Hati Yang Kau Sakiti

Hati Yang Kau Sakiti
Terkejut


__ADS_3

Keesokan harinya, Aby memutuskan untuk mengajak Fatimah, Aliana dan juga putri kecilnya untuk pulang ke indonesia. Karena menurutnya akan lebih baik jika pulang lebih cepat, agar Fatimah bisa terlihat lebih siap.


Fatimah pun tentu saja setuju, karena dia juga sudah sangat merindukan kedua orang tuanya. Dia juga ingin melakukan perawatan terlebih dahulu untuk menyambut kedatangan calon mertuanya.


Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih dua puluh empat jam, akhirnya Fatimah pun bisa menginjakkan kakinya di negara kelahirannya tersebut.


"Assalamualaikum, Ayah, Bunda. Arra kangen," kata Fatimah.


Fatimah langsung menghambur ke pelukan Aksa, kemudian beralih kepelukan Bundanya. Begitu pun dengan Aby, Aliana dan juga Delina. Mereka langsung memeluk Najma dan juga Aksa.


"Waalaikumsalam, Sayang." Najma langsung mengecupi setiap inci wajah putrinya.


"Sekarang kalian istirahat dulu, pasti cape," kata Aksa.


"Ya Ayah," jawab Fatimah.


Fatimah langsung masuk ke dalam kamarnya, dia sudah sangat lelah. Dia ingin berendam air hangat dan merebahkan tubuh lelahnya.


Begitu pun dengan Aby dan Aliana, mereka langsung masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang terasa lelah.


Berbeda dengan Delina, anak itu terlihat sangat segar. Karena selama berada di dalam pesawat dia terus saja tidur. Oleh karenanya, dia pun langsung meminta Aksa untuk mengajaknya jalan-jalan.


Aksa pun dengan senang hati mengajak cucunya itu untuk jalan-jalan, Aksa membawa cucunya itu berkeliling dengan mobilnya.


Fatimah kini tengah asik berendam dalam buthup, matanya tengah terpejam. Sedangkan hidungnya tengah menghirup dalam-dalam aroma Vanilla yang terasa begitu sedap.


"Wangi sekali," ucap Fatimah.


Fatimah benar-benar main busa sabun sambil mengusap-usap tubuhnya, tak lama tangannya pun menggapai botol sampo yang berada tak jauh darinya.


"Dimana sih itu sampo?" tanya Fatimah.


Karena tangannya tak juga bisa menggapai sampo yang dia butuhkan, akhirnya Fatimah pun membuka matanya.


Alangkah kagetnya saat air yang dia pakai buat berendam berubah warna menjadi merah, Fatimah pun langsung keluar dari dalam buthup.


"Astagfirullah, aku kan sedang datang bulan." Fatimah segera membuang air di dalam buthup.


Kemudian, dia pun mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Setelah selesai mandi, Fatimah lalu segera memakai kimono mandinya.


"Aku harus segera pake pembalut," ucap Fatimah.


Setelah selesai dengan ritualnya, Fatimah pun memakai daster batik selutut dan langsung merebahkan tubuhnya.


"Ternyata jakarta sangat panas," ucapnya sebelum terlelap.


*/*


Fatimah merasa jika pipinya terasa ada yang mengelusnya, bahkan tangannya terasa hangat dan nyata.


Dia berusaha membuka matanya yang terasa sangat berat, matanya langsung memicing saat melihat Albert yang kini tepat berada di depan wajahnya.


"Sepertinya aku terlalu memikirkan, Al. Sampai-sampai aku berhalusinasi melihat wajah Al di dalam kamarku," ucap Fatimah dengan tangan yang terus saja mengucek matanya.


"Ra, ini beneran aku. Aku kangen," ucap Albert.


Mendengar suara yang begitu dia kenal, Fatimah pun langsung duduk dan menatap wajah lelaki yang berada di depannya.


"Al, ini beneran kamu?" tanya Fatimah.


Albert langsung menganggukkan kepalanya, Fatimah langsung menjerit kala dia melihat penampilannya yang hanya menggunakan daster pendek selutut tanpa lengan.

__ADS_1


"Aaaaa! Keluar dari kamar aku, Al!" teriak Fatimah.


"Ra, jangan usir aku. Aku kangen banget sama kamu, aku ngga da niatan buruk. Cuma pengen ketemu sama kamu," kata Albert.


Fatimah langsung menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhny, dia merasa malu karena auratnya dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya.


"Kamu keluar dulu, Al. Aku ganti baju dulu," ucap Fatimah.


"Baiklah, aku tunggu kamu di ruang tamu." Al bangun, lalu keluar dari dalam kamar Fatimah.


Fatimah pun bisa bernapas lega, dia langsung turun dari tempat tidurnya. Lalu dengan cepat mencuci muka dan mengganti pakaiannya.


"Ya Tuhan, bagaimana bisa Al masuk ke dalam kamarku!" kesal Fatimah.


Fatimah lalu keluar dari dalam kamarnya, kemudian dia langsung melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.


Albert langsung melebarkan senyumannya, ketika melihat wanita pujaan hatinya datang menghampiri dirinya.


"Al, kamu kenapa bisa di sini?" tanya Fatimah.


"Aku kangen banget, Ra. Rasanya aku sulit sekali bernapas selama jauh dari kamu," kata Albert.


"Gombal! Terus, tadi kenapa kamu masuk ke kamar aku? Kita belum nikah, Al. Seharusnya kamu tahu jika kamu belum boleh masuk ke dalam kamar aku," ucap Fatimah.


"Aku udah ngga tahan, Ra. Pengen ketemu kamu, aku udah nunggu kamu satu jam tapi kamunya ngga bangun-bangun," keluh Albert.


Fatimah tidak bisa berkata-kata lagi, dia benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Albert.


"Kamu kok bisa masuk kamar aku, Al? Memangnya Ayah sama Bunda ngga ngelarang kamu?" tanya Fatimah.


"Mereka sedang pergi makan siang di luar, kamu dibangunin ngga bangun-bangun. Jadi, setelah kepergian mereka. Aku langsung masuk ke dalam kamar kamu," jawab Albert.


" Ya ampun, Al. Seharusnya kamu pulang saja," kata Fatimah.


"Kayaknya besok aku mau langsung nikahin. kamu saja, Ra. Aku udah ngga tahan jauh-jauh dari kamu," kata Albert lagi.


"Apa!?" tanya Fatimah kaget.


"Besok aku kesini sama kedua orang tuaku, sekalian bawa penghulu. Aku udah ngga kuat lama-lama jauh dari kamu," kata Albert.


"Al, please deh. Jangan gila, kamu yang bilang kita nikahnya seminggu setelah lamaran," kata Fatimah.


"Ngga bisa, Ra. Aku udah ngga kuat," jawab Albert.


"Terserah," kata Fatimah.


Mendengar kata 'terserah', Albert menganggap itu sebagai jawaban. Albert langsung bangun dan memeluk Fatimah, sontak Fatimah langsung memberontak.


"Al, kita belum jadi pasangan halal!" kata Fatimah.


"Maaf, aku terlalu bahagia." Albert melerai pelukannya.


"Ya udah kamu pulang sana, aku ngga mau kalau nanti akan jadi fitnah," keluh Fatimah.


"Baiklah, Arra, Sayang." Albert mengecup kening Fatimah lalu langsung berlari.


Fatimah terlihat sangat kesal sekali, tapi sayangnya dia tak bisa berbuat apa-apa. Karena Albert sudah keluar dari rumah Aksa.


"Kenapa dia jadi nakal seperti itu?"


Fatimah lalu pergi menuju ruang makan, karena perutnya terasa sangat lapar. Dia sempat melirik ke arah jam yang bertengger cantik di dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul dua siang.

__ADS_1


"Pantes laper banget," ucap Fatimah.


*/*


Keesokan harinya, Fatimah sangat kaget saat dia terbangun dari tidurnya. Halaman rumah Aksa sudah terhias dengan sangat rapih, bunga-bunga mawar putih dan juga anggrek sudah menghiasi setiap sudut ruangan.


Bahkan sudah ada panggung pelaminan yang terlihat sangat cantik, sederhana namun terlihat elegan.


"Ayah, Bunda!" Fatimah berkeliling rumah mencari Ayah dan Bundanya.


Fatimah sudah berkeliling menyisiri rumah besar Aksa, namun dia tak menemukan kedua orang tuanya.


Hanya ada Aby dan juga Aliana yang sedang duduk berduaan di taman belakang, Fatimah langsung menghampiri mereka dan duduk tepat di samping Aby.


"By, Bunda sama Ayah kemana?" tanya Fatimah.


"Sedang kebutik, ngambil baju pengantin untuk Kakak," jawab Aby.


"What? Jadi, hari ini beneran hari pernikahan aku?" tanya Fatimah tak percaya.


"Ya, kemarin siang keluarga besar kita sudah bertemu dengan Tuan Ansell dan Nyonya Ilmira. Kita setuju untuk segera menikahkan kalian, kami takut Kak Al akan pingsan jika menunggu terlalu lama," ucap Aby.


"Ya Tuhan, kenapa kalian tidak bertanya dulu kepadaku?" tanya Fatimah.


"Karena, Kakak pasti ngga bakal nolak kalau Ayah sudah berkata harus," kata Aby.


"Heh!" Fatimah terdengar menghela napas berat.


"Sudahlah, Kak. Nikmati saja menikah dengan lelaki posesif seperti Kak Al, aku tahu dia lelaki baik walaupun terlihat sangat posesif," kata Aby.


"Hem," jawab Fatimah pasrah.


"Arra, Sayang. Bunda nyariin kamu, ayo coba dulu baju pengantinnya. Albert sudah membelikan gaun pengantin yang begitu indah buat kamu," kata Najma.


"Iya, Bunda," jawab Fatimah.


Fatimah pun langsung mengikuti langkah Najma, mereka langsung masuk ke dalam sebuah ruangan yang sudah disiapkan khusus untuk ganti baju dan juga untuk perawatan.


Di ruangan tersebut bahkan sudah ada tiga orang yang akan melakukan perawatan pada tubuh Fatimah.


"Ini maksudnya apa, Bun?" tanya Fatimah.


"Kamu coba dulu gaun pengantinnya, terus habis itu kamu perawatan. Soalnya pukul tujuh malam acara ijab kabulnya akan dilaksanakan," ucap Najma.


"Ya ampun, aku benar-benar tidak tahu apa-apa. Persis seperti boneka," keluh Fatimah.


"Ngga usah ngeluh, kamu juga pasti seneng kan, bisa nikah sama Albert?" tanya Fatimah.


"Apa sih, Bun?" tanya Fatimah malu-malu.


"Sudah sana, coba dulu gaunnya." Najma mendorong tubuh Fatimah menuju ruang Ganti.


Fatimah pun menurut, sepuluh menit kemudian Fatimah pun terlihat keluar dari ruang ganti.


"Masya Allah, Sayang. Kamu cantik banget, gaunnya juga pas banget. Albert pinter banget milih gaunnya," puji Najma.


Fatimah begitu bahagia, bukan hanya karena Albert sudah memberikan gaun yang indah untuk dirinya. Namun, dia juga sangat bahagia saat melihat rona bahagia di wajah Najma.


Tak seperti saat dirinya menikah dengan Rudi, tak ada senyum bahagia dari bibir wanita yang telah melahirkannya itu.


Hanya ada senyum getir dan rasa khawatir, bahkan kala menikah dengan Rudi hanya ada acara ijab kabul saja.

__ADS_1


Membuat Najma dan Aksa sedih, karena putrinya menikah secara tak layak kala itu. Namun, hari ini. Fatimah sangat senang, karena masih bisa memberikan rasa bahagia kepada kedua orang tuanya.


__ADS_2