
Sesuai dengan kesepakatan yang telah tadi malam Albert dan juga Fatimah rencanakan, hari ini mereka akan pergi ke Rumah Sakit.
Fatimah meminta Albert untuk melakukan cek kesuburan untuk dirinya dan juga Albert, jika salah satu di antara mereka memiliki masalah, maka dokter akan lebih mudah menyarankan kepada Fatimah dan juga Albert untuk melakukan pengobatan.
Tentu saja Albert menyetujuinya, mereka sudah sama-sama dewasa. Mereka harus berlapang dada jika memang salah satu diantara mereka ada yang memiliki kekurangan.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Fatimah terlihat memeluk Albert dengan sangat erat.
Sungguh dia sangat takut jika dirinyalah yang memiliki kekurangan, bahkan dia sangat takut jika dirinya tidak bisa memberikan keturunan kepada Albert.
Fatimah bahkan sempat berpikir jika dirinya tidak subur, karena pada saat Rudi memaksanya untuk melakukan hubungan suami istri pun Fatimah tidak hamil.
Hal itu membuat Fatimah semakin resah, sungguh dia benar-benar sangat takut jika pada kenyataannya nanti dialah yang berkekurangan.
"Mas, aku takut." Fatimah terlihat menelusupkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Tangan kanan Albert langsung menggenggam erat tangan Fatimah, sedangkan tangan kirinya terus saja mengelus lembut punggung istrinya.
Dia berusaha untuk menenangkan perasaan Fatimah, Albert sangat tahu jika Fatimah begitu tegang.
Dia sangat tahu jika Fatimah terlihat gundah, karena Albert sangat tahu jika Fatimah sudah sangat menginginkan buah hati.
Fatimah sangat menginginkan suasana rumah terlihat lebih ramai, dengan tangisan dari anak-anak mereka.
"Jangan takut, Sayang. Aku yakin tidak akan ada hal yang serius," ucap Albert menenangkan.
Fatimah hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju, kemudian dia pun mengeratkan pelukannya kepada suaminya tersebut.
Hanya pelukan hangat suaminya saja, yang mampu membuat dirinya merasa lebih tenang. Setelah setengah jam melakukan perjalanan, akhirnya mobil yang mereka tumpangi pun berhenti tepat di depan Rumah Sakit terbesar di ibu kota.
Pak sopir langsung turun dan dengan sigap langsung membukakan pintu untuk Albert dan juga Fatimah.
"Terima kasih, Pak," ucap Fatimah.
Sopir tersebut nampak membungkuk hormat, lalu kembali masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Fatimah dan Albert langsung masuk kedalam Rumah Sakit tersebut.
Karena Albert sudah membuat janji terlebih dahulu, dia pun bisa langsung ke dalam ruangan Obgyn tersebut.
Saat mereka masuk, seorang dokter wanita yang terlihat masih muda langsung menyambut Fatimah dan juga Albert.
"Silakan duduk, Tuan, Nyonya." Dokter cantik itu nampak menunjukkan bangku kosong yang berada tepat di hadapannya, Albert dan juga Fatimah pun langsung duduk.
Albert dan juga Fatimah nampak menurut, mereka langsung duduk tepat dihadapan dokter tersebut.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter tersebut.
"Begini, Dok. Kami ingin memeriksakan kondisi kesuburan kami, karena kami sudah menikah selama enam bulan. Tapi, aku belum juga mengandung," adu Fatimah.
Dokter wanita tersebut nampak tersenyum, lalu dokter itu pun mulai menjelaskannya kepada Fatimah.
__ADS_1
"Pernikahan Tuan dan Nyonya baru berjalan enam bulan, masih belum terlalu lama. Tapi, jika Tuan dan Nyonya mau memeriksakan kondisi kesuburan, boleh saja," jawab Dokter.
"Mau, Dok. Biar ngga penasaran," kata Fatimah.
"Baiklah, mau Tuan dulu apa Nyonya dulu?" tanya Dokter.
"Memangnya seperti apa proses pengecekan kesuburan kepada saya atau suami saya?" tanya Fatimah.
"Untuk Tuan, anda bisa mengecek kesuburan anda dua hari lagi. Tapi ingat, anda jangan melakukan hubungan suami istri duli dan jangan melakukannya secara solo juga," kata Dokter.
"Ya ampu!" keluh Albert.
"Untuk pengecekan kesuburan Nyonya, bisa dilakukan setelah sepuluh hari masa menstruasi selesai," jelas Dokter.
"Saya baru selesai menstruasi, Dok!" jawab Fatimah.
"Kalau begitu Nyonya, tunggu sampai sepuluh hari lagi," kata Dokter.
"Beraeti aku saja dulu, Dok," kata Albert.
"Ya, Tuan kembalilah dua hari lagi. Jangan melakukan hubungan suami istri dulu," kata Dokter mengingatkan.
"Ya, Dokter," jawab Albert lesu.
Setelah berkonsultasi dengan dokter, Albert pun nampak pulang bersama dengan istrinya. Sepanjang perjalanan pulang, Albert nampak menekuk wajahnya.
Dia baru saja libur satu minggu, dan dokter sudah melarangnya untuk melakukan hubungan suami istri bersama dengan istrinya.
*/*
Dua hari kemudian, Albert dan Fatimah nampak kembali ke Rumah Sakit tersebut. Mereka langsung masuk ke dalam ruangan dokter yang memang sedang menangani masalah mereka.
Setelah Albert dan juga Fatimah duduk bersama dengan dokter tersebut, barulah dokter tersebut nampak menjelaskan semuanya kepada Albert dan juga Fatimah.
Fatimah dan Albert pun nampak mendengarkan dengan seksama penjelasan dari dokter tersebut, setelah Albert dan Fatimah nampak mengerti dokter tersebut pun langsung mengajak Albert untuk melakukan pemeriksaan.
"Baiklah, untuk cek kesuburan Tuan, mudah saja. Anda tinggal memberikan sample spermaa Tuan pada saya, juga di periksa kesehatannya ya," ucap Dokter.
Albert langsung memandang ke arah Fatimah, lalu dia pun langsung menyeringai. Setelah libur panjang, akhirnya dia akan buka puasa juga, pikirnya.
"Kamu kenapa sih, Mas?" tanya Fatimah.
"Ngga apa-apa, Yang," jawab Albert dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Untuk langkah awal, silakan Tuan berbaring di bed pasien." Dokter menunjukkan bed pasien yang berada tak jauh dari meja pemeriksaan dokter tersebut.
Albert menurut, dia langsung bangun dan merebahkan tubuhnya di bed pasien tersebut. Dokter wanita itu pun langsung menghampiri Albert dan melakukan cek kesehatan.
Sepuluh menit kemudian, pemeriksaan pun telah selesai. Dokter pun langsung menjelaskannya kondisi kesehatan Albert.
__ADS_1
"Kondisi kesehatan Tuan sangat baik, tinggal pemeriksaan spermaa saja." Dokter perempuan tersebut memberikan wadah untuk penampungan spermaa milik Albert.
Fatimah terlihat kebingungan saat dokter tersebut menyuruh Albert untuk memeriksakan kondisi spermaa'nya.
Bagaimana caranya Albert bisa mengeluarkan cairan kental itu, padahal mereka tak melakukan hubungan badan.
"Anda bisa melakukannya di ruangan sebelah, nanti kalau selesai bisa langsung memberikannya kepada saya," ucap Dokter tersebut.
Dokter wanita itu nampak memberitahukan ruangan khusus untuk Albert bisa menghasilkan spermaanya.
Albert nampak tersenyum, lalu dia pun mengajak Fatimah untuk keluar dari ruangan tersebut.
Kemudian, Albert pun nampak masuk ke ruangan yang ada di sebelah ruangan dokter tersebut.
Tiba di dalam ruangan tersebut, Albert langsung mengunci pintunya. Lalu, dengan cepat Albert menggendong Fatimah dan merebahkannya di atas ranjang berukuran sedang yang sudah tersedia di sana.
"Ma--Mas mau apa?" tanya Fatimah.
Albert langsung tersenyum dan mulai mencumbui istrinya, Fatimah terlihat menahan dada Albert. Rasanya sangat malu jika harus melakukan hal itu di Rumah Sakit.
"Ja--jangan, Mas!" kata Fatimah.
Albert lalu mendekatkan bibirnya ke cuping telinga istrinya, lalu dia pun berbisik dengan sangat pelan.
"Kita harus melakukannya, Sayang. Agar bisa dengan cepat memberikan apa yang diminta oleh dokter cantik tadi," kata Albert.
Mata Fatimah langsung membulat sempurna kala mendengar ucapan dari suaminya, ya... dia pun membenarkan jika dengan melakukan hubungan itu maka mereka akan mendapatkan apa yang diminta oleh dokter wanita tersebut.
Namun, Fatimah merasa sangat malu jika mereka harus melakukannya di ruangan tersebut.
Bagaimana jika ada yang mendengar desahannya, pikirnya. Rasanya akan sangat malu sekali.
Albert yang seolah bisa merasakan kegundahan di dalam hati Fatimah, langsung berusaha untuk menenangkan istri cantiknya tersebut.
"Ruangan ini kedap suara," kata Albert.
"Benarkah?" tanya Fatimah.
"Ya! Jadi kamu teriak pun tak akan ada yang mendengarnya," kata Albert.
Awalnya Fatimah tetap terlihat enggan untuk melakukannya di sana, namun karena Albert terus merayu dan melancarkan sentuhan-sentuhan yang membuat tubuh Fatimah meremang.
Akhirnya Fatimah pun mengalah, dia pun mau melakukannya di sana. Namun, Fatimah meminta kepada Albert agar melakukannya dengan cepat.
Albert pun setuju, dia pun melakukannya dengan cepat. Tiga puluh menit kemudian, Albert pun langsung mengambil wadah tersebut, lalu melepaskan miliknya dari tubuh istrinya dan menuangkan cairan kental tersebut.
Fatimah hanya melongo tak percaya dengan apa yang sudah mereka lakukan di dalam ruangan tersebut, antara malu, kesal, canggung dan enak bercampur jadi satu.
"Pakai baju kamu, Sayang. Kita harus menemui dokter kembali," ucap Albert.
__ADS_1
Fatimah pun menurut, dia pun dengan cepat memakai pakaiannya kembali. Begitu pun dengan Albert, dia pun memakai pakaiannya kembali.