
waktu sudah menunjuk kan pukul 05 sore, ia baru saja pulang kerja, ia pun masuk ke dalam rumah.
dan melihat sang anak, yg sedang berada di ruang tengah,di gendong oleh pengasuh nya,ia pun tersenyum, dan menghampiri sang anak .
" lagi apa sayang "( alpin) ia mengecup kening sang anak, terasa panas.
" Sus, ko erlan seperti nya demam. ?? "( alpin).
" iya tuan, den erlan sedikit demam, karena habis imunisasi,makan nya dia sedikit rewel. "( rita) sang pengasuh.
" kenapa kamu engga bilang ke saya, kalau gitu kita bawa ke rumah sakit.. ?? "( alpin)
" engga usah tuan, biar kan saja, memang seperti itu, kalau habis imunisasi, pasti demam insyallah baik baik saja tuan, lagian saya sudah memberi kan obat, untuk pereda demam nya tuan, besok juga pasti demam nya turun. "( rita) ia berusaha meyakin kan alpin.
" baik kalau gitu, saya percaya sama kamu, kalau ada apa apa, panggil saya. "( alpin) ia percaya dengan ucapan rita, karena ia tidak sembarangan, mengambil pengasuh untuk anak nya.
" pasti tuan, saya akan mengabari tuan. "( rita) dengan ramah.
" iya udah saya ke atas dulu, oh iya istri saya kemana, "( alpin)
" kata nyonya, mau bertemu dengan teman teman nya tuan. "( rita)
" dari jam berapa. "( alpin)
" kalau engga salah dari jam 09 tuan. "( rita) ia berkata jujur.
alpin hanya mengangguk kan kepala saja, sebagai jawab ban, setelah itu ia menuju ke kamar nya,tapi bukan kamar dengan friska, tapi kamar dengan alea.
iya semenjak 2 bulan pernikahan, alpin balik ke rumah nya, tapi ia tidak memperboleh kan friska untuk tidur di kamar, yg di temapati oleh alea, entah lah hati nya tidak menerima kalau ada orang yg menempati kamar tersebut, awal nya friska tidak setuju, ia kekeh pingin menempati kamar tersebut, tapi alpin dengan tegas, kalau friska engga mau menempati kamar yg lain, berarti ia harus kembali ke apartemen nya, sedang friska engga mau, akhir nya mau engga mau friska pun menurut.
__ADS_1
alpin pun membuka pintu nya, di saat ia membuka pintu, terlihat foto pernikahan nya, dan foto sang anak sisi, hati nya begitu sesak, tak kala melihat foto mereka bertiga.
alpin pun menutup pintu nya, dan mengunci nya.
ia pun berjalan ke arah foto mereka bertiga.
" sayang, papah kangen sama kamu, kangen banget, papah ingin bertemu sama kamu, papah ingin peluk kamu sayang.. ?? "( alpin) air mata nya sudah berjatuhan di pipi nya, tangan nya menyentuh foto sang anak, dan beralih ke arah foto Kayla.
" kamu dimana sayang, aku rindu sama kamu sayang, anday kamu memberi aku kesempatan, aku engga akan menyia nyia kan itu semua sayang, ternyata setelah kamu pergi, aku baru menyadari kalau aku sangat mencintai kamu sayang, tolong beritahu aku, sekarang kamu dimana.. ?? "( alpin) kini tubuh nya melorot, karena sudah tidak bisa menolang tubuh nya, saking sedih nya.
ia membayang kan dulu, begitu bahagia nya, diri nya, apa apa selalu di layani, tapi sekarang, ia harus menyiap kan keperluan nya sendiri.
betapa bodoh nya, ia menyia nyia kan wanita seperti Kayla,karena Ego nya ia harus ke hilangan 2 wanita, yg sangat ia sayangi, dan sangat berarti dalam hidup nya.
ia menagis,sejadi jadi nya, setelah beberapa menit ke mudian, ia pun sudah sedikit tenang, ia pun menuju ke kamar mandi, untuk membersih kan tubuh nya, hanya memakan waktuwaktu 20 menit, kini alpin sudah rapih, ia ingin menemui ke dua orang tua nya, dan juga anak nya, ia benar benar rindu, sama mereka semua nya.
di saat ia turun ke bawah, ternyata sudah tidak ada sang anak, mungkin sang anak, sedang berada di kamar nya, alpin pun mengendarai motor, karena jarak rumah nya dangan orang tua nya, tidak terlalu jauh, makan nya ia memilih untuk mengendarai motor.
" aden, kemana aja, ko baru ke sini. "( satpam ) dengan senyum ramah nya.
" maaf mah, saya baru ada waktu. "( alpin) ia pun men standar kan motor nya.
" aden, pasti mau bertemu sama orang tua aden, dan anak aden. "( satpam).
" mang ko tau, kau ke sini mau bertemu dengan anak saya, dan juga orang tua saya. "( alpin).
" iya tau lah, tapi sayang.. ?? "( satpam). ia sedikit menggantung kan ucapan nya.
" syang kenapa mang. "( alpin) dengan wajah penasaran nya.
__ADS_1
" kalau nyonya dan nona muda sedang tidak berada di rumah, paling aden,hanya akan bertemu dengan tuan, sebenar nya tuan mau pergi ke luar negri, tapi sayang klayen nya membatal kan, dengan alasan ada ke perluan penting, iya terpaksa tuan, tidak pergi ke sana untung saja tuan belum naik ke dalam pesawat, kalau sudah bisa berabe urusan nya."( satpam).
" oh gitu ya, kalau boleh tau mamah sama anak saya kemana. "( alpin) dengan tatapan penasaran nya.
" kalau itu saya kurang tau tuan, karena nyonya engga bilang apa apa. "( satpam) ia karena mamah nya alpin tidak mau ada orang yg tau, kalau dia pergi ke rumah alea, hanya orang orang tertentu yang tau, tentang alea dan diri nya, yg pasti itu orang tersebut, orang yg sangat ia percayai.
" iya udah kalau gitu aku masuk ke dalam rumah. "( alpin)
satpam pun mengangguk sebagai jawab ban.
di saat alpin, masuk ternyata sang papah sedang berada di ruang tengah, dan di temani oleh secangkit teh.
" assalamu'alaikum pah. "( alpin).
" waalaikumsalam.. ?? "( palah alpin) tanpa menoleh ke arah alpin.
alpin mengecup punggung tangan sang papah, walau ia tahu sang papah tidak menganggap nya, tapi ia tetap menghormati nya.
" pah, apa kabar.. ?? "( alpin) ia duduk di sofa.
" seperti yg kamu lihat, papah baik baik saja. "( papah alpin) sambil menampil kan wajah datar nya.
" allhamdulilah, kalau papah baik baik saja. "( alpin).
" oh iya pah, kemana mamah sama sisi, kata satpam di depan, kalau mamah dan sisi, tidak ada di rumah. "( alpin) ia menatap sang papah, dengan tatapan penasaran nya.
" ternyata kamu masih mengingat mamah kamu dan anak kamu, kirain papah kamu udah lupa, ama mereka. "( papah alpin) dengan senyum meledek nya .
" saking kamu sibuk, dengan wanita mu dan anak kamu, sampai kamu lupa sama mereka, sungguh miris, padahal jarak rumah kamu dan rumah ini, engga benda kota, ke bayang kalau jarak rumah ini dengan rumah kamu beda kota, mungkin kamu akan ke sini satu tahun sekali "( papah alpin) sambil menghela napas nya.
__ADS_1
alpin tertunduk, karena ucapan sang papah, memang benar, kalau selama ini ia lalai.