Hati Yang Kau Sakiti

Hati Yang Kau Sakiti
Kesepakatan


__ADS_3

Fatimah benar-benar tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan Albert, padahal sengaja dia pergi jauh karena ingin mendapatkan suasana baru.


Tentunya berkenalan dengan orang-orang baru dan juga menikmati tempat-tempat baru yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya.


Namun, satu hal yang Fatimah lupakan. Albert lahir di negara A, orang tuanya berada di sana. Semua perusahan miliknya dan juga perusahaan milik keluarga Raimhond ada di sana, sedangkan yang ada di Indonesia hanya anak cabang saja.


Fatimah langsung menepuk jidatnya, dia merasa jadi orang yang terlalu percaya diri saat ini.


"Ya Tuhan, Al. Aku lupa," ucap Fatimah.


Fatimah terlihat menatap pria yang ada di hadapannya dengan senyuman yang terlihat konyol menurut Albert.


"Memangnya apa yang kamu ingat, Ra?" tanya Albert.


Albert ingin sekali meledaknya, namun tak bisa. Dia terlalu menyayangi wanita yang ada di hadapannya, sehingga takut sekali menyinggung perasaannya.


"Saat ini yang aku ingat hanyalah--"


Fatimah terlihat sedang berpikir, kedua tangannya dia silangkan di depan dada. Sedangkan dahinya terlihat berkerut dalam, jangan lupakan, matanya pun terlihat memicing.


Albert sampai terkekeh dibuatnya, dia merasa jika wajah Fatimah terlihat sangat lucu sekali. Persis seperti anak kecil yang sedang mengingat hal yang telah dia lupakan.


Albert lalu berdiri, kemudian dia menuntun Fatimah untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


"Duduklah, Ra. Ngga usah kerja, kamu temenin aku sarapan." Albert tersenyum dengan sangat manis.


Fatimah langsung memelototkan matanya, lelaki yang ada di hadapannya itu terasa sangat mengaturnya.


"Ya Tuhan, Al. Aku sudah sarapan, lagi pula aku kesini untuk bekerja. Agar aku bisa melupakan semua kesedihan yang aku rasa," ucap Fatimah dengan suara yang makin melemah.


Albert langsung tersenyum kecut mendengar penuturan dari Fatimah, ingin sekali dia mengusap puncak kepala Fatimah.


Namun, dia sadar jika Fatimah bukan wanita yang bisa dia sentuh dengan mudah. Fatimah bukan wanita yang bisa dia pegang-pegang seperti para mantannya.


"Kamu akan bahagia, Ra. Jika kamu mau nerima aku sebagai suami kamu, aku janji akan memberikan kebahagiaan yang tak terkira sama kamu," ucap Albert.


Fatimah terlihat menatap Albert dengan lekat, dia begitu sering mendapatkan tawaran menggiurkan dari lelaki yang ada di hadapannya.


Bukannya dia tak mau, tapi dua kali mendapatkan sakit dari lelaki. Membuat dia berpikir keras untuk mendapatkan tawaran dari Albert.

__ADS_1


"Al, pernikahanku baru saja berakhir. Bahkan kemarin aku baru saja menandatangani surat gugatan cerai dari Mas Rudi, masa kamu udah ngurusin nikah aja sih! Kamu lupa kalau--"


"Perempuan itu ada masa idahnya, tiga bulan sepuluh hari. Kamu baru menjanda selama sembilan hari, jadi... aku harus menunggu kamu selama sembilan puluh satu hari lagi," ujar Albert.


Fatimah terlihat mencebikkan bibirnya, ternyata lelaki di hadapannya itu paham sekali dengan yang namanya masa idah, pikirnya.


"Percaya diri sekali kamu, Al!" ucap Fatimah mencibir.


"Memangnya kenapa kalau aku percaya diri?" tanya Albert.


Albert terlihat menantang Fatimah dengan menatapnya, dia menatap Fatimah dengan tatapan penuh keyakinan jika seorang Albert Atha Raimhond bisa menaklukan seorang Fatimah Azzahra.


"Aku belum tentu mau jadi istri kamu," ucap Fatimah.


Albert langsung lemas, dia terlihat menyandarkan tubuhnya dan menumpukan kedua tangannya di atas meja.


"Ra, kasih aku kesempatan." Albert terlihat begitu memelas.


"Tapi, Al. Aku--"


"Please Arra, beri aku waktu untuk bisa membuat kamu jatuh cinta sama aku. Tiga bulan sesuai masa idah kamu, kalau di hati kamu tetap tak ada cinta untuk aku. Aku akan merelakan kamu, aku tak kan pernah menganggu kamu lagi, aku akan pergi dari kehidupan kamu. Please...."


"Bagamana?" tanya Albert.


"Baiklah, Al. Tapi, kalau misalkan aku tidak bisa menyukaimu, bagaimana?" tanya Fatimah.


Hatinya berkata, jika Albert pasti akan dengan mudah meruntuhkan pertahanan dirinya. Namun, Fatimah harus bisa menahan hatinya.


Dia tak mau sakit hati lagi, kecuali kalau Albert mampu membuat dirinya percaya.


"Aku akan segera pergi dari kehidupan kamu," jawab Albert mantap.


"Oke," jawab Fatimah.


Albert terlihat sangat senang, dia langsung merentangkan kedua tangannya, lalu dia pun langsung memeluk tubuh Fatimah dengan erat.


"Al!" Fatimah langsung berteriak sambil memukul tangan kekar Albert. Banyak para karyawan Aby yang langsung menatap ke arah mereka, bahkan para pengunjung pun langsung menatap kedua insan tersebut.


Tapa Fatimah tahu, Aby pun memperhatikan mereka dari dalam ruang kerjanya. Karena di sana memang ada CCTV yang terpasang.

__ADS_1


Albert pun dengan cepat langsung melerai pelukannya, dia terlihat ******** karena lupa telah memeluk wanita yang sangat dia cintai.


Jika dulu dia akan dengan mudah bisa mencumbu wanita yang dia suka, bahkan bisa langsung dia bawa dan dia kuasai di bawar kungkungannya.


Namun sekarang, dia begitu membutuhkan perjuangan untuk mendapatkan hati wanita yang sangat dia ingin jadikan istri itu.


"Ehm, Al. Apa kamu ngga jadi sarapan?" tanya Fatimah kikuk.


"Ja--jadi, Ra. Aku, aku seneng banget. Jadi aku lupa mau apa sekarang," jawab Albert seraya mengelus tengkuk lehernya.


Aby memang sengaja mengadakan berbagai macam Cake dan juga makanan ringan, agar pengunjung tak merasa bosan hanya dengan menikmati kopi saja.


Bahkan berbagai macam minuman panas dan dingin dengan aneka rasa pun dia sediakan pula, agar pengunjung bisa lebih tertarik untuk datang.


"Jadinya mau pesan apa?" tanya Fatimah lagi.


"Kopi item aja, Ra. Sama cake yang di atasnya ada taburan kacang almondnya," tunjuk Albert pada cake showcase yang berada tak jauh darinya.


"Oke," jawab Fatimah.


Fatimah langsung bangun dan pergi meninggalkan Albert, tentu daja dia ingin membuatkan pesanan Albert.


Albert hanya bisa tersenyum melihat kepergian Fatimah, dia merasa senang karena usahanya untuk mengejar wanita pujaan hatinya tak sia-sia.


Walaupun Fatimah belum mengatakan 'iya', namun Albert senang karena dia sudah mendapatkan kesepakatan dengannya.


"Ngga sia-sia gue balik lagi kemari, gue janji, Ra. Gue bakal bisa naklukin hati elu, gue juga janji kalau elu udah milih gue, hanya rasa bahagia yang bakal elu dapet," janji Albert dalam hatinya.


+


+


+


Selamat siang, selamat hari senin. Terima kasih untuk kaleyan yang mau mampir di novel Othor ini, jangan lupa kasih like sama komentnya ya....


Kasih kopi, kembang sam tipsnya juga di tunggu pisan. Buat yang udah ngasih, hatur nuhun pisan.


Kaleyan itu baik-baik banget deh, selalu saja mau berbagi dengan Othor amatiran kaya aku. I Love You seempang....

__ADS_1


__ADS_2