
Hari-hari yang dilalui Fatimah terasa sangat menyenangkan, setiap hari dia selalu bekerja di Caffe milik Aby.
Walaupun Aby selalu berkata agar Fatimah tidak terlalu cape, bahkan kalau bisa hanya mengawasi para karyawan saja.
Namun tetap saja Fatimah selalu bekerja seperti karyawan yang lainnya, dia selalu berkata jika dia sangat senang saat melakukan hal itu.
Setiap hari Albert selalu menyempatkan diri untuk menemui Fatimah, entah pagi, siang atau sore hari.
Pasti dia akan ke Caffe hanya untuk memberikan seikat bunga atau pun memberikan coklat kepada Fatimah.
Atau, dia akan datang hanya untuk memberikan kata semangat pada wanita pujaan hatinya itu.
Albert benar-benar membuktikan ucapannya, dia seperti anak ABG yang sedang berusaha untuk menaklukan hati incarannya.
Semakin hari Albert semakin menunjukkan rasa cintanya kepada Fatimah, tentunya Albert tak pernah berani menyentuh Fatimah karena Albert sangat menghargai wanita pujaannya.
Albert juga sangat menjaga Fatimah, tak pernah terbesit di hatinya untuk melakukan hal yang tak sopan padanya.
Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, dia tidak akan menyentuh Fatimah atau memperlakukan Fatimah sembarangan sebelum dia menikahinya
Dia akan menjaga Fatimah dengan segenap jiwa dan raganya dia juga tak akan membiarkan Fatimah kembali terluka oleh sosok laki-laki yang datang pada kehidupanmu.
Cukup dua pria yang pernah hadir dan menorehkan luka pada hati Fatimah.
"Ini sudah 1 bulan semenjak peristiwa itu terjadi, aku harus memeriksakan diri ke dokter agar aku tahu bagaimana kondisi rahimku saat ini," ucap Fatimah.
Fatimah pun sudah bersiap, dia ingin memeriksakan dirinya ke Rumah Sakit. Mumpung hari ini dia meminta waktu untuk berlibur kepada Aby, namun pada saat dia sudah mengambil tasnya untuk pergi ke Rumah Sakit dia pun jadi berpikir kembali.
Dirinya tidak mempunyai suami, lalu apa nanti kata orang kalau tiba-tiba saja dia datang untuk memeriksakan kehamilannya.
Padahal dia sekarang sedang tinggal di negara A, tapi masih sempat memikirkan akan hal itu. Karena di sana adalah negara bebas, banyak wanita yang hamil tanpa suami.
Namun, Fatimah tentu tak terbiasa akan hal itu.
"Sebaiknya aku beli tespek saja," ucap Fatimah.
Fatimah pun akhirnya meminta sopir untuk mengantarkan dirinya menuju sebuah apotek, sampai di depan sebuah apotek, Fatimah terlihat menarik nafas dalam.
Kemudian, Fatimah terlihat keluar dari dalam mobilnya dan masuk dengan langkah ragu.
"Permisi, Kak. Aku mau beli tespek," ucap Fatimah pada Apoteker yang terlihat lebih tua darinya.
__ADS_1
Apoteker tersebut langsung tersenyum saat melihat Fatimah, usia Fatimah sudah terlihat matang, tak membuat Apoteker tersebut menjadi curiga.
"Boleh, Kak. Mau tespek yang seperti apa?" tanya Apoteker tersebut.
"Aku tidak tahu, yang penting bisa buat alat tes kehamilan," ucap Fatimah.
Dia memang tak tahu jenis tespek seperti apa, yang terpenting untuknya tespek tersebut bisa mengecek kehamilannya.
Karena dia sangat ingin tahu, apakah dia hamil atau tidak.
"Baiklah, saya kasih yang paling bagus saja. Biar hasilnya lebih akurat," ucap Apoteker tersebut.
"Oke," jawab Fatimah.
Apoteker tersebut lalu mengambilkan tespek yang dimaksud oleh dirinya, kemudian dia pun memberikannya kepada Fatimah.
"Ini ya, tespeknya. Nanti untuk cara pemakaiannya, bisa langsung dilihat dari cara penggunaannya," kata Apoteker tersebut.
"Iya, Kak," jawab Fatimah.
Setelah menerima tespek dari Apoteker tersebut, Fatimah pun langsung membayarnya. Setelah itu, dia pun langsung pulang kembali ke kediaman Aby.
"Kakak dari mana saja? Kenapa pergi tidak bilang-bilang kepadaku? Aku sangat khawatir," ucap Aliana.
Fatimah pun jadi merasa bersalah, karena dia pergi tanpa berpamitan kepada Aliana. Namun dia memang terkesan terburu-buru, karena ingin segera mengetahui apakah dia hamil atau tidak.
"Maaf ya, Dek. Tadi kakak buru-buru banget, soalnya ada sesuatu yang harus kakak beli dan ada sesuatu yang harus kakak pastikan," jawab Fatimah.
"Iya, Kak. Ngga apa-apa, yang penting kakaknya baik-baik saja," kata Aliana.
"Oh iya, Dek. Delina mana?" tanya Fatimah.
"Lagi ikut berkebun sama Mbak, di taman belakang. Dia sangat suka melihat orang yang sedang berkebun, Bahkan dia selalu Tak sabar mengambil sekop kecil dan bermain tanah," jawab Aliana.
Fatimah langsung tersenyum mendengar jawaban dari Aliana, ternyata anak sekecil Delina sangat menyukai berkebun.
"Dia sama banget ya, kayak Bunda. Aku jadi kangen sama Bunda," ucap Fatimah.
"Sini aku peluk, anggap aja aku Bunda." Aliana langsung merentangkan kedua tangannya.
Fatimah lalu tersenyum, kemudian dia pun memeluk Aliana dengan sangat erat.
__ADS_1
"Terima kasih karena kamu sama Aby sudah menerima aku di sini, selama 1 bulan ini. Aku merasa sangat senang karena kalian benar-benar selalu berusaha untuk menyemangatiku," kata Fatimah tulus.
"Jangan sungkan, karena kita adalah keluarga," ucap Aliana.
"Ya, kita adalah keluarga. Kalau begitu, Kakak pamit sebentar. Karena ada hal yang harus kakak lakukan," ucap Fatimah.
"Ya, pergilah. Sekalian Kakak istirahat," kata Aliana.
Fatimah lalu melerai pelukannya, dia tersenyum kepada Aliana lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Sampai di dalam kamarnya, Fatimah langsung mengambil tespek yang dia beli di dalam tasnya.
Kemudian, dia pun mengambilnya dan langsung pergi ke dalam kamar mandi. Untuk sesaat, Fatimah terdiam dan membaca petunjuk penggunaan tespek tersebut.
Setelah paham, Fatimah pun langsung menampung urinenya di sebuah wadah. Kemudian, dia memasukkan alat tes kehamilan tersebut ke dalam urine yang sudah dia tampung.
Jantungnya terasa melemah saat berdetak, dia benar-benar sudah tak sabar ingin mengetahui hasilnya seperti apa.
Setelah menunggu selama 5 menit, akhirnya Fatimah pun melihat alat tes kehamilan tersebut.
Di sana tertuliskan kata negatif, Fatimah terlihat lemas dibuatnya. Entah kenapa hatinya merasa kecewa saat melihat tulisan negatif di dalam tespek itu.
Padahal seharusnya dia merasa senang, karena itu artinya dia tidak akan memiliki anak dari mantan suaminya.
Fatimah terlihat terduduk di lantai kamar mandi, dia merasa kalut saat ini.
"Seharusnya aku bersyukur karena tidak hamil, tapi... kenapa rasanya sangat aneh," ucap Fatimah lirih.
Dia terlihat berpikir, lalu tak lama kemudian dia bangun dan menatap dirinya di depan cermin.
"Untuk memastikannya, seminggu lagi aku harus kembali beli tespek. Agar aku bisa yakin," ucapnya kembali.
+
+
+
Selamat siang, selamat beraktifitas ya sayang-sayang akoh. Semoga kaleyan sehat selalu dan ngga ada bosannya baca karya aku ini.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, koment, Vote juga hadiahnya. Untuk yang udah kasih, terima kasih banyak ya... I Love banyak-banyak....
__ADS_1