
Hari ini Fatimah bekerja seperti biasanya, namun tak seperti hari-hari biasanya. Terasa ada yang hilang, terasa ada yang kurang.
Tak ada coklat, tak ada bunga dan tak ada pesan yang selalu saja Albert kirimkan kepada dirinya. Biasanya dia selalu merasa risih karena Albert setiap jam selalu mengirim pesan singkat kepada dirinya.
Namun kali ini, ponselnya terasa sangat sepi. Tak ada satu pun pesan yang masuk, hanya ada pesan dari operator saja.
"Hehhh!" Fatimah nampak menghela napasnya dengan berat.
Kembali dia melanjutkan pekerjaannya, sesekali dia mengecek ponselnya. Sesekali dia juga melihat ke arah pintu masuk, dia berharap jika apa yang diucapkan oleh Albert itu hanya bohong saja.
Sayangnya hingga sore menjelang, tak Albert kesana. Hanya para pengunjung saja yang datang silih berganti.
"Ternyata dia benar-benar membuktikan ucapannya," ucap Fatimah.
Setelah berkata demikian, Fatimah pun segera memutuskan untuk pulang ke rumah Aby.
Sampai di rumah Aby, Fatimah langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, dia menatap langit-langit kamar sambil memikirkan laki-laki yang seharian ini tak dia lihat.
"Ya Allah, baru satu hari saja tak bertemu terasa rindu." Fatimah menutup matanya dan membayangkan wajah Albert.
Dia tersenyum dan terkekeh kala mengingat kekonyolan yang sering Albert lakukan hanya untuk sekedar menyenangkan dirinya, menghibur rasa gundahnya.
"Astagfirullah, apakah ini artinya aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya? Apa ini artinya dia jodoh yang Allah kirimkan untuk aku?"
Fatimah langsung duduk dan mengusap wajahnya, dia jadi berpikir jika dia harus salat istikharah kembali agar menemukan jawabannya dengan pasti.
Benar saja, malam ini Fatimah terbangun di jam tiga. Fatimah langsung bangun dan mengambil air wudhu. Kemudian dia pun melaksanakan salat tahajud, setelahnya dia pun melaksanakan salat istikharah kembali.
Dia ingin memantapkan hatinya, dia ingin meminta petunjuknya. Setelah shalat tak lupa Fatimah pun kembali berdo'a kepada Allah.
"Ya Allah, ampuni segala dosaku. Aku kembali meminta petunjuk padamu, ya Allah. Jika memang Albert memang jodoh yang engkau kirimkan untukku, satukan kami dalam ikatan pernikahan. Jika Albert memang bukan jodohku, jauhkan dia dariku agar tidak akan ada yang terluka diantara kami. Aamiin," do'a Fatimah.
Setelah berdo'a, Fatimah kembali membaca ayat suci Al quran sampai waktu subuh tiba dan selepas salat subuh dia tidak tidur seperti kemarin pagi.
__ADS_1
Namun, dia langsung melakukan olah raga agar badannya terasa lebih bugar. Setiap hari itulah yang Fatimah lakukan, jika dia merasa jenuh karena Albert tak menemui dirinya. Dia akan mencari kegiatan dengan pergi ke taman atau kemana pun yang membuat dia merasa lebih tenang.
Hingga seminggu waktu yang Albert berikan pun telah berlalu, Fatimah memutuskan untuk pergi ke taman setelah pulang dari Caffe milik Aby.
Tak lupa dia pun meminta izin terlebih dahulu kepada Aby, Abi pun mengizinkan. Walaupun awalnya dia merasa berat hati, karena hari sudah terlalu sore.
Akan tetapi Fatimah berhasil meyakinkan Aby, jika dia bisa menjaga dirinya. Mau tak mau Aby pun mengizinkan Fatimah untuk pergi
"Pergilah, Kak. Jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa segera telpon aku." Aby mengusap lengan Fatimah dengan lembut.
"Ya, adikku, Sayang. Kakak pasti jaga diri," ucap Fatimah.
Setelah mendapatkan izin dari Aby, Fatimah pun langsung pergi ke taman yang tak jauh dari Caffe milik Aby.
Fatimah bahkan berjalan kaki untuk bisa sampai ke taman tersebut, karena menurutnya itu akan lebih menyenangkan.
Tiba di taman, dia langsung duduk sambil melihat anak-anak yang bermain bersama dengan orang tuanya.
Hati Fatimah menghangat, dia menginginkan hal yang sama. Dia pun ingin berumah tangga dan memiliki putra dan putri yang cantik.
"Al, kalau kita jadi menikah aku pun ingin memiliki anak yang seperti itu," gumam Fatimah tanpa sadar.
Sore itu senyum Fatimah tak pernah surut, dia merasa sangat senang melihat anak-anak bermain hilir mudik kesana kemari.
Dia juga merasa terhibur dengan kegiatan para remaja yang bermain skateboard di sana, ada juga perkumpulan anak remaja yang bermain game bersama di sana.
Rasanya hal itu bisa membuat Fatimah merasa sangat senang, hingga tanpa sadar dia melihat ponselnya yang ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.
Waktu shalat magrib pun telah tiba, Fatimah memutuskan untuk segera pergi dari sana. Dia berjalan dengan cepat keluar dari taman tersebut, karena dia harus mencari taksi agar bisa cepat pulang ke rumah Aby.
Tiba di pinggir jalan, tiba-tiba saja ada segerombolan orang mabuk yang menghampiri Fatimah. Mereka langsung mengelilingi Fatimah, Fatimah terlihat sangat ketakutan.
"Hai, Cantik. Kenapa paku baju tertutup seperti itu?" tanya seorang pria.
__ADS_1
"Harusnya dibuka saja, biar lebih kelihatan keindahannya." Satu lelaki maju dan menarik mantel yang Fatimah pakai.
"Jangan!" seru Fatimah.
Mendengar teriakan Fatimah, segerombolan pria tersebut langsung tertawa terbahak-bahak. Apa lagi saat melihat Fatimah yang ketakutan sambil memeluk erat tubuhnya sendiri, membuat segerombolan pria tersebut makin bersemangat untuk mengerjai Fatimah.
"Ikut kita yu, Cantik."
Satu orang pria maju dia hendak menarik tubuh Fatimah, namun dari arah belakang tiba-tiba saja ada tiga orang pria bertubuh besar langsung menghajar segerombolan pria tersebut.
Fatimah langsung berjongkok sambil memegangi kepalanya, dia begitu ketakutan. Tak lama seorang pria langsung mengangkat tubuh Fatimah dan membawanya pergi dari sana.
Fatimah terlihat meronta dan meminta untuk dilepaskan, dia merasa takut jika dirinya tak akan selamat kali ini.
"Lepaskan, tolong jangan sakiti aku," pinta Fatimah.
"Ra, jangan berontak kaya gitu. Nanti kita bisa jatuh bareng, bisa tolong diem."
Mendengar suara yang sangat dia kenal, Fatimah pun langsung membuka matanya. Saat wajah Albert' lah yang dia lihat, dia pun langsung memeluk Albert dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya.
"Al!"
Antara sedih dan bahagia, Itulah yang Fatimah rasakan saat ini. Dia langsung menangis sesenggukan, Albert langsung membawa Fatimah masuk ke dalam mobil miliknya.
Dia mendudukan Fatimah dengan sangat hati-hati, dia takut menyakiti wanitanya. Lalu, Albert pun ikut duduk di samping Fatimah.
"Jalan, Pak!" ucap Albert penuh dengan nada perintah.
"Siap, Mister," jawab Pak sopir.
Mobil pun lalu melaju menuju kediaman Aby, Albert melihat ke arah Fatimah lalu mengelus pundak Fatimah dengan lembut.
Dia berusaha menenangkan hati wanitanya, mendapatkan sentuhan dari Albert Fatimah langsung menatap Albert dengan sangat lekat.
__ADS_1
Lalu, tanpa Albert duga, Fatimah langsung memeluk Albert dengan sangat erat.
"Terima kasih, Al. Terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan aku," Fatimah tersenyum namun air matanya tetap saja mengalir dengan deras.