Hati Yang Kau Sakiti

Hati Yang Kau Sakiti
Sepenggal Masa Lalu


__ADS_3

"Selamat datang Tuan muda, silahkan masuk. Tuan dan Nyonya besar sudah menunggu di ruang makan," sapa seorang kepala pelayan.


"Hem," jawab Albert.


Albert pun langsung masuk bersama dengan Fatimah, mereka langsung menuju ruang makan yang berada di dalam bangunan megah tersebut.


Tiba di ruang makan, Fatimah merasa jika tubuhnya begitu susah untuk digerakkan. Dia merasa sangat gugup kala melihat kedua orang tua Albert yang menatapnya dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.


"Selamat pagi, Mom, Dad." Albert langsung menghampiri kedua orang tuanya, lalu dia pun mengecup pipi Tuan Ansell dan Nyonya Ilmira secara bergantian.


"Jadi, apakah dia wanita yang kamu maksud?" tanya Nyonya Ilmira.


"Yes, perkenalkan Mom, Dad. Dia adalah Fatimah Azzahra, putri dari Tuan Aksara Pramudiya," ucap Albert.


Setelah Albert mengucapkan kalimat perkenalan, Fatimah pun langsung menghampiri kedua orang tua Albert dan mencium punggung tangan kedua orang tua Albert secara bergantian.


"Nama saya Fatimah, Om, Tante," ucap Fatimah memperkenalkan diri.


"Ya, aku tahu. Wajahmu begitu mirip dengan Aksa," ucap Tuan Ansell.


"Jadi benar, jika Om, mengenal Ayah saya?" tanya Fatimah.


Fatimah sengaja berbasa-basi dengan mengatakan hal itu, karena memang Aksa pernah bercerita jika dia pernah bekerja paruh waktu di perusahaan milik keluarga Raimhond tersebut.


"Ya, dia pria gigih yang selalu mau berusaha untuk maju. Walaupun dia orang berada, tapi dia tak pernah menyombongkan diri," ucap Tuan Ansell.


Albert menarik satu buah kursi dan meminta Fatimah untuk duduk di sana.


"Duduklah Arra!" ucap Albert.


Tidak mungkin bukan jika mereka mengobrol sambil berdiri saja, Fatimah lalu tersenyum kemudian dia pun duduk tepat di kursi yang Albert siapkan untuk dirinya.


"Terima kasih, Al," ucap Fatimah.


"Sama-sama," jawab Albert.


Setelah melihat Fatimah dan juga Albert duduk di ruang makan tersebut, Tuan Ansell pun mengajak mereka untuk sarapan bersama.


Sesekali Tuan Ansell bertanya kepada Albert tentang perusahaan yang Albert kelola, Fatimah hanya bisa diam sambil menyimak obrolan antara ayah dan anak tersebut. Sedangkan Nyonya ilmira sesekali terlihat menimpali obrolan kedua pria beda generasi tersebut.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Tuan Ansell mengajak Fatimah dan juga Albert untuk mengobrol di taman belakang.


Tentu saja Fatimah dan juga Albert dengan senang hati menyanggupi ajakan dari Tuan Ansell tersebut, bahkan Nyonya llmira terlihat bergabung bersama dengan mereka.


Tak lupa, beberapa pelayan pun datang Untuk mengantarkan teh hangat dan juga cemilan untuk menemani obrolan pagi mereka.


Sebenarnya Fatimah ingin segera pergi dari sana, karena dia merasa kurang nyaman saat mengobrol dengan Tuan Ansell dan juga Nyonya Ilmira.


Namun, dia masih menghargai perasaan Albert. Jadi, dia pun tetap tinggal di sana dan berusaha untuk mengimbangi obrolan dari Tuan Ansell dan Nyonya Ilmira tersebut.


Hingga satu hal tak terduga diungkapkan oleh Tuan Ansell, dia mengungkapkan alasan perselingkuhan Momnya Albert.


"Kamu tahu Al, kenapa Daddy kurang menyetujui kamu menikah dengan seorang janda?" tanya Tuan Ansell.


Albert terlihat menggelengkan kepalanya, "tidak Daddy."


Tuan ansel lalu menatap Nyonya Ilmira, lalu dia pun menggenggam tangan Nyonya ilmira dengan erat.


"Karena Daddy menikahi Mommy kamu yang sudah menjadi janda," jawab Tuan Ansell.


"Lalu, apa hubungannya dengan, Arra?" tanya Albert


Nyonya llmira terlihat menundukkan wajahnya, tatapannya kini tertuju pada rumput yang dia injak. Dia merasa malu, jika mengingat perselingkuhannya dengan mantan suaminya.


"Jadi maksud Daddy, Mommy berselingkuh dengan mantan suaminya?" tanya Albert.


"Ya, Mommy kamu dulu memutuskan untuk bercerai dengan suaminya. Walaupun dia masih mencintai mantan suaminya itu, hingga saat Momy kamu bertemu kembali dengan lelaki itu. Mommy kamu berselingkuh dengannya," ucap Tuan Albert.


Albert sangat tahu jika Nyonya Ilmira melakukan perselingkuhan, dan itu adalah sebuah kesalahan menurutnya. Namun Albert juga sangat tahu, pasti ada alasan kenapa Mommynya sampai berselingkuh.


"Mungkin Daddy tidak bisa memberikan kepuasan pada Mommy, waktu yang Daddy berikan pun sangat kurang untuk Mommy. Makanya Mommy memutuskan untuk selingkuh," kata Albert.


Nyonya Ilmira nampak kembali menundukkan wajahnya, dia benar-benar merasa malu karena apa yang diucapkan oleh Albert itu sangatlah benar.


Dulu dia begitu merasa haus kasih sayang, karena Tuan Ansell yang begitu sibuk dalam bekerja. Bahkan dalam satu bulan mereka terkadang hanya bertemu satu sampai dua kali saja.


Tuan Ansell yang kala itu baru ditinggalkan oleh orang tuanya, membuat dia sibuk melebarkan sayap dalam bisnis tersebut. Sehingga Nyonya Ilmira pun jarang bertemu dengan dirinya.


"Daddy hanya takut, Al. Aku harap kamu tak marah," ucap Tuan Ansell.

__ADS_1


"No, Dad. Aku tak marah, aku jamin Arra tak akan pernah selingkuh dengan mantannya. Aku yakin Arra adalah wanita yang bisa menjaga kehormatannya," ucap Albert tegas.


"Baiklah, Al. Kalau kamu sudah yakin pada pilihan kamu, lalu... kapan kamu akan melamarnya?" tanya Tuan Ansell.


"Aku mau, dua hari lagi Daddy dan Mommy ikut aku untuk melamar Arra," ucap Albert.


"Baiklah, Dad setuju. Semoga kamu bahagia dengan wanita pilihan kamu," ucap Tuan Ansell.


"Pasti, Dad," ucap Albert yakin.


Setelah selesai dengan obrolan singkat tersebut, Albert pun memutuskan untuk mengantarkan Fatimah pulang ke kediaman Aby. Selama dalam perjalanan, Albert terus saja berbicara kepada Fatimah.


"Pokoknya, kamu udah ngga boleh kerja lagi. Cukup kamu siapin diri kamu aja, jaga kesehatan kamu. Karena setelah lamaran aku ingin langsung menikahi kamu," ucap Albert.


"Oh iya, Ra. Kamu mau di kasih mas kawin apa?" tanya Albert.


Albert sedari tadi terus saja berbicara, namun Fatimah terlihat diam saja. Albert sama sekali tak mendapatkan jawaban apa pun dari Fatimah.


Karena penasaran, Albert langsung melihat wajah Fatimah. Albert sangat kaget, karena wajah Fatimah terlihat memucat, tangannya kini memegang perutnya dengan sangat kencang.


Albert pun dengan cepat langsung menepikan mobilnya, dia langsung bertanya kepada Fatimah.


"Kamu kenapa, Yang?" tanya Albert.


"Perut aku, Al. Sakit banget ini," kata Fatimah.


Fatimah terlihat begitu kesakitan, bahkan air matanya pun sudah mulai merembes dan membasahi pipi mulusnya.


Albert pun terlihat salah tingkah, dia bingung harus melakukan apa ketika melihat wajah Fatimah yang terlihat semakin memucat.


"Aduh! Sakit, sakit banget." Tangan Fatimah langsung mencengkram tangan Albert, Albert pun makin panik dibuatnya.


"Aku harus gimana, Ra? Apa kita ke Rumah Sakit aja?" tanya Albert dengan wajah paniknya.


"Astagfirullah!" pekik Fatimah, dia merasa ada yang mengalir dari area intinya. Terasa hangat dan basah.


"Kenapa, Sayang?" tanya Akbert panik.


"Al, sepertinya aku datang bulan. Maaf karena mobil kamu jadi kotor," ucap Fatimah penuh sesal.

__ADS_1


__ADS_2