
kini alpin pun pulang ke rumah nya, dengan rasa malas, entah lah diri nya benar benar berat, di saat ia menginjak rumah nya, entah kenapa dengan hati nya.
di saat ia masuk, ia sudah di sambut oleh sang istri, Siska langsung bergelayut manja ke arah sang suami.
" sayang.. ?? " ( Siska).
" ehmptz. ?? " ( alpin) tanpa menoleh ke arah sang istri, ingin rasa nya ia menghempas tangan sang istri, tapi ia takut melukai perasaan sang istri.
alpin pun duduk di sofa, dan begitu pun dengan Siska, ia duduk di samping sang suami.
" kamu, kenapa sayang. " ( Siska) ia menatao ke arah, alpin.
" aku hanya lelah saja, pekerjaan aku menumpuk. " ( alpin) ia mencari alasan, padahal ia sedang memikir kan alea, dengan sang anak.
" tapi kenapa malam kamu malah menginap di rumah orang tua kamu, bukan di sini, aku nunggu kamu loh mas. " ( Siska ) sedikit merajuk.
alpin menatap ke arah siska, walaupun hati nya sedang tidak baik baik saja, tapi ia berusaha menutupi nya.
" maaf, malam aku benar benar ke tiduran, mungkin karena epek dari cape, makan nya aku tertidur, di rumah mamah. " ( alpin) ia menatal sang istri.
" iya udah, untuk menebus ke salahan kamu, aku ingin shoping. " ( Siska) dengan tatapan berbinar, karena ia ingin sekali berbelanja dengan sang suami, walaupun ia sering berbelanja, tapi ia jarang di temani oleh sang suami.
alpin menghela napas nya, ia pun tidak mungkin untuk menolak nya, walaupun sbenar nya ia ingin menolak, tapi tak mau menyakiti perasaan sang istri.
" gimana sayang. " ( Siska) ia pun duduk di pangkuan sang suami, membuat alpin tersentak kaget.
" boleh , tapi bawa anak kita ya. " ( alpin ) ia mencari alasan supaya tidak berduaan dengan Siska, entah lah, ia masih bingung dengan perasaan nya.
" engga mas, aku pingin berdua sama kamu, tanpa ada anak. " ( Siska) dengan tegas.
" tapi.. ?? " ( alpin)
" kalau aku bilang engga, ya engga mas, kenapa sih kamu engga ngertiin aku, kapan lagi coba kita bisa berduaan, kamu itu susah untuk membagi waktu." ( Siska)
lagi lagi alpin menghela napas nya,ia tidak bisa lagi mencari alasan, dan ia pun akhir nya mengiya kan, ke ingin nan sang istri, membuat Siska ke girangan.
Siska pun mengecup bibir sang suami, tapi sayang nya alpin,malah memaling kan wajah nya, membuat siska menatap heran.
" maaf ka, aku belum gosok gigi,jadi engga pd. " ( alpin) lagi lagi, ia mencari alasan.
" iya engga apa apa sayang, aku kangen dengan sentuhan kamu, kita sudah lama engga bercinta. " ( Siska) ia menatap mata sang suami.
__ADS_1
" gimana kalau sebelum kita, ke luar kita bercinta dulu mas. " ( Siska) ia membelai dada sang suami, untuk membangkit kan hasrat nya, tapi lagi lagi alpin menangkap tangan Siska.
" maaf ka, aku engga bisa, nanti saja ya, sekarang lebih baik kita bersiap untuk pergi , tapi jangan lama ya, karena aku ingin beristirahat. " ( alpin)
Siska pun turun dari pangkuan nya, dan duduk di samping nya, setelah Siska turun dari pangkuan nya, alpin pun bergegas ke kamar nya, untuk membersihkan tubuh nya, tanpa menoleh ke arah Siska.
Siska hanya menatap ke arah alpin, dengan tatapan kecewa.
di lain tempat, papah alpin baru saja sampai, dan di sambut oleh sang istri,cucu, dan juga menantu nya.
" assalamu'alaikum.. ?? " ( papah alpin)
" waalaikumsalam. " ( jawab ban mereka bertiga)
mereka pun mulai menyalami sang papah secara bergiliran.
" gimana nak, kabar cucu papah. " ( papah alpin) ia mengusap perut buncit alea.
" allhamdulillah pah, di baik baik saja, dan aktif pah, walaupun di dalam perut. " ( alea) sambil tersenyum.
dan benar saja, saat papah alpin menyentuh perut sang menantu, calon cucu nya memberi respon dengan menendang nya.
" iya Allah sayang, dia menendang papah. " ( papah alpin) dengan tatapan penuh haru.
" masa sih mah. " ( papah alpin)
" iya opah, aku juga merasa kan nya. " ( sisi) ia ikut bersuara.
" mungkin ia ingin mengenal, opah, omah, dan kaka nya. " ( mamah alpin)
" kemungkinan begitu. " ( alea) ia pun tersenyum.
" iya udah kita masuk yu, kasian alea jangan terlalu lama berdiri. " ( mamah alpin)
mereka pun mengangguk kan kepalanya, dan masuk ke dalam rumah.
" omah, opah, mah, aku ke taman belakang dulu ya, soal nya aku ingin melihat bunga, yg dulu aku taman, dan memberi kan makan kelinci aku. " ( sisi)
memang sebelum nya sisi pernah ke rumah alea, ia menanam bunga, dan ia juga membawa kelinci, mungkin karena tempat nya sejuk , makan nya ia membawa kelinci ke rumah alea.
" iya sayang, jangan lari lari ya, terus minta temenin bibi. " ( mamah alpin)
__ADS_1
" siap omah." ( sisi) sambil mengacung kan ke dua jempol nya, ia pun berlalu dan menuju dapur, untuk mencari bibi.
setelah ke pergian sisi, mereka pun duduk di sofa.
" papah mau minum apa. " ( mamah alpin)
" engga usah mah, dari tadi papah minum terus, bisa bisa kembung perut papah " ( papah alpin ) sambil tersenyumtersenyum, dan mengelus perut nya.
" dan mengalah kan menantu kita mah," ( papah alpin)
alea dan mamah alpin mengekerut kan kening nya, karena merasa heran, dengan ucapan papah alpin.
" maksud papah. " ( mamah alpin) .
" ini loh mah, masa engga ngerti. " ( papah alpin) sambil menunjuk kan perut nya.
mamah alpin dan alea pun tersenyum, mereka baru sadar dengan ucapan sang papah alpin.
" kamu ada ada aja pah. " ( mamah alpin) ia memukul lengan sang suami.
Begitu lah sipat papah alpin, terlihat tegas bila sedang berada di luar , tapi sipat nya akan berubah, di saat bersama keluarga nya, menjadi humoris.
papah alpin pun berdehem, dan menatao serius ke arah alea.
alea yg di tatap nya pun, mengkerut kan kening nya, karena melihat ekspresi wajah sang mertua.
" al.. ?? " ( papah alpin)
" iya pah, ada apa. " ( alea) menjawab dengan sedikit gugup.
" kamu jangan gugup gitu al, rileks aja." ( papah alpin) ia menyadari kalau sang menantu sedang gugup.
" ah, engga pah. " ( alea) ia berusaha menetral kan wajah nya.
" tapi kamu terlihat gugup al, engga usah mengelak. " ( papah alpin) sambil tersenyum.
" habis nya, lihat wajah papah, aku jadi gugup dan tegang. " ( alea) ucapan nya lirih, tapi masih terdengar oleh ke dua mertua nya.
" mungkin perasaan kamu aja al. " ( papah alpin)
" mungkin pah. " ( alea)
__ADS_1
" al, apa kami siap untuk bertemu dengan alpin, karena yg papah lihat alpin sangat merindu kan kamu al. " ( papah alpin)
" tapi semua ada di keputusan kamu al, kalau kamu belum mau bertemu dengan alpin, engga apa apa al, papah engga bisa memaksa. " ( papah alpin)