
Kebosanan kembali menerpa kala Fatimah sedang sendirian, hari ini pekerjaan kantor tak terlalu banyak, jadi Fatimah bisa menghabiskan banyak waktu untuk bersantai.
Sebenarnya pekerjaan kantor itu sangatlah banyak, namun karena Cristhina masih bisa menyelesaikannya, Cristhina pun tak mau merepotkan Fatimah.
Karena dia sangatlah sadar diri, jika Fatimah menggajinya dengan nominal yang fantastis.
"Ck! Baru juga jam sepuluh, tapi udah bete." Fatimah terlihat menekuk wajahnya.
Dia terlihat berpikir, kira-kira mengerjakan hal apa yang bisa membuat hatinya merasa senang.
Hingga sebuah ide pun terlintas di benaknya, Fatimah pun memutuskan untuk memasak. Dia ingin pergi ke kantor Albert dan memberikan kejutan kepada suaminya tersebut.
Fatimah pun langsung melangkahkan kakinya menuju dapur, dia segera membuka lemari pendingin dan mencari bahan makanan yang bisa dimasak.
Dia tahu jika suaminya tidak menyukai pedas, maka dari itu dia pun memilah-milah bahan masakan apa saja yang bisa diolah tanpa rasa pedas tapi bisa menghasilkan rasa yang enak.
Melihat Fatimah berjibaku di dapur, seorang pelayan pun langsung menghampiri Fatimah.
"Apa yang sedang Nyonya lakukan di dapur? Tuan Albert sudah berpesan, jika Nyonya tak boleh melakukan hal apa pun," ucap pelayan tersebut.
"Tidak apa-apa, Bi. Aku hanya ingin memasak untuk suamiku," kata Fatimah.
"Tapi, Nyonya. Nyonya tidak boleh capek, nanti saya dimarahin sama Tuan Albert," ucap Bibi dengan raut takut.
"Tidak akan, karena Bibi akan membantuku untuk memasak," jawab Fatimah.
Bibi terlihat ragu untuk mengiyakan, karena Albert sudah berpesan jika Fatimah tak boleh melakukan apa pun di rumah.
Namun, dia juga tak enak hati terhadap majikannya tersebut.
"Baiklah, Nyonya. Saya akan membantu Nyonya, biar saya yang menyiapkan semuanya. Nyonya tinggal memasaknya saja," ucap Bibi pada akhirnya.
Fatimah terlihat tersenyum lalu mengelus lembut tangan Bibi tersebut, dia senang karena Bibi mau mengerti.
"Baiklah, yang penting Bibi mau membantuku," ucap Fatimah.
Bibi pun menganggukkan kepalanya dengan pasti, tentu saja dia akan membantu. Karena itu memang tugasnya.
__ADS_1
Bibi dan Fatimah pun kini berkutat di dapur dengan bahan masakan yang sudah disiapkan oleh Fatimah.
Fatimah yang sudah lama tak diizinkan untuk menginjakkan kakinya di dapur, terlihat senang luar biasa.
Satu jam kemudian, masakan yang sesuai dengan keinginan Fatimah pun sudah siap. Fatimah pun langsung meminta Bibi untuk memasukkan makanan tersebut ke dalam kotak bekal.
"Bi, tolong dimasukin ke kotak bekal ya, makanannya. Kotak bekalnya yang tahan panas, biar nanti kalau sampai kantor masakan yang kita bikin tetap hangat," kata Fatimah.
"Iya, Nyonya," jawab Bibi.
"Aku tinggal dulu, Bi. Mau mandi dulu soalnya," kata Fatimah.
"Iya, Nyonya," jawab Bibi.
Setelah mendapatkan jawaban dari Bibi, Fatimah pun langsung melangkahkan kakinya menuju kamar utama.
Dia langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, tak mungkin bukan jika dia akan pergi ke kantor Albert dengan keadaan tubuhnya yang bau dengan masakan?
Selesai dengan ritual mandinya, Fatimah langsung duduk di depan meja rias. Dia pun langsung mengeringkan rambutnya, kemudian dia pun memoles wajahnya dengan make up tipis.
Lalu dia memoles bibirnya dengan gincu berwarna merah muda, memakai maskara dan sedikit blash on agar pipinya terlihat merona.
Setelah merasa selesai dengan dandanannya, Fatimah pun langsung masuk kedalam walk-in closet untuk mengganti pakaiannya.
Baju gamis kekinian dia pilih untuk dia pakai, terlihat sangat cantik dan juga menggemaskan menurutnya.
Setelah memakai gamis lengkap dengan kerudungnya, Fatimah terlihat kembali mematut dirinya di depan cermin. Dia mengelus lembut perutnya, lalu terlihat tersenyum.
"Kita ke kantor Ayah, ya, Nak. Kita bikin kejutan buat Ayah," ucap Fatimah seraya mengelus lembut perut buncitnya.
Setelah merasa siap, Fatimah pun segera keluar dari kamar utama menuju dapur.
"Sudah siap, Bi?" tanya Fatimah penuh semangat.
"Sudah, Nyonya," jawab Bibi.
Fatimah tersenyum, lalu dia pun langsung membawa bekal yang sudah disiapkan Bibi. Dia langsung meminta pak sopir untuk mengantarkannya menuju perusahaan milik Albert.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju perusahaan Albert senyum Fatimah tak henti mengembang.
Dia benar-benar merasa senang, karena selain dia akan bertemu dengan suaminya. Dia juga bisa merasakan udara luar, walaupun Jakarta selalu terik dan juga banyak polusinya.
Tapi, dia merasa sangat senang. Karena pada akhirnya, Fatimah bisa bebas dari sangkar emasnya.
Tiba di perusahaan milik Albert, Fatimah langsung masuk. Semua karyawan yang melihat Fatimah langsung membungkuk hormat.
Mereka sangat tahu siapa Fatimah, selain Fatimah adalah istri dari bos mereka. Mereka juga sangat tahu, jika Fatimah adalah pemimpin dari salah satu perusahaan terbesar di Jakarta.
Fatimah pun langsung tersenyum hangat ke arah para karyawan suaminya, tiba di depan ruangan Albert, dengan perlahan dia mendorong pintu ruangan suaminya.
Dia sudah tidak sabar memberikan kejutan untuk suaminya tersebut, namun pada saat pintu terbuka, bukan dia yang memberikan kejutan.
Akan tetapi, Fatimah yang sangat terkejut, karena dia melihat seorang wanita yang sedang duduk di pangkuan Albert.
Fatimah langsung melemparkan kotak bekal yang dia bawa, ke arah suaminya.
PRANG !
Kotak bakal tersebut langsung berhamburan tepat di di dekat kaki Albert, sontak perempuan yang duduk di pangkuan Albert pun langsung berjingkat kaget.
Begitu pun dengan Albert, dia tak kalah kagetnya saat melihat Fatimah yang kini berada di ambang pintu dengan sorot mata penuh kemarahan.
"R--Ra, ini semua tak seperti yang kamu kira." Albert mencoba melangkahkan kakinya untuk menghampiri istrinya.
Namun, Fatimah langsung menahan langkah Albert dengan gerakan tangannya.
"Memangnya apa yang aku kira?" tanya Fatimah dengan raut wajah datarnya.
"Kamu pasti mengira kalau aku sedang berselingkuh dengan Alice, iya kan?" tanya Albert.
Fatimah memandang Albert dan perempuan yang Albert kata bernama Alice secara bergantian, lalu dia pun tersenyum getir ketika menyadari jika perempuan tersebut adalah perempuan yang bertemu di Rumah Sakit dengan dirinya.
"Apa dia memintamu untuk bertanggung jawab?" tanya Fatimah tanpa menjawab pertanyaan Albert.
Albert terlihat menunduk karena yang dikatakan Fatimah adalah benar adanya, selama satu minggu ini Alice selalu saja datang ke perusahaannya.
__ADS_1
Dia meminta Albert untuk bertanggung jawab, karena kini dirinya harus menjalani perawatan intensif.