
"Ra, aku harap kamu ngga lupa sma janji kamu ke aku. Aku akan menanyakan kepastian kamu satu minggu lagi, aku harap tidak akan mengecewakan."
"Ra, kalau kamu terima aku. Setelah masa idah kamu habis, aku akan langsung mengajak kamu untuk pulang ke Indonesia. Aku dan keluarga aku akan langsung datang buat melamar kamu, aku ingin kita segera menikah."
"Kalau kita nikah nanti, kamu mau mas kawin apa? Katakanlah Arra, Sayang. Minta pulau pun akan aku belikan, jangan sungkan."
"Tapi, jika kamu tak mencintaiku atau mau menikah dengan diriku karena kasihan. Mendingan kamu ngga usah menerima aku untuk jadi suami kamu, aku takut kamu tertekan menikah dengan aku."
"Satu minggu, Ra. Aku kasih kamu waktu satu minggu, selama kamu berpikir aku ngga bakal datang untuk menemui kamu."
"Pikirkan dengan baik, Arra."
Kata-kata yang Albert ucapkan tadi siang terus saja berputar di otak Fatimah, dia memang menyukai Albert, dia membutuhkan Albert. Namun, dia belum tahu apakah Albert adalah pria terbaik yang Allah kirimkan padanya?
Fatimah terlihat asik melamun di tempat paforitnya, di bangku malas yang berada di balkon kamar.
Aby yang melihat Kakaknya terus melamun langsung menghampiri Kakaknya tersebut, Aby langsung duduk dan mengelus lembut punggung Fatimah.
"Pikirkan dengan baik ucapan, Kak Al. Aku seorang lelaki, aku tahu dia baik. Namun semuanya kembali lagi pada hati Kakak," ucap Aby.
Untuk sesaat Fatimah melirik Aby, lalu dia tersenyum kecut sambil menatap langit malam.
"Aku akui aku sangat menyukai peribadi, Al. Namun aku belum yakin, entahlah kenapa," jawab Fatimah.
"Shalat istikharoh, Kak. Minta petunjuk sama yang di atas, jangan sampai Kakak menyesal nantinya." Aby memeluk Fatimah dan mengecup kening Kakaknya.
"Kakak berhak bahagia," ucapnya lagi.
"Ya, aku akan melakukannya. Aku akan shalat istikharoh," ucap Fatimah.
"Gitu dong," ucap Aby seraya mencubit gemas pipi Fatimah.
"Sakit, Dek." Fatimah memukul pelan pundak Aby.
Aby langsung tertawa dibuatnya, begitu pun dengan Fatimah. Setelah obrolan antara adik dan kakak itu berakhir, Fatimah memilih untuk tidur agar bisa bangun untuk melakukan shalat istihkaroh.
Begitu pun dengan Aby, dia langsung keluar dari kamar Fatimah. Dia langsung menemui istrinya di dalam kamarnya dan tentunya meminta haknya sebelum dia tidur.
*/*
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, Fatimah pun terbangun dari tidurnya. Dia langsung berwudhu dan menunaikan shalat tahajud terlebih dahulu.
__ADS_1
Setelah itu, barulah dia menunaikan shalat istikharoh. Dia ingin meyakinkan dirinya tentang pilihannya, dia tak mau jika dia sampai salah mimilih.
Dia tak mau jika dia sampai salah menentukan jalan kehidupannya, dia tahu Albert baik. Tapi, belum tentu dengan dalamnya bukan.
Fatimah baru mengenal Albert dari luarnya saja, dia tak tahu sikap aslinya seperti apa.
Setelah melaksanakan shalat istikharoh, Fatimah pun langsung berdo'a kepada Sang Khalik.
"Ya Allah, aku datang meminta petunjuk padamu. Aku datang untuk meminta kepastian padamu, ada seorang pria bernama Albert Atha Raimhond datang padaku. Dia ingin menjadikan aku istri, dia ingin menjadikan aku ratu dalam hidupnya. Tapi, aku takut rumah tanggaku akan gagal lagi ya Allah."
"Tolong berikan aku petunjukmu, tolong berikan aku jalan terbaikmu. Jika dia memang jodoh terbaik untukku, maka dekatkanlah dia ya Allah."
"Tapi, jika dia bukan orang yang tepat untuk menjadi imamku. Jauhkan dia dari kehidupan aku, aku tak mau terluka lagi, ya Allah."
"Ya Allah, maaf jika aku terlalu banyak meminta. Karena pada hakikatnya, hanya padamulah aku memohon dan hanya kepadamulah aku meminta."
"Ya Allah, semoga jalan terbaik yang engkau berikan padaku. Setelah aku memilih jalan yang salah untuk rumah tanggaku bersama Mas Rudi, Aamiin."
Fatimah mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sungguh dia berharap yang maha kuasa memberikan petunjuknya.
Setelah shalat dan berdo'a, waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Akhirnya Fatimah pun memutuskan untuk membaca ayat suci Al quran sebelum waktu salat subuh tiba.
Setelah waktu salat subuh tiba, Fatimah pun langsung melaksanakan kewajibannya. Setelah itu Fatimah tak langsung pergi ke dapur untuk membantu Aliana.
*/*
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Aby yang sudah bersiap untuk berangkat bekerja pergi menuju ruang makan untuk sarapan terlebih dahulu.
Namun, saat dia sampai di ruang makan. Dia tak menemukan kakaknya di sana, dia hanya melihat Aliana yang sedang membuatkan kopi untuk dirinya.
"Sayang!" Aby langsung memeluk Aliana dari belakang dan mengelus perut istrinya yang terlihat sedikit menonjol.
"Apa sih, Mas?" tanya Aliana.
"Kak Arra, mana? Kok tumben aku tidak melihatnya? Biasanya dia sedang sibuk membantu kamu di dapur," tanya Aby.
"Dia belum keluar dari kamar, Mas. Aku juga nggak tahu kenapa," jawab Aliana.
"Kalau begitu, biar aku lihat ke kamarnya. Tapi, Kiss dulu." Pinta Aby seraya memonyongkan bibirnya
"Jangan, Yang. Nanti ada yang lihat," ucap Aliana malu-malu.
__ADS_1
Namun sayangnya, Aby tak mendengarkan ucapan istrinya, Aby langsung mengangkat tubuh Aliana dan mendudukkannya di atas meja dapur.
Aliana sempat memekik kaget, dia bahkan sampai memeluk leher Aby dengan erat. Apa lagi dia sedang hamil muda, dia sangat takut kalau nantinya akan terjadi apa-apa pada kandungannya.
"Mas! Kamu ngagetin aja, nanti kalau Dedenya kaget gimana?" ucap Aliana kesal.
"Maaf, Sayang. Habisnya Mas pengen dikasih Kiss dulu," ucap Aby.
"Tapi ngg--"
Ucapan Aliana langsung berhenti, karena Aby langsung menautkan bibirnya ke bibir istrinya. Tentu saja Aliana langsung membalas tautan bibir suaminya, karena dia pun selalu menikmati setiap permainan yang disuguhkan oleh suaminya itu.
Cukup lama mereka berciuman, sampai mereka tak sadar jika Fatimah melihat keintiman diantara mereka berdua.
Fatimah yang hendak masuk ke ruang makan pun langsung mengurungkan niatnya, dia malah duduk di ruang keluarga.
Tentu saja karena Fatimah tak ingin mengganggu kegiatan yang sedang dilakukan oleh adik dan juga adik iparnya.
Fatimah mengusap bibirnya, lalu dia tersenyum. Dia jadi mengingat kegiatan yang selalu dia lakukan dengan Rudi, walaupun tak pernah sampai berhubungan suami istri.
"Kakak!" Aby langsung menghampiri Fatimah yang terlihat asik duduk di ruang keluarga.
"Ya, Dek," jawab Fatimah.
"Kenapa malah duduk di sini? Ayo sarapan!" ajak Aby.
"Ayo," jawab Fatimah.
"Kakak kok tumben bangunnya siang?" tanya Aby.
"Ketiduran, Dek. Abis subuh ngantuk banget, jadinya langsung bobo lagi," jawab Fatimah.
"Ya sudah, kita sarapan saja," ajak Aby.
"Ya," jawab Fatimah.
+
+
+
__ADS_1
Selamat pagi semua, selamat beraktivitas. semoga kalian sehat selalu dan tak lupa memberikan dukungan pada Author yang kelewat sholeha ini.