
Sore ini Fatimah terlihat asik melamun, di tangannya ada sebuah kuas yang terselip di jari tangannya. Di depan matanya sudah ada kertas putih namun tetap terlihat kosong.
Tak ada satu pun coreran di sana, padahal niatnya dia ingin menghibur dirinya yang sedang bersedih.
Namun nyatanya, kesedihan itu malah makin datang mendera. Masih terngiang-ngiang di telinganya kala Rudi menjatuhkan talaknya.
Tadinya Fatimah sempat berpikir, jika Rudi akan meminta maaf dan memperbaiki sikapnya. Karena Fatimah sangat sadar jika Rudi melakukan pemaksaan padanya karena sebuah alasan.
Sayangnya perkiraan Fatimah salah, dia malah di talak oleh Rudi.
Ikhlas?
Tentu saja serasa begitu sulit untuk berkata ikhlas, karena kalau Fatimah boleh jujur. Fatimah sudah mulai mencintai lelaki yang kini sudah sah menjatuhkan talak padanya.
Dia sudah terbiasa dengan dekap hangat suaminya, dia sudah mulai nyaman saat mengobrol dengannya.
Katakanlah Fatimah seorang wanita bodoh yang mau disakiti oleh suaminya yang terang-terangan berhubungan dengan wanita lain.
Namun, bukankah cinta tak perlu alasan apa dan kenapa kita harus bertahan?
Di luar sana banyak wanita yang bertahan dengan kebodohannya, banyak pula wanita bertahan dengan egonya.
Bahkan di luar sana pula banyak wanita yang bertahan hanya karena kasihan, tanpa cinta sama sekali.
Tak jarang ada juga yang menikah karena harta, uang mengalir rumah tangga pun damai dan sentosa.
Namun, mereka tetap saja bisa menjalani rumah tangga dengan baik. Karena bisa saling menghargai, saling menghormati dan saling melengkapi kekurangan masing-masing.
"Ra." Najma terlihat mengelus lembut puncak kepala Fatimah.
Fatimah terlihat tersenyum, lalu dia pun bertanya kepada Najma.
"Ada apa, Bun?" tanya Fatimah.
"Hari sudah sore, sebentar lagi waktu maghrib tiba. Sebaiknya kamu masuk," ucap Najma mengingatkan.
"Iya, Bunda." Fatimah lalu merapihkan alat lukisnya.
*/*
Malam pun telah menjelang, Fatimah terlihat duduk di balkon kamar. Dia sedang ingin menikmati kesendiriannya, ditemani hembusan angin yang membelai kasar wajah Fatimah.
Dingin?
__ADS_1
Sudah pasti, bahkan seakan dingin sampai ke dasar hatinya, seakan tiada lagi perasaan yang membuat hangat relung hatinya.
Aksa yang khawatir akan keadaan putrinya, langsung menghampirinya. Dia membawa selimut, agar Fatimah tak merasa kedinginan.
"Sayang." Aksa nampak duduk tepat di samping Fatimah, lalu dia menyelimuti putrinya.
Fatimah seakan tertarik dari dunia lamunannya, dia langsung tersenyum kala melihat Aksa yang sudah duduk sambil menyelimuti tubuhnya.
"Apa, Yah?" tanya Fatimah.
Aksa langsung menggenggam erat tangan Fatimah, lalu dia menatap lekat kedua bola matanya.
"Maaf kalau Ayah terlalu ikut campur, apa benar Rudi sudah mentalak kamu, Sayang?" tanya Aksa.
Fatimah terlihat menganggukkan kepalanya, seulas senyum getir terpampang di bibir mungilnya.
"Ya, Mas Rudi sudah menjatuhkan talaknya tadi siang." Fatimah memeluk Aksa dan menyandarkan kepalanya di bahu Ayahnya itu.
Aksa terlihat sangat kaget, saat mendengar penuturan dari mulut Fatimah secara langsung. Padahal tadinya dia berpikir jika Rudi akan mempertahankan rumah tangganya bersama dengan putrinya.
Karena dia bisa melihat begitu banyak cinta untuk putrinya di mata Rudi, namun ternyata semua tak bisa diprediksi begitu saja.
"Jadi?" tanya Aksa.
"Menurut agama aku sudah bukan istrinya Mas Rudi lagi, Yah. Mas Rudi sudah berpesan jika nanti dia yang akan mengurus proses perceraian kami," ucap Fatimah.
"Dia bilang seperti itu?" tanya Aksa.
"Ya, katanya Ronald yang akan mengurus semuanya." Kembali Fatimah menyandarkan kepalanya di bahu sang Ayah.
Aksa langsung mengelus lembut lengan Fatimah, mencoba memberi kekuatan lewat sentuhan.
"Kamu ngga sedih?" tanya Aksa yang melihat wajah Fatimah terlihat biasa saja.
Fatimah memang tidak menampakan kesedihannya saat ini, namun bukan berarti dia tak sedih dan sakit hati.
Justru dia melakukan aktivitas melukis karena ingin melupakan Rudi, namun ternyata dia tak bisa atau tepatnya mungkin belum bisa.
"Sedih, Yah. Sangat sedih sekali, karena disaat aku mulai membuka hatiku untuk Mas Rudi, ternyata dia malah melakukan kesalahan yang sangat fatal, bahkan dengan mudahnya dia menyerah dan menjatuhkan talak," jelas Fatimah.
Aksa langsung menarik tubuh Fatimah ke dalam pelukannya, lalu dia pun mengelus lembut punggung putri keduanya itu.
Dia sedang berusaha untuk menenangkan hati Fatimah dari segala kegundahan yang melingkupi ruang hatinya.
__ADS_1
"Jangan dipendam sendiri, Sayang. Jika ingin menumpahkan kesedihan, menangislah!"
Aksa terus saja berusaha untuk menenangkan Fatimah, namun sayanganya, air mata itu seakan kering.
Batinnya tersiksa, jiwanya meraung kesakitan. Raganya terasa sangat letih dan lelah. Namun sayangnya, luapan emosi itu seakan tak keluar.
"Yah, boleh Arra meminta sesuatu?" tanya Fatimah.
Aksa langsung melerai pelukannya, dia menatap wajah Fatimah yang terlihat sangat tegar menurutnya.
" Apa Arra, Sayang? Katakanlah!" kata Aksa.
"Bolehkah Arra libur bekerja selama satu tahun?" tanya Fatimah.
Aksa terlihat kaget mendengar permintaan putrinya, kalau Fatimah libur bukankah itu akan membuat dia semakin jenuh, pikirnya.
"Memangnya kenapa harus libur, Sayang?" tanya Aksa.
"Arra ingin menenangkan diri, Arra ngga mau disibukkan dengan pekerjaan. Arra ingin bebas untuk pergi kemana saja yang Arra mau," jawab Fatimah.
Pada kenyataannya, bukan tanpa alasan Fatimah menginginkan hal itu. Dia meminta libur kepada Ayahnya, karena takut jika nanti dia hamil karena perbuatannya Rudi.
Menurutnya, dia nanti akan lebih tenang menghadapi masa kehamilannya dengan berdiam di tempat yang dia suka.
Tak akan ada yang mengganggu hati dan pikirannya, tak ada yang akan berani menggunjingnya.
Karena dia sudah berniat untuk pergi jauh, untuk sementara waktu. Dia ingin memperbaiki dirinya, dia ingin kembali menata hatinya.
Jika dia pergi bekerja, dia takut jika hatinya tidak kuat dan juga pikirannya tak akan sanggup mendengar dan melihat orang yang akan berkata apa pun kepada dirinya.
"Lakukanlah apa pun yang ingin kamu lakukan, Sayang. Selama itu benar, biar Ayah yang nanti mengurus perusahaan milik kamu." Aksa menampilkan senyum termanisnya, untuk menguatkan putrinya.
"Terima kasih, Ayah. Maaf sudah setua ini masih saja merepotkan," ucap Fatimah.
Aksa langsung terkekeh mendengar penuturan putrinya, tak ada kata tua untuk seorang anak. Mereka tetaplah anak kecil yang menurut orang tua perlu disayangi.
"Kamu tak merepotkan, Sayang. Oiya, Audy dan juga temannya sudah di tangkap polisi. Karena mereka berdua sudah terbukti mengedit dan menyebarluaskan video berdurasi sembilan belas detik itu," kata Aksa.
"Benarkah?" tanya Fatimah.
"Ya, Arra, Sayang. Mereka sudah berani bermain api, tinggal menunggu balasan yang setimpal untuk mereka jalani," jawab Aksa.
"Hem," hanya kata itu yang keluar dari bibir Fatimah.
__ADS_1
"Sekarang masuk kamar dan tidurlah, sudah malam." Aksa mengecup kening Fatimah, lalu menuntunnya ke dalam kamar agar segera beristirahat.