
"Maksudnya gimana, Yang?" tanya Albert.
"Tamu bulanannya sudah pulang," jawab Fatimah.
"Jadi, aku udah boleh?" tanya Akbert.
Fatimah pun langsung menganggukkan kepalanya.
Albert terlihat sangat senang mendengar ucapan Fatimah, dia langsung menghampiri istrinya dan menggendongnya.
Kaki Fatimah kini melingkar indah di pinggang Albert, sedangkan tangannya dia kalungkan pada leher suaminya.
Abert telihat mendongakkan wajahnya, dia menatap wajah Fatimah dengan sangat lekat.
"Kamu serius, Yang? Tamu kamu yang meresahkan itu sudah pergi?" tanya Albert.
"Sudah, Mas. Aku barusan udah mandi wajib," jawab Fatimah.
"Ya Tuhan, jadi beneran udah boleh ini?" tanya Albert.
"Ya," jawab Fatimah.
Abert meremat bokong istrinya, lalu dia menautkan bibirnya ke bibir istrinya. Dia menyesap dan menikmati bibir tipis milik istrinya itu.
Rasanya sangat manis dan membuat Albert merasa tak tahan, puas bermain dengan bibir istrinya, Albert langsung mengecupi leher jenjang istrinya.
Fatimah terlihat mendongakkan kepalanya, dia menikmati setiap kecupan hangat dari bibir suaminya.
"Beneran boleh kan, Yang?" tanya Albert memastikan.
"Ya, Mas Albert, dia Sayang," jawab Fatimah.
Albert terlihat begitu senang, dia langsung merebahkan tubuh istrinya dengan sangat lembut, hal itu dia lakukan agar istrinya bisa merasa lebih nyaman.
Karena dia sangat tahu, pengalaman pertama Fatimah saat melakukan hubungan intim mendapatkan perlakuan yang tidak pantas dari Rudi.
"Sekarang, ya, Ra?" tanya Albert.
"Iya, Mas," jawab Fatimah diiringi anggukkan kepala.
Albert pun tersenyum, dengan cepat Albert mengungkung tubuh istrinya. Dia kecup keningnya dan dia sentuh pipi istrinya dengan sangat lembut.
"Kamu cantik banget, yang." Albert tautkan bibirnya dan dia pagut bibir istrinya dengan sangat lembut. Hal itu membuat Fatimah merasa sangat nyaman dan begitu menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya.
Bibir mereka masih saling terpaut, tapi tangan Albert dengan lincahnya membuka baju yang dipakai oleh istrinya hingga menyisakan dalamannnya saja.
Begitu pun dengan baju yang dia pakai, dia buka dan dia lempar ke sembarang arah. Dia seakan sudah tak sabar ingin segera melakukan penyatuan yang selama ini dia impikan bersama dengan istri tercintanya.
Perlahan bibirnya mulai menyususri garis leher istrinya, kecupan-kecupan lembut pun mulai dia labuhkan di dada istrinya yang masih terbungkus rapi dengan kain pengamannya.
"Buka ya?" tanya Albert.
Wajah Fatimah terlihat memerah saat mendengar pertanyaan dari suaminya, dia pun lalu menganggukkan kepalanya.
"Aku milikmu, Mas. Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan," ucap Fatimah.
__ADS_1
Binar bahagia begitu terpancar jelas di wajah Albert, dengan satu kali tarikan kain penutup di dada Fatimah nampak terbuka dengan sempurna.
Hal itu membuat payudarra istrinya nampak menyembul dan menampakkan keindahannya dengan sangat nyata.
Albert pun dengan tak sabar langsung meraup kedua payudarra istrinya, dia mengulum puncak dada istrinya dengan sangat lahap secara bergantian.
Sesekali dia menggigit dan memainkan puncak dada istrinya, mengusap dan juga menyembunyikan wajahnya di belahan dada istrinya.
Membuat sang pemilik menggeliat dan menggelinjang, apa lagi saat Albert memilin dan menarik puncak dada istrinya.
Fatimah langsung membusungkan dadanya sambil menekan kepala Albert agar bisa bermain dengan leluasa di dadanya.
"Mas!"
Fatimah terlihat sudah tak sabar ingin segera dimasuki, membuat Albert begitu bersemangat untuk segera menggauli istrinya dan melakukan penyatuan yang sudah sangat dia impikan.
"Sabar, Sayang." Albert langsung membuka kedua paha istrinya, dia buka kain pelindungnya dan bermain di area inti milik istrinya.
Hal itu membuat Fatimah menjadi gelisah, dia merasa tak sabar, dia merasa gundah karena miliknya terasa berkedut dan terasa tak sabar untuk segera dimasuki.
"Mas!" pekik Fatimah kala Albert menggigit lembut area terkecil dari tubuh istrinya tersebut.
Albert terlihat mendongakkan kepalanya, dia melihat wajah cantik Fatimah yang terlihat sudah tak sabar untuk dimasuki.
"Mau sekarang?" tanya Albert.
"Hem," jawab Fatimah.
Albert pun langsung bangun dan mulai mengarahkan miliknya menuju liang kelembutan milik istrinya, Fatimah sudah terlihat gelisah kala melihat milik suaminya yang begitu besar.
"Jangan takut, Yang. Punyaku memang besar, karena ini asli buatan luar negeri. Tapi, kalau sudah masuk pasti bikin kamu merem-merem keenakan." Albert langsung menautkan bibirnya seraya memasukan miliknya.
Rasanya begitu sesak, membuat Fatimah terasa sulit untuk bernapas. Fatimah langsung memukul dada Albert, Albert pun langsung melepaskan pagutannya.
"Kenapa?" tanya Albert.
"Akunya sesak napas," jawab Fatimah.
"Tapi akunya boleh lanjut, kan?" tanya Albert.
"Ya," jawab Fatimah singkat.
Albert sangat senang setelah mendengar ucapan Fatimah, dia pun lalu mulai mengayunkan pinggulnya.
Awalnya ada rasa nyeuri yang Fatimah rasa, tapi... lama kelamaan terasa nikmat dan membuat Fatimah ingin merasakan yang lebih dari itu.
"Faster, Al," pinta Fatimah.
"Ck! Sayang!" titah Albert.
"I--iya, Sayang," jawab Fatimah.
Albert tersenyum, lalu dia pun mempercepat gerakannya. Fatimah terlihat begitu menikmati permainan suaminya, bahkan dia sampai membusungkan dadanya.
Albert pun langsung membungkuk dan bermain di dada istrinya, rasanya benar-benar luar biasa, pikir Fatimah.
__ADS_1
Fatimah benar-benar menikmati permainan suaminya itu, hingga rasanya ada sesuatu yang ingin meledak dalam tubuhnya.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Albert dan Fatimah sempat saling pandang. Kemudian, Albert pun menghentikan gerakan pinggulnya untuk sejenak.
"Siapa?" tanya Fatimah.
"Ini Adi, Kak. Kakak dari pagi ngga keluar kamar, Kata Ayah, mau makan siang bareng ngga?" tanya Adi.
"Du--duluan aja, Dek!" kata Fatimah tergagap, karena Albert mulai mengayunkan pinggulnya kembali.
"Jangan lama-lama," kata Adi.
"I--iya, Dek!" jawab Fatimah.
Tak lama kemudian tak terdengar lagi sahutan dari Adi, Albert terlihat mengayunkan pinggulnya dengan capat.
Fatimah langsung terlihat mencengkram tangan Albert dengan kuat.
"Mas, aku ma--"
Ucapan Fatimah langsung terhenti kala Albert langsung menautkan bibirnya, erangan Fatimah langsung tertahan karena ulah suaminya.
"Kamu curang!" kata Abert setelah melepaskan pagutannya.
"Maaf, abisnya enak." Fatimah langsung mengambil bantal dan menutupi wajahnya.
"Jangan seperti itu, Yang. Aku udah mau sampai ini," keluh Albert.
Fatimah langsung melempar bantalnya, dia langsung mendongakkan kepalanya dan menggigit pundak Albert.
"Aduh, Yang!"
Rasa sakit dan juga rasa nikmat datang secara bersamaan, tubuh Albert langsung tumbang di atas tubuh istrinya.
"Ternyata melakukannya dengan istri sah memang sangat nikmat," gumam Albert dalam hati.
"Mas, berat!" keluh Fatimah.
"Maaf," kata Albert.
Albert langsung bangun dan mengecup bibir istrinya, "terima kasih, Sayang."
"Sama-sama, terima kasih juga karena kamu sudah mau menikah dengan janda seperti aku ini," ucap Fatimah.
"Shuut! Jangan berkata seperti itu, Sayang. Aku bahagia nikah sama kamu, jangan. pernah mengucapkan kata yang tidak mengenakkan hati," ucap Albert.
"Aku bahkan dulu hanya lelaki pendosa, Arra. Semoga saja kamu tak akan. marah dan benci padaku, jika mengetahui masa laluku yang kelam," gumam Albert dalam hati.
*
*
*
__ADS_1
Selamat siang, selamat beraktifitas. Maafkan Othor yang kelewat soleha ini, ya?
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, Vote dan juga hadiahnya Othor tunggu banget. Terima kasih...