
Tiga bulan sudah Fatimah melalui hari-harinya dengan sangat teratur, makan teratur, tidur teratur dan semuanya serba teratur.
Bahkan Fatimah pun sudah jarang masuk ke kantor, dalam seminggu dia cuma tiga kali saja menyambangi kantornya.
Itu pun jika ada hal yang mendesak dan tidak bisa diwakilkan oleh Cristhina, semua itu dia lakukan agar Fatimah segera bisa memiliki keturunan.
Namun sayangnya, sampai saat ini Fatimah belum juga merasakan tanda-tanda kehamilan. Fatimah terlihat prustasi, dia benar-benar takut jika Albert akan merasa kecewa padanya.
Dia takut jika Albert akan meninggalkan dirinya karena tak kunjung memberikan keturunan untuk keluarga Raimhond.
"Sayang, kenapa melamun terus?" tanya Albert.
Albert menghampiri Fatimah yang sedang duduk di bangku taman, menikmati indahnya sore hari sambil memikirkan cara apa yang akan dia ambil selanjutnya.
"Mas!" Fatimah terlihat kaget kala Albert memeluknya dengan erat.
"Kenapa melamun, hem?" tanya Albert.
"Aku sedih, sampai sekarang belum juga hamil. Aku takut kamu ninggalin aku," kata Fatimah lirih.
"Shuut! Ngga boleh ngomong kaya gitu, kamu itu segalanya bagiku. Kamu adalah bidadari surgaku, aku tak akan bisa jauh darimu. Mana mungkin aku meninggalkan dirimu, Sayang." Albert terlihat mengecupi setiap inci wajah istrinya lalu dia pun melabuhkan ciuman hangat di bibir Fatimah.
Fatimah pun dengan senang hati langsung membalas ciuman Albert, ciuman yang selalu membuat Fatimah merasa candu.
"Jangan sedih terus, bagaimana kalau kita berbulan madu saja? Siapa tahu dengan berbulan madu, kamu bisa cepat hamil." Albert berusaha menyenangkan istrinya dengan mengajak Fatimah untuk berbulan madu.
Fatimah terlihat berpikir, lalu seulas senyum terbersit dari bibir mungilnya.
"Memangnya harus bulan madu?" tanya Fatimah.
"Harus, Sayang. Karena dari awal menikah kita sama-sama sibuk dan belum sempat untuk berbulan madu," kata Albert.
"Boleh, Mas. Bulan madu kemana?" tanya Fatimah.
"Terserah kamu, Sayang. Kemana pun kamu ingin, aku akan mengabulkannya." Albert mengecup kening Fatimah lembut sekali.
Sebenarnya Fatimah memang ingin berbulan madu ketika dia baru menikah dengan Albert, karena semua pekerjaan bisa dihandle oleh Cristhina.
Lagi pula bulan madu paling juga menghabiskan waktu satu minggu, tak akan lama pikirannya. Namun karena Albert yang sangat sibuk, dia tak berani memintanya.
"Aku mau pergi ke Bali, aku mau lihat pantai. Mau nyium bau pantai," kata Fatimah.
Albert langsung tertawa, kemudian dia mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Hanya ke Bali?" tanya Albert. Fatimah langsung menganggukkan kepalanya, "ngga mau keluar negeri?" tanya Albert lagi. "Fatimah dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Ke Bali saja, mau main air di pantai. Terus, aku mau menikmati matahari terbit dan matahari terbenam di sana." Fatimah langsung mengecup bibir suaminya.
"Besok kita ke Bali," kata Albert.
"Serius, Sayang?" tanya Fatimah.
"Serius, sekarang hari sudah makin gelap. Kita masuk," ajak Albert.
Fatimah lalu menganggukkan kepalanya, Albert tersenyum. Lalu, dia merangkul pundak Fatimah dan mengajaknya untuk segera masuk ke dalam kamar mereka.
Tentu saja bukan untuk melakukan pergumulan panas, namun untuk menunggu waktu maghrib tiba.
*/*
Keesokan harinya, Fatimah terlihat sudah bersiap dengan koper di tangannya. Padahal, mereka hanya pergi ke Bali pikir Albert.
Namun dari semalam Fatimah terlihat sangat kerepotan, dia terlihat berbenah dengan penuh semangat.
Kenapa juga harus membawa koper segala? Bukankah mereka bisa membeli apa pun yang diinginkan saat tiba di Bali?
Namun, Fatimah beralasan jika tidak semua hal harus dibeli. Ada kalanya mempersiapkannya dari rumah saja, bahkan koper yang Fatimah bawa juga merupakan perlengkapan Albert dan juga dirinya.
"Sudah siap?" tanya Albert.
"Sudah, Sayang." Albert lalu mengecup bibir Fatimah.
Sepasang suami istri itu pun langsung pergi menuju Bandara, mereka akan segera melakukan bulan madu selama satu minggu di Bali.
Tempat yang Fatimah inginkan untuk dikunjungi, tempat yang Fatimah inginkan untuk bermanja dengan sang suami.
Tiba di Bandara, Fatimah sangat kaget karena ternyata di sana juga sudah ada Aksa dan juga Najma.
Najma dan Aksa terlihat tersenyum, kala melihat anak dan menuntunnya semakin mendekat ke arah mereka.
"Ayah, Bunda. Kalian sedang apa di sini?" tanya Fatimah.
Raut wajah Fatimah menggambarkan kebingungan, tentu saja dia bingung karena melihat keberadaan kedua orang tuanya di Bandara tersebut.
Tadi malam Fatimah memang mengabarkan jika dia akan bukan madu ke Bali, tapi dia tidak tahu jika kedua orang tuanya akan menyempatkan hadir ke Bandara.
"Tentu saja kami ingin ikut kalian," kata Najma.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Bundanya, mata Fatimah langsung membulat dengan sempurna. Dia tak menyangka jika ternyata kedua orang tuanya juga akan ikut pergi ke Bali.
Padahal saat tadi malam dia mengabarkan akan berbulan madu, Najma dan Aksa terdengar menyahutinya dengan nada biasa saja.
Tak ada tanda-tanda jika mereka seperti akan ikut ke Bali, Fatimah langsung menatap Albert. Dia seolah meminta jawaban kepada suaminya tersebut, Albert terlihat tersenyum melihat kebingungan di wajah istrinya.
Kemudian, Albert merangkul pundak istrinya. Lalu, Albert pun berkata.
"Aku sengaja mengajak Ayah dan juga Bunda untuk pergi ke Bali, Sayang. Agar kamu ada temannya di sana, biar kita bisa menikmati kebersamaan yang sangat jarang bisa kita lalui bersama," ucap Albert.
"Benarkah?" tanya Fatimah.
"Ya, Sayang," jawab Albert.
"Lagian sesekali Ayah juga perlu liburan sama Bunda," ucap Aksa.
Aksa terlihat merangkul pundak Najma, lalu dia mengecup kening istrinya dengan sangat lembut.
"Ayah, ih! Sudah tua, malu." Najma terlihat mencebikkan bibirnya.
"Umur boleh tambah tua, tapi jiwa muda masih bergejolak," kata Aksa.
Albert terlihat tergelak bersama dengan Fatimah, sedangkan Najma terlihat cemberut. Menurutnya, suaminya itu dirasa terlalu berlebihan.
"Hati-hati, Yah. Nanti Bunda hamil lagi," kata Albert.
"Ngga akan, Mas. Bunda sudah disteril, aman pokonya," kata Fatimah.
"Loh, kok?" tanya Albert heran.
"Ayah itu terlalu Do-yan, tiap tahun Bunda pasti akan memproduksi hasil kerja Ayah. Jadi, pas lahiran si kembar Ayah meminta dokter agar Bunda disteril aja. Kasihan Bundanya terus berproduksi," jelas Fatimah.
Albert langsung tertawa, sedangkan Aksa terlihat melotot tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh putrinya.
Namun di sela tawanya Albert jadi berpikir, jika mertuanya mempunyai alat reproduksi yang begitu produktif, seharusnya Fatimah pun tidak ada masalah dengan alat reproduksinya.
Mungkin saja hanya karena dia terlalu capek dan juga lelah dalam bekerja, karena Albert juga sempat memeriksakan kondisi rahim Fatimah dan dokter berkata jika kondisinya sudah sangat baik.
*
*
*
__ADS_1
Selamat Pagi, maaf kemarin ngga bisa up. Semoga kalian sehat selalu, jangan lupa tinggalkan jejak, Yes....