Hati Yang Kau Sakiti

Hati Yang Kau Sakiti
Gelisah


__ADS_3

Malam telah menjelang, Fatimah terlihat sedang asik duduk di kursi malas yang ada di balkon kamarnya.


Dia menyandarkan tubuhnya dan menengadahkan wajahnya, dia menatap langit malam yang terlihat gelap.


Hanya ada remang cahaya dari pantulan sinar rembulan yang menyinari, namun tetap tak mengurangi keindahan ciptaan Sang Khalik tersebut.


Sesekali dia terlihat menarik napas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, tak lama dia pun memejamkan matanya.


Bibirnya mengukir senyum kala dia membayangakan wajah Albert yang begitu memelas meminta cinta padanya.


"Kamu itu lucu, Al. Padahal masih banyak gadis di luaran sana, kenapa malah milih aku?" tanya Fatimah lirih.


Senyum terus saja terukir, kala mengingat kekonyolan yang sering Albert lakukan. Dia memang berkata tak mau, namun dia juga merasa nyaman kala berdekatan dengan pria itu.


Namun, beberapa detik kemudian. Wajah penuh nafsuu Rudi tiba-tiba saja terlintas dipikirannya, bahkan Fatimah masih ingat dengan jelas kala Rudi merenggut paksa mahkotanya.


Rudi terlihat begitu menikmati tubuhnya, walaupun dia berada dalam pengaruh alkohol. Namun dia masih sadar saat melakukan hal itu padanya.


"Astagfirullah!" pekik Fatimah.


Fatimah lalu menegakkan tubuhnya, dia mengusap dahinya yang tiba-tiba saja berkeringat.


"Ya Allah, bagaimana kalau nanti aku hamil?" tanya Fatimah lirih.


Dia mengusap perut ratanya, tanpa terasa air matanya luruh begitu saja. Dia sudah berjanji akan memberikan kesempatan pada Albert untuk masuk ke dalam kehidupannya.


Lalu, kalau dia hamil. Apakah Albert masih ingin tetap bersama dirinya?


Fatimah terlihat was-was, dia pun langsung bangun. Tangannya memegang pagar pembatas balkon, tatapannya menerawang entah kemana.


"Ya Allah, bagaiamana kalau nanti aku hamil? Apakah Al, mau menerima Baby yang ada di dalam kandunganku?" tanya Fatimah resah.


Fatimah benar-benar bingung saat ini, dia memang tidak masalah kalau misalkan hamil anaknya Rudi. Tapi, bagaimana dengan Albert?


"Apa sebaiknya aku bicarakan ini ya, sama Al?" tanya Fatimah lagi.


Fatimah lalu masuk ke dalam kamarnya, dia mengambil ponselnya lalu duduk sambil mencari nomor ponsel Albert.


"Ini dia," kata Fatimah.


Fatimah lalu mengetik pesan pada Albert, karena dia tak mau berlama-lama menyimpan banyak pertanyaan di dalam hatinya.

__ADS_1


"Al, maaf mengganggu waktu kamu malam ini. Aku hanya ingin bertanya, boleh?" satu pesan chat Fatimah kirimkan pada Albert.


Tak perlu menunggu waktu lama, satu menit kemudian sudah ada pesan balasan dari Albert.


"Apa Arra, Sayang. Katakanlah!" balas Albert.


Fatimah terlihat mencebikkan bibirnya, belum resmi dapat jawaban Iya saja sudah berani panggil sayang-sayang, pikirnya.


"Al, kamu tahu kan kalau Mas Rudi sudah melakukan itu padaku? Kalau misalkan aku hamil bagaimana? Apa kamu masih mau sama aku?" tanya Fatimah.


Hening


Tak ada jawaban dari Albert, Fatimah pun jadi was-was dibuatnya. Fatimah pun jadi berpikiran buruk terhadap Albert, dia sudah beberapa kali mengecek ponselnya.


Sayangnya, tak ada balasan pesan chat lagi dari Albert. Fatimah terlihat menghela napas berat, mungkin Albert akan menyerah, pikirnya.


Setelah menunggu sekitar satu jam, tetap saja tak ada pesan balasan. Fatimah pun memutuskan untuk berusaha memejamkan matanya.


Fatimah berpikir jika Albert adalah jodohnya, maka sejauh apa pun dia pergi, kemana pun ia bersembunyi, maka takdir akan mempertemukan mereka dalam satu ikatan suci pernikahan.


"Apa pun keputusan kamu, aku akan menerimanya, Al. Lagi pula ini terlalu cepat, seharusnya aku tak boleh membuka hatiku dulu," ucap Fatimah lirih.


Setelah berkata seperti itu, Fatimah pun mulai larut dalam buaian mimpinya.


Pagi telah menjelang, Fatimah terlihat bangun dengan tidak bersemangat. Entah kenapa, dia merasa takut jika Albert akan meninggalkan dirinya.


Fatimah melangkah dengan gontai ke kamar mandi, dia ingin membersihkan diri dan segera menunaikan kewajibannya.


Dua puluh menit kemudian, dia sudah terlihat cantik walaupun wajahnya terlihat tak bersemangat.


Untuk sesaat dia duduk tepat di depan meja rias, dia memandang wajahnya di cermin.


"Harusnya kemarin aku ngga bilang iya, dia pasti mikir lagi. Kalau aku hamil, dia pasti ngga mau sama aku." Fatimah menghela napas berat.


Dia merapihkan kerudungnya, lalu memoleskan gincu berwarna pink agar terlihat lebih cantik.


"Maafkan aku ya Allah, kalau misalkan aku hamil terus Al ngga mau lagi sama aku, aku rela membesarkan anakku sendiri." Fatimah tersenyum seraya mengelus perutnya yang terlihat masih rata.


Setelah merias diri, Fatimah nampak keluar dari dalam kamarnya. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju ruang makan.


Sampai di ruang makan, Fatimah sangat kaget. Karena ternyata di sana sudah ada Albert yang sedang menikmati kopi buatan Aliana.

__ADS_1


Ragu-ragu Fatimah menarik kursi dan duduk di samping Aby, sekilas dia melirik ke arah Albert.


"Pagi, Al," sapa Fatimah.


"Pagi, bisa kita bicara sebentar?" tanya Albert to the point.


"Boleh," jawab Fatimah pelan.


"Sepertinya kalian akan berbicara hal yang serius, jadi... aku dan istriku akan pergi dulu," ucap Aby.


"By, jangan tinggalin Kakak," ucap Fatimah memelas.


"Ya ampun, Kakak. Tenang saja, Kak Al ngga bakal gigit," ucap Aby seraya mengelus lembut punggung Kakaknya.


"Hem," jawab Fatimah.


Aby terlihat tersenyum melihat tingkah Kakaknya, dia seperti anak gadis yang ketakutan saat didekati lelaki yang menyukainya.


"Ayo, Sayang. Kita kasih waktu untuk mereka berbicara," ajak Aby pada Aliana.


"Ya, Sayang," jawab Aliana.


Aby dan Aliana pun terlihat meninggalakan Albert dan juga Fatimah, mereka sengaja pergi untuk memberikan waktu kepada Fatimah dan juga Albert agar bisa berbicara dari hati ke hati.


"Ra." Albert terlihat menatap wajah Fatimah dengan lekat.


Hal itu membuat Fatimah jadi resah, dia pun jadi salah tingkah, dia takut jika Albert langsung mengucap kata pisah.


Karena jujur saja Fatimah sudah mulai merasa nyaman saat berada di dekat Albert, apalagi dengan perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh Albert.


Fatimah terlihat menegakkan duduknya, lalu dia berusaha untuk membalas tatapan mata Albert.


"Ada apa, Al?" tanya Fatimah.


"Sebenarnya aku merasa kecewa kepada kamu, Arra. Karena ternyata kamu meragukan ketulusan cintaku," ucap Albert dengan wajah sendunya.


Fatimah terlihat terdiam, dia sedang mencerna kata-kata yang diucapkan oleh Albert. Jujur dia tidak mengerti dengan apa yang dia dengar, dia pun lalu bertanya pada Albert.


"Maksudnya gimana, Al? Aku ngga paham," kata Fatimah.


"Aku sudah bilang sama kamu, Ra. Aku mencintai kamu tanpa syarat, kalau pun kamu hamil aku akan tetap menerima kamu apa adanya. Aku akan menjadi suami untuk kamu, aku akan menjadi Ayah untuk anak yang ada di dalam perut kamu," ucap Albert.

__ADS_1


Mendengar ucapan Albert, Fatimah hanya bisa terdiam. Dia tak menyangka jika cinta Albert padanya begitu besar.


__ADS_2