Hati Yang Kau Sakiti

Hati Yang Kau Sakiti
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Sudah 1 minggu setelah acara 4 bulanan berlalu, seluruh anggota keluarga pun sudah pulang ke rumah masing-masing.


Nyonya llmira dan juga Tuan Ansell sudah pulang ke negara adi daya, awalnya Fatimah meminta kedua mertuanya itu untuk tinggal bersamanya.


Namun ternyata, mereka tak bisa. Karena masih banyak pekerjaan yang harus di lakukan di sana.


Tentu saja semua itu karena ulah Albert yang tidak mau tinggal di negara adi daya tersebut, padahal Fatimah bersedia tinggal di mana pun asalkan bersama dengan suaminya.


Namun, Albert berkata jika dirinya merasa betah jika harus berlama-lama dengan anggota keluarga Fatimah.


Karena di rumah mertuanya selalu ramai dengan canda tawa dari keluarga istrinya, anggota keluarga Fatimah pun sangat banyak. Sehingga, dia tak pernah merasakan kesepian.


Fatimah pun pada akhirnya menurut untuk tetap tinggal di Jakarta, sesuai keinginan dari nona Albert.


Semenjak kandungan Fatimah mulai membuncit, Albert meminta istrinya untuk tetap berada di rumah.


Semua pekerjaan Fatimah kerjakan di rumah melalui laptop saja, jika ada meeting maka Fatimah akan melakukan zom meeting.


Jika ada berkas penting yang harus ditandatangani, maka Cristhina akan datang untuk meminta tanda tangannya Fatimah.


Hal itu Albert lakukan agar Fatimah dan kandungannya tetap aman, dia tak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap istri dan calon bayinya tersebut.


"Bosen," kata Fatimah.


Fatimah melihat jam yang melingkar di tangannya, ternyata waktu menunjukkan pukul 03.00 sore.


Fatimah pun memutuskan untuk segera mandi dan sholat ashar, kemudian setelah itu dia pun memutuskan untuk pergi ke taman kota.


Menurutnya, menghirup aroma bunga di taman rasanya akan lebih menyenangkan daripada menikmati sore hari di taman belakang rumahnya sendiri.


Selain bisa melihat bunga-bunga yang terlihat cantik, dia juga bisa melihat anak-anak yang sedang bermain di taman kota tersebut.


"Mau kemana, Nyonya?" tanya pelayan.


"Saya mau ke taman, Bi." Fatimah terlihat menyunggingkan senyuman hangatnya kepada sang pelayan.


"Hati-hati ya, Nyonya. Jangan terlalu lama, takutnya nanti Tuan keburu pulang dan marah," ucap pelayan mengingatkan.

__ADS_1


Fatimah tersenyum mendengar ucapan pelayan tersebut, lalu fatima pun segera pergi menuju taman kota.


Tiba di taman kota, fatimah langsung memarkirkan mobilnya. Dia duduk di salah satu bangku taman yang letaknya tak jauh dari anak-anak yang sedang bermain bola.


Anak-anak di depan Fatimah terlihat sangat gembira, mereka bermain sambil bercanda tawa.


Saat sedang asyik memperhatikan segerombolan anak-anak yang sedang asyik bermain bola, tiba-tiba saja seorang anak kecil menendang bola sepak tersebut.


Bola tersebut melayang dan hampir saja menganai tubuh Fatimah, sontak Fatimah pun langsung memeluk perutnya dengan erat.


Bahkan mata Fatimah langsung terpejam, namun herannya dia tak merasakan sakit di area tubuhnya. Padahal dia sudah lumayan lama memejamkan matanya.


Tak lama kemudian, terdengar lah suara tawa dari seorang pria yang sangat dia kenal. Fatimah pun membuka matanya, lalu menatap pria yang berada di hadapannya.


Dia terlihat memegang bola di tangan kanannya, tak lama kemudian dia melemparkan bola tersebut ke arah anak-anak yang sedang melihat ke arah Fatimah.


"Terima kasih, Om," ucap salah satu dari mereka.


"Sama-sama," katanya.


"Mas, Rudi!" Najma terlihat menerikana nama Rudi.


Melihat reaksi Fatimah, Rudi pun langsung tertawa. Kemudian dia mendekati Fatimah dan dia pun berkata.


"Bolehkah, Mas, duduk di samping kamu?" tanya Rudi.


"Duduklah, Mas," ucap Fatimah.


Rudi pun langsung duduk di bangku yang sama dengan Fatimah, tentunya dia memberikan jarak agar tak ada fitnah nantinya.


"kamu apa kabar?" tanya Rudi.


"Aku baik, Mas sendiri bagaimana?" tanya Fatimah.


"Mas sangat baik," jawab Rudi.


"Kamu, kapan pulang dari--?" Fatimah tak melanjutkan pertanyaannya, karena tak enak hati terhadap Rudi.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari Fatimah, Rudi langsung tersenyum. Kemudian dia pun menjawab pertanyaan dari mantan istrinya tersebut.


"Baru satu minggu Mas keluar dari penjara, kamu katanya sudah mengandung ya? Selamat ya, Ra. Semoga pernikahan kamu selalu langgeng bersama dengan Albert," ucap Rudi tulus.


Rudi dijatuhi hukuman satu tahun penjara atas apa yang sudah dia lakukan, sedangkan Audy mendapatkan hukuman dua tahun penjara.


"Terima kasih, Mas," jawab Fatimah.


Setelah mengucapkan hal, itu baik Fatimah Atau pun Rudi saling diam. Mereka terlihat menatap ke arah depan tanpa berbicara, suasana di antara mereka kini terasa sangat canggung.


"Yang, kita pulang!" Tiba-tiba saja, Fatimah merasa ada yang memeluk tubuhnya dari belakang. Bahkan, pipinya pun terasa di kecup.


Saat menyadari Albert' lah yang memeluknya, Fatimah langsung tersenyum. Lalu, dia mengelus lembut puncak kepala suaminya tersebut.


"Mas, tahu darimana kalau aku sedang di taman?" tanya Fatimah.


"Dari Bibi, tadi dia telepon aku. Jadi aku langsung ke sini buat jemput kamu," ucap Albert.


Pandangan Albert lalu kini beralih kepada Rudi, dia terlihat tersenyum lalu menyapa Rudi.


"Hai, Bro. Apa kabar?" tanya Albert.


"Kabar baik," ucap Rudi seraya mengulurkan tangannya.


Albert pun dengan sangat senang hati menerima uluran tangan dari Rudi, lalu mereka pun tersenyum.


"Saya pulang duluan," ucap Albert.


"Silakan!" kata Rudi.


Setelah berpamitan kepada Rudi, Albert dan Fatimah pun langsung pergi dari sana. Rudi terlihat bahagia, kala melihat Fatimah yang kini terlihat bahagia bisa hidup dengan Albert yang begitu mencintainya dengan sangat tulus.


Rasa sesal pun menyeruak di dalam hati Rudi, ternyata semua hal memang harus diawali dengan niat yang baik.


Segala sesuatu hal harus diawali dengan kejujuran, segala sesuatu hal yang baik harus diawali dengan hati yang tulus, bukan karena ingin mendapatkan harta.


"Semoga kamu bahagia, Ra. Maaf karena aku hanya bisa mengecewakan kamu, kalau Allah memberikan satu kesempatan kepadaku. Aku ingin sekali saja membuat kamu merasakan bahagia dan berguna sebagai lelaki untuk kamu, Ara."

__ADS_1


Rudi terlihat mengusap air matanya yang luruh begitu saja, rasanya begitu sedih dikala dia mencintai wanita yang selama ini hanya dianggap sebagai tambang harta. Namun, di kala itu juga dia harus kehilangan wanita tersebut.


__ADS_2