
Siang ini Fatimah terlihat sudah bersiap, dia terlihat cantik dengan memakai gamis berwarna cream dan kerudung dengan warna senada.
Kaca mata hitam sudah bertengger cantik di atas hidung bangirnya, koper kecil pun sudah dia seret menggunakan tangan kirinya.
"Sudah siap?" tanya Aksa.
"Ya, Ayah. Aku sudah siap," jawab Fatimah.
Najma langsung menghampiri putrinya dan memeluknya dengan erat, dia juga mengecup kening putrinya dan tentunya memberikan banyak pesan untuk putrinya tersebut.
"Berbahagilah, Sayang. Lakukan apa pun yang kamu inginkan, selama itu masih dalam batas wajar. Bunda tak akan melarang, jangan lupa kewajiban kamu terhadap sang khalik." Kembali Najma memeluk dan mengecup kening Fatimah.
"Ya, Bunda," jawab Fatimah.
Fatimah sudah memutuskan untuk pergi ke negara A, dia ingin menenangkan diri di sana. Kebetulan di sana juga ada Aby dan juga Aliana.
Mereka sudah pulang ke Negara A, setelah kesehatan Alina membaik. Tentunya, setelah kandungannya juga telah kuat.
Makanya Fatimah diizinkan oleh Aksa dan juga Najma, sebenarnya mereka sangat berat melepas kepergian Fatimah.
Namun, jika mereka membiarkan Fatimah hanya terdiam di rumah saja, mereka takut jika hal itu akan membuat Fatimah makin terpuruk.
Setelah berpamitan kepada Ayah dan juga Bundanya, Fatimah pun langsung diantar oleh pak Anto menuju Bandara.
Sebenarnya Najma dan juga Aksa ingin sekali mengantar kepergian putrinya tersebut, namun Fatimah melarangnya.
Dia berkata jika dia nanti akan merasa sedih, jika melihat Ayah dan Bundanya berada di Bandara saat dia pergi.
Najma dan Aksa pun menurut, dia tak mengikuti putrinya menuju Bandara. Tapi mereka hanya diam saja di rumah, mendo'akan yang terbaik untuk putri mereka.
Selama di dalam pesawat, Fatimah tertidur dengan pulas. Dia seperti sangat lelah karena selepas pulang dari Rumah Sakit dia memang kurang tidur, karena terlalu kepikiran dengan kehidupannya yang terasa membingungkan.
Setelah melewati waktu sekitar 24 jam perjalanan, akhirnya Fatimah pun sampai di negara A. Keluar dari Bandara Internasional, dia langsung dijemput oleh adiknya Aby.
"Kakak apa kabar?" tanya Aby.
"Baik," jawab Fatimah singkat.
Aby langsung memeluk Kakak perempuannya tersebut, dia merasa sangat sedih dengan apa yang menimpa kepada kakaknya itu.
Namun, dia tak bisa berbuat apa-apa. Karena sejatinya semuanya sudah diatur oleh sang maha pencipta, Aby melerai pelukannya lalu dia menuntun Fatimah menuju mobil miliknya.
"Masuklah, Kak!" ucap Aby setelah dia membukakan pintu mobil untuk Fatimah, dengan cepat Fatimah pun masuk ke dalam mobil milik Aby.
Setelah Fatimah duduk dengan nyaman, Aby pun langsung menutup pintu mobilnya. Lalu, Aby memasukkan koper milik Fatimah ke dalam bagasi.
__ADS_1
Setelah itu, dia pun ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi. Aby langsung melajukan mobilnya ke kediaman miliknya yang berada di negara tersebut.
Aby memang sudah terbilang sukses di usianya yang masih muda, dia sudah memiliki banyak Caffe dan juga Restoran ternama.
Dia begitu tekun mengelola semua usahanya bersama dengan istrinya Aliana, wanita yang selalu dengan setiap mendukung Aby disetiap kegiatannya.
Padahal keluarga Pramudiya termasuk pengusaha ternama di indonesia, namun entah kenapa Aby begitu ingin sekali menjajal usahanya sendiri di negara A tersebut.
Bahkan Aby memulai usahanya tanpa bantuan dari Ayahnya, dia benar-benar membangun usahanya dari uang hasil kerja keras dia sendiri.
Putra Aksara Pramudiya tersebut yang dulunya sangat nakal dan juga slengean, kini terlihat lebih serius dan juga hangat terhadap keluarga.
Tiba di kediaman Aby dia langsung menuntun Fatimah untuk segera masuk ke dalam rumahnya, saat mereka masuk, Aliana bersama putrinya sudah menunggu.
Di sana juga ada seorang Babysitter yang selalu setia menjaga putri dari Aby dan juga Aliana tersebut.
Delina Putri Pramudiya, anak dari Aby dan Aliana itu kini sudah berusia tujuh belas bulan. Walaupun masih sangat kecil, tapi dia sudah pandai berbicara.
Ya, memang masih belum pasih. Masih banyak cadelnya, dalam pelafalan katanya.
Anak itu begitu senang saat melihat kedatangan Fatimah, anak itu langsung berlari dan memeluk kaki Fatimah dengan erat.
"Celamat ciang, Onty. Na, cangen cama Onty," ucapnya dengan perkataannya yang masih belum sempurna.
"Onty juga kangen, bisa lepasin Ontynya dulu?" pinta Fatimah.
Delina terlihat melerai pelukannya, kemudian dia pun mendongakkan kepalanya sambil tersenyum dengan sangat manis sekali.
Hal itu membuat hati Fatimah menghangat, dia pun jadi Ingin secepatnya mempunyai Baby yang akan membuat hari-harinya lebih ceria.
Namun keinginannya itu terasa tak masuk akal saat ini, karena dirinya kini telah menjadi jandanya Rudi.
"Apa Onty boleh gendong?" tanya Fatimah.
Delina langsung menganggukkan kepalanya berkali-kali, dia terlihat imut sekali. Membuat Fatimah ingin mencubit pipi gembilnya.
"Ya, boyeh, Onty," jawab Delina.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Delina, Fatimah langsung mengangkat tubuh mungil Delina kedalam pelukannya.
Fatimah langsung mengecupi setiap inci wajah Delina dengan lembut, menjawil dagunya dan menggigit gemas hidung minimalis milik Delina.
"Atit, Onty. Onty natal!" kata Delina.
"Abisan kamu imut banget, Onty jadi gemes." Kembali Fatimah menciumi wajah Delina dengan gemas.
__ADS_1
"Stop, Onty! Nanti muta atu lutat," protes Delina.
"Oke, sekarang antar Onty ke kamar. Onty lelah, mau istirahat dulu." Fatimah lalu menurunkan Delina dari pelukannya.
Tanpa berkata apa pun, Delina langsung berlari menuju kamar yang sudah Aby siapkan untuknya. Babysitter Delina pun langsung menyusul, takut-takut anak itu akan jatuh.
"Ikutilah Delina, Kak. Nanti kalau Kakak mau apa pun jangan sungkan," ucap Aby.
"Terima kasih, sudah mau menampungku." Aby langsung memukul tangan Fatimah saat mendengar ucapan Kakaknya itu.
"Jangan ngomong sembarangan!" kata Aby.
Fatimah langsung tertawa, ''sorry."
Setelah berkata seperti itu, Fatimah langsung mengikuti Delina agar bisa segera meluruskan tubuhnya yang terasa pegal. Karena selama di dalam pesawat, dia tidur dalam posisi duduk.
Aby dan Aliana saling pandang lalu, mereka tersenyum.
"Semoga Kak Arra bisa betah tinggal di sini," ucap Aby.
"Ya, Sayang. Semoga dia mendapatkan kebahagiaannya di sini," Timpal Aliana.
"Aamiin... aku ke Caffe dulu, masih banyak yang harus aku kerjakan," pamit Aby.
"Ya, Sayang. Hati-hati," ucap Aliana.
Aby kemudian berjongkok dan mengelus lembut perut istrinya, lalu dia mengecupnya dengan lembut.
"Daddy berangkat, jangan nakal. Baik-baik dalam perut Mommy," ucapnya.
"Yes, Daddy." Aliana menirukan suara anak kecil.
Aby langsung tertawa, dia bangun dan langsung mengecup bibir istrinya.
+
+
+
Selamat hari minggu, semoga kalian tidak bermalas-malasan seperti akoh ya....
Othor sebenarnya meriang, hawanya pengen tiduran aja sambil kemulan. Kalau liat HP Kayaknya kok ngantuk aja....
Semoga kalian sehat selalu, terus semangat dan jangan lupa kasih like, koment, vote sama hadiahnya ya buat Othor.
__ADS_1
See you....