
Setelah 2 hari tinggal di rumah Ayah Aksa, Albert pun memutuskan untuk mengajak Fatimah tinggal di kediaman Albert yang berada di kota Jakarta.
Awalnya Fatimah ingin menolak, dia ingin tinggal di rumah yang Tuan Aleandro wariskan untuknya.
Namun, Albert menolak. Karena di sana banyak kenangan Fatimah bersama dengan Rudi, Albert ingin memulai rumah tangganya bersama Fatimah dari awal.
Tentunya tanpa adanya bayangan kenangan antara Fatimah bersama dengan Rudi, Fatimah pun akhirnya memakluminya.
Dia pun memutuskan untuk ikut bersama dengan Albert, suaminya. Dia, ingin menjadi istri yang berbakti untuk suaminya.
Najma juga Aksa tentu saja mendukung keputusan yang diambil oleh Albert dan juga Fatimah.
Karena pada dasarnya, memang sepasang lelaki dan wanita yang sudah menikah itu harus memulai rumah tangganya di rumahnya sendiri.
Baik itu milik sendiri, atau pun rumah kontrakan. Karena sepasang pengantin baru, memang harus mengalami penyesuaian diri.
"Aku mengizinkan kamu membawa serta putriku, jangan sakiti dia. Jika dia salah tegurlah dengan cara yang baik, jika kamu sudah tak sanggup untuk menyayangi dan mencintai putriku, maka kembalikan dia padaku," kata Aksa saat Albert meminta Fatimah untuk tinggal bersama dengannya.
Albert langsung melajukan mobilnya menuju kediamannya, dengan hati riang dan juga bahagia.
Bagaimana dia tak merasa bangga, jika wanita yang tiga tahun lebih dia incar bisa dia dapatkan.
Dia bahkan tak perduli jika Fatimah seorang janda, karena hatinya benar-benar telah terpaut cinta.
Tulus rasa yang Albert punya untuk Fatimah, bahkan dia bisa memperbaiki dirinya, menjadi mualaf dan bisa menjadi peribadi yang lebih baik karena rasa cintanya terhadap seorang wanita bernama Fatimah Azzahra.
"Selamat datang di rumah kita, Sayang," ucap Albert seraya membuka pintu rumahnya.
Para pelayan langsung membungkuk hormat kala melihat Tuannya yang datang bersama dengan sang istri.
"Terima kasih, Mas," jawab Fatimah.
Setelah masuk kedalam rumah besar tersebut, Albert langsung menuntun Fatimah untuk masuk ke dalam kamar utama.
Albert sengaja menyiapkan kamar untuk dirinya dan juga Fatimah di lantai 1, agar Fatimah tak lelah naik turun tangga.
Tiba di dalam kamar, Albert langsung menggendong Fatimah dan merebahkan tubuhnya di atas kasur King size miliknya.
Fatimah terlihat mengedarkan pandangannya ke kamar Albert, yang terlihat sangat luas dua kali lebih besar dari kamar miliknya.
__ADS_1
Kamar bernuansa hitam putih itu terlihat sangat maskulin, bahkan Fatimah bisa mencium dengan jelas wangi parfum yang biasa digunakan oleh Albert di ruangan tersebut.
Aromanya sangat menenangkan, Fatimah menyukainya. Mungkin juga karena tubuh Albert yang sudah sudah menjadi candu untuknya.
"Kamarnya bagus, aku suka." Fatimah mengecup bibir Albert sekilas.
Albert terkekeh mendengar penuturan istrinya, lalu dia pun mengusap tangan istrinya dengan lembut.
"Karena kamu menyukai kamar kita, bagaimana kalau sekarang kita mencoba kasurnya, empuk apa tidak?" kata Albert.
Albert yang tak sabar langsung melucuti baju istrinya, Fatimah hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Albert.
Tak lama kemudian, Albert nampak melucuti bajunya dan melemparnya kesembarang arah. Fatimah hanya bisa memejamkan matanya kala melihat milik Albert yang terlihat melambai-lambai.
Fatimah memang selalu pasrah dengan apa pun yang dilakukan Albert padanya, karena jika dia menolaknya pun dia merasa tak sanggup, karena dia juga menyukai setiap sentuhan Albert.
Apa lagi kalau milik Albert sudah memasukinya dan menghentaknya dengan sedikit lebih kasar, Fatimah sangat suka.
Ternyata benda besar dan panjang itu bisa membuatnya merasakan hal yang luar biasa, pikirnya.
"Mas, jangan pegang itu. Geli!" Fatimah menggeliatkan tubuhnya kala Albert mengusap lembut punggung bagian atas istrinya.
Jika Albert memegang dan mengusapnya dengan lembut, Fatimah akan langsung kelimpungan.
Apa lagi kalau Albert mengecupinya, Fatimah terlihat menggeliat dan menggelinjang. Hal itu membuat Albert semakin bergairah untuk segera memasuki tubuh istrinya.
"Aduh!" pekik Fatimah kala merasakan milik Albert langsung dihentakkan dari belakang.
Fatimah langsung mencari sesuatu untuk dia pegang, sedangkan Albert langsung meremat dada istrinya.
Satu jam sudah Albert mengajak istrinya untuk mencoba kasur baru mereka, hingga kasur yang tadinya terlihat rapi kini menjadi acak-acakan.
Dua manusia yang sedang dimabuk cinta kini nampak sedang mengatur napasnya, mereka masih terlihat tersenggal-senggal karena baru saja selesai melakukan proses penanaman bibit unggul milik Albert.
"Enak yang kasur barunya?" tanya Albert sambil mengedipkan matanya.
"Nakal!" kata Fatimah seraya menautkan bibirnya.
Dengan senang hati Albert langsung membalas tautan bibir istrinya, dengan lembut dan juga mesra.
__ADS_1
Fatimah merasa tidak mengenali dirinya lagi semenjak bersama dengan Albert, dia lebih mampu mengapresiasikan dirinya.
Dia lebih mampu mengungkapkan isi hatinya dan dia lebih mampu mengungkapkan apa keinginannya, bahkan Fatimah lebih bisa merasakan kebahagiaan yang tiada tara saat bersama dengan Albert.
Tak seperti saat bersama dengan Rudi, hanya rasa kasihan dan takut akan dosa karena tak mau disentuh.
Bahkan Fatimah harus menahan rasa jijik kala membayangkan Rudi yang sedang bermesraan bersama dengan Audy kala itu.
"Terima kasih karena kamu sudah mau menjadi istriku, Arra." Albert membelai lembut pipi istrinya.
"Ya," jawab Fatimah.
"Aku mau jujur sama kamu, Arra. Aku harap setelah kejujuran aku, kamu masih mau bersama dengan aku," ucap Albert dengan tatapan mata serius.
"Jujur apa? Jangan membuat aku takut dengan tatapan penuh rasa sesal itu," kata Fatimah.
Albert terkekeh, karena ternyata istrinya mampu membaca sorot matanya.
"Maaf karena aku baru mengatakannya, sebelum aku menikah sama kamu, aku sering pergi berkencan dengan wanita. Sekitar satu tahun aku rutin melakukan itu, tapi aku ngga pernah memakai wanita secara sembarangan, Ra. Aku selalu memastikan wanita yang aku pakai sehat dan menggunakan pengaman," ucap Albert.
Fatimah mendongakkan wajahnya, dia menatap Albert dengan lekat. Dia sangat berharap jika apa yang dikatakan oleh suaminya hanya sekedar gurauan saja.
Sayangnya, Fatimah hanya melihat kejujuran di mata Albert.
"Dulu aku merasa kecewa karena perselingkuhan Mommy, jadinya aku selalu menganggap jika semua wanita itu sama bejadnya. Namun, pandangan aku terhadap wanita berubah ketika aku mengenal kamu," ucap Albert tulus.
Fatimah masih setia dalam diamnya, Albert jadi resah dibuatnya. Albert lalu memeluk Fatimah dan mengecupi puncak kepala istrinya, tubuh polos mereka pun saling bersentuhan.
"Maaf, Sayang. Maafkan aku, karena aku bukanlah lelaki yang baik. Tapi, aku janji akan berusaha untuk menjadi suami dan Ayah yang baik untuk keluarga kecil kita. Please, jangan tinggalkan aku setelah kamu tahu masa lalu aku," ucap Albert mengiba.
Albert sampai menangis sambil mendekap tubuh polos istrinya, dia merasa sangat hina jika mengingat masa lalunya.
Namun, dia hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa. Salakah jika dia ingin bertaubat dan ingin mendapatkan kebahagiaan dengan wanita yang sangat dicintainya?
*
*
Hai Hai Hai,,,, selamat pagi kesayangan, semoga kaleyan sehat selalu. Jangan lupa like dan komentnya ya...
__ADS_1
Vote dan hadiahnya juga aku tunggu banget...