Hati Yang Kau Sakiti

Hati Yang Kau Sakiti
Tamunya Sudah Pulang


__ADS_3

Pukul empat pagi Albert terbangun dari tidurnya, senyumnya mengembang dengan sempurna kala melihat Fatimah yang sedang memeluknya dengan posesif.


"Selamat pagi, My Wife." Albert berucap dengan bisiknya, karena takut membangunkan sang istri.


Dia lerai pelukan istrinya dengan perlahan, tentunya agar tidak membangunkan Fatimah dalam lelapnya. Setelah berhasil lepas dari pelukan istrinya, Albert langsung turun dari ranjang.


Albert pun dengan cepat melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, setelah selesai dengan ritual mandinya Albert langsung memakai baju koko lengkap dengan sarungnya.


Dia keluar dari kamar dengan perlahan, dia ingin melaksanakan shalat berjamaah bersama dengan keluarga istrinya.


Benar saja, sampai di Mushola semua anggota keluarga Pramudiya sudah berkumpul di sana.


"Bagaimana malam pertamanya?" goda Callista.


"Baru hangat aja, belum panas," jawab Albert.


Callista terlihat mengernyit heran, mana ada malam pertama cuma anget, pikirnya. Aby yang menyadari raut wajah Kakaknya, langsung menghampirinya.


"Kak Arra sedang datang bulan," jawab Aby.


"Ya ampun, percuma dong gue merias kamar Arra." Callista langsung cemberut sambil memukul tangan Aby.


"Aduh, Kok gue yang jadi sasaran!" keluh Aby.


"Habisan elu ngga bilang dari kemarin, gue kan udah total banget kemarin ngeriasnya!" Callista terlihat cemberut.


Najma langsung menghampiri dan mengelus lembut punggung putri pertamanya.


"Sudah jangan marah, kita shalat dulu. Adi sudah baca iqomat," kata Najma menengahi.


"Oke, Bunda," jawab Callista.


Akhirnya setelah perdebatan kecil antara adik dan kaka itu pun berlanjut dengan shalat subuh berjamaah, Albert pun terlihat langsung maju dan ikut berbaris dengan adik dan kakak iparnya Fatimah.


Selesai shalat, semua anggota keluarga langsung berkumpul di ruang keluarga. Sedangkan Albert langsung masuk ke dalam kamar Fatimah.


Ternyata Fatimah masih terlelap dalam tidurnya, Albert tersenyum. Dia lalu membuka baju dan juga sarungnya, hingga hanya celana boxer saja yang dia tak tanggalkan.


Lalu, Albert pun langsung merebahkan tubuhnya dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan istrinya. Dia kecup dan dia belai pipi istrinya.


"Kamu cantik banget, Yang." Kembali Albert mengecup bibir istrinya.


Albert memeluk Fatimah dengan erat dan berusaha untuk memejamkan matanya kembali, dia sengaja tak membangunkan Fatimah. Karena tak ingin mengganggu istrinya, lagi pula dia pun masih merasa sangat lelah.


*/*

__ADS_1


Matahari sudah meninggi, rasa hangat kini mulai berubah menjadi panas. Sinar mentari yang begitu menyilaukan menerobos masuk melalui celah jendela. Fatimah yang tengah tertidur pulas pun nampak terganggu.


Fatimah mulai menggeliatkan tubuhnya dan mengucek matanya, dia melirik jam digital yang ada di atas nakas.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, dia pun berusaha untuk bangun namun terasa sulit.


Fatimah pun baru sadar, jika dia kini tak sendiri lagi. Ada Albert yang menemani tidurnya. Bibir Fatimah langsung melengkung ke atas, tanda dia sedang tersenyum bahagia.


Apa lagi saat melihat tangan Albert yang melingkar di perutnya, dan juga wajah tampan Albert yang terasa begitu dekat dengan wajahnya.


Hal itu membuat Fatimah merasa sangat bahagia, pandangan Fatimah lalu mengarah pada dada Albert yang terlihat begitu bidang, lalu turun pada perutnya yang nampak begitu seksi dengan tonjolan indah yang bukanlah lemak itu.


"Selamat siang suamiku," bisik Fatimah.


"Hem," jawab Albert dengan mata yang masih terpejam.


Fatimah nampak terkekeh, lalu dia pun mengecup bibir suaminya dengan lembut. Tanpa Fatimah duga, Albert langsung bangun dan mengungkung tubuhnya.


"Nakal!" kata Albert.


Untuk sesat Fatimah terdiam dengan tatapan matanya yang memperhatikan tubuh indah suaminya, Albert nampak tersenyum bangga.


Albert meraih tangan Fatimah dan mengusapkannya pada dada bidangnya, lalu turun ke perutnya.


Fatimah menurut, dia mengusap dada bidang Albert dan juga perut sixpack milik suaminya itu.


"Kamu seksi banget, Mas." Fatimah mengelus lembut perut Albert sampai ke bawah.


Albert memejamkan matanya, dia berusaha untuk menahan hasratnya. Karena tak tahan Albert lalu menahan tangan Fatimah dan menguncinya, Albert tersenyum lalu menautkan bibirnya ke bibir istrinya.


"Jangan nakal! Nanti kamu nyesel," ucap Albert setelah melepas pagutannya.


"Kamu wangi banget, Mas. Udah mandi, ya?" tanya Fatimah.


"Sudah," jawab Albert.


"Ya udah, aku juga mau mandi dulu," kata Fatimah.


"Baiklah," jawab Albert.


Albert turun dari tubuh istrinya, lalu dia pun langsung memakai baju santai.


Setelah terlepas dari kungkungan suaminya, Fatimah langsung berlari ke kamar mandi. Dia ingin segera membersihkan tubuhnya, agar tercium lebih wangi oleh suaminya itu.


Tiba di kamar mandi, dia pun melihat area bawahnya yang ternyata sudah tak mengeluarkan darah lagi. Fatimah tersenyum, lalu dia pun segera melaksanakan mandi wajib.

__ADS_1


Setelah dua puluh berada di dalam kamar mandi, Fatimah keluar dengan hanya menggunakan kimono mandi saja.


Albert yang sedang duduk di sofa sampai menelan ludahnya dengan susah, karena Fatimah terlihat sangat seksi. Apa pagi kimono mandi yang istrinya pakai sangatlah tipis.


"Yang, jangan siksa aku kaya gini. Cepat pake baju!" titah Albert.


Bukannya menuruti ucapan Albert, Fatimah malah duduk di atas pangkuan suaminya.


"Astagfirullah, Yang! Jangan seperti ini!" Albert terlihat menahan napasnya, sedangkan Fatimah langsung tersenyum.


Dia sengaja ingin menggoda suaminya dengan merubuhkan pertahanan suaminya itu, dia ingin tahu sampai di mana Albert bisa menahan hasratnya.


"Memangnya kalau akunya kaya gini kenapa?" tanya Fatimah seraya menggoyangkan pinggulnya.


Albert langsung melotot tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh istrinya, dia benar-benar terpancing gairah hingga miliknya berdiri dengan tegak.


Fatimah langsung tertawa saat merasakan milik suaminya yang terasa mengganjal, sedangkan Albert terlihat memejamkan matanya.


"Turun, Yang! Atau nanti kamu akan merasakan akibatnya," kata Albert.


"Memangnya kamu mau apa, suamiku Sayang?" tanya Fatimah.


"Oh Tuhan! Kuatkan aku dari godaan bidadari cantik yang bahenol ini," ucap Albert lirih.


Mendengar ucapan suaminya, Fatimah langsung tergelak.


"Jadi aku kamu anggap penggoda? Baiklah," kata Fatimah.


Fatimah lalu menarik tali kimono mandinya, hal itu membuat Albert makin melotot tak percaya. Apa lagi saat melihat dada istrinya yang terlihat begitu sekal, membuat tenggorokan Albert terasa kering dan ingin segera menyesapnya.


"Yang, please! Jangan seperti ini," kata Albert.


Tangan Albert terlihat gemetar, lalu dia pun berusaha untuk menutup tubuh istrinya yang sudah terlihat jelas di depan matanya.


"Aku kira Mas mau, makanya aku buka. Kalau ngga mau ya udah," kata Fatimah.


Fatimah lalu turun dari pangkuan Albert dan memakai bajunya, Albert yang tak paham langsung menghampiri Fatimah dan bertanya secara langsung.


"Maksudnya gimana, Yang?" tanya Albert.


"Tamu bulanannya sudah pulang," jawab Fatimah.


"Jadi, aku udah boleh?" tanya Akbert.


Fatimah pun langsung menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2