
Albert terlihat keluar dari kamar Fatimah dengan wajah yang terlihat berseri-seri, begitu pun dengan Fatimah. Dia terlihat begitu senang karena sudah bisa melayani suaminya dengan baik.
Namun karena Albert melakukannya sampai dua jam lebih, membuat Fatimah sedikit kesusahan dalam berjalan.
Ada rasa sakit, ngilu dan juga rasa ingin kembali merasakannya lagi. Saat melihat putrinya datang bersama Albert, Najma terlihat tersenyum.
Apa lagi saat memperhatikan cara berjalan putrinya, Najma ingin sekali tertawa. Namun dia tak berani berkata apa pun, dia takut jika putrinya tersebut akan tersinggung.
"Lama sekali turunnya, kita semua bahkan sudah selesai makan siangnya," kata Najma.
Fatimah terlihat melirik jam yang bertengger cantik di dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 2. Wajar saja pikirnya, jika mereka sudah ketinggalan saat makan siang.
"Maaf, ya, Bun. Karena kita, tadi nggak ikut makan bareng," ucap Albert.
"Ngga apa-apa, Bunda paham." Najma meninggalkan Albert yang kini langsung duduk di ruang makan dengan Fatimah.
Albert terlihat mengambilkan nasi lengkap dengan lauknya, Fatimah terlihat tersenyum canggung, lalu dia pun terlihat memegang tangan Albert.
"Biar aku saja, Mas. Masa kamu yang ngelayanin," kata Fatimah.
"Ngga apa-apa, Yang. Kamu pasti cape, aku suapin ya?" tawar Albert sambil mengecup bibirnya.
Fatimah terlihat tersipu mendengar ucapan Albert, apa lagi saat mengingat kejadian yang baru saja dia lalui bersama dengan Albert. Fatimah pun baru menyadari jika Albert memang benar-benar nakal, pikirnya.
Padahal mereka sudah melakukannya di atas kasur, tapi saat Fatimah mau mandi, Albert malah mengajaknya untuk mengulang kembali kenikmatan yang belum lama dia rasakan.
Sialnya yang kedua kalinya dilakukan di dalam kamar mandi, bahkan Albert tanpa ragu langsung mengangkat tubuhnya dan menyudutkannya pada tembok kamar mandi.
Awalnya Fatimah sangat ketakutan, dia sampai memeluk leher Albert dengan kencang. Namun ternyata, tenaga lelaki keturunan negara Adidaya itu sangatlah kuat.
Albert menggendongnya dengan mudah, tak lama kemudian dia pun langsung merasakan terbang jauh ke langit ketujuh kala Albert menghentaknya dari bawah.
Albert benar-benar sangat perkasa, pikirnya. Herannya, Albert bisa bermain dengan sangat lembut walaupun wajahnya terlihat sangat ingin menghentaknya dengan kasar.
"Dimakan dong, yang." Albert menyodorkan satu sendok nasi lengkap dengan lauknya.
Karena tak ingin mengecewakan suaminya, Fatimah pun langsung membuka mulutnya dan menerima suapan dari Albert.
Albert pun langsung tersenyum senang karena Fatimah mau dia suapi, dengan telaten dia pun menyuapi Fatimah sampai nasi dan lauk yang diambil habis.
"Makan yang banyak, biar kuat." Albert terlihat mengerlingkan sebelah matanya.
__ADS_1
Fatimah langsung memukul tangan kekar Albert, dia merasa malu karena Albert berucap tanpa filter, pikirnya.
Bagaimana nanti kalau tiba-tiba saja ada yang mendengarnya, atau bagaimana jika ada yang menguping pembicaraan mereka.
"Kenapa pukul aku?" tanya Albert.
"Habisnya Mas gitu, malu ih. Jangan bicara sembarangan, ini di rumah Ayah," kata Fatimah.
"Iya, maaf. Sekarang Mas mau makan, tolong suapi," pinta Albert.
Fatimah pun menurut, dia lalu mengambil nasi lengkap dengan lauknya dan dengan telaten dia pun menyuapi suaminya tersebut.
Albert terlihat begitu senang, karena kini dia sudah menikah dengan wanita yang sangat dia cintai. Bahkan dia juga bisa dengan mudah mendapatkan perhatian dari istrinya tersebut.
Selesai dengan acara makan siang yang telat dan dicampur dengan sarapan mereka yang terlewat, Albert langsung mengajak Fatimah untuk kembali ke dalam kamar Fatimah.
Mumpung dia cuti, pikirnya. Dia ingin terus berada dalam dekap hangat sang istri. Namun, baru saja mereka akan menaiki tangga menuju lantai dua, tiba-tiba saja Adi datang menghampiri.
"Ehm, kayaknya ada yang balas dendam nih sama gue," cibir Adi.
"Apa?" tanya Fatimah tak paham.
"Ck! Emangnya tadi gue ngga dengar kalau Kakak lagu uh-ah?" Adi langsung pergi meninggalkan Fatimah yang terlihat masih kebingungan.
"Kamu kenapa sih, Mas?" tanya Fatimah.
"Kamu inget ngga, Yang. Waktu di Singapura kamu marah-marah karena nungguin Adi yang lagi uh-ah sama istrinya?" tanya Albert.
Untuk sejenak Fatimah nampak berpikir, namun beberapa detik kemudian dia pun langsung menepuk jidatnya.
"Ya ampun, Mas. Apa dulu kamu mendengar semua gerutuanku?" tanya Fatimah.
"Ya, kamu menggerutu karena setelah lama.menunggu, ternyata Adi sedang main kuda-kudaan sama istrinya. Terus kamu hampir nangis karena ditinggal sama Kak Callista," ucap Albert.
"Ya ampun, Mas. Kamu masih ingat?" tanya Fatimah.
"Ya, semenjak hari itu aku langsung mencari tahu siapa kamu, Ra. Bahkan semenjak itu, aku berusaha membangun bisnis di negara ini agar bisa bertemu dengan kamu," ucap Albert dengan tatapan seriusnya.
"Oh, so sweet." Fatimah langsung menghambur kepelukan Albert.
"Ehm, mentang-mentang pengantin baru maunya mesra-mesraan aja. Kayaknya kamu ngga kasihan banget deh sama aku," ucap Khadijah dengan wajah ditekuk.
__ADS_1
Albert dan Fatimah langsung tertawa, mereka merasa lucu dengan apa yang diucapkan oleh Khadijah.
"Lupa, kalau masih ada yang belum laku. Ayo Mas, kita masuk ke kamar." Fatimah langsung memeluk lengan Albert dan mengajaknya untuk kembali ke dalam kamar.
"Bunda! Aku dikata engga laku sama Kak Arra," teriak Khadijah.
Mendengar Khadijah yang berteriak mengadu pada Najma Albert dan Fatimah pun langsung tertawa dengan sangat keras.
Tiba di dalam kamar, Albert langsung menggendong Fatimah dan merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan.
Dia tindih dan dia kecup bibir istrinya, sungguh rasa bahagia terasa menyelimuti dirinya saat ini.
"Jangan lagi ya, Mas. Aku takut kalau besok aku ngga bisa jalan," pinta Fatimah.
"Sebenarnya Mas masih pengen, punya kamu enak, sempit lagi. Punya aku kaya digenggam erat, tapi... karena aku sayang banget sama kamu, jadi aku ngga bakal minta dulu," kata Albert.
"Terima kasih," ucap Fatimah.
"Sama-sama, Sayang." Albert langsung menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya.
Dia tarik Fatimah kedalam pelukannya, lalu dia kecup keningnya.
"I love you, My Wife." Kembali Albert mengecup kening Fatimah dengan mesra.
"Me too," jawqb Fatimah.
Albert terlihat sangat gemas saat melihat wajah cantik istrinya, dia langsung menautkan bibirnya dan menyesap rasa manis di bibir istrinya.
"Manis, pedes, terus masih ada bau bawang gorengnnya," kata Albert seraya terkekeh.
"Mas, ih! Ngga lucu," kesal Fatimah dengan bibir yang terlihat mengkerucut tajam.
+
+
+
Selamat sore kesayangan, terima kasih untuk kalian yang masih setia dengan Kisah Fatimah ini. Buat yang udah unfav juga makasih banget.
Aku ngga marah, kecewa sudah pasti. Karena ternyata ceritaku mungkin kurang diminati, untuk sebagian orang.
__ADS_1
Mungkin aku harus berusaha lagi untuk menciptakan karya baru yang lebih menarik, terima kasih untuk kalian yang selalu memberikan like, vote, hadiah serta komentnya.