
Setelah mencoba gaun pengantinnya, Fatimah pun melanjutkan harinya dengan perawatan full body.
Dari mulai maskeran, luluran, hingga pijat refleksi. Awalnya Fatimah merasa risih, namun lama kelamaan dia pun menikmatinya.
Bahkan setelah semuanya selesai, Fatimah sampai tertidur karena keenakan. Najma hanya bisa tersenyum melihat wajah damai putrinya dalam lelap.
"Semoga kamu bisa bahagia, Sayang. Karena Albert begitu mencintai kamu, semoga Albert adalah pria terbaik yang Allah berikan untuk kamu, Sayang." Fatimah mengelus lembut punggung putrinya lalu menyelimuti tubuhnya.
Di pernikahan Fatimah yang kedua ini, Najma tentu sangat antusias. Apa pagi setelah kemarin dia bertemu dengan calon besannya.
Mereka begitu baik dan juga pengertian, bahkan demi membahagiakan putra semata wayangnya, mereka rela menyewa banyak pekerja untuk menyulap halaman rumah Aksa menjadi indah dalam semalam.
Mereka juga tak ingin membuang waktu lagi, mereka takut jika Albert akan khilaf. Sehingga mereka pun pada akhirnya meminta Najma dan Aksa untuk langsung menikahkan Albert dengan Fatimah.
Tentu saja Najma dan Aksa setuju, apa lagi Aksa bisa melihat ketulusan di dalam mata Albert saat mengungkapkan rasa cintanya.
"Eungh! Jam berapa ini?" tanya Fatimah lirih.
Fatimah terbangun dari tidurnya, dia mepihat sekelilingnya dan melihat kamar yang dia tempati nampak begitu sepi.
"Pasti aku ketiduran, Mbaknya pinter banget mijitnya." Ftimah lalu bangun dan mengambil jam digital di atas nakas.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, Fatimah langsung tersenyum. Karena sebentar lagi pernikahannya dengan Albert akan dilaksanakan.
Entah kenapa, hatinya jadi merasa deg-degan kala dia mengingat jika sebentar lagi Albert akan menjadikan dirinya sebagai seorang istri.
"Semoga saja Albert tidak kecewa, karena sudah memilih wanita yang sudah menjadi janda seperti aku ini," ucap Fatimah.
Fatimah lalu turun dari ranjang, kemudian dia pun segera mandi dan memakai baju rumahan.
Setelah itu, dia pun langsung keluar dari kamar tersebut. Callista dan juga Khadijah yang melihat kedatangan Fatimah, langsung mengajaknya untuk duduk di ruang keluarga.
"Duduklah adikku, Sayang. Sebentar lagi kamu akan menikah, kamu harusnya makan yang banyak. Kakak ambilkan makanan dulu ya," ucap Callista.
Setelah mengucapkan hal itu, Callista langsung pergi ke dapur untuk mengambilkan makanan. Sedangkan Khadijah langsung memeluk Fatimah dengan sangat erat.
"Selamat ya, Kak. Sebentar lagi kakak akan menikah, semoga di pernikahan ini kakak akan lebih bahagia," kata Khadijah.
"Terima kasih adikku, Sayang. Semoga kamu juga cepat mendapatkan jodoh, agar Han bisa mempunyai Ayah seperti anak yang lainnya," do'a tulus Fatimah panjatkan.
"Ya, semoga saja," ucap Khadijah.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Callista datang dengan membawa nampan di tangannya. Ada sepiring nasi lengkap dengan lauknya, ada buah-buahan yang sudah diiris dan juga ada segelas just beserta segelas air putih.
Fatimah sampai menggelengkan kepalanya, saat melihat apa yang dibawa oleh Kakaknya.
"Kak, ini banyak sekali. Aku tak akan bisa menghabiskannya," ucap Fatimah.
"Harus, Sayang. Kamu harus makan yang banyak, karena sebentar lagi kamu akan menikah. Sekalian persiapan untuk malam pertama," kata Callista sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mendengar ucapan Callista, Khadijah terlihat tertawa dengan lepas. Dia jadi ingat perlakuan Callista pada dirinya ketika dia akan menikah dengan almarhum ustadz Arfan.
Berbeda dengan Fatimah, dia hanya tersenyum menanggapi ucapan dari Callista.
Malam pertama dari mana, pikirnya. Dia pun masih datang bulan, tapi Fatimah tak berkata apa pun. Karena takut nantinya akan menyinggung perasaan Callista.
"Ya, terserah apa kata Kakak saja," ucap Fatimah pada akhirnya.
"Baiklah, karena ini hari yang spesial. Kakak mau suapin kamu," ucap Callista.
"Nggak usah, Kak. Aku bisa makan sendiri," kata Fatimah.
"No, My Sweety! Sekarang biar Kakak yang suapin," kata Callista memaksa.
Akhirnya Fatimah pun menurut, tentu saja dia tak ingin mengecewakan Kakak pertamanya.
Callista pun terlihat begitu senang, dengan senang hati dia menyuapi adiknya. Sedangkan Khadijah terlihat memijit tangan dan pundak Fatimah.
Ketiga kakak-beradik perempuan itu begitu akur, sesekali mereka saling melempar canda. Menggoda Fatimah yang sebentar lagi akan melepas masa jandanya.
Pukul 05.00 sore, dua orang MUA yang sudah disiapkan oleh Albert datang ke kediaman Aksa, Fatimah pun diminta untuk masuk ke dalam ruang ganti agar bisa memakai pakaian pengantinnya.
Tentu saja sekaligus wajahnya akan dirias oleh dua orang MUA tersebut, Fatimah pun menurut. Selama wajahnya di rias, hati Fatimah terasa dag-dig-dug tak karuan.
Antara senang, sedih dan juga was-was. Semua rasa bercampur menjadi satu, bahkan ada rasa haru yang menyeruak dalam dadanya.
Dia seakan ingin menangis kala mengingat Albert yang begitu tulus ingin memperistri dirinya, padahal Fatimah hanya wanita biasa saja menurutnya.
Entah apa yang Albert lihat dari dirinya, namun dia juga sangat bersyukur. Karena Allah mendatangkan lelaki yang Fatimah rasa lebih baik, teguh pendirian dan terlihat sangat bertanggung jawab atas dirinya.
Pukul tujuh malam, acara ijab kabul pun telah dimulai. Aksa tengah duduk berhadapan dengan Albert, Aksa sudah menjabat tangan Albert disaksikan banyak tamu undangan.
Mulai dari keluarga, sahabat dan juga para kolega bisnis dari kedua belah pihak. Pernikahan ini terlihat begitu meriah, walaupun persiapannya hanya satu hari satu malam saja.
__ADS_1
Tak seperti saat Fatimah menikah dengan seorang Rudi Hartono, tertutup dan tak ada gaun pengantin. Hanya ijab kabul yang disaksikan oleh keluarga inti saja.
Setelah semuanya siap, Aksa pun langsung menghentakkan tangannya. Lalu, dia pun mengucapkan kalimat ijab.
"Saudara Albert Atha Raimhond bin Ansell Aldrich Raimhond, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Fatimah Azzahra binti Aksara Pramudiya, dengan mas kawin uang sebesar Rp. 29.012.022 dibayar tunai."
Setelah mendengar Aksa yang membacakan kalimat ijab, Albert pun membacakan kalimat kabulnya dengan lantang dan dalam satu kali tarikan napas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Fatimah Azzahra binti Aksara Pramudiya dengan mas kawin tersebut dibayar, Tunai.
"Sah?"
"Sah!"
Terdenagr riuh orang-orang yang hadir berkata sah, Albert langsung tersenyum sambil mengusap wajahnya.
Setelah sah menjadi istri Albert, akhirnya Fatimah pun terlihat keluar dari ruang ganti tersebut. Tentunya dengan diantar oleh Najma dan juga Callista.
Fatimah terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin berwarna putih gading yang Albert belikan untuk dirinya, Albert bahkan sampai tak berkedip saat melihat kecantikan Fatimah.
Saat Fatimah berjalan menghampiri dirinya, sampai Fatimah duduk di samping Albert pun, dia masih memandang wajah wanita yang kini tengah menjadi istrinya itu tanpa berkedip.
"Ehm, untuk pengantin pria mohon dikondisikan matanya. Sabar ya," goda Pak penghulu.
Albert langsung menunduk sambil mengusap tengkuknya yang terasa dingin sekali, sedangkan Fatimah hanya tersenyum melihat tingkah lelaki yang kini sudah menjadi suaminya itu.
Tuan Ansell dan Nyonya Ilmira yang melihat tingkah laku putranya, hanya bisa tersenyum. Dia begitu mirip Tuan Ansell saat muda, selalu terlihat gagah, dingin dan irit bicara.
Namun, di hadapan orang-orang yang dia cintai akan berubah hangat dan menyenangkan.
Tuan Ansell hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk putranya, dia juga berharap semoga tak ada kejadian perselingkuhan dengan mantan seperti yang pernah dilakukan oleh istrinya.
*
*
*
Udah Sah ya readers, semoga samawa. Maaf kalau ada salah-salah penulisan, penyakit Othor ya gitu, banyak tyfonya.
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, vote, koment, rate bintang lima dan juga hadiahnya.
__ADS_1
Maafkeun Othor kelewat soleha ini yang selalu banyak maunya.