
Acara ijab kabul telah selesai, dilanjut acara do'a nikah. Setelah do'a nikah selesai, dilanjut lagi ke acara penandatanganan buku nikah.
Albert terlihat tersenyum bahagia, dia tanpa hentinya menatap wajah cantik Fatimah. Sesekali tangannya merambat mengelus lembut paha Fatimah, namun dengan cepat dia menepisnya.
Hal itu acap kali dilihat oleh pak penghulu, membuat dia merasa gemas sendiri.
"Maaf, Nak Albert. Silakan acaranya dilanjutkan terlebih dahulu, untuk acara elus dan pegangannya bisa dilanjut lain nanti kalau sudah di dalam kamar pengantin." Pak penghulu langsung menyodorkan dua buku nikah, yang sudah siap ditanda tangani oleh Albert dan juga Fatimah.
Albert terlihat tersenyum canggung, lalu dia pun mengambil buku nikah tersebut dari tangan pak penghulu.
Albert dan juga Fatimah langsung menandatangani buku nikah tersebut, setelah itu acara pun berlanjut lagi ke acara tukar cincin kawin.
Albert menyematkan cincin di jari manis Fatimah, begitu pun dengan Fatimah yang mengikuti langkah Albert.
Setelah acara tukar cincin, dengan tak sabar Albert langsung mengecup kening Fatimah dan mengecup bibirnya.
Semua tamu undangan yang hadir langsung menertawakan tingkah Albert yang tidak sabaran, sedangkan Fatimah langsung menunduk karena malu.
Rangkaian acara pun berlanjut ke acara berikutnya, hingga akhirnya proses pernikahan pun telah selesai dan dilanjutkan dengan acara resepsi pernikahan.
Albert nampak naik ke atas panggung pelaminan yang sudah tersedia bersama dengan Fatimah.
Semua keluarga, sahabat, serta para kolega bisnis dari kedua belah pihak berlomba untuk berfoto, memberi kado dan mengucapkan selamat.
Hingga saat waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, acara resepsi pernikahan pun telah selesai.
Para tamu undangan sudah nampak pulang ke kediaman masing-masing, begitu pun dengan Tuan Ansell dan Nyonya Ilmira.
Mereka berpamitan untuk pulang ke kediaman Albert, karena rasanya tak enak jika dia harus menginap di sana.
Setelah semuanya membubarkan diri, Fatimah langsung mengajak Albert untuk masuk ke dalam kamarnya.
Saat mereka masuk, Fatimah merasa sangat kaget. Karena kamarnya kini berubah menjadi kamar pengantin, terlihat sangat romantis dan juga wangi.
Kelopak bunga mawar merah dan putih bertaburan di mana-mana, harum wangi semerbak menyebar ke seluruh ruangan.
Lilin aroma terapi sudah terpasang di setiap pinggir ruangan tersebut, bahkan lampunya pun telah mati.
Hanya ada cahaya lampu-lampu kecil dari tiap sudut ruangan yang menambah kesan semakin romantis.
Albert tersenyum melihat perubahan kamar Fatimah tersebut, sedangkan Fatimah terlihat kebingungan.
Hanya ditinggal sehari saja kamarnya sudah berubah drastis, dia pun jadi bertanya-tanya. Siapakah yang menghias kamarnya sehingga begitu terlihat sangat indah?
Bahkan di kamar Fatimah sudah ada koper milik Albert yang entah kapan dan siapa yang memasukannya.
"Ra, kok malah diem aja? Ngga mau mandi?" tanya Albert.
"Dingin, Al. Ganti baju aja ya?" tawar Fatimah.
__ADS_1
Fatimah memang tak terbiasa mandi malam, dia takut jika dia akan sakit.
"Baiklah, terserah kamu saja. Aku mandi dulu,'' kata Albert.
Fatimah pun segera membuka lemari bajunya, laku dia pun segera mengambil handuk baru untuk Albert.
"Ini, Al," kata Fatimah.
"Ra, sekarang kita sudah menikah. Jangan panggil Al, lagi. Panggil aku, Sayang." Albert memeluk Fatimah dan menautkan bibirnya.
Untuk sesaat Fatimah terlihat memejamkan matanya, dia begitu menikmati permainan bibir suaminya tanpa berkeinginan untuk membalasnya.
"Ra! Kok ngga dibales?" tanya Albert setelah melepas pagutannya.
Fatimah terlihat tersenyum, lalu dia pun mengelus dada Albert dengan lembut.
"Aku takut, Al," kata Fatimah.
"Ck! Panggil, Sayang," pinta Albert.
Albert langsung melayangkan protesnya, kala Fatimah lupa untuk menyebutnya dengan panggilan 'sayang'.
"Mas aja, ya?" tawar Fatimah.
Rasanya bibirnya terasa kelu, jika harus memanggil Albert dengan sebutan sayang.
"Itu lebih baik," jawab Albert.
"Jadi, kamu takut kenapa?" tanya Albert.
"Takut pengen," ucap Fatimah lirih.
"Pengen apa?" tanya Albert lagi.
"Pengen itu," jawab Fatimah lirih.
"Ya ampun, kamu nakal!" Albert langsung melerai pelukannya dan meninggalkan Fatimah.
Dia tak ingin memancing hasrat istrinya, dia pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah kepergian Albert, Fatimah langsung duduk di depan meja rias. Dia menatap dirinya dari pantulan cermin, kemudian dia pun tersenyum.
Bahagia?
Sudah pasti dia sangat merasa bahagia, karena akhirnya dia bisa menikah dengan lelaki yang begitu mencintai dirinya.
Fatimah lalu membuka aksesoris yang berada di atas kepalanya, setelah semua terbuka dia pun membuka hijabnya dan menghapus make up' nya.
Baru saja Fatimah selesai menghapus make up' nya, Albert sudah keluar dari kamar mandinya dan menghampiri Fatimah dan memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Perlu bantuan?" tanya Albert.
"Ngga usah, Mas. Ini gampang, kok," tolak halus Fatimah.
"Ya sudah, kalau begitu ku pake baju dulu." Albert mengecup pipi Fatimah dan meninggalkannya begitu saja.
Albert terlihat membuka kopernya dan mencari baju tidur untuk dia pakai, sedangkan Fatimah terlihat membuka gaun pengantinnya.
Albert yang sudah memakai baju tidurnya, langsung duduk sambil memperhatikan Fatimah yang sedang membuka gaun pengantinnya.
Albert menelan salivanya dengan susah payah saat melihat gaun pengantin yang berwarna putih gading itu, lolos dari tubuh Fatimah.
Tubuh Fatimah terlihat begitu indah, bahkan lekukan tubuhnya pun terlihat dengan sangat jelas.
Benar-benar terlihat sangat sempurna di mata Albert, Fatimah yang memiliki tubuh proporsional dan mempunyai body bak gitar spanyol pun membuat Albert menjadi tak tahan untuk segera menyentuhnya.
Namun, dia sangat sadar jika Fatimah sedang datang bulan.
"Ck! Kenapa dia seksi sekali? Badannya juga bohay banget, gue kan jadi ngga tahan. Kalau ngga lagi datang bulan, pasti udah gue embat." Albert hanya bisa bergumam dalam hatinya
Fatimah terlihat hanya memakai celana pendek dan kemben berwarna hitam, benar-benar terlihat menggoda.
Semakin lama memandangi tubuh Fatimah, celana Albert semakin terasa sesak. Dengan cepat Albert pun merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Dia berusaha menetralkan perasaannya, pandangan matanya pun dia alihkan ke sembarang arah.
Tak lama, kasur yang dia tiduri nampak bergoyang. Albert langsung memalingkan wajahnya, dia melihat Fatimah yang merebahkan tubuhnya tepat di samping Albert.
"Sudah?" tanya Albert.
"Sudah, Mas. Aku sudah ganti pakai piyama tidur," jawab Fatimah.
"Sini deketan, Mas mau peluk." Albert terlihat merentangkan kedua tangannya.
Fatimah pun dengan senang hati langsung menghambur ke pelukan Albert, dia memeluk Albert dengan sangat erat.
Lalu Fatimah terlihat menyandarkan kepalanya di dada bidang milik suaminya, Albert terlihat sangat senang, dia pun membalas pelukan Fatimah dan mengecupi puncak kepala istrinya.
Setidaknya, malam ini dia tak tidur sendiri lagi, pikirnya. Walaupun miliknya tak bisa memasuki tubuh istrinya, tapi dia sudah sangat bahagia.
+
+
+
Satu bab untuk menemani malam minggu kalian, semoga malam minggu ini sangat menyenangkan untuk kalian.
Semoga kalian juga sehat selalu dan jangan lupa buat ninggalin jejak ya...maaf maaf kalau masih banyak typonya, biasa penyakit Othor emang kaya gitu.
__ADS_1
I Love You All....