
" kita pulang sayang. " ( alpin)
" iya mas. " ( alea)
" oh iya sayang, tadi kamu di mal lagi apa. " ( alpin) .
" aku mau beli peralatan bayi mas, karena aku belum beli apa apa, untuk menyambut anak kita. " ( alea)
" astaghfirullah sayang, maafin mas ya, karena mas engga tau kalau kamu lagi perlengkapan anak kita, mas malah membawa kamu pergi. " ( alpin)
" engga apa apa mas, kan besok kita bisa beli perlengkapan anak kita. " ( alea)
" iya sih yang, maaf ya. " ( alpin) dengan tatapan bersalah.
" santay aja mas, muka nya engga usah di Tekuk gitu deh, nanti tampan nya ilang."( alea) ia sedikit menggoda suami nya.
" baru nyadar kalau suami nya itu tampan " ( alpin)
" iya aku baru nyadar, kalau kamu itu tampan." ( alea)
alpin pun tersenyum, dan mencubit pipi gembul alea, karena dulu, pipi alea tidak segembul sekarang, mungkin karena paktor kehamilan nya, makan nya pipi nya gembul.
" iya udah kita pulang yu. " ( alpin)
" ayo, tapi aku mau pulang ke rumah aku. " ( alea)
" iya sayang, kita pulang ke rumah kamu. " ( alpin) ia mengecup kening alea, dan menggenggam tangan nya.
mereka pun chek in, dan kini alpin dan alea, sudah berada di mobil, di saat alpin akan menyala kan mesin mobil nya, ternyata handphone nya berbunyi, alpin pun mengambil handphone nya di saku celana nya, terlihat Siska yg menghubungi nya, sungguh ia malas, tapi ia takut itu penting.
" mas angkat aja, tlpn nya. " ( alea) ia tau kalau alpin sedang bingung.
setelah mempertimbangkan, akhir nya alpin pun mengangkat sambungan tlpn nya, ia menekan tombol hijau.
" hallo.. ?? " ( alpin)
" hallo, sayang.. ?? " ( Siska)
" ada apa. " ( alpin)
" aku cuman mau nanya, kamu sekarang pulang kan " ( Siska)
" entah lah, kita liat aja nanti. " ( alpin)
" loh, ko gitu sih sayang, kamu kan janji, sekarang mau pulang. " ( Siska)
alpin menghela napas nya berat, ia bingung harus menjawab apa, karena ia tidak ingin berpisah dengan alea.
" sayang, ingat anak kamu sudah menunggu kamu. " ( Siska)
__ADS_1
" iya, nanti aku pulang. " ( alpin)
" nah gitu dong mas, aku nunggu kamu, aku mau pakai baju yg kita beli tadi, pasti kamu akan berhasrat. " ( Siska)
alpin melirik alea, ia tau kalau alea mendengar ucapan Siska, ada rasa tak enak,apa lagi alea memaling kan wajah nya, ke arah jendela.
alpin pun menggenggam erat tangan alea, tapi alea tidak merespon sama sekali.
" sayang, kenapa malah diam, itu kan warna Paforit kamu, dan itu juga kamu yg pilih. " ( Siska)
degh
hati alea, begitu sakit di saat mendengar ucapan Siska, walaupun mereka sepasang suami istri, tetap saja ia tidak rela belum apa apa, hati nya sudah sakit seperti ini.
" iya udah aku tutup ka. " ( alpin) ia ingin mengakhiri sambungan telepon nya, karena merasa tak enak dengan alea, apa lagi melihat alea, yg menangis dalam diam.
" tapi janji ya kamu pulang. " ( Siska)
" iya, aku pulang, setelah urusan aku beres. " ( alpin)
tanpa banyak kata, alpin pun memutus kan sambungan tlpn nya, ia langsung memasukkan handphone nya ke saku celana nya, dan langsung memeluk alea.
alea hanya terdiam, tidak membalas peluk kan alpin, membuat alpin merasa bersalah.
" sayang maaf.. ?? " ( alpin)
tapi tidak ada jawab ban dari alea, alpin pun mereray peluk kan nya, dan menangkup pipi aleaalea, tidak lupa ia menghapus jejak
alea hanya tersenyum, tanpa banyak kata, alea pun membenarkan posisi duduk nya, dan tatapan nya, ke arah luar.
alpin menghela napas nya, ia pun menyala kan mobil nya.
" alamat rumah nya, sayang. " ( alpin)
alea pun menyebut kan alamat nya.
di sepanjang perjalanan, alea tidak mengeluarkan suara, begitu pun sebalik nya , alpin pun sama, karena canggung.
hampir menempuh jarak satu jam, mereka pun akhir nya sampai, ke rumah alea.
alea dan alpin pun turun, alpin menggenggam tangan alea.
" assalamu'alaikum.. ?? " ( alpin dan alea)
" waalaikumsalam.. ?? " ( mamah alpin)
alea dan alpin pun mengecup punggung tangan, mamah alpin.
" duduk sayang. " ( mamah alpin)
__ADS_1
mereka pun duduk, dan datang lah papah alpin dan sisi.
" pah. ?? " ( alpin)
ia pun mengecup tangan papah alpin.
" papah tega ya, menyembunyikan ini semua. " ( alpin) ia langsung tutup poin Saja.
" papah, hanya melindungi cucu papah, dan mantu papah saja, apa salah. " ( papah alpin) ia menyesal teh nya, yg sudah di sedia kan oleh sang istri.
" tapi kenapa, papah engga bilang kalau alea, bersama papah. " ( alpin)
" buat apa, papah bilang orang kamu sibuk dengan istri dan anak kamu, selama ini kamu kemana aja, bahkan untuk menemui papah sama mamah aja, engga ada. " ( mamah alpin) kini ia yg berbicara, karena ia jengah dengan sikap sang anak.
" kamu boleh cuek sama papah dan mamah, tapi ingat anak kamu sisi, apa pernah kamu menanya kan keadaan sisi, engga pernah, mungkin kalau sisi engga sama mamah dan papah, cucu mamah akan terlantar. " ( mamah alpin) ia menakan kata kata nya, begitu emosi.
alpin terdiam seribu basa, karena apa yg di ucap kan oleh mamah nya, benar ada nya.
" cucu mamah yg ada aja, kamu cuekin, apa lagi yg belum lahir ke dunia, makan nya mamah membawa alea dan calon cucu mamah, dari laki laki yg tidak bertanggung jawab seperti kamu. " ( mamah alpin) ia menaik kan nada suara nya, karena ia benar benar emosi, saking kesal nya air mata nya turun ke pipi nya.
alpin pun menuju ke sang mamah, dan memeluk nya.
" maaf kan aku mah. "( alpin) ucap nya lirih.
" aku salah mah, berikan aku kesempatan, sekali lagi mah, aku mohon.. ?? " ( alpin)
tapi mamah alpin tidak mengeluarkan satu kata pun.
" aku akan memperbaiki semua nya. " ( alpin)
mamah alpin pun mereray peluk kan nya, dan menatap ke arah alpin.
" mamah, serah kan semua nya ke alea, karena alea yg akan menjalan kan semua nya. " ( mamah alpin)
" gimana sayang. " ( mamah alpin) ia menatap ke arah alea.
" jalannin dulu aja mah, biar kan waktu yg menjawab. " ( alea)
" makasih. " ( alpin) ia pun menuju ke alea, dan memeluk nya.
di saat ia sedang memeluk alea, handphone nya berbunyi, ternyata dari Siska, ia pun menekan tombol hijau.
" ada apa ka. " ( alpin )
" anak kita demam mas. " ( Siska) dengan nada panik.
" panas nya, sangat tinggi. " ( Siska)
" iya udah sekarang aku pulang. " ( alpin )
__ADS_1
tanpa berpamitan alpin meninggal kan mereka semua,
sedang kan mereka hanya bengong, melihat kelakuan alpin, jangan di tanya hati alea begitu sakit, di tinggal begitu saja tanpa berpamitan.