
Tiba di Bandar udara internasional Ngurahrai Bali, Fatimah terlihat lesu. Padahal selama dalam pesawat Fatimah terlihat sangat bersemangat, dia terus berceloteh sambil memeluk Albert dengan mesra.
Aksa dan Najma sampai geleng-geleng kepala dibuatnya, mereka merasa senang sekaligus lega karena Fatimah sudah mendapatkan suami yang tepat.
Berbeda saat Fatimah menikah dengan Rudi, Aksa selalu dibuat khawatir. Namun di depan Fatimah dia selalu berusaha untuk bersikap biasa saja.
"Kenapa kamu jadi lemes seperti ini?" tanya Akbert.
"Ngga tahu, Mas. Kepala aku keleyeng-keleyeng, perutnya juga mual," jawab Fatimah.
Albert dengan setia menuntun istrinya menuju mobil yang sudah dia sewa beserta dengan supirnya, Aksa dan Fatimah mengekori dengan rasa khawatir.
Sampai di dalam mobil, Fatimah langsung memeluk Albert dan mengusakkan wajahnya di ketiak Albert.
"Bau, Yang. Jangan kaya gitu!" kata Albert.
"Wangi, Mas. Baunya enak, perut aku ngga mual lagi." Albert berusaha untuk memundurkan tubuhnya, agar Fatimah tidak mencium bau keteknya.
"Masnya diem aja, jangan gerak-gerak terus, nanti akunya mual lagi," kata Fatimah dengan mata yang masih terpejam.
Albert hanya bisa pasrah, sedangkan Aksa dan Najma nampak saling pandang.
Setengah jam melakukan perjalanan, mereka pun tiba di sebuah Villa yang sudah di sewa oleh Albert. Villa yang terletak tak jauh dari pantai, sesuai keinginan Fatimah.
Sang sopir langsung memarkirkan mobilnya tepat di depan Villa, saat Fatimah turun dari mobil tersebut, dia langsung memuntahkan isi perutnya.
Albert sampai kaget dibuatnya, dia langsung mengelusi tengkuk leher istrinya. Sedangkan Najma langsung membuka tasnya dan mengambil minyak hangat.
Najma segera mendekati putrinya dan mengolesi tengkuk leher Fatimah dengan minyak hangat tersebut.
"Kamu kenapa, Sayang? Kamu mabuk perjalanan?" tanya Najma.
"Mungkin saja, Bun. Perut aku mual banget soalnya," jawab Fatimah.
"Ya sudah, kamu segera masuk dan istirahat. Biar Bunda bikinin teh jahe buat kamu," kata Najma.
"Terima kasih, Bun. Bunda emang the best," ucap Fatimah.
Albert terlihat mengusap bibir Fatimah yang terlihat basah, lalu dia menggendong Fatimah dan membawanya menuju kamar.
"Mas! Aku masih bisa jalan," kata Fatimah.
Fatimah merasa sangat malu dengan kelakuan suaminya, apa lagi Ayah dan Bundanya melihat hal tersebut.
Namun, berbeda dengan Aksa dan juga Najma. Mereka sangat senang karena menantunya begitu perhatian terhadap putri mereka.
Tiba di dalam kamar, Albert langsung merebahkan tubuh istrinya dengan sangat pelan. Dia takut membuat istrinya semakin mual dan pusing.
__ADS_1
"Istirahatlah, Sayang. Nanti kita jalan-jalannya kalau kamu sudah baikan," ucap Albert.
"Ya, Mas." Fatimah menjawab sambil memejamkan. matanya.
"Kamu kenapa sih, Yang?" tanya Albert.
"Kepala aku pusing, Mas. Tolong tutup jendelanya, baunya ngga enak," kata Fatimah.
Albert terlihat heran dengan permintaan istrinya tersebut, namun dia tetap saja menurut. Dia bangun dan segera menutup jendelanya, setelah semua jendela tertutup Fatimah nampak bangun dan berusaha untuk duduk.
"Ini lebih baik," kata Fatimah.
"Kamu aneh, tadi terlihat pucat banget. Giliran jendelanya ditutup, kamu kelihatan seger lagi," kata Albert.
"Aku juga ngga tahu, Mas. Tapi, kalau jendelanya dibuka bau air lautnya sangat menusuk indra penciumanku," kata Fatimah.
"Makin aneh, minta bulan madu ke Bali. Alasannya mau nyum bau air laut, tapi saat nyium malah pusing dan mual. Aneh!" kata Albert.
"Mas, ih! Nyebelin banget, padahal kan aku juga ngga tahu kenapa akunya bisa kayak gini," ucap Fatimah dengan bibirnya yang sudah mencebik.
"Maaf, Sayang. Mas tak bermaksud," kata Albert.
Albert langsung menghampiri Fatimah dan memeluknya dengan erat.
"Jangan marah lagi, lakukanlah apa pun yang ingin kamu lakukan. Aku akan menuruti apa pun keinginan kamu, Sayang." Albert langsung menautkan bibirnya, lalu dia nampak melepas pagutannya dengan dahi yang mengernyit.
"Kenapa?" tanya Fatimah.
Fatimah terlihat mencebik, lalu tangannya nampak memukul lengan kekar suaminya.
"Aku kan tadi habis muntah, Mas. Pasti bau," protes Fatimah.
"Maaf, Sayang. Mas cuma bercanda," ucap Albert.
"Ehm, teh'nya sudah jadi." Najma terlihat menghampiri Fatimah dan memberikan secangkir teh jahe pada putrinya.
Fatimah pun dengan senang hati langsung menerima secangkir teh jahe buatan Bundanya.
"Enak, Bun. Anget," ucap Fatimah.
"Habiskan, Sayang. Biar tak mual lagi," ucap Najma.
"Iya, Bunda." Ftimah kembali menyesap teh buatan Bundanya.
Najma merasa khawatir melihat kondisi Fatimah, padahal saat berangkat dia terlihat bersemangat. Tapi, kini keadaannya malah berbanding terbalik.
"Bunda keluar dulu, Ayah ngajakin jalan-jalan soalnya. Kamu beristirahatlah", kata Najma.
__ADS_1
"Bunda curang, aku yang pengen bulan madu malah Bunda yang enak-enakan sama Ayah." Fatimah terlihat mencebikkan bibirnya.
Najma langsung tergelak mendengar ucapan dari putrinya, dengan cepat dia mengelus lembut pipi Fatimah.
"Kalau sudah sehat, kamu bisa jalan-jalan sepuasnya. Albert pasti akan menuruti semua keinginan kamu, Sayang. Sekarang kamu istirahat dulu," ucap Najma.
"Baiklah, aku menurut," ucap Fatimah.
Setelah berpamitan kepada anak dan menantunya, Najma nampak meninggalkan sepasang suami istri itu. Karena dia harus segera menemui suaminya, Aksa sudah tak sabar ingin segera pergi ketempat wisata yang ada di pulau Bali.
"Bagaimana dengan Arra?" tanya Aksa.
"Sudah lebih baik," jawab Najma.
"Sudah siap untuk pergi?" tanya Aksa.
"Ya, suamiku, Sayang." Najma terlihat memeluk lengan suaminya, Aksa pun tersenyum bangga.
Karena Najma selalu terlihat begitu mencintai dirinya, dia merasa jadi pria yang sangat berharga.
Selepas shalat dzuhur Aksa mengajak Najma ke pantai Jembatan Bali, dia ingin mengajak istrinya untuk bermain air.
Sampai di sana, Aksa benar-benar mengajak Najma bermain air. Mereka menyusuri bibir pantai tanpa alas kaki, sehingga suasana terik tak begitu terasa.
Karena rasa dingin begitu menyentuh kulit, membuat rasa panas terseret dinginnya air dan terbawa angin yang menerpa tubuh mereka.
"Indah, ya, dia Sayang." Aksa terlihat menghentakan langkahnya, lalu memeluk Najma dari belakang.
Pasangan paruh baya itu terlihat sangat bahagia, Aksa sangat bangga memiliki istri seperti Najma. Walau dalam keadaan Aksa seperti apa pun, dia selalu bersabar dalam menghadapi dirinya.
Najma merupakan sosok wanita yang sempurna baginya, dia tak pernah mengeluh sama sekali dalam menghadapi harinya.
Bahkan sering kali dia menyemangati hari Aksa yang dirasa sangat berat, padahal ia sangat tahu jika istrinya pun membutuhkan dukungan dari dirinya dan juga anak-anak mereka.
Jika Aksa sedang berbahagia dengan sang istri, Albert sangat merasa risih. Karena Fatimah meminta Albert untuk bertelanjang dada, Fatimah terlihat menyembunyikan wajahnya di ketiak Albert.
Tangannya terlihat bermain di dada bidang suaminya, Albert sangat tak tahan. Dia ingin sekali memasuki istrinya, namun Fatimah menolak.
Katanya sedang tidak ingin, tapi herannya. Wanita itu malah terus saja memancing hasratnya.
"Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi dengan istriku ini?" tanya Akbert dalam hati.
"Yang!" panggil Albert.
"Apa, Mas?" tanya Fatimah.
"Mas pengen, punya Mas udah bangun. Boleh ngga sih, Yang?" tanya Albert.
__ADS_1
"Jangan, Mas. Aku lagi ngga pengen," jawab Fatimah.
Albert hanya bisa mendengus sebal, karena Fatimah terkesan mempermainkan dirinya.