Hati Yang Kau Sakiti

Hati Yang Kau Sakiti
Jawaban


__ADS_3

Mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang yang tidak Fatimah kenal, membuat Fatimah terlihat sangat ketakutan.


Tubuhnya masih terlihat bergetar, air matanya terus mengalir. Hal itu membuat Albert iba, dia merasa kasihan melihat keadaan Fatimah.


Beruntung Albert tak benar-benar meninggalkan Fatimah selama satu minggu ini, setiap hari dia selalu mengikuti wanitanya.


Tentu saja karena dia selalu rindu jika tak bertemu sehari saja. Dia seolah tak bisa berjauhan dari Fatimah, dia selalu ingin dekat dengan Fatimah.


Makanya Albert ingin sekali untuk segera melamar dan menikahi Fatimah, agar hatinya tak lagi resah dan gundah gulana.


Lalu, tanpa Albert duga, Fatimah langsung memeluk Albert dengan sangat erat.


"Terima kasih, Al. Terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan aku," Fatimah tersenyum namun air matanya tetap saja mengalir dengan deras.


Albert terlihat menaikan kedua tangannya, bukannya tak ingin membalas pelukan dari Fatimah. Namun dia takut khilaf, dia takut malah menarik tengkuk leher Fatomah dan menuntunnya di dalam mobilnya.


"Sama-sama, Arra. Tapi, bisakah kamu melepaskan pelukan kamu?" tanya Akbert dengan tatapan penuh permohonan.


Fatimah terlihat melerai pelukannya, lalu dia pun menatap Albert dengan sangat lekat.


"Kenapa Al? Apa aku sudah melakukan kesalahan?" tanya Fatimah dengan wajah sendunya.


"Bu--bukan seperti itu, Ra. Namun, kamu tahu sendiri kan jika aku hanya takut khilaf saja jika kamu terus memelukku seperti tadi," ucap Albert dengan wajah yang sangat serius.


Fatimah pun langsung tersenyum, lalu dia mendaratkan pukulannya tepat di dada Albert.


"Kamu nakal, Al!" ucap Fatimah.


Mendengar ucapan Fatimah, Albert hanya bisa tersenyum kecut. Rasanya ingin sekali dia menanyakan keputusan Fatimah saat itu juga, namun takut menyinggung perasaan Fatimah.


Sepanjang perjalanan pulang, Albert dan juga Fatimah hanya saling terdiam. Sesekali Fatimah melirik kearah Albert yang terlihat serius menatap ke arah jalanan.


Fatimah benar-benar merasa sangat bersyukur, karena di saat susah seperti itu Albert datang untuk menolongnya.


Tak lama kemudian, mobil mewah milik Albert pun berhenti tepat di kediaman Aby. Dengan cepat sang sopir turun untuk membukakan pintu untuk Fatimah dan juga untuk Albert.


Aby dan Aliana yang sedari tadi menunggu Kakaknya langsung menghampiri mobil Albert, mereka yang merasa sangat penasaran kenapa Fatimah tak juga kunjung pulang, ingin segera menanyakannya.

__ADS_1


Tentunya mereka juga penasaran, kenapa Fatimah bisa pulang bersama dengan Albert yang katanya tidak akan menemui Fatimah selama satu minggu.


"Kenapa Kakak lama sekali? Kenapa juga Kakak bisa pulang sama Kak Al?" tanya Aby.


Terlihat dengan sangat jelas raut kekhawatiran di wajah Aby, dia merasa takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap kakaknya tersebut.


"Maafkan Kakak, tadi Kakak keasikan main di taman. Jadi pas pulang hari sudah gelap, kamu tahu By? Tadi Kakak berada dalam bahaya, beruntung ada Albert yang menolong Kakak," adu Fatimah .


"Tuh kan, Kak. Aku kan sudah bilang jangan kelayapan jauh-jauh," ucap Aby.


"Maaf, ucap Fatimah.


"Ya sudah, sekarang Kakak masuk," titah Aby.


"Baiklah," ucap Fatimah.


"Ayo, Kak Al, juga harus masuk. Waktu salat maghrib sudah mau habis," ajak Aby.


"Ya, kamu benar," jawab Albert.


Akhirnya mereka berempat pun langsung masuk kedalam rumah Aby, Fatimah terlihat masuk ke dalam kamarnya.


Tentu saja Aby pun langsung mengizinkan, setelah selesai melaksanakan shalat maghrib Albert pun langsung menghampiri Aby dan Aliana yang sedang berada di ruang keluarga.


"Sudah selesai, Kak?" tanya Aby.


"Sudah, sekarang Kakak mau berpamitan untuk pulang karena hari sudah mulai malam," ucap Albert.


"Jangan, Kak. Jangan pulang dulu, bagaimana kalau Kakak makan malam dulu di rumah bersama dengan kami? Ini sebagai tanda ucapan terima kasih dariku karena Kakak sudah menyelamatkan Kak Fatimah," ucap Aby dengan penuh harap.


"Baiklah, aku akan menurut," ucap Albert.


Setelah mendengar kata persetujuan dari Albert, akhirnya Aby pun mengajak Albert untuk masuk ke dalam ruang makan.


Saat mereka hendak masuk ke ruang makan, Fatimah terlihat turun dari tangga dan ikut bergabung bersama dengan mereka.


"Sekarang kita makan bersama ya, Kak? Sekalian sama Kak Albert," ucap Aby.

__ADS_1


"Iya, adikku sayang," jawab.


Akhirnya mereka pun melangkahkan kaki mereka secara bersamaan menuju ruang makan, malam Ini suasana meja makan terlihat sangat ramai.


Karena Albert selalu melontarkan kata-kata gombal kepada Fatimah, tentu saja hal yang membuat ruang makan semakin ramai juga karena adanya putri Aby.l Delina.


Anak itu terus saja berceloteh dengan riangnya, terkadang anak itu begitu mendominasi percakapan dengan bahasanya yang masih terdengar kurang jelas namun terdengar sangat lucu di telinga para orang dewasa tersebut.


Setengah jam kemudian, makan malam pun telah selesai. Mereka pun langsung berkumpul di ruang keluarga, Aby sengaja menahan kepergian Albert karena dia ingin mengucapkan terima kasih karena telah membantu Kakaknya Fatimah.


"Kak Al, aku ucapkan terima kasih sekali lagi karena kamu sudah menyelamatkan Kak Fatimah," ucap Aby.


"Ya, sama-sama," jawab Albert.


Albert terlihat menatap Fatimah, lalu bergantian menatap Aby. Dia seolah meminta dukungan kepada Aby untuk menanyakan perihal keputusan Fatimah.


Aby yag mengerti pun langsung duduk di samping Fatimah dan berbisik tepat di telinga Kakak perempuannya itu.


"Kak Al menunggu jawaban dari Kakak, masa idah Kakak cuma tinggal 3 hari lagi. Aku harap kakak tidak memberikan harapan palsu kepada Kak Al, karena aku juga laki-laki. Aku bisa merasakan ketulusan dari Kak Al," ucap Aby.


Fatimah terlihat menatap Aby dengan lekat, lalu dia pun beralih menatap kearah Albert.


"Jawaban apa yang kamu harapkan dari aku, Al? Aku hanya janda, banyak wanita di luar sana yang lebih segalanya dari aku. Kenapa kamu memilih aku, Al?" tanya Fatimah


"Aku ingin kamu berkata iya, Ra. Aku ingin kamu bersedia menikah denganku, karena kamu adalah wanita pilihan hatiku. Aku janji aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan kamu," ucap Albert.


Abi terlihat menggenggam tangan Fatimah, lalu mengusap pundaknya dengan sangat lembut.


"Aku juga lelaki, Kak. Aku bisa merasakan bagaimana tulusnya Kak Al terhadap Kakak," ucap Aby.


"Ya, aku tahu," jawab Fatimah.


"Lalu, bagaimana jawabanmu, Ra? "tanya Albert.


"Bismillahirohmanirohim, aku Fatimah Azzahra bersedia untuk menjadi istri kamu Albert Atha Raimhond," jawab Fatimah.


Mendengar ucapan dari Fatimah, Albert langsung bangun dan mengangkat tubuh Fatimah. Lalu dia pun berputar-putar sambil menggendong tubuh Fatimah, Fatimah yang merasa ketakutan langsung memukul-mukul pundak Albert sambil berteriak.

__ADS_1


"Al, turunin. Aku takut!" teriak Fatimah.


Abi dan Aliana yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya, mereka tak menyangka dengan tingkah Albert yang dirasa sangat kekanakan.


__ADS_2