
Sudah tiga hari Fatimah berada di Bali, Namun dia tak pernah keluar sama sekali dari Villa yang Albert sewa.
Setiap kali dia hendak keluar rumah, Fatimah selalu terlihat lemas. Tubuhnya seakan tiada bertulang, Albert semakin bingung dibuatnya.
Bahkan saat jendela terbuka pun Fatimah terlihat lemas, namun jika semua jendela ditutup, Fatimah akan terlihat segar kembali.
Jika Albert bertanya, jawabannya pasti saja 'Bau, Yang. Bau air lautnya terasa menusuk hidung, bikin aku mual'.
Albert merasa jika bulan madu yang mereka rencanakan terasa sia-sia, Albert rasanya ingin pulang saja.
Karena selama tiga hari ini Fatimah selalu saja memancing hasratnya, namun... jika Albert ingin memasuki istrinya, Fatimah selalu menolak.
Berbeda dengan Najma dan juga Aksa, mereka terlihat menikmati acara liburan mereka. Bahkan setiap hari mereka tak ada di Villa, selalu saja berkeliling untuk menikmati indahnya pulau dewata Bali.
"Akh! Bisa stres aku kalau kaya gini terus," keluh Albert.
Albert lalu menghampiri Fatimah yang terlihat asik berdiri sambil memandang hamparan air laut dari balik jendela kamar.
"Yang!" Albert langsung memeluk istrinya dari belakang.
Tangannya langsung meremat dada istrinya, Fatimah terlihat menepis tangan Albert dengan lembut.
"Jangan mulai, Mas. Aku lagi ngga pengen," kata Fatimah.
"Ya ampun, Sayang. Tahu begini aku nggak bakalan ikut ke pulau Bali," keluh Albert seraya melepaskan pelukannya.
Albert langsung pergi dari kamar tersebut, meninggalkan Fatimah yang terlihat melongo tak percaya akan kelakuan suaminya.
Albert langsung menghampiri Najma dan Aksa yang sedang duduk sambil melihat-lihat foto kebersamaan mereka saat berlibur di ruang keluarga.
"Bunda, kita pulang saja ya?" ajak Albert.
Albert langsung duduk tepat di samping Najma, dia memeluk Najma sambil menyandarkan kepalanya di pundak mertuanya tersebut.
Tubuh Albert yang tinggi besar, membuat dia harus membungkuk saat memeluk mertuanya tersebut.
Untuk sesaat Najma dan juga Aksa saling pandang, kemudian mereka pun tersenyum melihat tingkah menantunnya tersebut.
"Ada apa, hem? Kenapa wajahnya terlihat kusut seperti itu?" tanya Najma.
"Arra, Bun. Dia aneh semenjak menginjakkan kakinya di Bali, maunya diem aja di kamar. Aku sentuh juga ngga boleh, tapi sendirinya grapa-***** mulu, aku stres, Bun." Albert terlihat seperti akan menangis.
__ADS_1
"Cengeng!" ledek Aksa.
"Ayah ngga ngerasain, sakitnya tuh di sini." Albert menunjuk area bawahnya dengan ekor matanya.
Najma dan Aksa langsung tertawa, sedangkan Albert terlihat mendengus sebal.
"Ya ampun, Ayah. Aku mempunyai menantu messum," keluh Najma.
Aksa kembali tergelak, sedangkan Albert terlihat makin kesal.
"Kalian ngga asik, besok pokoknya pulang saja. Aku nggak betah lama-lama di sini," ucap Albert pasti.
"Ya, kita pulang besok!" ucap Aksa.
Malam harinya, Najma dan juga Aksa terlihat membenahi pakaiannya. Begitu pula dengan Albert, dia membenahi barang bawaannya yang Fatimah persiapkan untuk mereka.
Awalnya Fatimah terlihat melayangkan protesnya saat Albert memutuskan untuk pulang, namun dia juga tak bisa menolak keputusan suaminya, setelah Albert menjelaskan tentang rasa keberatannya saat Fatimah yang tidak mau disentuh oleh dirinya.
Pukul 7 pagi, Albert, Najma, Fatimah dan juga Aksa sudah berada di Bandara. Mereka sudah bersiap untuk pulang.
Fatimah terlihat begitu tegang, wajahnya juga terlihat pucat. Tubuhnya juga terlihat lemas, Albert pun tidak tahu kenapa Fatimah bisa seperti itu.
Dia, benar-benar sangt takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap istrinya tersebut.
Pukul 10 pagi, mereka pun tiba di Bandara Soetta. Wajah Fatimah semakin memucat saja, bahkan saat dia turun dari pesawat tubuh Fatimah langsung limbung dan langsung ambruk.
Fatimah langsung tak sadarkan diri, beruntung Albert dengan sangat sigap memeluk tubuh istrinya tersebut.
"Ra, kamu kenapa, Sayang? Jangan bikin Mas khawatir," kata Albert.
"Astagfirullah, kamu kenapa, Sayang?" Najma langsung mengecupi wajah putrinya.
"Gendong istrimu, Al. Kita ke Rumah Sakit sekarang," kata Aksa.
Albert pun dengan sigap langsung menggendong istrinya, Najma dan juga Aksa terlihat begitu khawatir.
Mereka terus saja mengekori langkah Albert, pak Anto yang melihat kedatangan keluarga majikannya pun langsung membukakan pintu mobil.
Aksa memang sengaja meminta pak Anto untuk menjemput mereka di Bandara, karena takut terlalu merepotkan menantunya tersebut.
"Ke Rumah Sakit, Pak," titah Aksa setelah mereka masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Pak Anto pun menurut, dia langsung melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit terdekat. dia terlihat ikut panik saat melihat anak majikannya tak sadarkan diri.
Setelah 15 menit melajukan mobilnya, pak Anto pun langsung menepikan mobil tersebut di sebuah Rumah Sakit yang terletak tak jauh dari Bandara.
Albert dengan sigap langsung membopong tubuh istrinya dan membawanya menuju ruang IGD, 1 orang dokter dan 2 orang suster langsung melakukan tindakan.
Sedangkan Albert, Najma dan juga Aksa tak diperbolehkan untuk masuk. Mereka hanya boleh menunggu di luar ruangan.
Albert sebenarnya merasa kesal, karena dia ingin sekali menemani istrinya tersebut. Namun dia harus menghormati keputusan dokter, karena walau bagaimanapun juga itu akan mempermudah dokter dalam menjalani tugasnya.
Setelah lima belas menit melakukan pemeriksaan, seorang dokter laki-laki nampak keluar dari ruangan IGD tersebut.
Albert, Najma dan juga Aksa langsung menghampiri dokter tersebut. Dengan tak sabarnya Albert langsung menanyakan kondisi istrinya.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Albert.
Dokter tersebut terlihat tersenyum hangat kepada Albert, lalu dia pun mulai berkata.
"Kalau menurut pemeriksaan saya, istri anda hanya kelelahan. Namun, ada satu hasil pemeriksaan yang saya tidak yakin hasilnya benar atau tidak. Jadi, untuk mengetahui kebenarannya, anda harus membawa istri anda untuk diperiksa ke ruang obgyn," ucap Dokter tersebut.
Dahi Albert nampak mengernyit dalam, apa hubungannya pikirnya kecapean dengan ruangan obgyn?
Bukankah ruangan tersebut khusus untuk wanita yang tengah mengandung?
Tak lama kemudian, seulas senyum terbit dari bibirnya. Dia terlihat sangat bahagia sekali, lalu Albert langsung memeluk Aksa dan juga Najma secara pergantian.
"Jadi menurut Dokter, istri saya kemungkinan hamil?" tanya Albert.
"Dari hasil pemeriksaannya menunjukkan jika istri anda memiliki tanda-tanda kehamilan, maka dari itu saya menyarankan agar anda segera membawa istri anda ke ruang obgyn untuk diperiksa. Saya sudah menelepon dokter Mila, anda tinggal masuk saja ke ruangan Dokter Mila bersama dengan istri Anda," kata Dokter.
Bibir Albert terasa kelu, dia seakan susah untuk berbicara apa pun. Sedangkan Najma dan juga Aksa langsung tersenyum dan berucap terima kasih kepada dokter tersebut.
*
*
*
Selamat siang kesayangan, semoga klian sehat selalu ya....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yes....
__ADS_1