
kini alpin menuju ke rumah orang tua nya, ia ingin menginap di sana.
di saat ia akan ke luar, ia bertemu dengan mang ipin, yg membawa koper.
" mang mau ke rumah sakit. "( alpin).
" iya tuan.. ?? "( mang ipin)
alpin hanya mengangguk kan kepala nya, dan ia pun masuk ke dalam rumah, terlihat sang anak sedang duduk di sofa.
ia pun menuju ke arah sang anak, ia duduk di sisi sang anak.
sisi menoleh sebentar, dan melanjut kan menonton nya.
" nak.. ?? "( alpin).
" ehmptz.. ?? "( sisi) tanpa menoleh ke arah alpin.
" kamu masih marah nak. "( alpin)
" apa, papah bilang aku masih marah, pikir aja sendiri. "( sisi) ia menatap sinis ke arah alpin.
" sekarang bukan hanya mamah alea, yg papah sakiti tapi omah, ia sampai masuk ke rumah sakit, gara gara papah.. ?? "( sisi)
" mau sampai kapan, papah seperti itu. "( sisi) kini air mata nya, yg ia tahan jatuh ke pipi nya.
" maaf kan papah.. ?? "( alpin)
" engga cukup dengan kata maaf pah, papah benar benar sudah mengecewa kan aku, dan omah pah. "( sisi).
alpin tidak bisa berucap,karna ucapan sang anak.
" mau sampai kapan, papah menyakiti orang orang yg sayang sama aku pah, dulu mamah alea, yg meninggal kan aku, karena ke egoisan papah, sekarang omah, yg masuk ke rumah sakit, kenapa papah melakukan itu semua pah, ke pada aku pah, kenapa mengambil orang orang yg tulus mencintai aku dan menyayangi aku, kenapa pah.. ?? "( sisi) kini nada suara nya meninggi.
" kenapa papah engga bunuh aku aja pah, biar papah puas, biar aku engga merasa kan sakit hati, atas perlakuan papah, yg mengambil orang orang yg sayang sama aku. "( sisi)
" cukup, kamu yg sopan kalau bicara sama papah. "( alpin) ia menatap tajam ke arah sang anak.
__ADS_1
" papah, pingin di hargai sama aku, tapi papah menghargai aku engga, dan mendidik aku untuk sopan, engga kan, jangan kan mengajar kan aku, untuk berbagi waktu pun,papah engga ada, bahkan papah lebih banyak berbagi waktu untuk pacar papah tercinta, ke timbang aku, darah daging nya. "( sisi).
" aku akan bersikap sopan, kalau orang tersebut menghargai aku. "( alpin) sambil beranjak dari sofa, meninggal kan sang papah, yg terlihat menahan emosi nya.
sisi pun menuju kamar nya, sedang kan alpin masih terdiam di sofa, ia mengusap wajah nya kasar, apa yg di ucap kan sang anak, benar semua, ia tidak bisa mengelak nya.
angga pun menuju ke kamar nya, sebelum nya ia menuju ke dapur, mengambil air di lemari es, karena tenggorok kan nya kering, ia meneguk nya, hampir setengah nya, setelah itu, ia pun menjuju kamar nya.
Di saat ia duduk,handphone nya berbunyi, ia pun melihat handphone nya, ternyata friska.
ingin rasa nya, ia mengabay kan nya, tapi friska akan terus terus san, menghubungi nya, mau tidak mau ia harus mengangkat nya.
" ada apa.. ?? "( alpin).
" jangan ketus gitu loh sayang.. ?? "( friska)
" terus, aku harus gimana. "( alpin).
" biasa nya juga lembut, ingat aku sedang mengandung anak kamu. "( friska)
alpin menghela napas nya.
" kamu dimana sekarang. "( friska).
" aku di rumah ke dua orang tua ku.. ?? "( alpin)
" oh, kenapa engga menunggu di rumah sakit. "( friska)
" mamah, masih marah sama aku. "( alpin)
" yg sabar ya sayang, mungkin sekarang masih syok, dan butuh waktu, dengan seiring nya waktu, pasti akan menerima hubungan kita. "( friska)
" iya mudah mudah han saja. "( alpin)
" kamu ada apa menghubungi aku. "( alpin)
" aku mau, ngasih tau kalau besok kita ada jadwal perwed.. ?? "( friska)
__ADS_1
" jangan ada foto perwed, aku engga akan konsen. "( alpin)
" kurang bagus dong sayang, masa engga ada foto perwed. "( friska)
" iya biar saja. "( alpin)
" pokok nya aku mau, foto perwed.. ?? "( friska) ia merengek, seperti anak kecil.
" tolong ngertiin aku ka, posisi aku benar benar pusing. "( alpin)
" tapi pin.. ?? "( friska)
" gini aja, mending kamu batal menikah dengan aku, atau kamu mau melanjut kan pernikahan ini, asal kamu ikuti apa kata aku sekali ini aja, kalau pun engga jadi, kita menikah, aku akan tetap bertanggung jawab dengan anak aku. "( alpin) dengan nada tegas nya.
friska pun terdiam, engga mungkin ia batal menikah , padahal tinggal satu langkah lagi, dia akan menjadi nyonya, ia engga mau menyia nyia kan perjuangan nya.
" ok, aku akan ikuti,ke mauan kamu. "( friska) akhir nya ia mengalah.
" iya udah, aku tutup aku lelah. "( alpin)
tanpa menunggu ucapan friska, alpin pun memati kan sambungan telpon nya.
ia melempar handphone nya, di atas kasur, langsung merebah kan tubuh nya, karena ia benar benar lelah, bukan hanya tubuh nya, tapi pikiran nya pun, ikut lelah.
" al, aku butuh kamu.. ?? "( alpin) ia berucap lirih, ia jadi teringat alea, karena ia berdekatan dengan alea hati nya begitu tenang.
" al, hanya dengan kamu, hati ini tenang.. ?? "( alpin) kini air mata nya, tak tertahan, jatuh ke pipi nya.
alpin pun menangis sejadi jadi nya, karena lelah menangis .
berbeda dengan alea, ia tidak bisa tidur karena teringat alpin, ia masih berada di rumah sakit, karena kondisi nya belum benar benar membaik.
selama di rumah sakit, ia di temani oleh dino, dan untuk hari ini dino belum datang, karena ada pekerjaan yg mengharus kan ia hadir.
" nak, kamu merasa kan, apa yg mamah rasa kan. "( alea) ia mengelus perut nya.
" apa kami, kangen sama papah kamu nak, maaf kan mamah ya, kalau mamah harus menjauhi kamu, dari papah kamu karena mamah engga sanggup untuk bertahan di sisi nya, tapi mamah janji nak, akan menjadi ibu sekaligus ayah yg baik, untuk kamu, jadi kamu engga akan kehilangan kasih sayang, tenang aja nak. "( alea) masih dengan mengusap perut nya, tak terasa air mata nya jatuh ke pipi nya.
__ADS_1
" nanti kalau, tiba waktu nya, mamah akan memperkenal kan kamu sama papah kamu nak, moga aja ia bisa menerima kamu ya nak. "( alea) ia pun mengusap air mata nya, yg jatuh ke pipi nya.
alea pun merebah kan tubuh nya, di atas bangkar,ia menghela napas panjang nya, ia baru teringat kalau ke dua orang tua nya alpin, dan sisi belum di beritahu atas ke hamil lan nya, ia melirik jam dinding ternyata, sudah malam, ia urung kan untuk menghubungi mamah nya alpin, ia akan menghubungi besok saja, kalau sekarang takut mengganggu,istirahat nya.