
Fatimah terlihat sedang duduk di tepian ranjang, kedua tangannya terlihat disilangkan di depan dadanya.
Bibirnya terlihat cemberut, wajahnya terlihat ditekuk. Matanya seakan tak ingin memandang wajah Albert, suaminya.
Tentu saja saat ini Fatimah sedang merasa sangat kesal sekali terhadap suaminya, Albert.
Karena Fatimah tak bisa berkutik setelah kedatangan kedua orang tuanya, sehingga malam ini pun Fatimah harus berada dalam satu kamar yang sama dengan Albert.
Padahal, dia sudah berkata jika dia sedang tak ingin tinggal satu kamar bersama dengan Albert.
Karena dia masih kesal mengenai kejadian tadi siang, memang benar jika dia tak boleh berlama-lama marah kepada suaminya.
Namun, dia hanya ingin memberikan pelajaran kepada lelaki yang bernama Albert, yang tak lain adalah suaminya tersebut.
Itu semua dia lakukan, agar Albert lebih bisa menjaga diri dan tak pernah memberikan celah terhadap wanita mana pun.
Fatimah sudah menjelaskan kepada Bunda dan juga Ayahnya, jika dia bukan sedang ingin menambah dosa terhadap suaminya.
Namun, dia hanya ingin memberikan sedikit pelajaran saja agar suaminya tak berani berbuat macam-macam.
Namun, Aksa dan juga Najma malah berbalik menasehati Fatimah.
"Kamu sudah melihat sendiri jika suamimu tidak bersalah, Ayah yakin tak ada sedikit pun niatan buruk di dalam hatinya. Berlapang dada'lah, berusahalah untuk memaafkan suamimu," kata Aksa.
Mendengar perkataan Aksa, Fatimah hanya bisa mengangguk pasrah. Dia tidak bisa menyahuti apa pun dari perkataan ayahnya tersebut.
__ADS_1
"Bunda juga tahu, jika kamu sangat kesal terhadap suami kamu. Namun, kamu pasti sangat tahu dosanya sangat besar jika kamu mengabaikan suami kamu. Apa lagi sampai membuat dia tersiksa seperti itu," ucap Najma.
Fatimah sempat melihat ke arah Albert, wajahnya memang terlihat sangat merana. Padahal dia baru saja berkata untuk tidak satu kamar dengan dirinya.
Apa lagi kalau Fatimah mengatakan jika Albert tak boleh satu rumah bersama dengan dirinya, mau seperti apa pikirnya lelaki itu.
"Yang, maafin, Mas, ya?" kata Albert.
Albert terlihat menampilkan wajah termanisnya di hadapan sang istri, dia berjongkok sambil mengusap-usap paha Fatimah.
Fatimah terlihat memutar bola matanya, lalu dia menghela napas panjang dan mengeluarkan secara perlahan.
"Mas keterlaluan, masa ayah sama bunda juga kamu libatkan!" kesal Fatimah.
"Maaf, Yang. Abisan aku ngga kuat kalau jauh-jauh dari kamu, jangankan seminggu, bayangin satu malam ngga bisa peluk kamu saja aku sudah tersiksa."
Albert mengusakkan wajahnya di perut istrinya yang terlihat sudah mulai membuncit, hal itu membuat Fatimah merasa geli sekaligus lucu.
Karena Albert yang bertubuh tinggi tegap itu, kini sudah seperti kucing manis yang menggemaskan.
"Ya sudah, aku memaafkan kamu. Tapi ingat, jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama." Fatimah langsung mengelus lembut puncak kepala suaminya.
Albert langsung tersenyum senang, tidak sia-sia ternyata usahanya membujuk ayah dan juga ibu mertuanya untuk menginap di rumahnya.
Karena dengan seperti itu, Fatimah bisa memaafkan dirinya. Walaupun memang dirinya harus merayu-rayu istrinya tersebut terlebih dahulu.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Mas berjanji, Mas tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Mas juga berjanji akan berusaha untuk membahagiakan kamu dan calon anak kita," ucap Albert seraya mengecupi perut istrinya.
Albert lalu bangun dan mengajak Fatimah untuk tidur, karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Albert sangat tahu jika isterinya kini sedang mengandung, Fatimah membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat, tak seperti wanita normal pada umumnya.
Karena wanita hamil itu mempunyai dua kali indra perasa, jika sedih dia akan merasa sangat sedih.
Jika kesal, maka wanita hamil akan terlihat sangat kesal. Jika mereka marah, maka kemarahannya akan dua kali lipat lebih menyeramka
Sebenarnya Albert sangat paham kenapa Fatimah terlihat begitu marah terhadap dirinya, itu semua bisa jadi karena pengaruh hormon ibu hamil.
Namun, Albert benar-benar tak kuat jika harus berlama-lama jauh dari istrinya. Wanita yang benar-benar luar biasa, wanita yang benar-benar dia perjuangkan keberadaannya.
Dia sangat sadar jika perjuangannya untuk mendapatkan Fatimah tidaklah mudah, jadi dia pun tak ingin membuat Fatimah benci terhadap dirinya, kesal terhadap dirinya.
Apa lagi sampai Fatimah berniat untuk pergi dari dirinya, sungguh Albert tak akan rela melepaskan istri tercintanya.
"Peluk, Yang." Albert merentangkan kedua tangannya.
Fatimah pun dengan patuh langsung masuk ke dalam pelukan suaminya, lalu dia pun menenggelamkan wajahnya di dada bidang Albert.
"Selamat tidur, Sayang. Aku mencintai kamu," ucap Fatimah sebelum terlelap dalam tidurnya.
"Aku juga mencintai kamu, Sayang." Albert langsung mengecup puncak kepala istrinya.
__ADS_1
Kebahagiaan seakan benar-benar menyelimuti kehidupannya, rasanya dia merasa jika hidupnya kini bisa lebih baik setelah datangnya Fatimah ke dalam kehidupannya.