Hati Yang Kau Sakiti

Hati Yang Kau Sakiti
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Selepas pulang dari Rumah Sakit, baik Albert maupun Fatimah terlihat saling diam. Fatimah terlihat ingin bertanya kepada Albert tentang siapa wanita yang mereka temui di Rumah Sakit tersebut.


Akan tetapi karena di rumahnya masih ramai dengan anggota keluarganya, dia pun mengurungkan niatnya.


Fatimah terlihat berbaur dengan semua orang yang sedang bercengkrama di ruang keluarga, Berbeda dengan Albert yang memilih untuk langsung masuk kedalam kamarnya.


"Bagaimana dengan keadaan Baby kamu, Sayang?" tanya Nyonya Ilmira.


Fatimah terlihat tersenyum hangat kepada mertuanya tersebut, lalu dia pun menjawab pertanyaan dari Nyonya Ilmira.


"Sangat baik, Mom." Fatimah terlihat mengelus lembut perutnya, Nyonya Ilmira nampak tersenyum melihat kelakuan menantunya tersebut.


Mendengarkan penuturan dari Fatimah, membuat Nyonya Ilmira merasa sangat senang.


"Baguslah kalau keadaannya sangat sehat dan kuat, karena dulu saat Mommy mengandung Albert, Albert sangat sehat. Bahkan dia sangat aktif," ucap Nyonya


Ilmira.


Nyonya Ilmira pun jadi mengingat kala dia sedang mengandung Albert, Albert begitu aktif sejak masih berada di dalam kandungannya.


"Yes, Mom. Semoga saja calon Baby' ku selalu sehat dan kuat," ucap Fatimah.


Najma yang mendengar percakapan antara Fatimah dan mertuanya pun merasa enang, lalu dia pun ikut bersuara.


"Semoga saja," timpal Najma.


Fatimah terlihat begitu asyik mengobrol dengan Nyonya Ilmira dan juga Najma beserta dengan Aksa.


Anggota keluarga lainnya nampak asik bercengkerama, mereka sekaligus melepas rindu karena jarang bertemu.


Berbeda dengan Tuan Ansell, saat melihat putranya datang ke rumah dengan wajah tak biasa, dia mulai menaruh curiga kepada putranya tersebut.


Dia pun berinisiatif untuk mengajak bicara putranya tersebut, Tuan Ansell nampak memisahkan diri.


Lalu, dia pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar utama. Dia sungguh penasaran dengan apa yang terjadi terhadap putranya tersebut.


"Al, bolehkah Daddy masuk?" tanya Tuan Ansell.


Tak lama kemudian, Albert nampak membukakan pintu kamarnya. Dia tersenyum kepada Tuan Ansell, lalu membukakan pintunya dengan lebar.

__ADS_1


"Masuklah Dad," ucap Albert.


Tuan Ansell pun masuk ke dalam kamar Albert, lalu dia duduk di sofa yang berada di dekat jendela.


Begitu pun dengan Albert, dia duduk tepat di hadapan sang Daddy.


"Ada apa Dad?" tanya Albert.


Dia merasa penasaran, kenapa Daddynya malah masuk ke dalam kamarnya. Bukankah dia melihat jika Daddynya tadi terlihat asik berkumpul dan mengobrol, pikirnya.


"Daddy hanya ingin bertanya, Al. Kenapa selepas pulang dari Rumah Sakit wajahmu terlihat kusut?" tanya Tuan Ansell.


Albert kaget saat mendengar pertanyaan dari Tuan Ansell, tapi dia berusaha untuk menyembunyikan rasa kagetnya tersebut.


"Tidak apa-apa, Dad. Aku hanya lelah saja," jawab Albert berdusta.


Tuan Ansell nampak menggelengkan kepalanya, kemudian dia tertawa meledek ke arah putranya.


"Jangan pernah berani berbohong kepada Daddy, Daddy ini adalah ayahmu. Daddy sangat tahu jika kamu sedang dalam masalah, katakanlah! Ada apa sebenarnya?" ucap tanya Tuan Ansell tegas.


Albert terlihat menghela napas panjang, lalu dia menghembuskannya secara perlahan.


Dahi Tuan Ansell nampak mengernyit, hanya bertemu dengan mantan tapi kenapa wajah Albert terlihat begitu resah.


Hal itu membuat Tuan Ansell bertanya-tanya dalam hatinya, sebenarnya ada apa antara Albert dan juga mantan pacarnya tersebut?


"Memangnya kenapa kalau bertemu dengan mantan pacar? Dia hanya masa lalu, Al. Jangan pernah mengungkit hal yang bisa membuat rumah tangga mu hancur," ucap Tuan Ansell.


Awal mendengar Fatimah dekat dengan Albert, dia sangat takut jika menantunya tersebut akan berselingkuh dengan mantan suaminya.


Namun ternyata saat ini keadaannya malah terbalik, ternyata malah Albert yang terlihat begitu gundah saat memikirkan mantan pacarnya


Pernah dikhianati, bahkan pernah melihat istri sendiri berselingkuh dengan mantan suaminya, membuat Tuan Ansell begitu trauma. Sehingga, dia sangat takut jika hal itu terjadi kepada anaknya.


"Aku tak berniat mengungkit masa laluku, Daddy. Cuma masalahnya, Ruby berkata jika rahimnya mengalami infeksi. Aku sangat tahu apa yang menyebabkan rahimnya terinfeksi," jawa Albert.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Albert, mata Tuan Ansell nampak membulat dengan sempurna, dia tahu apa arti dari itu semua. Namun, dia berusaha untuk menahan prasangka di dalam hatinya.


"Memangnya apa yang terjadi antara kalian di masa lalu?" tanya Tuan Ansell penasaran

__ADS_1


Albert terlihat menundukkan kepalanya, dia bahkan terlihat meremat kedua tangannya secara bergantian. Dia sangat terlihat sangat gugup dan takut secara bersamaan.


"Dulu saat kami pacaran, kami sering tidur bersama, Dad. Lalu dia mengaku kalau dia tengah mengandung anakku, namun aku tak percaya begitu saja. Karena aku pernah melihat Ruby pergi dengan pria lain selain diriku," ucap Albert.


Tubuh Tuan Ansell terasa sangat lemas saat mendengar apa yang diucapkan oleh Albert.


"Lalu, setelah itu apa yang terjadi?" tanya Tuan Ansell.


"Dia meminta pertanggungjawabanku, tapi aku menolak. Lalu, dia pun menggugurkan kandungannya," ucap Albert seraya tertunduk lesu.


Tuan Ansell terlihat menghela napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia benar-benar tak habis pikir dengan kenakalan yang dilakukan oleh putranya tersebut.


Dia memang tahu jika putranya itu sering berganti-ganti pasangan, namun dia tak menyangka jika sampai pernah menghamili seorang wanita.


Apa lagi wanita tersebut sampai menggugurkan kandungannya, Tuan Ansell kira, putranya itu bisa bermain bersih semasa remaja nya.


"Daddy harap, kamu bisa segera mengatasi masalah ini. Jangan sampai istri kamu tahu, karena dia pasti akan sangat terluka. Walaupun rumah tangga kalian bisa berjalan dengan baik, tapi tidak dengan hatinya."


Setelah mengucapkan hal itu, Tuan Ansell nampak mengelus lembut pundak Albert. Lalu, dia pun pergi dari kamar Albert.


Sebelum dia benar-benar pergi, dia kembali berkata. "Jangan sampai salah langkah!"


Tanpa Tuan Ansell dan juga Albert duga, Fatimah sebenarnya sudah mendengar percakapan antara Tuan Ansell dan juga Albert.


Hatinya benar-benar merasa sangat sakit saat mengetahui suaminya pernah menghamili wanita lain, bahkan sampai perempuan itu menggugurkan kandungannya.


Fatimah merasa kakinya sangat lemas, tubuhnya seakan limbung. Dengan cepat dia segera menyandarkan tubuhnya pada tembok yang tak jauh dari kamar utama.


"Ya Allah, kuatkan hati hamba. Hamba tahu ini adalah bentuk ujian darimu, semoga hamba bisa menerima semua keburukan suami hamba di masa lalu," ucap Fatimah dalam hati.


Air mata Fatimah jatuh begitu saja, dia benar-benar merasa sangat sedih.


"Ra, kamu ngapain di sini? Katanya mau ke kamar?" tanya Callista.


Fatimah segera mengusap air matanya, lalu dia pun berusaha untuk menampilkan senyum terbaiknya.


"Tadi tiba-tiba saja perut aku berdenyut, rasanya dia sudah mulai bergerak, Kak." Fatimah tersenyum sambil mengelus lembut perutnya.


"Benarkah? Pantas saja aku lihat kamu sampai menitikan air mata, pasti kamu sangat terharu," kata Callista.

__ADS_1


Callista langsung menghampiri Fatimah dan mengelus lembut perut adiknya, Fatimah hanya bisa tersenyum melihat kelakuan dari Callista.


__ADS_2