Hati Yang Kau Sakiti

Hati Yang Kau Sakiti
Meminta Bantuan


__ADS_3

Albert terlihat sedang duduk berhadapan dengan istrinya, Fatimah. Dia sungguh merasa sangat takut kala melihat wajah Fatimah yang terlihat datar tanpa ekspresi.


Padahal sudah dari tadi Albert meminta maaf kepada Fatimah, namun Fatimah hanya menjawab.


"Aku sudah memaafkanmu, Mas. Tapi, hukuman harus tetap dijalankan. Kamu tak boleh menyentuhku selama satu minggu, itu syarat mutlak."


Bagaimana prustasinya Albert mendengar penuturan dari Fatimah, sudah tentu bisa dibayangkan.


Rasanya, dia lebih baik ditampar atau dipukul saja oleh istri cantiknya. Dari pada dia tak diperbolehkan untuk menyentuh istrinya tersebut.


Apa lagi, Fatimah juga berkata kepada Albert.


"Mulai nanti malam, kamu tidur di luar. Terserah mau di kamar tamu, atau mau tidur di kamar yang mana pun aku tidak peduli. Yang penting, kita jangan tidur 1 kamar.


Albert semakin syok mendengar penuturan hari itu dari istrinya, Albert bahkan sempat berpikir jika istrinya sedang kesurupan.


Karena dari dulu Fatimah selalu bersikap lembut, tak pernah bersikap seperti ini. Apa lagi bersikap menyebalkan dan tegas tanpa tawar menawar.


Padahal, hal itu bukan pengaruh kesurupan atau apa pun. Namun, memang keadaannya seperti itu.


Fatimah sedang mengandung, tentu saja hormonnya tak stabil. Emosinya pun terkadang naik turun sesuai mood inu hamil itu.


"Yang, please... jangan siksa aku, ngga apa-apa ngga bisa nyelup. Yang penting aku bisa tidur satu ranjang sama kamu," ucap Albert memelas.


Fatimah terlihat menggelengkan kepalanya, bahkan tangannya pun terlihat membentuk huruf x di depan dada.


"No!" tegas Fatimah. "Tidak ada tawar-menawar lagi," sambungnya.


"Mendengar kata Fatimah, Albert makin tertunduk lesu. Ia tidak menyangka, jika dirinya akan mendapatkan hukuman yang sangat berat seperti ini.


"Kamu tahu, Mas? Kesalahan kamu sangatlah besar, kamu memberikan celah untuk perempuan lain masuk ke dalam kehidupan kita. Ini sebagai hukuman dari aku, supaya kamu berhati-hati dalam melangkah ke depannya," kata Fatimah.


Albert memang menyadari kesalahannya, dia tahu apa yang dia lakukan sangatlah salah. Namun, rasanya hukumannya terlalu berat untuk dirinya.


Membayangkan satu hari berpisah ranjang dengan istrinya saja, sudah membuatnya dirinya resah.


Apa lagi satu minggu, rasa-rasanya dia tidak akan sanggup. Lalu, saat dia meratapi nasibnya, terlintas dipikirannya untuk meminta bantuan sang mertua.

__ADS_1


Albert terlihat tersenyum, setelah mendapatkan ide itu. Fatimah terlihat memencingkan matanya, dia melihat binar berbeda di wajah suaminya.


"Ada apa?" tanya Fatimah.


"Tidak ada, kamu tunggu sebentar. Aku harus pergi," pamit Albert.


Albert sempat bangun dan menghampiri istrinya, namun dengan cepat Fatimah mengayunkan tangannya tanda Albert tak boleh mendekat kepadanya.


Albert terlihat berdecak sebal, namun dia pun tetap menurut. Dia pergi tanpa menyentuh istrinya tersebut, padahal dia hanya ingin mengecup keningnya saja. Namun, Fatimah terkesan sangat pelit menurutnya.


Setelah berpamitan dengan istrinya Albert pun langsung melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya.


Tentu saja tujuan utamanya adalah membujuk Najma agar mau menginap di rumahnya. Karena dengan seperti itu, Fatimah tidak mungkin membiarkan dirinya tidur terpisah dengannya.


Bisa-bisa mertuanya akan marah, karena Fatimah akan dicap sebagai istri yang tidak berbakti terhadap suaminya.


Setelah dua puluh menit melakukan perjalanan, Albert pun sampai di kediaman mertuanya.


Dia langsung turun dari mobilnya dan masuk ke rumah besar tersebut, dia langsung mencari keberadaan mertuanya.


"Assalamualaikum, Bunda," sapa Albert kala melihat Najma yang tengah duduk sambil berselancar dengan ponselnya.


"Bunda," panggil Albert manja.


Mendengar panggilan manja dari menantunya, Najma langsung terkekeh. Dilihat dari postur tubuhnya yang besar, wajahnya yang terlihat tampan dan berkharisma, rasa-rasanya tidak pantas jika Albert bersikap manja seperti itu terhadap dirinya.


"Ada apa?" tanya Najma.


"Arra, marah. Aku tidak boleh tidur bersama dengannya selama satu minggu," adu Albert seraya memeluk tangan mertuanya.


"Hey! Ada apa ini? Kenapa kamu bersikap seperti itu terhadap istriku?" tanya Aksa yang baru saja datang.


Dengan cepat Albert pun melepaskan pelukannya, lalu dia pindah ke sofa yang lainnya.


"Maaf, Yah." Albert terlihat menundukkan kepalanya.


Aksa terlihat duduk di samping istrinya, lalu dia memandang istri dan menantunya secara bergantian.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Aksa.


Najma terlihat tersenyum, lalu dia pun mengangkat kedua bahunya seolah acuh dengan apa yang terjadi terhadap menantunya.


Karena tak mendapatkan jawaban yang pasti dari istrinya, Aksa lalu menatap Albert dengan intens.


Kemudian, dia pun langsung bertanya kepada menantunya tersebut.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat kacau seperti itu?" tanya Aksa.


"Arra marah, Yah. Aku nggak boleh menyentuhnya selama satu minggu, bagaimana aku tidak prustasi coba," Adu Albert.


"Tunggu-tunggu, Arra tidak mungkin mengambil keputusan sembarangan, kalau kamu tidak melakukan kesalahan," ucap Aksa.


Mendengar perkataan mertuanya, Albert pun lalu menceritakan kejadian yang telah dialami oleh dirinya.


Setelah mendengarkan penuturan dari menantunya, Aksa pun langsung menggelengkan kepalanya.


"Sekarang kamu sudah menikah, bersikaplah lebih tegas terhadap perempuan yang bukan mahram kamu. Karena bisa jadi mereka akan menjadi penyebab keretakan rumah tanggamu," ucapa Aksa.


"Maaf, Yah. Niatku tadinya baik, aku hanya ingin bertanggung jawab secara finansial kepadanya," ucap Albert.


"Ya, Ayah paham. Tapi, ada kalanya kita harus bersikap tegas. Agar kita tidak ditindas, bisa saja kamu akan menyesal karena rumah tangga kamu nantinya kandas," kata Aksa


Albert terlihat tertunduk mendengar penuturan Aksa, lalu beberapa detik kemudian dia memberanikan diri untuk menatap mertuanya tersebut.


"Jadi, maukah Ayah sama Bunda membantuku? Menginaplah di rumah kami, kalau ada kalian, Arra pasti tidak akan mengusir aku dari kamar kami," ucap Albert memelas.


Aksa dan Najma saling pandang, kemudian mereka berdua tertawa dengan terbahak-bahak. Albert langsung cemberut melihat reaksi dari mertuanya tersebut.


"Ya, baiklah. Aku akan menginap di rumah kalian, aku juga tahu bagaimana rasanya jika tidak bisa berdekatan dengan istri," ucap Aksa seraya merangkul pundak Najma.


Najma terlihat menepis tangan Aksa.


"Yah! Jangan kebiasaan, ada menantu kita," ucap Najma.


"Tidak apa-apa, Yang. Lagian' kan kita pasangan halal," ucap Aksa.

__ADS_1


Melihat perdebatan kecil diantara Aksa dan juga Najma, Albert langsung tersenyum dibuatnya.


Dia jadi berharap, semoga saja dirinya dan Fatimah bisa menjalani rumah tangga mereka sampai maut memisahkan.


__ADS_2