Hati Yang Kau Sakiti

Hati Yang Kau Sakiti
Akhirnya


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu, Fatimah dan juga Albert sudah berbaikan, mereka sudah kembali terlihat mesra. Bahkan Albert sering menyempatkan waktu untuk mengajak Fatimah untuk berjalan-jalan di sore hari.


Baik itu hanya ke taman, ke tempat maka favorit Fatimah, atau pun sekedar nongkrong di Caffe.


Albert sengaja meluangkan banyak waktu untuk istrinya, agar istrinya merasa tidak jenuh karena terlalu banyak menghabiskan waktu di rumah.


"Mas, bajuku sudah mulai sesak. Perutku sudah mulai makin menonjol," adu Fatimah.


"Kalau begitu hari ini Mas ngga usah kerja, kita ke butik untuk membeli baju. Sekalian kita jalan-jalan, kalau ngga kita ke rumah Bunda." Albert terlihat mengecup bibir Fatimah.


"Tapi, apa kamu tidak sibuk?" tanya Fatimah.


"Untuk kamu, apa pun akan aku lakukan, Sayang. Biarkan pekerjaan di kantor diurus oleh asistenku," ucap Albert.


"Baiklah, kalau begitu aku akan memberi tahu Kak Dona kalau hari ini kita akan ke butiknya," ucap Fatimah.


"Itu lebih baik, karena saat kita kesana nanti kita tidak usah menunggu. Pasti dia sudah mempersiapkan baju-baju yang bagus untukmu," kata Albert.


"Iya, Sayangku," ucap Fatimah.


Selepas melakukan sarapan pagi, Fatimah pun langsung menelpon Dona sang pemilik butik ternama di pusat kota.


Fatimah memang sudah terbiasa membeli baju kepadanya, karena selain bajunya berkualitas bagus, di sana juga tersedia baju-baju gamis muslim yang terlihat sangat modis dan Fatimah sangat menyukainya.


Pukul 10.00 pagi Albert dan juga Fatimah langsung pergi menuju butik Dona, tiba di sana Albert dan juga Fatimah langsung disambut oleh asisten Dona.


Fatimah sempat mengernyit heran, karena biasanya kalau Fatimah datang, Dona selalu menyambutnya sendiri bukan sang asisten.


Karena penasaran, Fatimah pun langsung menanyakan hal tersebut.


"Kak Dona'nya kemana?" tanya Fatimah.


"Kak Dona sedang di dalam, ada yang sedang melakukan fitting baju pengantin. Makanya Kak Dona tak bisa menyambut kedatangan Nyonya fatimah," ucap sang asiten.


"Iya, tidak apa-apa," jawab Fatimah.


Setelah mendapatkan sambutan dari sang asisten pemilik butik tersebut, Fatimah dan Albert pun langsung masuk ke dalam butik tersebut.


Wajah Fatimah terlihat kaget, karena dia melihat Rudi sedang duduk di sofa tunggu. Dia terlihat sedang berbincang dengan Dona.


Menyadari kedatangan Albert dan juga Fatimah, Dona langsung berdiri dan menyambut kehadiran pasangan yang terlihat sangat berbahagia tersebut.


"Selamat datang di butik aku, Tuan dan Nyonya Raimhond," sapa Dona.

__ADS_1


"Kakak berlebihan," ucap Fatimah seraya memeluk Dona.


Rudi yang melihat kedatangan Albert dan juga Fatimah ikut berdiri dan langsung menyapa mereka.


"Hai Arra, hai Al. Kalian apa kabar?" ucap Rudi.


Mendengar sapaan dari Rudi, Dona langsung melerai pelukannya bersama dengan Fatimah. Lalu, dia pun memandang Rudi, Albert dan juga Fatimah secara bergantian.


"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Dona.


Mereka terlihat mengganggukkan kepalanya secara bersamaan, lalu kemudian mereka pun tersenyum karena merasa lucu.


Berbeda dengan Dona, dia terlihat kebingungan karena dia tak pernah tahu ada hubungan apa antara ketiga orang tersebut.


Wajar saja jika banyak yang kurang tahu kalau Rudi adalah mantan suami dari Fatimah, karena pernikahan mereka pun memang dilakukan secara tertutup.


Bahkan Rudi tak pernah mengenalkan Fatimah kepada halayak, jika Fatimah adalah istrinya.


Justru, Rudi malah sering terlihat pergi dengan Audy. Walaupun, dia sudah menikah dengan Fatimah saat itu.


Rudi lalu mengulurkan tangannya, Fatimah dan Albert pun langsung menyambut uluran tangan Rudi.


"Selamat ya, karena pernikahan yang kalian jalani sepertinya mampu membuat kamu berbahagia," ucap Rudi tulus.


"Kamu, sedang apa di sini?" tanya Albert kepada Rudi.


Rudi lalu tersenyum, kemudian dia pun menjawab pertanyaan Albert.


"Aku sedang melakukan fitting baju pengantin, karena seminggu lagi aku dan calon istriku akan menikah," ucap Rudi dengan senyum merekah di bibirnya.


Fatimah dan Albert terlihat saling pandang lalu kemudian mereka pun tersenyum bahagia mendengar ucapan Rudi.


"Wahh, selamat ya, Mas, kalau begitu. Ternyata kamu sudah menemukan penggantiku," ucap Fatimah.


"Sama-sama, Ra," kata Rudi.


"Oh iya, mana calon istrimu?" tanya Albert.


"Sebentar, dia sedang berganti pakaian. Tadi habis melakukan fitting baju pengantin," ucap Rudi.


"Baiklah, kami akan menunggu karena kami begitu penasaran dengan sosok wanita yang akan menjadi calon istrimu," ucap Albert.


Tak lama kemudian, pintu ruang ganti pun terbuka. Nampaklah wanita yang sangat dikenal oleh Fatimah dan juga Albert, wanita yang satu bulan lalu sempat menjadi bahan pertengkaran antara Fatimah dan juga Albert.

__ADS_1


"Kamu di sini?" tanya Albert.


Ternyata wanita itu adalah mantan pacar Albert, Alice.


Sama seperti Albert dan juga Fatimah, Alice terlihat sangat kaget saat melihat kedatangan Fatimah dan juga Albert di sana.


"Iya, aku sedang melakukan fitting baju pengantin bersama dengan calon suamiku," ucap Alice malu-malu.


"Jadi, Alice ini calon kamu Mas?" tanya Fatimah kaget.


Bagaimana tidak kaget, jika perempuan yang sebulan yang lalu datang sebagai biang penghancur rumah tangganya.


Namun kali ini, dia malah mengenalkan dirinya sebagai calon istri dari mantan suaminya, Rudi.


Rudi langsung tersenyum melihat wajah Fatimah yang sempat kebingungan, lalu Rudi pun menjelaskan tentang semuanya.


"Sebulan yang lalu kami bertemu, kami sepakat untuk saling mengenal. Ternyata kami merasa cocok, dan kami pun memutuskan untuk menikah," jawab Rudi.


"Baguslah kalau begitu, tapi dia--" ucapan Albert terhenti, karena Rudi langsung tersenyum sambil merengkuh tubuh Alice kedalam pelukannya.


"Setiap manusia mempunyai kekurangan, hanya saja tugas kita menutupi kekurangan pasangan kita seperti apa. Aku sudah pernah melakukan kesalahan yang fatal, dari situ aku pun belajar untuk melakukan hal yang lebih baik. Begitupun dengan Alice, kami sedang berusaha untuk memperbaiki diri agar bisa berjalan beriringan dalam ikatan pernikahan," jelas Rudi.


"Waah, selamat ya, Mas," kata Fatimah.


Semenjak hari itu, hari-hari yang dilalui Fatimah begitu terasa menyenangkan. Albert dan juga Fatimah selalu berusaha untuk saling mengerti dan saling memahami apa keinginan masing-masing.


Bahkan Albert pun selalu berusaha untuk bersikap lebih baik lagi terhadap istrinya, begitupun dengan Fatimah.


Rudi dan juga Alice yang pernah melakukan kesalahan besar pun, kini telah menemukan kebahagiaannya.


Satu minggu kemudian, mereka pun menikah lalu mereka pun melaksanakan acara bulan madunya di sebuah pedesaan terpencil yang berada di jawa barat.


Mereka tahu, jika mereka tak akan mempunyai anak jika pun bekerja keras sekuat tenaga. Namun, mereka tetap melakukannya agar tetap adanya keharmonisan rumah tangga antara keduanya.


Sesuai dengan kesepakatan di awal, satu bulan setelah mereka menikah Rudi pun membangun sebuah panti asuhan sederhana di sebuah pedesaan.


Rudi dan juga Alice, menghabiskan waktunya di pedesaan tersebut bersama dengan anak-anak kurang beruntung yang mereka temui di jalanan.


Walaupun Rudi tinggal di pedesaan, namun dia tetap menjalankan usahanya. Sesekali dia akan pergi ke kota untuk mengecek perusahaannya yang dilimpahkan kepada Ronald.


Orang tua Rudi pun ikut bahagia melihat kebahagiaan di mata anak dan menantunya, walaupun mereka tahu jika mereka tak akan mendapatkan cucu kandung dari menantunya tersebut.


Namun, mereka tetap bahagia saat melihat bagaimana cara Alice dan juga Rudi memperlakukan anak-anak panti asuhan yang mereka kelola.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*TAMAT\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2