Hati Yang Kau Sakiti

Hati Yang Kau Sakiti
Menjatuhkan Talak


__ADS_3

Empat hari sudah Fatimah mendapatkan perawatan di salah satu rumah sakit di kota P, kini dia pun sudah diperbolehkan untuk pulang. Karena kondisinya sudah benar-benar pulih.


Albert sudah merapikan semua barang milik Fatimah, mereka pun sudah duduk anteng di dalam mobil milik Albert.


Mereka duduk berdua di bangku penumpang, karena ada seorang supir yang sudah siap melajukan mobil mewah milik Albert.


Albert terlihat begitu senang bisa duduk sedekat itu dengan Fatimah, sedangkan Fatimah terlihat begitu canggung.


Sebenarnya Aksa ingin sekali menjemput putrinya, namun karena Cristhina tak bisa menghandle sendiri perusahaan yang dikelola oleh Fatimah, Aksa pun terpaksa turun tangan.


Aksa yang tak enak hati pun meminta Albert untuk menjemput kepulangan Fatimah, beruntung Albert selalu merasa senang jika ada sesuatu hal yang berhubungan dengan Fatimah.


Fatimah terlihat meremat kedua tangannya secara bergantian, dia seakan ingin mengatakan sesuatu.


Namun rasanya bibirnya terasa begitu kelu untuk berucap, Albert yang menyadari kegundahan di hati Fatimah pun langsung membuka suara.


"Arra, jika ada sesuatu yang ingin kamu ucapkan maka katakanlah. Jangan dipendam saja," ucap Albert.


Fatimah memberanikan diri untuk menatap Albert, lalu dia kembali menundukan kepalanya.


"Apakah boleh aku menemui, Mas Rudi?" tanya Fatimah.


Albert terlihat begitu kaget dengan apa yang diucapkan oleh Fatimah, namun dia sadar jika Rudi masih bersetatus sebagai suaminya.


"Untuk apa?" tanya Albert datar.


"Ada yang ingin aku bicarakan padanya," pinta Fatimah.


"Ke kantor polisi, Pak!" ucap Albert penuh dengan nada perintah.


"Siap, Mister," jawab sopir tersebut.


Fatimah sempat melirik ke arah Albert, dia melihat wajah Albert yang terlihat datar. Namun tetap mau menuruti keinginannya.


"Terima kasih, Al." Albert terlihat melirik sekilas ke arah Fatimah, lalu kembali fokus ke arah jalanan.


"Ya," jawabnya singkat.


Setengah jam kemudian, mobil pun sudah berhenti tepat di depan kantor polisi. Dengan perlahan Fatimah terlihat turun dan Albert pun ikut turun dan mengekori langkah wanita yang dia suka.


"Permisi, Pak. Boleh saya bertemu dengan Rudi Hartono," tanya Fatimah pada salah satu petugas di sana.

__ADS_1


Petugas tersebut nampak memperhatikan wajah Fatimah, lalu pandangannya beralih pada Albert.


"Mister," sapanya.


"Bisa?" tanya Albert.


"Bisa, Mister. Silahkan tunggu sebentar," jawab petugas tersebut.


Albert nampak menuntun Fatimah untuk duduk di salah satu kursi tunggu di ruang besuk, Fatimah pun menurut. Mereka duduk bersebelahan.


Tak lama kemudian, petugas tadi datang menuntun Rudi untuk duduk tepat di depan Fatimah.


Rudi pun menurut, dia duduk di depan Fatimah. Netranya tak lepas memandang wanita yang masih bersetatus sebagai istrinya itu, wanita yang telah ia sakiti.


"Ra! Maaf," ucap Rudi seraya menunduk.


"Arra maafkan, Mas apa kabar?" tanya Fatimah.


Fatimah memperhatikan penampilan Rudi, dia terlihat sangat kurus. Padahal dia baru beberapa hari berada di sana.


"Mas baik, Ra. Kamu udah sembuh?" tanya Rudi.


Fatimah terlihat menganggukkan kepalanya, Rudi tersenyum lalu dia meraih tangan Fatimah yang bertumpu di atas meja.


"Ra, Mas pernah denger kata pepatah. Mencintai yang paling besar itu, adalah ketika kita rela melepaskan seorang yang kita cintai untuk mencari kebahagiaannya."


Rudi terlihat menghela nafas panjang.Dia seolah sedang menetralkan perasaan di dalam hatinya, dia seolah sedang mencari ungkapan kata yang harus diucapkan terhadap istrinya.


"Fatimah Azzahra, aku Rudi Hartono menceraikan kamu saat ini juga. Maaf kalau selama ini hanya luka yang selalu aku torehkan di hati kamu, maaf karena ku tak pernah bisa menjadi suami yang baik untuk kamu." Bibir Rudi bergetar, tangisnya pun pecah.


Fatimah terlihat menggelengkan kepalanya, dia pun turut menangis mendengar ucapan dari Rudi.


"Mas--"


Fatimah terlihat seperti ingin melayangkan protesnya, namun Rudi langsung mengangkat sebelah tangannya menandakan jika Fatimah tak boleh berbicara.


"Carilah kebahagiaan yang tak pernah kamu dapatkan dari aku, hari ini kamu resmi menjadi jandaku. Bolehkah aku memeluk kamu untuk yang terakhir kalinya?" tanya Rudi.


Fatimah langsung menganggukkan kepalanya, dia tidak bisa mengucapkan kata 'iya' karena air matanya terus mengalir dengan deras.


Rudi langsung Bangun dan merentangkan kedua tangannya, Fatimah pun langsung menghampiri Rudi dan menghambur ke dalam pelukan lelaki yang baru saja menceraikannya itu.

__ADS_1


Albert hanya terdiam melihat pemandangan di depan matanya, mereka berpelukan dalam tangis.


Tak lama Fatimah terlihat melerai pelukannya, dia berjinjit dan mencium bibir Rudi dengan mesra. Rasa asin dan manis bercampur jadi satu, mereka berciuman dalam tangis.


Albert langsung memalingkan wajahnya, dia tahu jika itu adalah ciuman perpisahan. Namun, tetap saja hatinya terasa sangat sakit melihatnya.


"Arra juga minta maaf, karena selama menjadi istri Mas Rudi, Arra belum sempat menjadi istri yang baik." Kata Fatimah setelah melepas pagutannya.


"Kamu sudah jadi istri yang baik, Sayang. Kamu wanita sempurna, akunya saja yang tak tahu diri. Maaf," ucap Rudi tulus.


"Sudahlah, Mas. Kita lupakan semua yang sudah terjadi, kita mulai kehidupan kita masing-masing. Mas jaga selalu kesehatan," ucap Fatimah.


"Ya, Arra. Kamu juga," ucap Rudi.


Setelah mengatakan hal itu, Rudi langsung mengecup kening Fatimah dan berlalu dari sana.


Dia sudah tidak sanggup lagi berhadapan dengan wanita yang sudah dia sakiti, dia benar-benar merasa hina saat ini.


Dia ingin segera pergi dari sana, Rudi sempat membalikkan tubuhnya lalu dia pun tersenyum kepada Albert sambil menganggukkan kepalanya.


Albert seakan mengerti pesan dari Rudi, dia pun langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Kita pulang," ajak Fatimah.


Fatimah langsung melangkahkan kakinya keluar dari kantor polisi tersebut, Albert langsung mengekori Fatimah dari belakang.


Sampai di depan lobby kantor polisi, Fatimah langsung masuk ke dalam mobil mewah milik Albert.


Albert pun menyusul, fatimah masih terlihat menangis. Sesekali dia menyeka air matanya dengan ujung kemeja yang dia pakai, Albert hanya menggelengkan kepalanya.


Lalu, dia mengambil tisu dan memberikannya kepada Fatimah. Albert tak mengatakan apa pun, dia seolah ingin memberikan Fatimah waktu untuk mengeluarkan rasa sesak di dalam dadanya.


Dia hanya menepuk pundak pak sopir, pak sopir yang mengerti pun langsung melajukan mobilnya menuju Ibu kota.


Sepanjang perjalanan, Fatimah hanya terdiam. Ia terlihat asyik dengan lamunannya, wanita yang baru saja menjadi janda itu tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Albert pun ikut terdiam, rasanya berusaha untuk menghibur pun tak akan berguna. Karena Albert tahu, jika yang dibutuhkan oleh Fatimah saat ini adalah menyendiri.


+


+

__ADS_1


+.


Selamat sore kesayangan, jangan lupa like dan koment'nya ya... Apa pagi Vote sama hadiahnya, ditunggu pisan.


__ADS_2