Hati Yang Kau Sakiti

Hati Yang Kau Sakiti
Hanya Kecapean


__ADS_3

"Aku harus gimana, Ra? Apa kita ke Rumah Sakit aja?" tanya Albert dengan wajah paniknya.


"Astagfirullah!" pekik Fatimah, dia merasa ada yang mengalir dari area intinya. Terasa hangat dan basah.


"Kenapa, Sayang?" tanya Akbert panik.


"Al, sepertinya aku datang bulan. Maaf karena mobil kamu jadi kotor," ucap Fatimah penuh sesal.


Mendengar Fatimah mengatakan datang bulan, Albert jadi takut jika Fatimah keguguran. Karena Fatimah pernah diperkosa oleh suaminya sendiri.


"Kita ke Rumah Sakit," ucap Albert.


"Tapi Al a--"


Ucapan Fatimah langsung terhenti kala Albert langsung memotong ucapan Fatimah.


"Kita ke Rumah Sakit, Ra. Ada yang harus kita pastikan," ucap Albert.


Fatimah pun menurut, dia melihat wajah Albert yang terlihat begitu serius. Dia pun jadi takut dibuatnya, dia takut akan terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan.


Sampai di Rumah Sakit, Albert langsung memarkirkan mobilnya. Kemudian dia mengajak Fatimah untuk masuk ke Ruang IGD.


"Al, aku malu. Baju aku banyak darahnya," keluh Fatimah.


Albert langsung mengambil jasnya dan mengikatkan jasnya di pinggang Fatimah. Hal itu dia lakukan agar bisa menutupi noda darah di bagian belakang Fatimah.


"Ayo, Ra!" ajak Albert.


Fatimah pun menurut, akhirnya Albert pun langsung mengajak Fatimah untuk masuk ke dalam ruang IGD. Sampai di sana, hanya Fatimah saja yang diperbolehkan untuk masuk, sedangkan Albert menunggu di luar ruangan.


Saat Fatimah sedang diperiksa oleh dokter, Albert terlihat tidak tenang. Dia terus saja mondar-mandir tak karuan, sebenarnya jika Fatimah hamil pun dia tidak keberatan.


Namun, jika Fatimah keguguran dia merasa sangat bersalah. Karena Fatimah keguguran saat bersama dengan dirinya.


Lima belas menit kemudian, Fatimah terlihat keluar bersama dengan seorang dokter. Dokter itu nampak tersenyum hangat saat melihat Albert.


"Bagaimana keadaan calon istri saya, Dok?" tanya Albert.


"Tidak usah khawatir, dia baik-baik saja. Hanya mengalami nyeuri akibat datang bulan, saya sudah menuliskan resep obatnya," ucap Dokter tersebut.


"Ah, syukurlah. Saya sempat berpikir jika dia keguguran," ucap Albert.

__ADS_1


Dokter yang berada tepat di depan Albert nampak mengernyitkan dahinya. Bukankah dia mendengar jika Fatimah adalah calon istrinya, lalu kenapa Albert bilang dia takut jika Fatimah keguguran?


Namun dia tak menanyakan apa pun, Ini adalah negara adidaya pikirnya. Seorang wanita melahirkan tanpa suami pun sangatlah banyak di sana, jadi ini sudah tidak aneh lagi menurut dirinya.


Setelah mendapatkan keterangan dari Dokter, Fatimah dan Albert pun langsung ke Apotek untuk menebus obat yang sudah diresepkan oleh dokter tersebut.


Setelah itu, Albert pun langsung mengantarkan Fatimah ke kediaman Aby. Dia ingin melihat Fatimah segera beristirahat, karena wajahnya tetap saja terlihat sangat pucat.


Sampai di kediaman Aby, Albert langsung menuntun Fatimah untuk masuk. Namun, Fatimah segera menepis tangan Albert.


"Kenapa?" tanya Albert tersinggung.


Dia begitu kaget saat Fatimah menepis tangannya, dia tak berniat jelek sedikit pun. Dia hanya takut Fatimah akan jatuh, karena wajahnya terlihat sangat pucat.


"Al, aku ini cuma sakit karena datang bulan. Bukan sakit parah, jadi kamu jangan menuntun aku seperti itu. Aku jadi merasa seperti seorang nenek-nenek yang begitu lemah," ucap Fatimah.


Albert pun langsung terkekeh mendengar ucapan dari calon istrinya tersebut, dia pikir Fatimah marah karena dia sudah memegang tangan Fatimah.


"Ini semua aku lakukan karena sayang sama kamu, Ra. Ini bentuk perhatian aku sama kamu, jangan marah," kata Albert.


Fatimah terlihat menghela napasnya, saat datang bulan tiba, perasaan wanita memang selalu lebih sensitif.


"Iya," jawab Fatimah.


"Ya sudah, Kak Fatimah istirahat sana. Kak Albert juga pulang dulu, siapain yang bener buat acara lamarannya. Lusa kita ketemuan di rumah Ayah Aksa," ucap Aliana.


"Jadi, kita ngga satu pesawat bareng?" tanya Akbert.


"No, anggaplah ini pingitan. Bukankah Kak Al ingin langsung menikahi Kak Arra?" tanya Aliana.


"Ya!" jawab Albert cepat.


"Kalau begitu, nanti Kak Al menikah sama Kak Arra'nya satu minggu setelah lamaran," ucap Aliana.


"Loh, Kok ngga boleh langsung nikahan? Kenapa?" tanya Akbert kecewa mendengar saran dari Aliana tersebut.


"Ish! Aku hanya kasihan saja Kak Al, Kak Fatimah sedang datang bulan. Kalau Kakak langsung nikah sama Kak Fatimah, Kak Al harus puasa dulu. Karena Kak Fatimah masih datang bulan," kata Aliana.


"Ah, kamu benar. Kenapa aku ngga kepikiran, ya?" tanya Albert.


"Ya ampun, kalian ngomong apa sih? Lagian nikah aja belum udah mikirin itu aja," keluh Fatimah.

__ADS_1


Wakah Fatimah terlihat memerah bak kepiting rebus, bisa-bisanya mereka membahas masalah ranjang, pikirnya.


"Harus, Ra. Kan biar langsung nyelup," ucap Albert.


Ucapan Albert berhasil membuat Fatimah malu sekaligus kesal, Fatimah pun langsung melayangkan pukulannya di lengan kekar Albert. Sayangnya, Albert tak merasakan sakit sama sekali, dia malah tertawa dengan lepas.


"Kamu pasti udah ngga sabar pengen ak--"


"Al! Ngga lucu," kesal Fatimah.


"Maaf," ucap Albert.


Fatimah langsung melangkahkan kakinya menuju kamar yang dia tempati selama dia tinggal di sana, sedangkan Albert terlihat tertawa melihat tingkah Fatimah yang dirasa kekanak-kanakan.


"Aku pamit pulang," ucap Albert.


"Iya, Kak," jawab Aliana.


Setelah berpamitan, Albert langsung pulang menuju kediamannya. Dia ingin mempersiapkan acara lamarannya nanti, dia juga ingin mempersiapkan yang terbaik untuk Fatimah.


Setelah kepergian Albert, Fatimah langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia ingin membersihkan tubuhnya yang sudah terasa tak nyaman.


Tak hanya itu, Fatimah juga mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Agar pikirannya terasa lebih tenang dan juga rileks.


Fatimah sebenarnya merasa tak enak hati, karena pandangan kedua orang tua Albert yang kurang respek padanya.


Namun, dia akan berusaha untuk menjalani rumah tangganya dengan baik. Dia akan berusaha untuk menjadi istri yang baik dan juga patuh.


Dia juga akan berusaha untuk menjadi menantu yang baik, agar Tuan Ansell tak menyesal telah menikahkan dirinya dengan Albert.


10 menit kemudian, Fatimah pun sudah selesai dengan ritual mandinya. Dia keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan kimono mandi saja, lalu Fatimah pun duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya.


"Semoga saja ini adalah pernikahan terakhirku, semoga Albert adalah jodoh terbaik yang engkau kirimkan untukku." Do'a Fatimah.


*


*


Selamat sore kesayangan, semoga kalian sehat selalu. Ngga Bosen baca karya Othor yang terkadang membuat kalian esmosi dan langsung unfav.


Buat kalian yang selalu setia baca, terima kasih banyak. Jangan lupa tinggalkan jejak yes, like, koment, vote dan juga hadiahnya.

__ADS_1


I Love you sekebon rambutan....


__ADS_2