utama.


Saat dia masuk, Fatimah terlihat masih terlelap dalam tidurnya. Albert langsung menghampirinya dan mengelus lembut puncak kepala istrinya.

__ADS_1


"Bangun, Yang. Aku sudah masak untuk kamu," ucap Albert lembut.


Fatimah terlihat menggeliatkan tubuhnya, lalu dia mengusap matanya yang terasa semua sembab karena terlalu lama menangis.


"Ada apa, Mas?" tanya Fatimah dengan suara seraknya.


"Mas sudah masakin makanan kesukaan kamu, sekarang bangun terus mandi. Nanti kita makan bareng," ajak Albert.


"Iya," jawab Fatimah dengan suara lemahnya.


Fatimah terlihat bangun, lalu dia menarik kimono mandi yang berada di atas sofa pinggir tempat tidur. Dia pun memakai kimono mandi tersebut dan langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Albert hanya bisa menatap punggung istrinya yang menghilang di balik pintu kamar mandi, ada sedikit rasa sedih di dalam hatinya saat melihat wajah Fatimah tanpa senyum seperti biasanya.


Sangat terlihat sekali gurat kekecewaan di wajah cantiknya, pnamun Fatimah terlihat berusaha untuk bersikap tenang di depan Albert.


Selama Fatimah mandi, Albert berusaha untuk menjadi suami yang baik. Dia mengambilkan baju rumahan untuk Fatimah.


Saat istrinya keluar dari kamar mandi, Albert langsung menghampirinya dan menggendong istrinya. Lalu, Albert pun mendudukkan Fatimah di depan meja rias.


Fatimah terlihat diam saja sambil menatap wajah tampan suaminya dari pantulan cermin, tatapannya terlihat datar tanpa senyum.


Albert berusaha untuk tidak menyinggung perasaan istrinya, dia sengaja tak berbicara apa pun lagi. Tanganya dengan lincah mengambil hair dryer dan langsung mengeringkan rambut Fatimah.


Setelah rambut Fatimah terlihat kering, Albert pun lalu mengambil baju yang sudah dia siapkan untuk Fatimah.


Albert lalu melepaskan kimono mandi milik istrinya, kemudian dia pun memakaikan baju untuk Fatimah. Albert juga mengikatkan rambut Fatimah dan memakaikan hijab untuk istrinya tersebut.


"Sudah cantik, sekarang kita makan dulu," ajak Albert.


Albert lalu merangkul pundak istrinya, dia pun menuntun Fatimah agar mau melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Karena di sana, Albert sudah menyiapkan makanan yang sangat disukai oleh istrinya.


Fatimah terlihat menurut, tak ada penolakan atau pun kata yang keluar dari bibir Fatimah, dia hanya diam sambil mengikuti langkah Albert.


Sebenarnya Albert merasa tidak nyaman, namun dia juga tak mungkin mencecar istrinya agar mau berbicara dengan dirinya.


Albert sudah pasrah, menurutnya Fatimah sudah dewasa. Biarlah Fatimah yang menentukan, akan seperti apa rumah tangganya nanti dengan dirinya.

__ADS_1


Namun, jauh di dalam lubuk hatinya. Albert tetap berdo'a kepada Sang Khalik, jika dia menginginkan kelanggengan rumah tangganya dengan Fatimah.


__ADS_2